Princess Endut

Princess Endut
89. Rasa Iri


__ADS_3

Kunyahan mulut Weva terhenti. Anak kesayangan?


"Anak kesayangan?" tanya Weva lalu ia menoleh menatap ke sekelilingnya.


Weva berusaha untuk mencari sosok anak kecil di dalam rumah ini, tapi tak ada satu pun anak kecil yang ia lihat.


"Maksud Tante? Anak kesayangan si-siapa?"


Ken yang mendengar hal itu langsung melirik. Ia menelan kunyahan apel yang berada di dalam mulutnya itu dengan kuat. Sepertinya perasan ini sedang tidak nyaman.


"Em, Tante punya anak kecil, ya?"


"Bukan. Tante nggak punya anak kecil, kok."


"loh, terus?"


"Nah, ini loh anak kesayangan Tante," ujar Laila lalu mengecup dan mengelus rambut Ken membuat Weva melongo.    


Kunyahan mulutnya terhenti. Wajah datarnya menatap serius ke arah Laila dan Ken.


Ken hanya tersenyum hambar menerima kecupan dan elusan dari Mamanya itu. Sesekali mata Ken melirik menatap Weva yang masih terdiam di sana.


Yah, Ken tahu apa yang ada di pikiran gadis gendut itu. Aneh dan tak menyangka, itu sudah pasti. Bagaimana bisa anak pembully seperti Ken dikecup dan dielus seperti ini.


"Ma, itu, kok Reyyan nyalain kipas dan AC, sih?"


Suara pria terdengar membuat Weva menoleh menatap pria yang tak asing lagi bagi Weva berdiri di jalan masuk ke arah dapur.


Weva bangkit dengan tatapan terkejutnya mendapati Pak Ahmad yang ikut terkejut menatap kehadiran Weva yang tengah berada di meja makan keluarganya. 


Ken yang melihat sorotan mata Bapaknya yang sedang menatap ke arah Weva hanya mampu mengelus wajahnya serta kedua matanya yang tertutup rapat seakan tak sanggup jika Bapaknya menanyakan kedatangan Weva di dalam rumah ini.


Harus jawab apa Ken, jika Bapaknya itu bertanya. Inilah mengapa Ken melarang Weva untuk masuk ke dalam rumah.


"Loh, kamu?" Tunjuk Pak Ahmad.


"Loh, Pak Ahmad?" Tunjuk Weva keherangan.


Weva mengeryit heran, apa yang pak Ahmad, si guru pilih kasih itu lakukan di rumah Ken. Apa Ken membuat onar di sekolah hingga pak Ahmad sampai datang ke rumah ini?


"Kok, pak Ahmad ada di sini?" tanya Weva.

__ADS_1


"Loh? Kok, kamu yang nanya saya? Harusnya saya yang tanya sama kamu, kok kamu bisa ada di sini?" tanya pak Ahmad.


"hust!" tegur Laila membuat Weva dan pak Ahmad itu menoleh secara bersamaan. Laila sudah lelah melihat ke arah kiri dan kanan saat Weva dan suaminya itu saling menunjuk.


"Pak, Ini Weva temannya Ken," ujar Laila sembari tersenyum.


"Teman?" Tatapan pak Ahmad heran, yah entah sejak kapan Ken memiliki teman perempuan, yang ia tau Ken hanya memiliki teman yang semuanya berada di dalam sebuah geng motor dan itupun semuanya adalah pria, tak ada satu pun perempuan di sana


Entah sejak kapan Ken berteman dengan gadis gendut ini? Yah, pertanyaan ini kini meracuni dan memenuhi pikiran pak Ahmad.


"Dan Weva."


"Iya, Tante?"


"Perkenalkan, ini pak Ahmad, Bapak kandungnya Ken."


"Hah?" kaget Weva membuat pak Ahmad juga ikut terkejut.


"Kenapa? Kenapa teriak?" tanya pak Ahmad sambil mengelus dadanya.


Weva tertawa cengengesan.


"Ayo, Wev duduk lagi! Makananya belum habis, tuh," pintah Laila membuat Weva yang sudah pucat dan keringat dingin itu mengangguk dan kembali duduk di kursi.


Weva masih tak menyangka jika Ken adalah anak dari pak Ahmad. Tuhan, mengapa ini bida terjadi? Sekarang Weva berada bersama dengan dua orang yang sangat ia benci di sekolah dan orang itu berada di dalam satu ruangan.


...****...


Suasana makan sore nampak begitu berbeda di keluarga meja makan pak Ahmad kali ini, pasalnya bertambah satu orang yakni Weva.


"Ayo Nak makan lagi!"


"Ah, Mama kenapa, sih? Malu Ma diliatin teman aku." tolak Ken sambil mendorong sesuap nasi yang Laila sodori dengan sendok.


"Dikit aja, Keken!" Rayu Laila begitu lembut hingga dengan rasa terpaksa Ken membuka mulutnya.


"Coba ini Keken," ujar pak Ahmad antusias sembari bangkit dari kursinya dan menyuapi sepotong daging ayam ke mulut Ken.


"Enak nggak?"


Ken mengangguk membuat pak Ahmad dan Laila tertawa bahagia.

__ADS_1


Sementara di tempat yang sama Weva nampak hanya terdiam menatap kejadian romantis yang terjadi di meja makan. Dimana tepat di hadapannya ia melihat dengan jelas dua sosok malaikat tengah menyuapi anak kesayangannya Ini sangat berbeda dengan keadaan di rumah yang begitu hening, sepi dan sunyi.


Di rumah tak ada acara makan bersama dengan satu keluarga utuh seperti ini, walau semuanya masih berdiri kokoh dan lengkap, tapi semuanya terasa tak ada di kala kesibukan kerja menghampiri mereka semua.


Weva merasa iri jika melihat Ken yang di suapi, dikecup dan dielus seperti ini. Apakah ini yang namanya kasih sayang yang sebenarnya?


Weva tak menyangka jika Ken yang terkenal pembully itu ternyata begitu sangat dimanjakan oleh kedua orang tuanya.


Ini kasih sayang yang weva butuhkan! Weva tak butuh mendapati kasih sayang melalui fasilitas mewah dan oleh-oleh berupa barang-barang mewah dari kedua orang tuanya, tapi yang weva butuhkan, yah seperti ini. Sebuah kasih sayang.


Ken sangat beruntung mendapati keluarga  yang baik dan...


"Weva!" sebut Laila membuat Weva mengerjapkan kedua matanya beberapa kali seakan berusaha untuk berhenti melamun.


"Kok kamu nangis?" tanya Laila membuat pak Ahmad dan Ken ikut menatap ke arah Weva.


Weva mengusap pipinya cepat, ia bahkan baru sadar jika ia sedang menangis sekarang.


"We-weva nggak nangis, kok Tante. Weva keluar sebentar, ya."


Tak menunggu jawaban dari Laila, Weva langsung bangkit dari kursinya dan berlalu meninggalkan satu keluarga kecil yang menoleh menatap kepergian Weva.


Weva melangkah dan duduk di teras rumah di sambut Pinky yang nampak berlari dan ikut duduk di hadapan Weva.


Weva melepas tangisannya walau ia berusaha untuk tidak terisak untuk saat ini. Ia takut jika orang yang berada di dalam rumah itu sampai mendengarnya.


Tangisan Weva membuat Pinky bergerak lebih dekat dan mengarahkan kepalanya ke arah tangan Weva seakan Pinky mengerti dengan perasan Weva.


Weva tersenyum. Ia mengusap pipinya yang basah itu dan menatap Pinky dengan penuh kasih sambil mengelus kepalanya.


"Tuanmu itu sangat beruntung, Pinky," ujar Weva sembari mengelus kepala Pinky.


"Iya, si Ken si pria monyet pemanjat tower tangki air itu."


"Dia beruntung."


"Andai aja Weva punya kedua orang tua seperti orang tua ken pa-pasti Weva nggak akan merasa menyendiri dan iri seperti ini."


"Iya, Weva iri sama Ken."


"Ken keliatan banget disayang sama Mama dan Bapaknya. Kedua orang tua Ken nggak sama kayak orang tua Weva."

__ADS_1


__ADS_2