Princess Endut

Princess Endut
40. Harus berubah?


__ADS_3

Weva tertunduk menatap serius pada layar handphonenya yang kini tengah memperlihatkan akun Instagram Brilyan, ada beberapa foto di sana.


Weva sangat heran. Mengapa orang setampan Brilyan bisa-bisanya jarang mempublikasikan ketampanannya ke media sosial.


Lihat saja akun instagramnya yang dipenuhi dengan foto-foto saat ia mendapatkan penghargaan ketika ia menang dalam perlombaan, kalimat motivasi dan yah hanya itu.


Brilyan mengapa tak ada foto yang memperlihatkan dia tersenyum. Bahkan saat ia menerima penghargaan ia terlihat kaku seperti orang yang tertangkap basah membeli narkoba.


Why?


Why Brilyan?


Bruak


Pukulan keras mendarat di permukaan meja warung dengan ruang yang tak terlalu luas membuat Weva yang sejak tadi fokus menatap layar handphonenya itu langsung dibuat tersentak kaget lalu dengan cepat ia menoleh menatap ke sumber pembuat onar itu.   


Wiwi, gadis berambut panjang dengan poni tebal itu kini memasang wajah datar di sampingnya.


"Gila, ya lo?"


"Gila apaan, sih, Wi?" tanya Weva yang kembali menarik ulurkan beranda Instagram.


"Ya, lo yang gila. Gue udah dari tadi ngomong panjang lebar terus gue panggil-panggil lo, tapi lo malah ngelamun, kenapa, sih?" oceh Wiwi.


Weva menghela berat membuatnya tak mau mengatakan sedikit pun. Wiwi menggeleng pelan lalu segera mengarahkan layar handphone ke arahnya, membuatnya menatap jelas akun Instagram Brilyan.


"Karena itu ?" tanya Wiwi membuat Weva mengangguk.


"Cuman karena si cowok berhati batu itu terus lo malah fokus liat handphone dari pada dengerin gue ngomong?"


Tak


Suara pukulan terakhir yang terdengar ketika dengan sengaja Wiwi mengetukkan kepalanya di permukaan meja. Wiwi tak berniat membuat dahinya sakit, tapi sejujurnya ini hanya ungkapan kelelahannya terhadap sikap Weva yang dari dulu tak pernah berubah untuk pria seorang Brilyan yakni berharap.


Jangan terlalu berharap kawan! Ujung-ujungnya bisa sakit hati? Apa ini salah? Ini sebuah kenyataan.


"Weva, kenapa, sih Brilyan melulu di otak lo. Emang nggak ada yang lain selain dia?" tanya Wiwi yang kini sudah menegakkan tubuhnya.


Weva mengerak-gerakkan bola matanya seakan berpikir dengan seadanya.  


"Nggak ada, emang siapa lagi?"


"Cari yang lain, kek. Beno contohnya."


"Ih, Beno, kan sukanya sama Wiwi."


"Stop, ya! Gue nggak suka," ujarnya sedikit kesal.


Entah mengapa membahas tentang Beno, si pria bisu itu membuatnya merasa kesal.


"Yang lain, kek."


Weva terdiam sejenak. Menggerakkan kembali kedua bola matanya secara bersamaan seakan-akan sedang berpikir.


"Ada," jawab Weva.


"Apa?" tanya Wiwi antusias.


"Bakso."


Wiwi tertawa ketika nama makanan favorit ia dan Weva itu tersebut.

__ADS_1


"Itu, mah makanan kesukaan gue, keles."


"Ini Neng baksonya," ujar seorang pria yang menggunakan blangko sembari meletakkan tiga mangkuk berisi bakso berukuran sedang.


"Eh, mas Tono," sapa Wiwi sembari memberi senyum hangat.


Yah, pria berdarah Jawa ini memang sudah akrab dengan Weva dan Wiwi pasalnya mereka berdua memang sering ke warung ini untuk mengisi perut mereka yang kelaparan.    


"Seperti biasa, kan tiga mangkuk bakso beranak?" tanya mas Tono dengan tutur katanya yang sangat kental dengan Jawa. 


"Iya, dong mas Tono," jawab Wiwi sembari mendekatkan mangkuk ke arahnya lebih dekat.


"Permisi, Neng."


Mata Weva dan Wiwi secara bersamaan berbinar menatap sumber kebahagiaan akhirnya berada di depan mata.


"Heeem wanginya," kagum Wiwi dengan wajahnya nampak terlena.


Wiwi menelan ludah dengan kedua lubang hidungnya masih setia menikmati setiap sisi aroma rempah bakso yang membuatnya terlena, namun wajah terlena itu sirna menatap weva yang nampak membelah bakso tersebut hingga bulat-bulat bakso terlihat jelas.


Oh nikmatnya.


Beberapa menit kemudian kedua makhluk kelaparan ini kini masih sibuk menikmati bakso yang memang sudah menjadi tepat langganannya.


Bakso di sini memang nikmat jadi tak heran jika warung ini selalu penuh oleh para pecinta bakso bahkan banyak yang tengah mengantri panjang di luar sana.    


    


"Wev!"


"Em," sahutnya.


"Percuma, Wi."


"Loh, kenapa, Wev? Nih, ya gue kasi tahu sama lo. Lo itu harus bisa buktiin ke pak Ahmad kalau lo itu lebih bisa diandalin dari pada si Fhina "


"Liat aja, tuh si Fhina udah tahu kalah tahun lalu ikut olimpiade masih ajah mau wakilin cendrawasih internasional school. Cantik doang tapi nggak nyadar diri."


"Nyebelin banget, sih si Fhina pengen gue injak tahu nggak, sih mukanya yang super nyebelin itu."


"Dasar geng alay."


"Geng tukang bully."


"Si pak Ahmad juga gila kali, ya? Dongo, masih aja milih si anggota geng alay itu," oceh Wiwi sembari terus mengunyah bakso di dalam mulutnya.  


Weva hanya mampu terdiam seakan pasrah mendengarkan ocehan Wiwi yang kini sedang menghakiminya secara terus menerus tanpa henti.


"Wev, lo harus bisa langsing!" bisik Wiwi.


Weva menghentikan kunyahannya lalu menatap wajah Wiwi yang nampak sangat serius.


"Langsing?"


Plak


Wiwi memukul permukaan meja cukup keras hingga semua pengunjung menoleh menatap Weva dan Wiwi namun Wiwi tak peduli membuatnya kini menunjuk Weva setelah menjentikkan jari tangannya.


"Yah seratus buat lo," ujarnya membenarkan.


Weva menghela nafas sembari memasang wajah cemberut membuat wanita yang super aktif itu mendecapkan bibirnya dengan kesal.  

__ADS_1


"Ah kenapa lagi, sih, Wev? Ayo lah, Wev!"


"Pak Ahmad itu secara nggak langsung bilang, kan sama lo kalau lo itu mungkin bisa ikut olimpiade tahun depan."


"Masih banyak kesempatan, Wev buat lo," ujarnya yang malah gemas sendiri dengan Weva.


Mungkin jika Weva adalah bakso bisa-bisa Wiwi sudah melahap habis tubuh gemuk Weva saking gemasnya. 


Weva kembali cemberut namun, tak menghilangkan nafsu makannya ia tetap saja melahap bakso yang ada di hadapannya.


Wiwi mengeluh lelah, wanita gemuk ini selalu membuatnya menyerah.


"Ayo lah, Wev! Gue yakin lo bisa."


"Tapi Gimana caranya, Wi? Badan gue kalau gue liat-liat kayak nggak bisa langsing, deh," ujarnya sembari menatap sendiri tubuhnya. 


"Ah, Weva. Lo itu pasti bisa nurunin badan lo yang super gemuk ini."


Wiwi mendekatkan sedikit wajahnya lebih dekat ke arah wajah Weva yang merasa menegang dengan sorot mata Wiwi yang begitu tajam. 


"Lo harus bisa buktiin ke orang-orang kalau lo itu bisa langsing."


"Lo harus bisa buktiin ke pak Ahmad, tiga orang geng alay itu dan yang paling terpenting adalah Ken."


"Ken?"


Wiwi mengangguk tetap dengan sorot matanya yang terlihat tajam.


"Ken sekarang musuh terbesar lo, Wev yang selalu datang dan siap untuk membully lo kapan aja yang dia mau."


"Dia musuh lo sekarang," bisik Wiwi layaknya seorang penghasut handal bahkan lebih kejam dari hasutan setan.


Weva berfikir sejenak sembari terus mengunyah. 


"Dan satu lagi."


Weva menoleh.


"Siapa?"


"Brilyan," bisik Wiwi lagi di telinga Weva membuat telinga Weva terasa panas. Hawa hangat mulut Wiwi seakan menghangatkan liang teliganya.


Weva menghentikan kunyahannya seakan termakan oleh bisikan Wiwi. Jika Weva langsing mungkin Brilyan akan suka dengan Weva, ya mungkin saja itu terjadi.


Weva membulatkan matanya lalu menatap Wiwi lagi dengan wajahnya yang nampak kegirangan.


"Gue mau langsing, Wi."


"Wah, beneran?"


Weva mengangguk yakin sambil tersenyum dan sedetik kemudian senyum itu lenyap.


"Tapi gimana caranya? Kalau Weva pikir-pikir kayaknya nggak bisa, deh."


Wiwi menghela nafas membuatnya kini terdiam dengan mimik wajahnya yang kini nampak berfikir.


"Gimana, ya?"


"Tapi emangnya bisa?"


"Ya, bisalah. Selagi lo mau berusaha pasti ada hasilnya dan lo tenang aja itu bakalan gue pikirin," ujar Wiwi lalu ia tersenyum simpul.

__ADS_1


__ADS_2