
Pak Ahmad meletakkan beberapa koper ke dalam bagasi mobil sementara Ken nampak berdiri tegak di hadapan sang Mama yang terlihat merapikan rambut Ken persis seperti anak kecil yang akan berangkat sekolah.
Hari ini adalah keberangkatannya menuju kota Jogja tepatnya di kediaman kedua orang tua Pak Ahmad. Bukan hal yang mudah bagi Laila untuk melepas putra satu-satunya itu tapi ia juga tak mau putranya merasa sedih toh Ken pergi juga ke rumah mertuanya bukan ke luar negeri.
"Yuk! Semuanya sudah siap," ujar pak Ahmad yang telah melangkah ke pintu mobil.
Tak berselang lama mobil hitam mereka kini melaju dengan kecepatan sedang yang dikemudikan oleh pak Ahmad, Laila yang berada di bangku belakang bersama dengan Ken yang tak pernah ada henti-hentinya ia elus. Mungkin ini agak lebay tapi harus bagaimana lagi ini adalah kemauan Ken, lagipula Laila yakin jika kepergian Ken tak akan bertahan lama.
Laila tau Ken sangat sayang dengannya jadi Ken tentu saja tak akan tahan hidup jika jauh darinya. Benar atau salah tapi ini hanya sebuah firasat seorang ibu kepada anak semata wayangnya.
...***...
Wiwi membuka pintu mobil yang ia tumpangi. Mengitari mobil dan menopang pinggang menatap pak Walio yang terlihat jongkok di depan ban mobilnya.
"Kenapa Dady?"
"Kempes."
"Yah, kok gitu, sih? Wiwi, kan udah bilang kita nggak usah ke pantai."
"Dady juga tidak tau Winyut. Jalan-jalan sudah begini tapi tenang saja Dady punya ban cadangan," jelasnya merubah wajah jadi sumringah.
Wiwi menghela nafas pendek. Memilih untuk menyadarkan tubuhnya ke permukaan badan mobil sambil sesekali menatap pak Walio yang terlihat sedang mengganti ban mobil.
Wiwi yang sedang asik menatap beberapa kendaraan yang berlalu-lalang itu menatap sekilas pada sosok Ken yang nampak santai di dalam mobil yang kaca jendela roda empatnya itu dibiarkan terbuka.
Mobil itu terlihat memasuki area parkiran bandara membuat Wiwi mengernyit bingung. Untuk apa Ken ke bandara? Menjemput siapa dia atau....
Kedua mata Wiwi membulat. Apa mungkin Ken akan pergi? Yah, tentu saja itu yang ada di pikirannya sekarang setelah melihat hal tersebut.
Menebak tak cukup baginya. Wiwi melangkah menyebrangi jalanan yang pagi ini cukup ramai dilalui kendaraan. Langkahnya itu berubah menjadi lari saat ia melihat pak Ahmad yang menurunkan beberapa koper dari bagasi mobil.
"Ken!!!" teriak Wiwi membuat mereka dengan kompak menoleh.
"Wiwi?" ujarnya bingung.
Bagaimana bisa gadis cerewet sekaligus sahabat Weva itu ada di sini.
"Ah, capek banget," adunya sambil memegang kedua lututnya. Sudah sangat lama terakhir kali ia berlari seperti apa yang telah ia lakukan saat ini.
"Lo? Ngapain lo di sini?"
"Heh, harusnya gue yang tanya lo ngapain di sini?"
Wiwi menghentikan ujarannya. Ia menoleh menatap ke arah koper yang baru saja turunkan dari mobil.
"Lo mau kemana! Mau pergi lo?"
__ADS_1
"Ken mau pergi ke Jogja," jawab Laila membuat Ken terkejut. Kenapa Mamanya itu harus memberitahu Wiwi tentang kepergiannya.
"Jogja?"
"Iya Jogja. Ken rencananya mau kuliah di Jogja dan tinggal bareng Neneknya di sana," jelas pak Ahmad.
"Yah, itu pun kalau Ken tahan," tambah Laila memandang entang.
Wiwi menatap tak menyangka. Ia menarik pergelangan tangan Ken dan membawanya jauh dari Laila dan pak Ahmad yang dibuat keheranan.
"Lo kenapa, sih?" tanya Ken dengan nada malas.
Ia menggerakkan tangannya agar di lepas oleh genggaman tangan Wiwi.
"Lo beneran mau ke Jogja?"
Ken menatap ke arah lain. Mengalihkan tatapannya dari Wiwi yang memandanginya begitu penuh tanda tanya.
"Woy! Jawab, dong!"
"Iya."
"Hah?"
"Gue mau kuliah di Jogja."
Ken tersenyum kecil. Ia menunduk menatap kedua kakinya dan kembali menatap Wiwi yang tak ada hentinya menatap.
"Bukan gue yang ninggalin tapi Weva yang udah ninggalin gue. Lo nggak tau, kan kalau Weva itu semalam ngedate bareng sama si kurus kering itu. Dia makan malam berduaan!"
"Lo nggak tau, kan apa tujuan Brilyan buat ngajak Weva. Si kurus kering itu pasti udah nyatain perasaan dia ke Weva."
"Mereka pasti udah pacaran," sambungnya menekan nada suaranya.
Raut wajah Wiwi kini meraut tak menentu. Ia cukup syok dan sedih setelah mendengar apa yang Ken katakan.
"Sekarang buat apa gue ada di sini? Lo pasti tau apa alasan gue pergi dari Jakarta."
"Lo nggak mau ngeliat Weva dan Brilyan berduaan?" tebak Wiwi membuat Ken menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya pelan.
"Lo cukup pinter."
Wiwi mendecakkan bibirnya kesal. Mengusap wajahnya yang terasa memanas karena suasana yang saat ini terjadi cukup membuatnya menguras emosi.
"Ken! Lo kenapa nggak jujur aja sama Weva?"
"Jujur apa lagi, sih, Wi?"
__ADS_1
"Tentang perasaan lo!" Tunjuk Wiwi pada dada Ken sementara Laila dan pak Ahmad nampak melongo di belakang sana. Mereka tak mengerti apa yang kedua orang ini katakan.
"Wi! Lo dengerin gue!"
"Weva nggak akan ngerti dan peduli sama perasaan gue karena yang ada di hatinya cuman anak laki-laki yang udah nolongin Weva saat kecil dan anak laki-laki itu adalah Brilyan!"
"Gue nggak bisa maksa dia."
"Gue dan Brilyan beda posisi, Wi!"
"Gue dulu cuman orang yang ada di belakang Weva yang tetap berdiri ngedukung Weva biar di tetap berdiri, ngebantu Weva biar dia langsing, ngejagain Weva dari orang yang ngebully Weva."
"Gue cuman tetap bertahan untuk mendampingi Weva meraih keinginannya dan keinginan Weva cuman Brilyan."
"Sedangkan Brilyan adalah cinta Weva. Gue nggak perlu ceritain bagaimana perjuangan Weva mengejar Brilyan karena gue yakin lo lebih tau daripada gue."
"Sekarang? Sekarang Weva udah milik Brilyan."
"Keinginan Weva udah tercapai jadi tugas gue udah selesai."
"Weva nggak butuh Ken lagi. Ken nggak penting sekarang karena Weva udah punya Brilyan."
"Lo nyerah?" ujar Wiwi.
"Gue nggak nyerah tapi Weva yang buat gue nyerah. Gue nggak bisa, sorry."
Ken berpaling melangkah pergi meninggalkan Wiwi yang memejamkan kedua matanya erat. Ia menggerakkan tangannya tak tentu. Ia tak tau harus melakukan apa.
"Ken!"
Ken tak perduli. Ia tetap saja melangkah. Mengajak kedua orang tuanya sambil menarik koper.
"Ken!!! Lo nggak bisa, dong pergi gitu aja!!!"
"Ken!!!"
"Aaaaa!!!" teriak Wiwi.
Rasanya ia ingin mengejar Ken dan memukul kepalanya agar ia bisa mengerti. Ia ingin menjambak wajahnya namun, ia berusaha untuk menahan.
"Winyut!" panggil pak Walio yang menatap Wiwi keheranan.
Wiwi menoleh menatap Dadynya gelagapan.
"Dady! Cepat antar Wiwi sekarang juga!" ujar Wiwi lalu berlari meninggalkan Pak Walio yang melongo keheranan.
"Mau kemana?"
__ADS_1
"Cepetan!!!"