Princess Endut

Princess Endut
86. Tante Sari


__ADS_3

"Heh!" Tarik Ken sembari menjambak kerah seragam sekolah weva membuat langkah Weva terhenti secara tiba-tiba.


"Aduh, apa lagi, sih?"


"Siapa yang nyuruh lo masuk?"


"Iiiiihh, Ken!" Kesal Weva ketika tubuhnya kembali berdiri di samping motor vespa milik Ken.


"Weva itu cuman mau masuk. Apa susahnya, sih?".


"Ngelawan lagi lo. Heh, gendut! Tujuan gue ngebawa lo ke sini bukan masuk kedalam rumah gue."


"Loh? Terus buat apa Ken bawa Weva ke sini kalau bukan buat masuk?" tanya Weva dengan tatapan polos.


Ken menghela nafas dan segera tersenyum licik sebelum ia menoleh menatap ke arah samping rumah. Entah apa, namun senyum Ken penuh makna dan kejahatan.


"Lo tunggu!" pintah Ken membuat weva hanya mengangguk.   


Ken menarik nafas dan....


"Pinkiiiiiiy!!!" teriak Ken membuat Weva membulatkan kedua matanya karena terkejut dengan teriakan Ken.


Tak lama suara gonggongan anjing Pitbull terdengar dari samping rumah dan nada suaranya yang semakin terdengar mendekat.


Ken tersenyum sinis, yah sepertinya Ken tak menyesali perbuatannya kemarin yang mengakibatkan Weva dikejar oleh Pinky hingga lutut Weva sedikit terluka.


Anjing Pitbull itu kini muncul dan nampak berlari ke arah Weva membuat Weva terbelalak.


Kedua iris mata hitam Ken bergerak mengikuti lari pinky yang nampak semakin mendekati Weva.


Apakah pinky akan mengigit Weva? Ken seketika terkejut. Ia menatap Weva dan Pinky secara bergantian.


Syuuuu


Pinky melompat cukup tinggi ke arah Weva dengan tatapan tajamnya yang tak berbeda dengan tatapan yang Weva lihat kemarin.


"Awas!!!" teriak Ken lalu berlari berusaha menghalau pinky agar tak mengigit Weva.


Bruk!!!


Tubuh Ken terhempas cukup keras ke permukaan lantai membuat Weva dan pinky menoleh secara bersamaan.


Ken meringis sambil mengelus dadanya setelah merasakan sakit di dadanya ketika bagian tubuhnya itu menghantam keras permukaan lantai.


"Aduh."


Ken yang masih mengadu itu kini terdiam. Ia ingat satu hal, Weva! Apakah gadis itu sudah digigit sampai tidak bersuara atau malah Weva yang mengigit Pinky.


Ken menoleh menatap Weva yang tengah mengusap kepala Pinky dengan wajah Weva yang terlihat melongo menatap Ken yang terlihat masih bertiarap di permukaan lantai dengan wajah kaget.


Weva menatap dari atas hingga ke bawah.


Apa yang Ken lakukan di situ?


Ken mengkerutkan alisnya menatap sesuatu hal yang menurutnya adalah langkah dan tak pernah terjadi pada hidupnya bersama dengan Pinky.


Bagaimana bisa Pinky si anjing yang ia akui sebagai anjing galak dapat mudah akrab dengan seorang manusia selain ia, padahal Ken tahu jika Pinky sangat sukar untuk dekati dengan orang baru. Apa lagi dengan Weva, mana mungkin.

__ADS_1


"Ken mau jadi berubah jadi siluman buaya, ya?"


"Maksud lo?"


"Itu tiarap kayak gitu atau Ken jatuh?"


Ken menunduk menatap tubuhnya yang masih bertiarap itu. Ken memejamkan kedua matanya dan mendengus kesal. Gaya apa yang ia lakukan sekarang ini.


"Terus lo gapain ngeliatin gue?"


"Yah, cuman-"


"Nggak udah ngeliatin gue!' Nyolot Ken ketika ia telah berdiri dan membersihkan seragam sekolahnya.


Weva masih melongo. Bagaimana bisa Weva tak melihat Ken dengan tatapan seperti ini sementara Weva melihat Ken dengan jelas melompat secara tiba-tiba dan terkapar di atas lantai.


"Kok lo bisa dekat, sih sama si pinky?" tanya Ken heran.


Weva tersenyum. Ia berlutut dan mengelus kepala Pinky.


"Yah, itu ma kecil. Pinky itu anjing baik, sama kayak Bobo. Iya, kan Pinky?"


Ken mengerutkan hidungnya menatap aneh pada Weva yang baru saja bicara dengan Pinky.


"Nanti kapan-kapan Pinky ketemu sama Bobo, ya. Bobo itu anjing Weva, dia baik banget."


"Gila lo ngomong sama anjing."


Weva melirik sinis.


"Beda sama Ken yang tiap harinya marah-marah melulu," sambungnya.


"Eh, itu juga lo yang bikin emosi. Tiap hari kerjanya cuman bikin orang marah-marah melulu. Bisa-bisa darah gue tinggi gara-gara lo."


Weva menjeling tak suka. Pria itu selalu saja menyalahkannya.


"Ken!"


Ken menoleh menatap Sari, wanita berusia 40 tahun yang merupakan anggota kerja online shop Laila yang khusus untuk menjual tas dan berbagai macam barang lainnya.


Wanita ini merupakan salah satu teman Mamanya yang ia tidak suka pasalnya...


"Aduh, ganteng Keken. Rindu, deh Tante sama Keken..."


Wajah Ken datar mendengar cerocosan Sari, si wanita yang super cerewet dan sering mencubit pipi Ken karena merasa gemas.


Ken melirik menatap Weva yang kini melongo. Yah, jiwa tegas Ken di hadapan Weva dibuat anjlok oleh Tante Sari.


"Eh, Tante Sari," sambut Ken yang kini tersenyum cengengesan dan mendorong tangan Sari agar menjauh darinya.


"Mama kamu ada?"


"Ada di dalam."


Sari menoleh. Ia celingak-celinguk menatap ke arah pintu sambil merapikan kondenya.


"Tapi, kok nggak ada, ya?"

__ADS_1


"Masuk aja!"


Tante Sari melirik dan tersenyum lebar persis seperti Joker membuat Ken kehilangan senyumnya.


"Masuk ke mana? Hayo?" tanya Tante Sari sambil mencubit gemas pipi Ken yang kini pura-pura tertawa sambil mengelus pipinya yang kini telah memerah.


"Masuk ke hati kamu boleh nggak, sih? Hah? Hahaha."


"Hahaha," tawa Ken yang dibuat-buat.


Weva kini hanya terdiam menatap aneh pada dua orang yang kini saling tertawa. Memangnya apa yang lucu.


"Hah!!!" kaget Tante Sari ketika ia menoleh menoleh menatap Weva yang juga ikut terkejut.


Tante Sari memundurkan langkahnya lalu menatap dari atas hingga ke ujung kaki.


"Aduh, perempuan dari mana ini? Kok, gendut banget?"


Weva menghela nafas. Ia melirik Ken yang hanya tersenyum tipis.


"Ini teman aku."


"Temen?"


Tante Sari kembali menoleh menatap Weva penuh selidik. Ia mendekatkan wajahnya ke arah Weva hingga berjarak satu centi saja.


"Ini teman kamu?" Tunjuk Tante Sari sambil menatap Ken.


Ken mengangguk walau ia ragu untuk melakukannya.


"Ini? Model kayak gini?"


Tante Sari kembali menoleh menatap Weva yang begitu takut.


"Gendut, berlemak dan nggak ada body kayak gini?"


"Itu teman aku Tante, katanya mau pinjam buku, iya, kan?"


Weva menoleh menatap Ken yang mengerakkan naik turun kedua alisnya.


"Oh, ya?"


"Iya, dong Tante. Iya, kan Wev?"


"I-i-iya," jawab Weva.


"Wah, berarti Ken anak pintar, ya. Udah ganteng, pintar lagi. Makin gemes, deh Tante sama kamu."


"Ahahaha, iya, Tante," jawab Ken sambil kembali mengelus pipinya yang kembali dicubit oleh Tante Sari.


"Nggak kayak kamu."


Kedua mata Weva membulat menatap wajah Tante Sari yang kini mengarah ke arahnya.


"Udah gendut, nggak punya lagi."


Weva hanya menghela nafas. Ia melirik menatap Ken yang terlihat tersenyum puas.

__ADS_1


__ADS_2