Princess Endut

Princess Endut
144. Sembunyi.


__ADS_3

Ken dengan sigap memegang erat pinggang Weva yang hampir terjatuh membuat Weva mendongak menatap wajah Ken.


Kedua mata Weva menatap serius. Tak dapat terhenti tatapan serius itu menatap indah wajah Ken. Wajah Ken yang basah tak membuat ketampanan pria yang selalu menyebalkan itu berkurang begitu saja.


Ken tersenyum memperlihatkan gigi putihnya yang tersusun rapi. Ken mengangkat kedua alisnya membuat Weva tersadar dari lamunannya.


"Kenapa?"


"Weva nggak tau cara dansa."


Ken tertawa kecil.


"Itu nggak masalah, kok. Lo cuman harus tenang dan bayangin aja kalau lo itu adalah seorang putri yang berdansa dengan pangeran di lantai dansa."


"Pangeran?"


"Siapa pangerannya?"


"Lo maunya siapa?"


Weva terdiam dan berpikir sejenak.


"Brilyan?"


Rasanya ada yang menghantam dada Ken setelah Weva menyebut nama pria itu. Ken sangat berharap jika Weva menyebut namanya, tapi apa boleh buat, gadis gendut ini telah besar rasa suka dan cintanya kepada Brilyan.


Ken mengangguk pasrah membuat Weva memejamkan kedua matanya membuat Ken kembali melangkah untuk memulai gerakan dansa yang selalu ia lakukan bersama dengan Tante Laila.


Gerakan dansa itu dimulai dengan gerakan yang begitu lembut dan penuh hati-hati. Ken tak mau jika Weva hampir terjatuh seperti tadi.


Weva mengernyitkan dahinya saat di dalam pikirannya ia melihat wajah Ken di sana, bukan wajah Brilyan.


Weva tak mengerti mengapa wajah Ken yang ia lihat, bukan wajah Brilyan. Bukan kah hati ini mencintai Brilyan, namun mengapa wajah Ken yang tercipta dalam angan-angannya.

__ADS_1


Ken mendadak mendatar tanpa ekpresi wajahnya menatap senyum Weva yang tiba-tiba saja terlukis. Yah, sepertinya terlalu indah bayangan wajah Brilyan hingga berhasil membuat Weva tersenyum sebahagia itu.


Ken melepas pegangannya dari pinggang Weva lalu mengangkat tangan Weva ke atas membuat Weva berputar begitu bahagia.


Ken melepas jemari tangannya yang memegang jari tangan Weva membiarkan Weva berputar sambil merentangkan kedua tangannya dengan wajah yang menengada ke langit membiarkan guyuran air mancur itu mengenai wajahnya yang telah basah.


Ken diam mematung menatap Weva yang kini tersenyum bahagia tetap menutup kedua matanya. Ken menghela nafas panjang lalu tersenyum berusaha untuk baik-baik saja walau hatinya ingin menangis.


Ken memilih berdiri tegak dengan kedua tangannya yang berada di dalam saku celananya. Ken harus bisa menerima kenyataan kalau Weva hanya mencintai Brilyan.


Kedua mata Ken melirik menatap Weva yang masih berputar di sana hingga kedua mata Ken membulat menatap kaget pada kaki Weva yang bergerak ke pinggiran kolam.


"Weva!!!" teriak Ken.


Ken berlari menghampiri Weva dan memegang pinggang lalu menariknya, membawa Weva dalam dekapannya.


Weva dengan cepat membuka kedua matanya menatap wajah Ken yang begitu jelas terpampang. Bayangan wajah Ken dalam hayalannya tak ada bedanya, hanya saja di dalam pikirannya Ken terlihat mengenakan pakaian pangeran.


Keduanya kini terdiam, tetap saling memandang.


"Wev, gue-"


Ujaran Ken terhenti ketika cahaya senter mengenainya dan Weva membuat Ken serta Weva dengan serentak menoleh menatap ke arah asal cahaya itu.


"Siapa di sana?!!" teriak penjaga keamanan taman yang rupanya sedang berpatroli membuat Ken dan Weva kembali bertatapan.


"Lari, Wev!!!" teriak Ken lalu mengenggam pergelangan tangan Weva dan menariknya keluar dari kolam air mancur.


Weva tertawa lepas. Rasanya begitu senang berlari seperti ini, apalagi ia berlari bersama Ken yang membawanya ke sebuah jejeran tanaman bunga yang tertata rapi.


Ken yang masih berlari itu menoleh menatap Weva yang masih tertawa bahagia membuatnya juga ikut tertawa. Untuk pertama kalinya Ken melakukan hal ini bersama dengan seseorang dan hal itu pun ia lakukan bersama dengan gadis gendut yang dulunya selalu ia bully.


Jika nantinya Weva telah langsung dan meninggalkannya, mungkin yang terjadi sekarang tak akan pernah ia lupakan seumur hidupnya.

__ADS_1


Ken berlari ke belakang semak-semak tanaman bunga dan duduk bersembunyi di sana membuat Weva juga melakukannya.


Weva menatap serius pada wajah Ken yang terlihat begitu sangat serius menatap ke arah celah semak-semak berusaha untuk memastikan jika penjaga keamanan taman itu tak mengejarnya.


Weva melipat bibirnya berusaha untuk menahan tawanya, tapi apa yang mereka berdua itu lakukan sangat lucu bagi Weva membuatnya kembali tertawa cekikan membuat Ken melirik bingung.


"Lo kenapa, sih kayak orang gila? Ketawa melulu dari tadi."


"Hust! Bisa diem nggak, sih?" pinta Ken sambil meletakkan jari telunjuknya di depan bibir miliknya.


Weva tak menjawab ia berusaha untuk menahan tawanya tapi tidak bisa. Wajah Ken yang panik begitu sangat lucu.


Suara langkah terdengar diiringi cahaya senter yang menyorot ke arah semak-semak tempat dimana mereka bersembunyi membuat Ken terkejut. Ia merangkul Weva membawanya di dalam pelukannya sambil telapak tangannya yang menutup mulut Weva.


Ken tak mau jika penjaga keamanan itu sampai mendengar suara tawa Weva.


Seketika kedua mata Weva menatap ke arah wajah Ken. Nafasnya pun dibuat tersengal saat ia merasakan kehangatan tubuh Ken. Pipi Weva yang sudah kering itu menjadi basah saat permukaan pipinya menyentuh baju bagian dada Ken yang basah.


Apa yang Weva rasakan? Weva bahkan tak mengerti dengan perasannya. Di hatinya ia mencintai Brilyan, tapi mengapa jantungnya seakan memilih Ken.


Ken bernafas lega saat pria penjaga keamanan taman itu telah melangkah pergi membuat Ken menjauhkan tangannya dari mulut Weva.


Ia menunduk menatap Weva yang tak pernah lagi terdengar suara tawanya. Ken terdiam menatap wajah Weva yang begitu dekat dengan wajahnya. Bahkan saking dekatnya ujung hidung Ken yang mancung itu hanya berjarak beberapa centi saja dari hidung Weva.


Ken mengalihkan tatapannya dan segera bangkit setelah ia mengingat kalau gadis gendut yang tadi ada di pelukannya itu hanya mencintai Brilyan.


Weva ikut bangkit dengan wajahnya yang sudah tidak nyaman dengan hatinya sendiri.


"Yuk, kita pulang! Motor udah ada bensinnya," ajak Ken membuat Weva mengangguk pelan.


Ken menunduk menatap Weva yang terlihat tertunduk dan disaat Weva mendongak Ken dengan cepat menatap ke arah lain sambil berpura-pura merapikan rambutnya yang masih basah itu.


Sial! Ken bahkan dibuat salah tingkah oleh tatapan Weva. Ken melangkah pergi meninggalkan Weva yang juga ikut melangkah mengikuti Ken seperti ekor saja.

__ADS_1


Weva yang masih melangkah itu menoleh menatap kolam air mancur yang telah dimatikan oleh penjaga keamanan taman membuat Weva tersenyum tipis.


Yang terjadi tadi adalah hal yang paling membahagiakan bagi Weva.


__ADS_2