Princess Endut

Princess Endut
52. Kuning


__ADS_3

Sebuah pengikat kepala terpasang di depan dahi Weva lalu diikat begitu kuat bak pendekar yang siap melawan musuh jahatnya. 


Weva menunduk dengan nafas ngos-ngosan berusaha mengikat tali sepatu kuningnya lalu tanpa di minta Wiwi membantu untuk mengikatnya. Wiwi tahu jika Weva tak mampu untuk jongkok karena lemak perutnya menjadi penghalang.


Baju olahraga berwarna kuning terang melekat di perut berlipat-lipat Weva yang diselaraskan dengan warna yang baju Wiwi kenakan.


Yah, Wiwi sengaja memasan baju yang sama dengan Weva. Ini yang baru namanya sahabat, harus kompak dalam segala hal.


"Are you ready?" tanya Wiwi lalu meletakkan handuk kecil di belakang lehernya.


"Ready," jawab Weva semangat 45.


Pintu mobil Weva terbuka secara otomatis membuat dua makhluk berwarna kuning terang ini melangkah turun secara bersamaan.


Mereka mirip pisang!


"Aaaaaa!!!" jerit Wiwi ketika tubuhnya terjepit karena dihimpit oleh tubuh Weva dan pintu masuk mobil.


"Gue dulu, dong, Wev!" ujar Wiwi kesal.


Weva hanya mampu mencengirkan senyumnya dan segera mengurungkan niatnya untuk lebih dulu keluar dari mobil.


Wiwi bernafas lega dan segera melangkah turun dari mobil disusul Weva yang nampak dibantu oleh pak Walio untuk turun dari mobil. Rasanya Weva tak mampu turun sendiri dari  mobilnya yang mewah itu, ini sangat tak mudah.


Wiwi tersenyum bangga menatap bangunan tempat gym yang nampak ramai. Ada beberapa orang yang sepertinya akan masuk ke tempat super gym itu. 


Wiwi tersenyum dan segera memasang kaca mata kuning terangnya yang di hiasi pola banana. Yah, menurut Wiwi kaca mata ini lucu. 


"Hah, hari ini kata akan berjuang untuk menurunkan berat badan lo. Pokoknya lo harus langsing!"


Wiwi merogoh saku celananya dan meraih kaca mata kuning yang mirip dengan kaca mata yang ia kenakan.


"Pake ini, Wev!" ujar Wiwi sembari menjulurkan kaca mata kuning tanpa menoleh menatap ke arah belakang.


Bruak


Weva terhempas ke bawah dan tanpa sengaja menimpa tubuh Pak Walio yang terasa tercekik di bawah sana.


Pak Walio mengeliat berusaha menyingkirkan tubuh gemuk Weva yang siap membunuhnya di detik ini juga.


"Pakai ini, Wev!" pinta Wiwi lagi tanpa mengetahui jika ada orang yang tersiksa di belakangnya.


Weva terengah dan segera bangkit dari tubuh Pak Walio yang ternyata sudah pingsan dan Weva yakin jika Pak Walio masih hidup, yah, Weva harap begitu. 


Baru saja Weva bangkit dari tubuh Pak Walio dan menarik nafas legah tiba-tiba saja Wiwi menoleh dan memasangkan kaca mata begitu saja tanpa bertanya dengan apa yang terjadi.


"Are you ready?" tanya Wiwi lagi.


"Re-re-ready!" jawab Weva dengan wajahnya yang terlihat pucat.


Wiwi menghela nafas. Senyumnya hilang begitu saja.


"Kok, lemas banget, sih? Yang semangat, dong, Wev! Masih pagi juga."


Weva hanya mengangguk pasrah. Dia tidak tahu saja apa yang telah terjadi.

__ADS_1


"Ready!!!" teriak Weva dengan raut wajahnya yang terasa tertekan.  


Wiwi tersenyum kegirangan menatap semangat yang terlihat membara disorot mata Weva. Wiwi mengerutkan dahinya melihat Pak Walio yang terkapar di atas aspal.


"Loh? Pak Walio kenapa, tuh? Kok tiduran di situ?"


Wiwi menunjuk membuat Weva menoleh menatap Pak Walio. Tak berselang lama Weva kembali menoleh lalu tersenyum lebar di hadapan Wiwi.


"Mu-mungkin Pak walio ngantu,k" jawab Weva sambil menggaruk kepalanya.  


Wiwi hanya mengangguk. Dia langsung percaya tanpa memikirkan kebenarannya. Wiwi menoleh menatap ke arah depan di mana beberapa orang nampak menatapnya begitu serius bahkan ada dari mereka yang terlihat saling berbisik lalu tertawa, tawa itu seperti sedang menertawainya.


Wiwi tak menghiraukan itu. Kali ini yang ada di pikirannya adalah bagaimana cara agar Weva bisa langsing.


Di satu sisi Weva yang melihat orang-orang yang sedang menatap ke arahnya langsung menunduk menatap baju kuning terangnya yang begitu terang, apalagi disaat sinar matahari menerpa bajunya membuat warna baju itu begitu sangat menyilaukan mata.


"Ayo Wev! Rencana kita akan segera dimulai. Pokoknya lo harus bisa langsing."


Wiwi segera melangkah dengan gagahnya di susul Weva yang nampak malu melangkah dengan penampilan seperti ini. Entah mengapa Wiwi bisa sepede itu dengan penampilan yang begitu memalukan. Hah, Weva lupa jika urat malu gadis kurus itu sudah putus.


"Wi, apa baju kita nggak terang banget, yah?" tanya Weva yang berada di belakang Wiwi.


"Terus kaca matanya kayaknya jelek banget, yah?"


"Husst!"


Langkah Wiwi terhenti lalu menoleh menatap Weva yang kini dengan cepat menghentikan langkahnya.


"Weva! Lo itu nggak ngerti fashion, ya? Ini itu namanya keren."


"Ini yang namanya keren?"


"Ya iya lah."


"Tapi-"


Ujaran Weva terhenti. Ia menggerakkan kepalanya menatap dari ujung atas sampai ujung kaki Wiwi yang lurus tanpa ada lekuk tubuh.


"Tapi Wiwi kayak tai yang ada di sungai. Warna kuning dan panjang," jawabnya jujur.


Wiwi melongo. Bodoh sekali gadis gendut ini. Bagaimana bisa dia menyamakannya dengan sebuah kotoran.


"Wev dengar, ya! Baju kita itu udah keren, Wev. Apalagi sama kaca matanya. Kaca matanya itu udah wow banget," jelasnya dengan nada semangatnya berusaha untuk meyakinkan Weva.


Weva tertunduk menatap sepatu dan baju terangnya yang terlihat menyilaukan mata jika dipandang.  


"Sebenarnya kita mau olahraga atau mau liburan, sih, Wi?"


"Aduh, Wev. Lo itu berisik banget, sih? Udah lah, Wev, yang pentingkan pede."


"Hem, pede," bisik Weva tak yakin.


Wiwi mendengus kesal lalu menarik pergelangan tangan Weva dan membawanya segera masuk ke dalam.


"Wi, Weva nggak sepede Wiwi. Weva nggak pede."

__ADS_1


Wiwi tak menghiraukan ujaran Weva yang tak henti-hentinya bertutur di belakangnya.


Langkah Wiwi yang gagah dan begitu pede itu kini terhenti dan melongo menatap temapat gym yang begitu sangat ramai.


Banyak orang yang nampak begitu sibuk dengan beberapa alat yang tersedia. Ada tengah melakukan pemanasan, angkat besi dan sebagainya.


Wiwi menelan ludah. Rasanya nafas di dadanya itu tertahan setelah melihat banyaknya orang yang ada di ruangan yang cukup luas ini. Ah, Wiwi pikir tempat gym ini tak seramai ini.


Tatapan orang-orang kini terpusat menatap Weva dan Wiwi dari ujung kaki sampai ujung rambut. Semuanya nampak berwarna kuning mencolok, yah, bahkan Wiwi mulai tak nyaman dengan tatapan itu.


Weva mengkerutkan kedua alisnya seakan begitu sedih berada di tempat gym ini. Ini bukan tempat olahraga, tapi ini tempat penyudutan dimana Weva dan Wiwi menjadi sorotan di sini.


Wiwi tertunduk menatap dirinya dan tubuh Weva yang menjadi sorotan bahkan beberapa dari mereka ada yang berbisik dan tertawa. Mereka pasti sedang menertawakan penampilan Weva dan Wiwi.


"Wev, kayaknya baju kita terang banget, deh."


"Tuh, kan," ujar Weva yang lantas dengan cepat menutup tubuhnya dengan kedua tangannya. 


"kaca mata lo, Wev," tegur Wiwi yang langsung melepas kacamata yang sedari tadi melindungi kedua mata Weva.


"Terang banget," sambung Wiwi dengan wajahnya yang malah ngeri sendiri.


"Weva, kan tadi udah bilang."


"Iya, jelek banget."


Weva menunjuk ke arah kacamata kuning berpola banana yang masih terpasang di kedua mata Wiwi, mengingatkan jika Wiwi juga mengenakan kacamata yang sama dengan miliknya. Wiwi yang menyadari hal tersebut dengan cepat melepas kacamata nya.


"Gimana, nih, Wi?" tanya Weva gelisah.


"Yah, gimana lagi, kita, kan udah bayar masuk ke sini, jadi mau nggak mau berat badan lo harus turun minimal 5 kg, Wev!"


"Tapi gimana caranya, Wi?" tanya Weva yang masih ketakutan.


"Udah masuk!" ajak Wiwi.


Gadis kurus itu kini menarik Weva yang hanya bisa mengikut ke arah mana Wiwi membawanya diiringi tatapan orang-orang yang sedang menatapnya.


"Mau liburan neng?" tanya seorang pria ketika Weva dan Wiwi melintasi membuat beberapa temannya itu tertawa.


"Mau ke pantai. Buta lo!" gertak Wiwi membuat pria beserta teman-temannya tersentak kaget.


Weva yang masih ditarik itu langsung menoleh menatap pria yang kini masih terdiam.


"Maafin Wiwi, ya! Wiwi memang suka marah," ujar Weva membuat pria itu mengangguk dengan pelan.


"Wiwi, kita mau kemana, sih?"


Wiwi menghentikan langkahnya membuat Weva meremas pergelangan tangannya yang telah dipegang oleh Wiwi.


Wiwi terdiam dengan tatapannya yang meraba segala kesegala arah seakan mencari sesuatu. Yah, Wiwi tengah mencari alat yang bisa menjadi wadah agar Weva bisa langsing dengan cepat.


Mata Wiwi yang sedang sibuk mencari alat itu kini terbelalak menatap pria yang selalu membully Weva yang kini tengah memberikan instruksi pada seorang pria yang tengah melakukan kegiatan pemanasan. 


Oh, Tuhan. Apa yang pria itu lakukan di tempat ini? Wiwi mengusap wajahnya lalu mengigit ujung jari-jari tangannya. Ini musibah.  

__ADS_1


"Weva!" panggil Wiwi lalu segera berlari dan bersembunyi di balik salah satu alat besi.


__ADS_2