
"Dengerin tuh Pak Walio! Emang keras kepala banget," ujar Wiwi sinis.
"Yah, mau gimana lagi, Wi? Kalau hati Weva udah suka, yah suka nggak bisa diubah lagi. Gimana, dong?"
Wiwi menghempaskan tubuhnya ke sandaran kursi.
"Terserah lo aja, deh. Pusing gue mikirin lo."
...****************...
"Makasih, ya Pak Walio," ujar Wiwi setelah menutup pintu mobil.
Pak walio mengangguk, sedikit tertunduk dengan sorot matanya yang menatap Wiwi yang nampak tersenyum manis di luar sana. Sorotan mata Pak Walio kini terlihat meraba ke segala arah seakan mencari sesuatu di sebuah rumah berpagar sederhana itu.
Wiwi tersenyum tipis, sudah jelas Pak Walio mencari sosok Mamanya. Yah, walaupun Pak Walio tak pernah mengatakan jika Pak Walio menyukai Mamanya itu tetapi, Wiwi mampu melihat rasa suka itu dari tatapan Pak Walio yang selalu menatap Mamanya dengan tatapan yang berbeda dari bagaimana cara Pak Walio menatap orang lain.
Mama Wiwi sekarang memang sudah melajang setelah Ayah Wiwi meninggal beberapa tahun yang lalu lebih tepatnya ia meninggal sejak Wiwi menginjak usia SMP.
"Cari siapa Pak Walio?" tanya wiwi membuat Pak Walio tersentak dan menghentikan pencariannya itu lalu beralih menatap Wiwi yang nampak menggerak-gerakkan kedua alisnya.
"Ah, tidak ada, Nona," jawabnya sambil tersenyum malu membuat Wiwi tertawa tipis dengan wajahnya yang terlihat malu.
"Mama saya nggak ada, Pak Walio," ujar Wiwi walau hanya sekedar iseng mengatakan hal itu tapi ujaran itu berhasil membuat kedua mata Pak Walio membulat.
"Aduh, nona ini sepertinya tahu saja eh apa yang ada di pikiran beta," ujarnya malu sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal itu.
Wiwi kini beralih menatap sahabat gendutnya itu yang nampaknya sedari tadi tengah menatapnya dengan wajah datar.
"Nggak mau singgah lo?" tanya Wiwi.
"Oh, boleh nona," jawab Pak Walio dengan antusias bahkan dengan santainya ia melepas sabuk pengamannya.
"Apaan sih Pak Walio, eh Pak Walio! Saya nggak mau punya Ayah papua! Jangan kebanyakan harap, deh!" ujarnya menatap serius ke arah Pak Walio yang kini hanya mampu memasang kembali sabuk pengamannya membuat Wiwi tersenyum lalu tertawa kecil.
"Aduh eh mana tahu kan kita sama Mama kamu pejodo begitu."
"Nggak usah ngarep pak Walio! Gimana Wev?" Tatap Wiwi beralih menatap Weva yang masih tetap ditawarkan untuk singgah.
"Nggak, deh, tuh Pak Walio yang Wiwi ajak singgah!"
"Nah, begitu nona, itu lebih bagus, " jawab Pak Walio antusias sembari menatap Wiwi dengan sorot matanya yang berbinar dan penuh harap.
"Nggak!" bantah Wiwi cepat.
__ADS_1
"Beta haus nona mungkin sa bisa minum kopi begitu," ujarnya sembari mengelus lehernya.
"Wiwi nggak punya kopi."
"Kalau begitu air putih saja."
"Di rumah nggak ada air putih."
Pak walio meringis sadis setelah mendengar ujaran Wiwi yang begitu menyedihkan.
"Yah, sudah beta duduk saja di dalam, yah?"
"Nggak! Di rumah Wiwi nggak ada kursi!"
"Aduh eh nona parah sekali." Tatap Pak Walio miris tambah miris.
Wiwi tersenyum lalu beralih menatap Weva yang masih termenung di tempat duduknya.
"Mau nggak lo, Wev?"
Weva menggeleng pelan dengan wajah murung tanpa ada rasa semangat.
"Kenapa, sih lo? Murung gitu? Mending lo lupain si Brilyan! Si Brilyan aja belum tentu dan sudah pastinya dia nggak mikirin lo, jadi stop mikirin dia!"
"Nggak bisa, Wi! Weva udah terlanjur cinta."
"Yah udah deh. Terserah! Biar lo aja yang gila karena ngarepin orang kayak dia."
Wiwi beralih menatap Pak Walio yang nampak mengusap dan menyisir rambut kritingnya sambil menatap wajahnya di pantulan cermin mobil.
"Pak Walio!" panggil Wiwi.
"Iya nona, beta disuruh singgah kah begitu?"
"Nggak enak aja!"
Pak Walio menghela nafas. Percuma ia merapikan rambutnya, ujung-ujungnya ia tak bertemu dengan Mama Wiwi.
"Ah, beta kira Nona Wiwi itu ajak beta singgah. Ini beta sudah rapikan rambut supaya tidak kriting."
Wiwi yang mendengar hal itu langsung menatap rambut pak Walio yang kembali mengembang seperti sarang burung.
"Rapi apaan kayak gitu."
Mendengar hal itu membuat Pak Walio menatap rambutnya di cermin mobil.
__ADS_1
"Ini sudah rapi, nona," ujarnya yang kembali mengusap rambutnya.
"Kalau Pak Walio mau masuk ke rumah Wiwi. Rambut Pak Walio harus lusur nggak boleh keriting kayak gini."
"Harus lurus nona?"
Wiwi mengangguk.
"Kayaknya pak Walio ganteng, deh kalau rambutnya lurus."
"Iya kah, nona?"
Wiwi mengangguk membuat pak Walio tersenyum gembira sambil kembali merapikan rambutnya.
"Pak, Walio!"
"Iya, Nona."
"Besok jemput Wiwi lagi, yah, kalau Wiwi nggak dijemput Wiwi bakalan ngadu sama Mama!" ancam Wiwi.
"Aduh siap nona," ujarnya sembari memberi hormat.
Wiwi kini tersenyum lalu beralih menatap Weva yang nampak membalas senyumnya begitu dalam.
"Titip salam, yah, Wev sama kak Wevo," ujarnya sembari mengerakkan kedua alisnya beberapa kali. Ini tatapan menggoda.
Weva tertawa lalu mengangguk seakan mengiyakan. Lagi dan lagi si Wiwi menitipkan salam untuk kakaknya, yah, jika dipikir-pikir gadis mana yang tak jatuh hati jika melihat paras tampan kakaknya itu.
Sudah pasti banyak yang suka dengan kakaknya itu. Siapa yang tidak suka dengan Wevo? Pria berparas tampan, tinggi dan tubuh ideal yang menjadi incaran para gadis-gadis.
Hah, Kak Wevo adalah sosok pria idaman semua orang dan juga pria idaman bagi Wiwi yang sudah lama menaruh hati kepada Kak Wevo.
"Yah, udah makasih, yah pak Walio, Weva."
"Iya, Nona sama-sama. Em, titip salam salam Mama nona itu."
"Em, enak aja."
Suara mesin mobil terbaru saat Pak Walio mulai menyalakan mobilnya.
"Hati-hati, yah!"
"Iya, nona."
"Jangan mikirin Brilyan melulu lo, Wev!" ujar Wiwi membuat Weva tersenyum lalu mengangguk pelan.
__ADS_1
Perlahan ban mobil itu berputar pelan dan berangsur cepat membuat Wiwi tertinggal jauh di belakang ketika mobil itu melaju dengan kecepatan sedang meninggalkan Wiwi yang kini mematung di depan rumahnya.