Princess Endut

Princess Endut
145. Sesuatu Terjadi


__ADS_3

Motor melaju lagi melintasi jalan raya yang masih sunyi diiringi hembusan angin malam yang mengeringkan wajah Weva yang telah basah karena air mancur tadi.


Weva mendesis lalu menghembuskan udara dari ujung bibirnya merasakan udara dingin keluar dari mulutnya. Weva memeluk erat boneka panda agar ia tak terlalu merasa kedinginan.


Memang benar jika kebahagiaan itu tidak akan bertahan lama. Lihat lah sekarang! Weva sudah mengigil karena kedinginan.


"Endut!" panggil Ken di tengah-tengah keheningan malam.


Tak ada jawaban dari Weva. Ia masih sibuk pada tubuhnya yang kedinginan.


"Woy! Endut!!!"


"Apa?"


"Tidur lo, yah?"


"Nggak! Siapa yang tidur?"


"Gue pikir lo tidur."


"Nggak, Weva nggak tidur, kok."


Bohong, kedua mata Weva sejujurnya telah sayup. Rasanya ia sudah lelah dan mengantuk. Kalau saja ia bukan di atas motor, mungkin Weva sudah tidur dari tadi.


"Oh, jangan tidur, ya! Rumah lo juga udah nggak jauh lagi, kok dari sini."


Weva mengangguk. Ia ikut menatap ke sekitarnya yang nampak tak asin lagi.


"Endut!"


"Apa?"


"Gue boleh nanya?"


"Boleh."


Ken tersenyum sejenak. Ia menarik nafas sebelum ia bicara.


"Nih, yah lo denger! Kalau si kurus kering itu ibarat bulan terus gue ibarat apa?"


Weva mengerakkan kedua bola matanya seakan berfikir sesuatu mengenai tentang Ken.


"Ayo, dong jawab!"


"Sabar! Weva, kan lagi mikir."


"Kok malah mikir, sih? Si kurus itu aja jawabnya cepet, pas gue malah lama. Nggak adil banget."


Bibir Weva terangkat diiringi tatapan tak mengerti. Kenapa sekarang Ken malah membanding-bandingkan dirinya dengan Brilyan.


"Ehm, kalau Brilyan ibarat bulan yang datang membawa ketenangan. Kalau, Ken itu ibarat matahari yang selalu membawa kebahagiaan bagi Weva," jelas Weva yang menggerakkan kedua tangannya seakan menggambarkan bentuk matahari yang bulat.


"Serius?"


"Iya," jawabnya jujur.


Ken tersenyum malu. Ia melipat bibirnya ke dalam berusaha untuk tidak tertawa karena bahagia. Tuhan, kenapa Ken jadi seperti ini sekarang.

__ADS_1


"Oh, jadi menurut lo, gue kayak matahari gitu sedangkan si kurus itu kayak bulan."


"Iya, Ken."


"Berarti kalau gue nggak ada lo nggak bahagia, dong karena kebahagiaan lo ada sama gue?"


"Kalau misalnya lo udah langsing dan lo udah sama si Brilyan terus lo ninggalin gue?"


Senyum Weva seketika sirna dari bibirnya setelah mendengar apa yang Ken katakan membuat Weva hanya bisa diam membisu dengan tatapan nanarnya menatap punggung Ken.


"Iya, kan Wev?"


Weva tertunduk. Ia tak tahu harus menjawab apa.


"Wev! Lo tidur, ya?"


"Nggak!" jawab Weva.


"Terus kenapa diem?"


"Nggak ada apa-apa," jawab Weva asal-asalan.


Motor vespa Ken terhenti setelah menepi di depan rumah Weva yang cahaya lampunya terlihat bersinar terang.


"Loh? Kok berhenti?"


"Lah? Lo nggak mau pulang? Tuh, kita udah sampai di depan rumah lo."


Weva menoleh menatap ke arah rumahnya dan tersenyum bodoh ke arah Ken yang masih menatapnya.


"Oh, iya, ya. Udah sampai ternyata, hehehe."


Weva tersenyum menatap Ken sambil mengerakkan tubuhnya seperti anak kecil yang menanti es cream dari penjual.


Ken menjulurkan telapak tangannya membuat Weva menatap bingung.


"Apa?"


"Tas Mama gue."


Weva menepuk jidatnya.


"Oh, iya. Weva lupa."


Weva melepas tas hellokitty dan menyerahkannya pada Ken.


Weva terdiam menatap Ken yang sedang merapikan helm hitam serta tas hellokitty itu di gantungan motor vespanya.


"Lo nggak masuk?" tanya ken yang kemudian terdiam menatap Weva.


"Enggak, tunggu Ken pergi dulu."


Ken tersenyum sembari mengangguk-anggukkan kepalanya tanda mengerti.


"Kalau udah sampai di dalam lo langsung mandi, ganti baju terus minum air hangat! Jangan sampai lo flu, lo kan udah main air tadi," jelas Ken membuat Weva mengangguk.


"Terima kasih, ya, Ken," ujar Weva sembari menunduk.

__ADS_1


"Terima kasih buat apa?"


"Terima kasih buat semuanya. Ken udah ajak Weva jalan-jalan dan hari ini Weva seneng banget."


"Terima kasih karena udah buat Weva ketawa. Weva nggak tau apa setelah ini Weva bakalan bisa ketawa kayak tadi."


"Kalau bukan Ken, mungkin Weva nggak akan pernah sebahagia ini."


"Makasih juga sama bonekanya. Weva maaf kalau gara-gara Weva, Ken sampai dipukul tadi. Weva benar-benar minta maaf karena udah nyusahin Ken tadi."


"Weva yakin kenangan ini nggak akan pernah Weva lupain," lanjut Weva sambil sesekali menatap Ken yang masih setia menatapnya penuh perhatian.


Ken terdiam menatap Weva yang sedari tadi menunduk.  


"Ken-" ujaran Weva terhenti ketika Ken mencubit kedua pipi Weva yang begitu chubby.


Ken tersenyum dan mencubit pipi chubby Weva dengan gemas membuat Weva mengangkat pandangannya menatap Ken.


"Ken-"


"Menurut artikel yang gue baca, katanya kalau pipi chubby itu dicubit kayak gini, orangnya jadi makin gemesin," jelas Ken memotong ujaran Weva.     


Weva tersenyum malu membuat ke dua pipinya memerah. Entah sesuatu terjadi di sini. Tepatnya di dalam hati Weva yang rasanya langsung berbunga-bunga saat Ken mengatakan hal manis itu.


Ken terdiam sejenak. Gerakan jari tangannya yang mencubit pipi Weva yang persis seperti jeli itu juga ikut terhenti.


Ken bangkit dari jok motornya dan tanpa sepatah kata lagi Ken mendekatkan wajahnya ke wajah Weva yang hanya mampu terdiam menatap Ken yang semakin mendekatkan wajah tampannya itu.


Cup


Ken mencium lembut kening Weva membuat Weva dengan cepat memejamkan kedua matanya. Weva mampu merasakan hembusan nafas Ken yang membelai lembut ubung-ubungnya membuat bulu kuduknya merinding. Suhu tubuhnya tiba-tiba saja juga ikut meningkat.


Beberapa detik kemudian Ken menjauhkan wajahnya serta bibirnya yang telah mengecup kening Weva dengan menatapnya nanar.


Weva membuka kedua matanya menatap wajah Ken yang kini mulai menjauh darinya.


"Sesuatu terjadi, Wev."


"Sesuatu terjadi."


"Gue harap lo paham maksud gue," lanjut Ken lalu melangkah pergi menaiki motornya meninggalkan Weva yang kini terpatung di tempatnya berdiri dengan tatapan heran.  


Weva merabah keningnya yang telah di kecup oleh Ken dan menyentuh dadanya yang berdebar kencang serta nafasnya yang terasa sesak ini.


Apa ini nyata? Seorang Ken baru saja telah mengecup keningnya? Seorang Ken yang berwajah tampan itu mengecup kening Weva yang memiliki tubuh gendut? Apa Ken sufah gila?


Seumur hidupnya Weva tak pernah memikirkan hal ini akan terjadi kepadanya.


Apa Ken benar mencium keningnya atau ini hanya sebuah mimpi atau hanyalah sebuah hayalan semata.


Wajah Weva yang memucat itu dihantam tamparan dari telapak tangan Weva sendiri hanya untuk memastikan apa ini sebuah mimpi atau bukan.


"Aw!" aduh Weva yang bisa merasakan sakit.


Weva mengusap pipinya.


"Ini bukan mimpi. Ken beneran cium kening Weva tadi, tapi-"

__ADS_1


Weva menoleh menatap jalan sepi, motor Ken sudah tak terlihat lagi.


"Tapi apa maksud Ken?"


__ADS_2