
Weva melangkah keluar dari ruangan pak Ahmad mendapati Wiwi yang nampak duduk di sebuah kursi panjang.
"Wev!" panik Wiwi lalu segera bangkit dan menghampiri Weva yang masih menangis.
"Lo nggak kenapa-kenapa, kan, Wev?"
Weva menggeleng berusaha memberi tahu kepada Wiwi jika ia sedang baik-baik saja.
"Terus tadi lo kenapa harus lari-lari segala kayak tadi terus lo-" Wiwi mengehentikan ucapannya dan beralih menatap ke dua mata dan pipi Weva yang terlihat basah.
Weva yang menyadari hal itu dengan cepat mengusap pipinya.
"Lo nangis, ya?"
Weva menggeleng lalu melangkah sembari mengenggam jari-jari Wiwi yang masih terlihat Kebingungan.
"Nggak, Weva nggak nangis, kok."
"Nggak nangis gimana, sih orang mata lo keluar air mata gitu. Lo nangis, kan? Nangis karena apa, sih, Wev?"
Weva kini terdiam, mematung seperti patung yang sedang dipajang.
Wiwi menatap Weva sejenak lalu menoleh menatap pintu ruangan pak Ahmad.
"Lo diapain sama si pak Ahmad sampai nangis kayak gini?"
"Nggak," jawab Weva lalu segera melangkah meninggalkan Wiwi yang kini terdiam.
Wiwi menghela nafas panjang. Ia menatap pintu ruangan pak Ahmad dan kembali menatap Weva yang belum terlalu jauh darinya.
"Ah, ini ada masalah apa lagi, sih?"
"Kayaknya hidup Weva itu nggak bisa dipisahkan sama air mata, deh," oceh Wiwi yang kembali melangkah.
Wiwi kini terdiam membisu tanpa pernah bicara di samping Weva yang kini hanya tabla pernah bicara sedikit pun.
Ada masalah apa gadis gendut ini hingga ia harus diam seperti itu.
"Wiwi," ujar Weva.
"Em, kenapa?" tanya Wiwi dengan cepat.
"Weva mau nanya, tapi Wiwi harus jawab jujur dan nggak boleh bohong."
"Iya, emang kapan, sih gue pernah bohong sama lo?"
Weva kini terdiam. Ia tertunduk sejenak membuat Wiwi menatap bingung.
"Kenapa, sih lo? Kok aneh gitu?"
__ADS_1
"Weva gendut banget, ya?" tanya Weva di tengah-tengah ia melangkah.
Wiwi seketika terdiam rasanya ia tak tahu harus menjawab apa kepada Weva yang kini sedang menatapnya dengan serius.
Weva menghela nafas. Diamnya Wiwi membuat Weva merasa jika telah menemukan jawabannya.
"Weva gendut banget, ya sampai Wiwi nggak bisa jawab?" tanya Weva dengan bibirnya yang nampak gemetar persis seperti anak kecil.
"Bukan gitu, Wev. Jadi gini kalau lo diet dikit mungkin gue bakalan ngegeleng terus gue bakalan bilang nggak."
"Tapi, kan lo belum diet dan jawabannya, ya kebalikan dari itu, Wev," sambung Wiwi dengan ragu dan penuh hati-hati, ia tak mau membuat Weva menjadi sakit hati.
Sudah cukup kalimat menyakitkan dari orang-orang di luar sana, tak perlu ada kalimat menyakitkan darinya.
"Lo ngerti, kan, Wev?" tanya Wiwi.
Weva mengangguk paham. Ia sudah tahu jawabannya.
"Emang tadi lo ngapain, sih di dalam?"
"Nggak ada."
"Nggak ada. Masa, sih nggak ada?"
Tak ada jawaban dari Weva.
"Oh iya, Wev tadi nggak salah dengar katanya si Fhina, ya yang lolos ikut olimpiade?"
Weva mengangguk pelan membuat Wiwi mendecakkan bibirnya dengan kesal.
Weva hanya mampu menggeleng. Ia begitu sangat malu untuk memberitahukan semua kebenaranya kepada Wiwi. Ini hal yang memalukan.
Langkah Weva kini terus melangkah beriringan dengan Wiwi di koridor menuju ruangan kelasnya yang lumayan agak jauh. Weva bahkan tak sadar jika ia telah berlari sejauh ini tanpa merasa lelah.
"Gila kali, yah tu si pak Ahmad milih si Fhina. Emang sepintar apa, sih dia?"
"Heh gendut!!!" teriak seseorang ketika Weva dan Wiwi melintasi arah tangga.
Langkah Weva dan Wiwi dengan kompak langsung terhenti membuatnya kini saling melirik.
"Lo kenal suara itu, kan?" bisik Wiwi.
Weva mengangguk, "Itu suara si pembully itu."
Wiwi dan Weva dengan kompak membulatkan kedua matanya serta kedua bibirnya yang terbuka.
"Ken!!!" teriak Wiwi dan Weva secara bersamaan namun, dengan ekspresi wajah yang berbeda.
Wajah Weva terlihat panik serta ketakutan sementara Wiwi terlihat begitu kegirangan.
Keduanya langsung menoleh menatap ke sumber suara.
__ADS_1
Sial!
Weva terbelalak kaget mendapati pria berandal itu yang nampak menopang pinggang bersama dengan geng berandalnya di anakan tangga, ini mengerikan.
Oh Tuhan, cobaan apa lagi ini? Apa belum cukup kesedihan yang pak Ahmad berikan kepadanya dan harus ditambah lagi denhan kehadiran Ken.
"Sini lo!" panggil Ken sembari menggerakkan jarinya memanggil Weva agar segera mendekat.
...*********...
"Hahaha, emang gue yang nomor satu dan nggak ada yang bisa nyayingin gue. Apa lagi sama si gendut jelek itu yang soknya minta ampun," nyinyir Fhina sambil mengibaskan rambutnya dan tersenyum penuh bangga.
"Udah gendut jelek lagi," tambah Firda.
"Emang dia itu wajib diviralin, sih. Nggak sia-sia gue viralin dia ujung-ujungnya followers Harmut jadi nambah," tambah Harni yang kini sibuk memainkan ponselnya.
Firda yang sejak tadi tertawa itu kini menghentikan langkahnya menatap ke arah kerumunan. Ia menyipitkan kedua matanya menatap serius pada sosok yang sangat ia kenal.
"Eh, itu bukanya si gendut itu, kan?" tanya Firda sambil menyikut kedua sahabat gengnya.
Fhina dan Harni dengan cepat menghentikan langkahnya lalu ikut menoleh menatap ke arah kerumunan.
"Iya, yah itu kan si gendut jelek itu. Mau di apaan lagi tuh sama si Ken?" tanya Firda yang begitu serius.
"Wah, Harmut nggak boleh ketinggalan info, nih," ujar Harni yang langsung membuka live instagramnya dan berlari memasuki kerumunan.
Fhina dan Firda juga dengan serentak berlari memasuki kerumunan sambil berteriak membuat para kerumunan itu langsung menoleh.
"Minggir! Minggir!!!" teriak Firda dan Harni yang membelah kerumunan.
"Mau apa lagi tuh si Ken?" bisik Firda.
"Wah, ganteng banget, ya, sih, Ken," ujar Fhina sembari tersenyum manis dan menggerakkan bahunya ke kiri dan kanan.
Harni yang berdiri di samping Firda itu kini tersenyum sambil menceloteh tak jelas di depan kameranya meladeni semua kolom komentar para fansnya.
Weva menghela nafas panjang lalu mendecakkan bibirnya menatap keberadaan Ken di depan sana.
"Dia lagi," bisik Weva.
"Malah diem lagi lo. Sini cepetan!" Paksa Ken sembari melepas handset hitam dari kedua telinganya.
"Gimana nih, Wi?" tanya Weva sembari melirik Wiwi dengan raut wajah gelisahnya.
"Kalau gue, ya maju aja, sih, Wev. Yah kalau gue di panggil sama cowok ganteng kayak si Ken, yah, gue bakalan maju lah. Yah kali gue nolak," bisik Wiwi sambil tersenyum malu.
"Ganteng dari mana, sih Wi? Gantengan juga si Brilyan," bisik Wiwi tak terima.
Wiwi melirik sembari memasang wajah tak senang jika Weva kembali memuji pria sedingin es balok itu.
"Ganteng sih, tapi, bisu," bisik Wiwi lagi.
__ADS_1
"Heh!!!" teriak Ken yang sedari tadi menatap dua makhluk ini saling berbisik.
"Cepetan sini!" teriak Ken lagi.