
Hari demi hari berlalu begitu terasa sangat cepat. Keluarga pak Ahmad tak pernah lepas dari rumah sakit. Setiap harinya mereka akan selalu datang untuk mengetahui perkembangan kesehatan Brilyan.
Bukan hanya waktu yang berubah tapi hubungan antara dua keluarga ini, pak Ahmad dan Johan juga mengalami perubahan. Tak ada lagi sebuah permusuhan ataupun sebuah kebencian yang terselip di dalam hati. Pak Ahmad tau jika saat ini bukan hanya dirinya yang merasa terpuruk dengan kejadian ini tapi Johan juga.
Tentu saja pria kaya itu merasa sedih. Dia telah hidup lama bersama Brilyan dan tentu saja rasa sedihnya lebih banyak daripada pak Ahmad. Benar atau salah tapi ini adalah kenyataan.
Pak Ahmad diam-diam mendapati Johan menangis di dalam toilet dan bahkan lebih sering melamun di kursi tunggu. Pria kaya yang selalu haus akan sanjungan ataupun pujian telah terketuk hati kecilnya.
Di dalam ruangan dapur terdengar suara kesibukan memasak. Sosok Laila kini menjadi objek pertama yang terlihat saat memasuki bagian dapur.
"Selamat pagi, Mama Laila."
Laila menoleh. Bibirnya tersenyum merekah mendapati sosok Weva yang baru saja tiba.
"Weva, kok tumben lama datang biasanya selalu cepat."
"Maaf Ma tapi hari ini macet banget."
Laila mengangguk. Ia mengaduk sayur kangkung yang baru saja telah ia tuangkan ke dalam wajan.
Weva yang diam itu menoleh kiri dan kanan mencari sosok pria yang hari-hari sebelumnya menjadi sosok pria yang selalu membuatnya tertawa.
"Ken mana, Ma?"
"Ken jam segini masih ada di tempat tidur."
"Biasanya udah bangun, Ma. Apa Ken begadang lagi?"
"Emmm, mungkin."
Weva memonyongkan bibir lalu mengangguk.
"Mama bisa minta tolong tidak sama Weva?"
"Minta tolong apa, Ma?"
"Mama mau mau minta tolong, tolong bangunkan Ken suruh dia mandi dan antar Mama ke rumah sakit. Mama mau mengantar makanan untuk bapak dan pak Johan."
"Iya, Ma," jawabnya menurut lalu melangkah menaiki anakan tangga menuju kamar Ken yang pintunya tak di kunci itu.
Weva menghentikan langkahnya, Jemari tangannya meraba permukaan dinding dan menekan saklar lampu membuat suasana kamar menjadi terang.
Weva menghela nafas menatap sosok Ken yang masih terbaring di atas tempat tidur dengan selimut tebal berwarna putih yang menutupi bagian dada dan ke bawah.
Weva melangkahkan mendekati Ken, ia duduk di tepi tempat tidur dan menatap diam pada wajah Ken yang kedua matanya masih tertutup rapat. Kedua mata Weva menatap lekat pada wajah indah Ken yang benar-benar membuat Weva tercengang.
Ken semakin tampan saat ia tidur. Bulu matanya yang lentik itu, bibir yang berwarna pink segar membuat Weva menggerakkan jemari tangannya menyentuh bibir Ken.
Kening Ken mengernyit saat merasakan sesuatu yang aneh, bergerak di area bibirnya membuat kedua mata Ken terbuka.
"Weva?" bisiknya menatap bingung.
Weva tersenyum.
"Selama siang, Ken."
"Siang?"
Ken bangkit dari kasur, mendongak menatap jam yang ada di dinding. Pukul 10 lebih, mengapa ia bisa terlambat seperti ini.
"Aduh, gue telat," ujarnya yang kemudian berlari membuat Weva menatap bingung.
"Ken! Ken mau kemana?"
"Sekolah."
"Loh, kita kan udah tamat, Ken."
Mendengar hal itu membuat langkah Ken terhenti. Ia menghela nafas yang cukup panjang.
"Oh, iya yah," jawabnya membuat Weva tertawa puas.
Ken tertawa kecil. Ia merebahkan tubuhnya ke atas tempat tidur tepat di samping selimut yang akan ia gunakan untuk mandi.
"Kok, bisa lupa, sih?"
Ken menggeleng membuat Weva tersenyum kecil. Ia ikut merebahkan tubuhnya ke samping Ken dan ikut menatap ke langit-langit kamar.
Ken menggerakkan kepalanya menatap wajah Weva yang agak jauh darinya. Ken yang diam beberapa menit itu menggerakkan tubuhnya mendekati Weva yang langsung menoleh.
Kedua mata mereka kini saling berpandangan diiringi suasana hening.
Ken kembali tersenyum, ia memiringkan tubuhnya sambil menopang kepalanya.
"Umur 18 udah bisa nikah belum, ya?"
Kedua mata Weva melotot. Terpejam beberapa kali seakan tak percaya dengan apa yang Ken katakan.
__ADS_1
"A-apa?"
Ken menarik nafas dalam-dalam.
"Lo mau nggak nikah sama gue?"
"Hah? Nikah?"
"Kenapa? Nggak mau?"
Weva tertawa kecil. Ia memukul dada Ken membuat Ken tersenyum malu.
"Emang siapa yang mau nikah?"
"Gue," jawabnya cepat.
"Oh, ya? Sama siapa?"
"Sama lo, lah terus sama siapa lagi?"
"Emang Weva mau?"
Senyum Ken langsung lenyap dari bibirnya namun, beberapa detik kemudian ia kembali tersenyum.
"Yah, pasti mau lah. Iya, kan?"
Weva terdiam. Ia menatap lekat pada Ken yang menggerakkan sebelah alisnya membuat Weva tertawa.
"Ken kalau mau nikah, nikah aja sama pacar Ken."
Ken menarik nafas dalam-dalam dan menahannya di kerongkongan. Ia mengangguk dan bangkit dari kasur membelakangi Weva yang masih terbaring di sana.
"Oh, gitu. Yah, udah kalau kayak gitu gue nikah aja sama pacar gue," ujarnya membuat Weva terkejut.
"Pacar? Ken udah punya pacar?" panik Weva yang langsung ikut bangkit.
Ken menoleh menatap Weva yang terlihat sangatlah panik.
"Udah."
"Hah?"
"Iya udah."
"Siapa?"
Mendengar hal itu membuat Ken mendekatkan wajahnya dengan wajah Weva yang terpatung hingga jarak wajah Ken dan Weva begitu dekat.
Weva tersenyum tipis, menahan agar tidak tertawa.
"Emang Weva mau jadi pacar Ken?"
Ken menoleh menatap Weva yang nampak memasang wajah penuh jahil.
"Yah pasti mau lah. Emang ada yang pernah nolak gue?"
Weva tertawa kecil saat Ken mengangkat sebelah alisnya.
"Sekarang lo adalah pacar gue, titik."
Kedua mata Weva membulat sempurna, ia mendongak menatap Ken yang langsung bangkit dari tempat tidur dan melangkah pergi meninggalkan sosok Weva yang kini menggelengkan kepalanya sambil tersenyum. Ada-ada saja pria itu, ia mengambil keputusan tanpa meminta persetujuan dari dirinya.
...****...
Weva, Ken dan Laila kini melangkah di lorong rumah sakit menuju kursi panjang mendekati sosok pak Ahmad yang sedang asik mengobrol dengan Johan. Yah, belakangan ini mereka berdua telah melupakan kesalahan mereka, mencoba untuk berdamai dengan keadaan.
"Sudah lapar? Mama bawa makanan," ujar Laila setibanya ia di kursi panjang dan meletakkan rantang bersusun itu di atas kursi panjang.
"Wah, terima kasih. Mau makan sekarang, tuan?"
"Nanti saja," jawab Johan yang sedikit menggeleng.
Ken yang asik diam itu kini menunduk menatap Weva yang nampak melamun, entah apa yang dipikirkan oleh gadis yang sejak tadi ada di sampingnya.
"Em, Ma, Pak, Ken ke luar dulu, ya."
"Kemana?" tanya Laila cepat.
"Cari angin," jawab Ken lalu menggengam pergelangan tangan Weva membuat gadis berparas cantik itu mendongak.
"Yuk, Wev!" ajak Ken yang menarik pergelangan tangan Weva dan membawanya pergi.
...****...
Suasana taman yang begitu indah di pagi hari menjadi pemandangan yang cukup menyenangkan bagi Weva. Ada beberapa orang yang sedang melakukan pemanasan di sekitaran bundaran air mancur.
Weva yang sejak tadi duduk di anakan tangga itu menoleh menatap ke arah ice cream coklat yang dijulurkan oleh Ken.
__ADS_1
"Buat lo," ujar Ken yang ikut duduk di samping Weva.
"Buat Weva?"
"Bukan, ini buat pacar gue," jawab Ken bangga membuat Weva tertawa kecil.
Ia meraih ice cream coklat itu lalu dibuat diam menatap Ken yang menjilati ice cream yang ada di tangannya. Ken menghentikan kegiatannya menatap bingung pada Weva yang hanya terus melihatnya seperti itu.
"Kenapa?"
"Hem?" jawab Weva yang tersadar dari lamunannya.
"Kenapa ice creamnya nggak dimakan? Takut gendut kayak dulu? Em? Iya?"
"Nggak, Weva nggak bilang kayak gitu."
"Terus kenapa diem?"
Pertanyaan itu membuat Weva menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya pelan. Ia melipat bibirnya ke dalam sambil memainkan jemari tangannya untuk menutupi rasa geroginya.
"Mau gue suap?"
Weva tersentak kaget sementara Ken menatap penuh jahil.
"Enggak," jawab Weva yang kembali menunduk.
"Terus?"
Weva menghela nafas panjang. Entah mengapa tapi ia tak bisa menahan kalimat ini untuk tidak keluar dari mulutnya.
"Weva sayang sama Ken."
Weva memejamkan kedua matanya erat-erat. Semoga saja Ken tidak menertawai dirinya karena telah mengatakan hal ini.
Tak ada jawaban dari Ken membuat suasana menjadi benar-benar sunyi. Weva hanya bisa melihat kegelapan, kedua matanya masih terpejam rapat.
Ken tersenyum bahagia. Ia menggerakkan jemari tangannya, menyelipkan rambut Weva ke belakang telinganya membuat gadis yang sejak tadi memejamkan mata itu tiba-tiba membuka mata menatap indah wajah Ken yang menatapnya begitu tulus.
"Itu bukan kalimat lo, Wev tapi kalimat gue. Weva!"
"Em?"
"Gue sayang banget sama lo bahkan gue udah suka sama lo sejak lo gendut sampai sekarang."
"Lo ingat nggak, sih waktu gue cium kening lo setelah kita pulang dari pasar malam?"
Weva mengangguk. Kenangan itu masih tersimpan erat di memori pikirannya.
"Sebenarnya itu cara gue kasi tau ke lo kalau gue itu udah jatuh cinta sama lo tapi mungkin aja disaat itu lo belum peka sama perasaan gue."
"Ken, bukan nggak peka tapi Weva sadar diri."
"Cewek gendut kayak Weva nggak mungkin buat cowok kayak Ken suka sama Weva-"
"Ada buktinya dan buktinya gue. Gue suka sama lo. Dari dulu sampai sekarang perasaan ini nggak berubah."
"Weva." Ken mengelus pipi Weva yang kini dibuat diam.
"Umur 18 udah bisa nikah nggak, sih? Gue takut kalau gue kehilangan lo kalau kita nggak nikah."
Weva tertawa membuat Ken menatap bingung.
"Loh? Kenapa ketawa? Gue serius, Wev."
Weva melipat bibirnya ke dalam berusaha untuk menahan tawanya.
"Ken, kalau kita nikah Ken mau ngasih makan apa Weva?"
"Nasi, lah."
Weva kembali tertawa membuat Ken juga ikut tertawa.
"Lah? Emang bener, kan? Ya, masa makan batu?"
Driiiing!!!
Suara nada dering panggilan pada handphone Ken terdengar membuat Ken merogoh saku celananya, menatap layar handphonenya lalu menatap Weva.
"Mama, Mama telfon."
"Cepetan angkat!"
Ken menekan layar handphonenya dan mendekatkan ke pipinya menedengar suara dari sebrang membuat kedua mata Ken terbelalak.
"Apa?"
"Kenapa, Ken?"
__ADS_1
Ken menoleh menatap Weva dan tersenyum bahagia.
"Brilyan udah sadar."