
Suara kesibukan para penonton perlombaan cerdas cermat tingkat nasional terdengar seiring berjalannya waktu. Bangku penonton yang berjejer rapi itu semakin dipenuhi oleh banyaknya ribuan penonton yang berdatangan dari berbagai daerah.
Karena perlombaan ini tingkat nasional sehingga ada banyak penonton dan peserta yang berasal dari berbagai daerah.
Weva menelan salivanya. Tubuhnya gemetar karena ketakutan. Ajang perlombaan ini adalah hal yang pertama kali Weva lakukan selama hidupnya dan ini lah yang membuat dirinya menjadi takut.
Weva menggerakkan kepalanya menatap Brilyan yang terlihat duduk di sampingnya sambil membolak-balikkan kertas pada buku catatan hitamnya. Jauh berbeda seperti apa yang Weva rasakan, Brilyan bahkan terlihat santai-santai saja seakan tidak akan menghadapi sebuah perlombaan. Mungkin Brilyan memang telah biasa mengikuti perlombaan seperti ini sehingga ia terlihat tidak khawatir.
Seseorang menyentuh pundak Weva dan Brilyan secara bersamaan membuat kedua orang itu mendongak. Ia melihat sosok pak Ahmad yang terlihat tersenyum.
"Santai saja, ya! Menang dan kalah itu sudah biasa."
"Bapak tidak apa-apa kalau kalian tidak menang dan menjadi juara. Mengikuti perlombaan cerdas cermat ini sudah cukup membuat Bapak bangga dengan kalian."
"Lakukan saja yang terbaik karena yang terbaik sudah tentu menjadi juara. Tapi kalian tenang saja! Sekali lagi menang dan kalah kalian sudah juara di hati Bapak," jelas pak Ahmad.
Ia menepuk pundak keduanya sekali lagi lalu melangkah pergi menghampiri guru-guru pengajar Cendrawasih Internasional Scholl yang rupanya juga datang berbondong-bondong untuk menyaksikan lomba ini. Hal ini membuat Weva semakin gugup. Bagaimana jika ia kalah? Berapa banyak orang yang akan ia buat kecewa?
Tuhan, rasanya bangunan tiga lantai Cendrawasih Internasional Scholl itu seakan berada di pundaknya.
"Brilyan!" panggil seseorang membuat Weva dan Brilyan menoleh.
Brilyan langsung bangkit dari kursinya setelah mendapati siapa yang telah meneriakinya. Seketika wajah Brilyan memucat menatap sosok Papanya yang berdiri di kejauhan bersama dengan dua bodyguard pribadinya.
Brilyan melangkah menghampiri Johan. Ia melepas kaca matanya dan menatap putranya yang terlihat tertunduk di hadapannya.
"Jam berapa acaranya mulai?"
"Sepertinya jam 9."
Johan menunduk menatap jam yang berada di tangannya lalu mengangguk.
"Brilyan!" Johan menunjuk ke arah wajah Brilyan yang masih dibiarkan tertunduk itu.
"Kamu sudah tau, kan apa keinginan Papa?"
"Sudah, pa."
"Bagus. Pokoknya Papa nggak mau ngeliat kamu kalah. Teman-teman Papa sudah tau kalau kamu ikut lomba ini jadi kamu harus menang."
__ADS_1
"Ingat! Tidak ada kata kalah bagi Papa! Mengerti kamu!" Tunjuknya dengan rahang yang menegang.
Ia yang masih menunjuk wajah Brilyan itu menoleh menatap pak Ahmad yang terlihat menatapnya dari kejauhan. Johan menurunkan telunjuknya lalu menepuk bahu Brilyan dan melangkah pergi.
Weva terdiam memandangi Brilyan dan pria berjas hitam yang terlihat sangat berwibawa. Ia tak mengerti mengapa Brilyan terlihat sangat tertekan saat ia berhadapan dengan pria yang sejak tadi menunjuk Brilyan seakan sedang mengancamnya.
Weva menunduk menatap layar handphonenya menanti balasan pesan dari Ken yang tak kunjung muncul. Sejak tadi pagi ia mengirimkan pesan menyuruh Ken agar cepat datang untuk melihatnya mengikuti perlombaan ini.
Weva tak mengerti mengapa Ken tak membalas pesannya dan bahkan dia pun tak kunjung datang padahal dia telah setuju untuk datang.
"Weva!"
Weva menoleh menatap segerombolan orang yang sedang melangkah mendekatinya. Bibirnya terbuka karena begitu tak menyangka setelah melihat siapa yang datang. Kedua mata Weva berbinar. Ia bangkit dari kursi menyambut kedatangan Wiwi, Tante Ina, pak Walio, Nenek Ratum, Kak Wevo, Sasmita dan bahkan Papinya, Burhan juga datang.
Weva menutup mulutnya yang masih tak menyangka itu. Mereka semua datang untuk Weva. Terlebih lagi pada Mommy dan Papinya yang super sibuk itu akhirnya menyempatkan datang untuk dirinya.
"Wev! OMG! Gue nggak telat, kan?" tanya Wiwi yang baru saja tiba. Kedua matanya melotot seakan sedang menantang seseorang untuk berkelahi.
"Belum, Wi."
"Aduh, ya ampun hampir aja jantung gue copot." Wiwi mengelus dada.
"Bah? Beta lagi punya salah? Beta hanya sisir saja Winyu," bela Walio yang menyentuh rambutnya yang tak diikat itu dan dibiarkan mengembang seperti sarang burung raksasa.
"Iya cuman nyisir tapi lama banget sampai dua jam tau nggak."
"Ah, Winyu tidak tau saja betapa lebatnya rambut Dady ini makanya lama, bukan begitu Mama mertua?"
"Betul seperti malaikat," jawab Nenek Ratum.
Weva tertawa kecil. Ia menghampiri Mommy dan Papinya yang menyambutnya dengan sebuah pelukan.
"Weva nggak nyangka ternyata Mommy sama Papi datang, ada Kak Wevo juga."
Burhan melepas pelukannya. Ia menyentuh pipi Weva yang terlihat memerah menahan tangis.
"Iya, Papi datang buat ngedukung kamu. Papi mau ngasih semangat langsung buat anak Papi yang bakal ikut lomba. Masa anak sendiri yang ikut lomba tapi Papinya nggak ada."
"Aduh, aduh perasaan tadi ngomongnya nggak kayak gitu, tuh," gurau Kak Walio membuat Burhan berpura-pura terkejut sambil menyentuh dadanya.
__ADS_1
"Enak aja kamu."
"Lah, emang benar, kok. Kan Mom?"
Sasmita menoleh menatap putranya yang nampak mengedipkan sebelah matanya berusaha untuk mengajak Sasmita bergurau.
"Idih, Weva liat, ya matanya!" Tunjuk Weva membuat semua tertawa sementara Wevo nampak menghela nafas panjang karena niatnya untuk mengerjai Papinya dan Weva gagal.
"Weva!"
Weva menoleh menatap pak Ahmad yang mendekatinya.
"Mom, Pi! Ini pak Ahmad, gurunya Wev-"
Weva mengigit bibirnya setelah ia sadar jika pak Ahmad belum tau jika dirinya adalah Weva. Tak berselang lama kedua mata Weva membulat. Bagaimana jika Mommy dan Papinya itu memberitahu pak Ahmad jika dirinya itu adalah Weva bukan Klorin. Kacau! Ini pasti akan menjadi kacau.
"Oh, ini gurunya Weva, ya," ujar Sasmita yang langsung menjulurkan tangan mengajak pak Ahmad berjabat tangan.
Bibir Weva bergetar. Tuhan! Tolong lenyapkan Weva dari tempat ini!
"Weva?" Tatap pak Ahmad tak menyangka.
Ia menggerakkan tangannya dan menjabat tangan Sasmita dengan wajahnya yang terlihat masih bingung.
"Iya, ini Weva anak saya."
Jabatan tangan Sasmita itu terlepas dan beralih untuk merangkul bahu Weva yang wajahnya sudah mempias. Pak Ahmad menatap tak mengerti dengan apa yang telah dikatakan oleh wanita yang ada di hadapannya.
"Selamat pagi, pak," ujar Burhan yang menjulurkan tangan.
"Loh? Pak Burhan?" Tatap pak Ahmad tak menyangka.
Pak Ahmad sangat kenal dengan pria pemilik perusahaan konglomerat ini. Pria yang juga pengusaha sukses ini adalah Ayah dari gadis gendut yang setahun lalu telah ia hina di dalam ruangannya.
Kedua mata pak Ahmad melirik menatap Weva yang sudah memucat di rangkulan Sasmita. Kedua matanya itu dengan pelan melirik menatap Wiwi yang langsung menyembunyikan wajahnya di balik rambut kriting pak Walio sambil sesekali mengintip ketakutan.
"Jadi-"
"Ladies and gentleman! Mohon perhatian! Acara lomba cerdas cermat sepuluh menit lagi akan segera dimulai!"
__ADS_1