Princess Endut

Princess Endut
133. Pasar Malam (Nama)


__ADS_3

Weva dan Ken melangkah secara sejajar menyusuri pasar malam yang begitu sangat ramai. Untuk pertama kalinya mereka berdua bisa berjalan beriringan, bisanya Weva selalu berlari kecil di belakang Ken yang selalu berjalan dengan cepat.


Weva tersenyum menatap susana pasar yang terlihat indah sembari memeluk boneka panda yang telah menimbulkan bencana bagi Ken.


"Hai!"


"Nama kamu siapa?" tanya Weva sembari mengerakkan tangan boneka panda yang empuk. 


"Ih, imut banget, sih kamu. Weva sayang banget," gemas Weva yang kembali memeluk boneka panda itu.


"Ken!"


"Em," sahut Ken malas. 


"Kira-kira kita kasih nama siapa, yah boneka pandanya?"


"Nggak tau," jawab Ken seadanya.


"Loh, kok nggak tau?"


"Emang gue nggak tau."


"Kenapa nggak tau. Harusnya, kan Ken tau nama yang bagus untuk boneka panda ini."


"Nggak penting." Ken melirik. "Emang apa untungnya, sih mikirin nama boneka."


"Ini itu penting, Ken. Weva harus punya nama buat boneka Weva."


Ken hanya diam. Ia tak tertarik untuk meladeni omongan Weva yang menurutnya tidak penting.


"Oh, atau kita kasi nama boneka panda ini dengan nama Keken!" saran Weva.


Ken melongo.


"Nggak!" tolak Ken cepat. 


"Kenapa? Kan bangus namanya."


Ken menghentikan langkahnya dan menarik Weva untuk berdiri di depannya.


"Eh, Endut! Lo dengar, ya!"


"Lo nggak usah buat gue, jadi makin emosi, ya! Lo nggak liat muka gue?" Tunjuk ken ke arah wajahnya sementara Weva hanya mampu memasang wajah datar tanpa rasa dosa.


"Kok, Ken emosi?"


"Malah nanya lagi lo. Gue emosi karena lo yang cari masalah sama gue dan lo mau ngasih nama panggilan Keken ke boneka lo ini?"


Weva mengangguk.


Ken mendengus kasar.


"Lo sadar nggak, sih? Sebutan Keken itu adalah panggilan Mama gue ke gue."


"Emang nggak boleh?"


"Yah nggak boleh lah. Malah nanya lagi lo."


"Ih, tapi Weva suka."


Ken menghela nafas panjang dari ujung bibirnya. Ia berusaha untuk menangkan pikirannya. Ken yang memejamkan kedua matanya itu langsung membuka matanya menatap Weva yang langsung tersenyum.


"Jangan cari gara-gara, Wev!"


Ken melangkah pergi meninggalkan Weva yang terdiam.


"Ken!"

__ADS_1


"Ken marah sama Weva?"


Weva mencibirkan bibir bawahnya sedih menatap Ken.


"Emangnya Weva salah apa lagi? Dasar pelit, masih bagus juga namanya Keken kalau Weva kasih nama pak Ahmad gimana coba?"


Weva menghentakkan kakinya bergantian lalu dengan cepat berlari mengejar Ken. Weva mensejajarkan langkah kaki Ken dan langkahnya sambil tersenyum.


Weva yang masih tersenyum itu dengan cepat meraih kaca mata bulatnya dan mengenakannya membuat penglihatannya lebih jelas. Masih dengan senyumannya Weva menoleh menatap Ken yang pipinya terlihat membiru.


Seketika senyum Weva sirna dan berusaha untuk menjauhkan tatapan Ken darinya.


Yap, setelah pria kurus itu memukul pipi Ken. Ken begitu sangat marah dan mengamuk seperti The Hulk yang merupakan salah satu avengers terkuat.


Ken walau pun punya wajah yang tampan nampak-nya juga sedikit menakutkan saat marah. Weva dibuat tersenyum simpul saat ia mengingat kembali apa yang menjadi alasan Ken memukul pria itu.


Weva heran kepada Ken. Ken marah jika ada yang mengatainya gendut, tapi Ken sendiri yang selalu memanggil Weva dengan sebutan gendut atau Endut.


Intinya Ken boleh, tapi orang lain tak boleh.  


Karena Ken yang mengamuk tadi alhasil membuat gadis itu menyerahkan boneka panda yang menjadi keinginan Weva.


Suara ambulance terdengar membuat Ken dan Weva menoleh. Itu ambulance yang telah menjemput korban perkelahian. Yap, siapa lagi jika bukan pria kurus yang telah dihajar oleh Ken. 


Menurut Ken itu terlalu lebay, jika harus di jemput oleh ambulance. Ken hanya memukulnya dua kali dan terdapat benjolan di dahinya serta darah yang keluar dari lubang hidung pria kurus itu, tidak terlalu parah bukan.


   


"Ken kita ke rumah hantu, yuk!" ajak Weva mengalihkan perhatian Ken membuat Ken menunduk.


"Apa?"


"Ke rumah hantu."


"Nggak!" tolak Ken sembari sesekali menyentuh pipinya yang membiru.


Ujung bibir Weva terangkat begitu kesal ketika ken menolak ajakannya, tapi tenang saja. Itu bukan berarti Weva akan menyerah begitu saja.


Ini adalah waktu untuk jalan-jalan dan hanya sekali akan terjadi selama ia bersama Ken lalu besok Ken akan menyiksanya untuk olaraga, jadi ia tak akan menyia-nyiakan kesempatan ini begitu saja.


Malam ini harus ia gunakan dengan sebaik-baiknya.


"Kalau itu bagaimana?" Tunjuk Weva pada permainan anak panah.


"Nggak," tolak Ken tanpa menoleh.


"Kalau yang itu?"


"Nggak!"


"Yang itu!"


"Nggak!"


"Sekali aja."


"Nggak!"


Weva mendesis kesal ketika Ken menolak apa yang Weva tawarkan. Dengan langkah yang masih kesal itu Weva mendongak menatap kincir angin atau bianglala yang berputar begitu tinggi dan indah.


"Ken!"


Weva mengerakkan tangganya berusaha untuk mencari pundak Ken dan setelah menyentuhnya Weva langsung menepuknya.


"Ken!"


Ken menghentikan langkahnya. Ia menoleh menatap Weva yang terlihat berbinar kedua matanya.

__ADS_1


"Kenapa, sih lo?"


"Weva mau naik itu, Ken"


"Heeem, pasti seru."


"Weva mau naik itu."


"Nggak!" tolak Ken yang menghempas tangan Weva dari pundaknya.


Ken melangkah pergi meninggalkan Weva yang cemberut.


"Ken! Emang apa susahnya, sih?"


Ken tak menoleh, ia tetap saja terus melangkah.


"Ken!" panggil Weva lagi, namun tetap saja Ken tak menoleh atau menghentikan langkahnya.


Weva mendengus kesal. Ia berlari kecil mengikuti Ken yang semakin terlihat kesal. Ken, kenapa pria itu susah sekali itu diajak berenang-senang.


"Ken!" panggil Weva lagi sembari menarik pergelangan tangan Ken yang membuat langkahnya terhenti.


"Apa lagi, sih?"


"Weva mau naik itu!" Tunjuk Weva membuat Ken mendongak.


Dari sini ia bisa melihat bianglala yang sedang berputar indah dengan hiasan lampu kerlap-kerlip di atas sana.


"Gimana? Ken mau, kan?"


"Weva mau banget naik itu!"


Ken melirik.


"Nggak boleh!" larang Ken tanpa banyak pikir panjang lalu ia melangkah pergi meninggalkan Weva yang kini terdiam di tempatnya berdiri.


Langkah Ken berhenti ketika menyadari Weva tak ikut melangkah membuatnya menoleh dan menatap Weva yang terlihat cemberut di belakang sana.


Ken menghela nafas panjang menatap Weva yang masih diam seperti patung. Weva tertunduk sambil memeluk boneka panda dan sesekali mencuri pandang menatap ke arah Ken.


Tuhan, semoga saja Ken tersentuh hatinya setelah melihat wajah sedih Weva yang ia buat sesedih mungkin.


Ken menopang pinggang diiringi dengan hembusan nafas panjang. Ia mendongak menatap bianglala yang terlihat sangat tinggi lalu menatap ke arah Weva yang masih cemberut.


"Sini lo!"


Weva menggeleng.


"Cepetan sini!"


"Nggak mau."


"Katanya lo mau naik bianglala. Ya, udah sini!" panggil Ken yang langsung melangkah pergi ke arah bianglala.


Kedua mata Weva membulat dengan senyum yang mengembang.


"Weva boleh naik itu?"


"Em," sahut Ken.


 


...🌸🌸🌸...


Selamat ulang tahun adikku, Hardiani Nur ❣️Doa terbaik untuk kamu, ya🌺


Adikku yang selalu menanyakan kapan up, semoga diberikan kebaikan oleh Allah SWT.

__ADS_1


Aamiin❣️


25 September 2022


__ADS_2