
"Cepetan masuk! Jangan nyuri lo, yah!" Tunjuk Ken lalu melangkah pergi meninggalkan weva yang melongo.
"Nyuri? Mana mungkin Weva mau nyuri."
"Ya, mana tahu ada setan yang hasut."
"Banyak omong lo, cepetan masuk!"
"Iya, iya. Gitu aja marah," jawab Weva dengan nada tertekan.
Weva mendengus kesal. Huh, memangnya siapa yang mau mencuri? Apakah Weva, si princess Endut ini yang akan mencuri? Yang benar saja Ken ini.
"Cepetan, ya! Jangan lama!"
Weva tak menjawab. Percuma saja jika bicara dengan ken dan mengajaknya berdebat toh ujung-ujungnya juga Ken yang akan menang. Ken itu tidak mau mengalah.
Weva melangkah masuk dengan tangan kanannya yang menutup pintu dengan rapat. Weva menoleh menatap ke arah rungan kamar membuat Weva langsung melongo menatap suasana kamar Ken yang nampak begitu aneh terlebih lagi dengan motif..
"Hah?"
Kedua bibir Weva terbuka dengan tatapannya yang begitu terkejut.
"Barbie?" Kaget Weva ketika melihat dinding kamar Ken yang dipenuhi dengan gambar Barbie, sprei Barbie dan barang-barang lainnya yang semuanya bertemakan Barbie.
Tuhan, apa ia telah salah kamar atau ia yang salah lihat?
Weva menoleh. Ia berputar menatap ke segala arah.
"Ini beneran kamar Ken atau bukan, sih?"
Weva kembali merabah ke sekelilingnya dan berhasil menemukan sebuah bingkai foto yang merupakan foto Ken yang nampak kedua pipinya yang dicium oleh pak Ahmad dan Tante Laila.
Weva berhasil mengedipkan matanya yang perih ketika sedari tadi matanya tak dapat berhenti untuk memandangi sekeliling ruangan kamar Ken.
Yang benar saja.
Lalu mungkin karena ini sehingga Ken tak mau mengijinkan Weva menukar bajunya di dalam kamar ken, ini semua karena seluruh kamar Ken yang bertemakan Barbie.
__ADS_1
Weva tak menyangka jika Ken punya kamar seperti ini. Ken yang terkenal pembully, suka marah-marah dan kasar itu ternyata memiliki kamar seperti ini. Bahkan kamar ini lebih mirip kamar anak perempuan usia lima tahun.
Beberapa menit kemudian Weva kembali membuka pintu setelah menukar seragam sekolahnya ke baju olahraga berwarna kuning terang, yah baju yang sama yang Weva kenakan saat Weva datang ke tempat gym milik Ken bersama dengan Wiwi.
Selain baju ini tak ada lagi baju yang sesuai dengan ukuran tubuh Weva, jadi terpaksa Weva harus menggunakannya.
Weva membuka pintu kamar yang sejak tadi tertutup rapat.
"Ken!!!" teriak Weva ketika berhasil menemukan Ken yang berada di samping pintu kamar dan berhasil membuatnya terkejut.
"Lama banget sih, lo?"
"Ken ngapain, sih di situ? Kan Weva jadi kaget."
"Suka-sukw gue, dong. Orang ini rumah gue. Lagian lo ngapain aja, sih di dalem sampai lama gitu? Tidur lo?"
"Nggak."
"Terus kenapa lo lama banget? Ini terakhir kali, ya lo masuk di dalam kamar gue!" Tunjuk Ken lalu segera melangkah berniat masuk ke dalam kamarnya, kini giliran Ken lah yang akan menukar seragamnya.
Plak
Ken menghempas pintu sebelum Weva kembali berujar membuat Weva hanya mampu mendecapkan bibirnya kesal, padahal Weva hanya ingin menanyakan tentang kamar Ken yang semuanya dipenuhi dengan tema Barbie bahkan ada beberapa boneka Barbie di rak buku Ken.
"Huh, dasar pria monyet pemanjat tower tangki," umpat Weva kesal.
Ken menghembuskan nafas sesak sambil bersandar di permukaan pintu kamarnya yang telah ia tutup rapat. Hah, mungkin Weva akan berfikir yang aneh-aneh setelah melihat seisi kamarnya yang telah didesain sesuai dengan kemauan Mamanya.
Kedua mata Weva kini melirik dan membulat menatap seisi ruangan kamarnya. Ken menepuk jidatnya.
Barbie?
Ken mengucek-ngucek kedua matanya dan mengerjapkannya beberapa kali. Apa ini nyata? Bagaimana ini bisa terjadi oleh kamar Ken.
Ken menghembuskan nafas berat sambil memijat dahinya yang terasa pening itu. Tuhan, cobaan apa yang ia dapatkan dari Mamanya itu.
Cukup bekal dengan gambar Barbie, Doraemon dan hello kitty tapi tidak untuk Barbie di dalam ruangan kamarnya.
__ADS_1
Ken melangkah ke arah rak bukunya. Ia menyentuh boneka Barbie itu dengan jari tangan lemasnya dan mendorongnya agar menjauh dari beberapa buku-buku koleksinya.
Ken duduk ke permukaan kasur namun, belum sempat ia duduk ia terkejut mendapati bantal guling bersprai pink dengan gambar Barbie yang hampir ia duduki. Ken yang terkejut itu dengan cepat meraihnya dan melemparnya jauh-jauh.
Apa yang telah dilakukan Mamanya kepada kamarnya ini.
Ken yang sejak tadi diam memikirkan tentang kamarnya itu kini dibuat terkejut ketika ia ingat tentang Weva.
Ken memejamkan kedua matanya dengan erat. Gadis gendut itu pasti sudah salah paham setelah melihat ruangan kamarnya yang sudah seperti ini.
Apa yang akan Weva pikirkan tentangnya setelah melihat hal ini. Jiwa galaknya itu sudah diciutkan oleh kondisi kamarnya yang begitu sangat menyedihkan.
Tak berselang lama Ken melangkah keluar dari kamar dan mendapati Weva yang kini langsung bangkit dari lantai setelah sejak tadi menunggu di depan ruangan kamar Ken.
Ken meneguk salivanya. Rasanya ia malah gugup setelah mengetahui isi kamarnya yang sudah memalukan seperti itu.
Weva mendongak membuat kedua matanya bertemu pangan dengan Ken.
"Ngapain lo ngeliatin gue?" nyolot Ken yang berpura-pura tidak terjadi apa-apa pada kamarnya itu.
"Nggak."
"Terus-" Ken menoleh menatap ke arah kamarnya beruas untuk memastikan jika pintu kamarnya telah tertutup rapat.
"Terus lo ngapain ngeliatin gue gitu?"
Weva melipat bibirnya ke dalam berusaha untuk menahan tawanya. Jika dipikir-pikir sepertinya ruangan kamar Ken cukup lucu.
Bagaimana bisa Ken punya kamar yang seperti itu. Weva saja yang perempuan, tapi tidak mengoleksi Barbie seperti itu lalu mengapa Ken melakukannya.
Weva menutup mulutnya yang terkejut itu. Apa mungkin di balik Ken yang super galak punya hati hello Kitty.
"Ngapain lo kayak gitu?" tanya Ken yang berpura-pura tidak tahu.
"Nggak."
"Gila lo," umpat Ken lalu melangkah pergi meninggalkan Weva yang kini melipat bibirnya ke dalam berusaha untuk menahan tawanya.
__ADS_1