
"Woy!!" teriak Ken yang berada di anakan tangga sambil menopang pinggang menatap Weva.
Weva yang sedang asik bermain dengan air itu menghentikan tawanya lalu mendongak menatap Ken yang tidak terlalu jauh darinya.
"Lo ngapain di situ?!!"
Bukan malah ikut marah. Weva tersenyum lebar menatap kehadiran Ken.
"Ken!!!" teriak Weva sambil melambaikan tangannya ke arah Ken.
Ken mendengus kesal. Ia melangkah menurun anakan tangga untuk menghampiri Weva.
"Ngapain lo di situ?" tanya Ken setelah ia tiba di pinggir kolam sambil menatap Weva yang berada di tengah-tengah kolam.
Weva yang sedang menendang air itu menghentikan gerakan kakinya dan kembali tersenyum.
"Weva main air. Sini, deh ikut main air! Seru tau nggak."
"Nggak!" tolaknya.
"Ya, udah kalau nggak mau. Weva juga nggak maksa. Biar Weva aja yang main air, lagian Ken sendiri yang rugi kalau nggak mau ikut main air sama Weva."
Ken tersenyum miring.
"Nggak ada kerjaan banget, sih lo. Cepetan naik! Gue udah mau pulang."
"Nanti dulu, Ken! Weva mau main dulu."
"Keras kepala banget, sih lo. Kalau gue bilang naik, ya naik!"
"Atau lo mau gue tinggal di sini? Iya?"
Weva tak menjawab. Ia tetap saja menunduk sambil menatap kakinya yang ia gerak-gerakkan di dalam air merasakan sensasi dingin dari air. Pengaruh angin malam dapat menpegaruhi suhu air seperti yang Weva rasakan saat ini.
"Woy! Cepetan naik!!!" teriak Ken lagi, tapi tetap saja Weva tak menghiraukan apa yang Ken katakan. Bahkan Weva berlari keluar dari kolam hanya untuk mengambil dahan pohon kecil dan kembali berlari masuk ke dalam kolam membuat Ken melongo.
Ken memejamkan kedua matanya dengan erat berusaha untuk bersabar. Tuhan, mahluk ciptaan Engkau yang satu ini kembali menguji kesabaran Ken yang baik hati dan tidak sombong.
"Yah, udah lo di sini aja sampai pagi, By!"
Ken berpaling dan melangkah pergi menaiki anakan tangga berniat untuk melangkah pergi meninggalkan Weva.
Langkah Ken terhenti setelah mendengar suara tawa Weva yang begitu sangat lepas membuat Ken menoleh.
__ADS_1
Dari sini Ken bisa melihat kalau Weva terlihat sedang memukul permukaan air itu dengan dahan kecil membuat air itu terpercik mengenai wajah Weva yang tak henti-hentnya tertawa.
Ken ikut tersenyum. Ia melipat kedua tangannya di depan dada sambil terus menatap ke arah Weva yang masih bermain dengan air.
Ken tak pernah melihat Weva sebahagia ini. Ken akui jika ia dan Weva berbeda. Weva tak pernah mendapatkan kebahagiaan atau pun perhatian dari Mommy dan Papinya sedangkan Ken sangat dimanja oleh sebuah kasih sayang dari Tante Laila dan pak Ahmad.
Wajar saja Weva tersenyum bahagia walau hanya hal sepele seperti ini. Tak ada yang spesial pada genangan air mancur yang telah dimatikan sehingga tak ada pancuran air yang keluar dari lubang-lubang khusus .
Air mancur ini hanya akan berfungsi jika pagi sampai jam sepuluh malam dan setelahnya maka penjaga keamanan itu akan mematikannya.
Bagi Ken genangan air mancur itu tak ada spesialnya, tapi hal sederhana itu mampu membuat Weva bahagia.
Ken terdiam sejenak membuatnya berpikir memikirkan sesuatu. Jika ada air mancur maka ada alat yang menjadi pembangkit untuk itu.
Ken menoleh kiri dan kanan mencari sesuatu membuatnya melangkah menulusuri tanaman hijau yang berada di pinggiran tangga hingga kedua mata Ken tanpa sengaja menatap ke arah kotak besi kecil yang terlindung di balik semak-semak.
Ken tersenyum bahagia. Akhirnya ia menemukan kotak besi itu. Ken berlari menghampiri kotak besi dan berlutut di depannya.
"Yah, dikunci lagi," ujar Ken yang agak kecewa.
Ia bangkit dan kembali menatap ke arah Weva yang masih sibuk bermain dengan air. Ken tak boleh menyia-nyiakan kesempatan kali ini.
Ken menatap ke segala arah dan meraih batu setelah agak lama dan susah payah mencarinya.
"Dasar kunci murah," hina Ken saat kunci itu terbuka setelah ia merusak kunci itu dengan batu.
Ken membuka kotak itu dan tersenyum menatap tombol merah.Tombol itu adalah tombol yang digunakan untuk membangkitkan listrik hingga berhasil menyalakan air mancur itu.
Ken menyentuh tombol merah itu lalu ia menoleh menatap ke arah Weva yang masih asik sendiri dengan genangan air yang juga sepertinya telah lelah ditendang oleh Weva.
"Satu."
"Dua."
"Tiga!"
Ken menekan tombol merah itu setelah berhitung membuat Weva mendongak dengan kedua mata membulat serta mulut yang terbuka lebar menatap air mancur yang begitu tinggi menguyur tubuh Weva.
Weva tertawa bahagia. Ia merentangkan kedua tangannya ke samping sambil menutup kedua matanya yang wajahnya mendongak menatap ke langit membiarkan wajahnya basah saat diguyur air mancur yang menyentuhnya seperti air hujan.
Weva mengerakkan jari-jari tangannya yang telah merasakan setiap tetesan air yang menyentuh telapak tangannya.
Kini sekujur tubuh Weva basah kuyup setelah ia berada di bawah guyuran air mancur.
__ADS_1
"Weva!"
Kedua mata Weva yang sejak tadi terpejam itu dengan perlahan terbuka menatap sosok Ken yang tersenyum menatapnya. Air mancur itu berhasil menghalangi pandangan Weva untuk menatap wajah tampan Ken, namun wajah tampan itu jadi terlihat jelas saat Ken melangkah mundur.
Ken mengulurkan jari-jari tangannya di hadapan Weva yang menatap heran. Ia menatap jari-jari tangan Ken dan wajah Ken secara bergantian.
"Maksud Ken?"
"Lo mau jadi Princess, kan?"
Weva terdiam. Sejujurnya ia tak tahu harus menjawab apa.
"Untuk malam Brilyan nggak bisa jadiin lo Princess, tapi malam ini gue yang akan buat lo jadi Princess seperti apa yang lo mau."
Weva terdiam. Ujaran Ken yang ia ucapkan dengan lembut itu membuat Weva kebingungan. Ini bukan Ken yang Weva kenal.
Saat ini tak ada Ken yang pemarah atau Ken yang hobi untuk mengajaknya bertengkar.
"Ayo!"
Weva masih terdiam.
"Apakah Princess mau berdansa dengan pangeran?"
Weva menunduk menatap Ken yang menggerakkan jari-jari tangannya membuat Weva tersenyum dan meletakkan jemari tangannya di atas telapak tangan Ken.
"Terima kasih, Princess."
Weva tertawa lalu ia mengangguk.
"Sama-sama pangeran."
Ken mengenggamnya lembut dan meletakan jemari tangan Weva di atas bahunya serta tangan kanan Weva yang ia genggam.
Weva melirik merasakan kehangatan bahu Ken pada jemari tangannya yang masih berada di atas bahu itu.
"Sudah siap Princess Endut?"
Weva tertawa kecil lalu ia mengangguk membuat Ken mengerakkan kakinya maju dan mundur, ini adalah percobaan dansa yang tak pernah Weva lakukan sepanjang hidupnya.
Weva nyaris terjatuh saat ia tak mampu untuk mengerakkan kakinya mengikuti gerakan kaki Ken.
Ken dengan sigap memegang erat pinggang Weva yang hampir terjatuh membuat Weva mendongak menatap wajah Ken.
__ADS_1