Princess Endut

Princess Endut
15. Lihat Aku!


__ADS_3

"Yah mana tahu kan, Wi."


Wiwi meringis kesal sembari menggaruk kulit kepalanya yang tak gatal. Rasanya ia benar-benar ingin menginjak leher Weva sekarang juga.


Heran rasanya melihat Weva yang punya otak keras kepala dan tak mau mendengar omongan orang. Memangnya apa lagi, sih yang ada di pikiran Weva selain Brilyan?


"Jadi gimana, nih, Wiwi?"


Wiwi melirik dengan ekspresi wajahnya yang datar membuat Weva tersenyum memperlihatkan gigi putihnya yang terlihat rapi.


Ah, lihatlah bahkan ketika ia tersenyum. kebodohannya tambah terlihat. Tapi Wiwi jiga tidak boleh lupa jika gadis yang ada di sampingnya ini adalah siswi peringkat pertama di dalam kelasnya.


"Terserah!" putus Wiwi yang sudah tak mau berpikir banyak lagi.


Ingin pecah rasanya kepala Wiwi memikirkan apa yang ingin Weva lakukan. Semuanya serba salah. Memberi kan saran tak di dengar, membiarkannya juga hanya membuat malu, jadi yah sudah semua ada di tangan Weva yang gemuk itu.


Weva tersenyum lalu kembali mengintip menatap Brilyan yang masih tetap dengan posisinya. Weva menarik nafas, semoga Brilyan mau menerima nasi gorengnya yang sudah hancur itu. Tak peduli bagaimana keadaan nasi gorengnya di dalam kotak bekal pinknya yang Weva pikirkan adalah soal rasa.


Ingat! Bukan rasa nasi goreng itu tapi ini tentang rasa cinta Weva.


"Wi!" panggil Weva yang kembali menatap Wiwi yang sedari tadi berdiri di samping Weva.


"Berubah pikiran?" Tatap Wiwi dengan raut wajahnya yang nampak gembira.


Wiwi tersenyum lebar, senyum yang memperlihatkan barisan gigi putih Wiwi dan ini yang menandakan ketidak sabaran Wiwi untuk mendengar jawaban Weva.


Weva menggeleng yakin dengan keputusannya kali ini. "Weva bakalan masuk."


Wiwi mendecakkan bibirnya yang sudah tak memperlihatkan senyum manis itu. Belum sempat ia berkomentar Weva sudah lenyap di sampingnya dan langkah gendut weva itu sudah melangkah menuju Brilyan yang masih sibuk dengan bukunya.  


Kedua mata Wiwi mengikut ke arah mana gadis gendut itu melangkah tanpa rasa takut. Hah, mimpi apa Brilyan semalam sehingga harus didatangi oleh gadis gendut itu di jam istirahat seperti ini.


Kasian sekali si Brilyan.


Wiwi hanya menggeleng menatap kepergian Weva yang semakin menjauh.

__ADS_1


"Gila tuh anak."


Weva tersenyum kegirangan dengan langkah beratnya itu yang semakin mendekati Brilyan. Menatap wajah Brilyan memang membuatnya selalu terbuai dan bahagia. Tuhan, mengapa engkau bisa menciptakan wajah setampan Brilyan?


Mengapa rasanya Brilyan tak memiliki sebuah kekurangan sedikit saja.


Langkah Weva terhenti tepat di depan meja Brilyan yang masih sibuk dengan bukunya. Weva menghela nafas berat dan panjang. Wah, pantas saja Brilyan cerdas, ini semua kerena Brilyan yang selalu menghabiskan waktunya dengan buku dan belajar.


Buktinya sekarang bisa dilihat! Dimana semua orang-orang sibuk dengan kantin dan canda gurau bersantai di luar kelas sedangkan Brilyan malah asik berada di dalam kelasnya dengan buku yang selalu ia tatap.


Bolehkan Weva dilahirkan menjadi sebuah buku yang selalu dibaca oleh Brilyan dan dibawa kemana-mana?


Hah, bahkan sebuah buku lebih beruntung daripada nasib Weva yang baginya tidak ada keistimewaan. Apa yang harus ia banggakan dari sosok Weva?


Lemak?


Gendut?


Wajah yang tak cantik?


Tuhan, ini nasib buruk.


Weva menelan salivanya setelah berada di hadapan Brilyan beberapa detik. Harus apa Weva sekarang? Brilyan nampaknya sangat sibuk sampai tak menyadari jika ada gadis gendut di hadapannya yang sejak tadi menatapnya seperti seekor sapi yang minta diberi rumput.


"Ha-hai!" sapa Weva ragu sambil mengangkat tangan kanannya dengan senyum yang membias di bibirnya memperlihatkan gigi putihnya yang berbaris rapi.


Brilyan masih terdiam dengan tatapannya yang masih mengarah ke arah lembaran bukunya yang nampak terbuka itu tanpa menyadari ada gadis gendut di hadapannya. Ia terlihat serius. Weva bisa melihat gerakan bola mata Brilyan yang merambah setiap huruf pada deretan baris huruf yang ada di bukunya itu.


Weva menghembuskan nafas berat, yah mungkin suaranya itu tak mampu didengar oleh Brilyan yang sedang sibuk-sibuknya itu. Weva menoleh menatap Wiwi yang masih mengintip menatapnya dengan wajah yang terlihat sangat khawatir menatapnya.


"Gimana?" tanya Wiwi dengan gerakan mulut tanpa mengeluarkan suara sedikitpun tapi Weva bisa mengerti dengan apa yang Wiwi coba katakan kepadanya.


"Tunggu!" bisik Wiwi yang menggerakkan bibirnya dengan kedua matanya yang melotot.


"Apa?"

__ADS_1


"Udah, lo balik aja!"


Weva menghela nafas panjang. Jika berhubungan dengan Wiwi pasti hanya membawanya mundur untuk mendekati Brilyan. Hah, sepertinya Weva harus menguatkan hati dan pikirannya hanya kepada Brilyan dan menutup telinga rapat-rapat agar terjauh dari godaan Wiwi bahkan godaan Wiwi bisa mengalahkan hasutan setan yang punya tanduk panjang.


Weva menoleh kembali menatap sosok Brilyan yang masih setia menatap bukunya tanpa pernah menoleh menatapnya sedikit pun. Oh Tuhan, mengapa banyak sekali cobaan dan halangan Weva untuk mendekati Brilyan yang sudah lama menjadi incaran dan detak jantung Weva.


Weva menarik nafas panjang dan menghembuskannya dengan perlahan dan kembali tersenyum lebar. Kali ini Weva mencoba untuk kembali dengan niat utamanya yakni menatap Brilyan yang masih sibuk dengan bukunya.


"Hay!" sapa Weva sembari melambai.


Tak ada respon dari Brilyan membuat Weva mengeluh panjang. Suara cicak berbunyi membuat Weva mendongak menatap permukaan langit-langit ruangan kelas. Hah, seekor cicak saja terlihat menertawainya.


Weva kembali menoleh menatap Wiwi yang kini memasang wajah datar dan wajah lelah di pintu masuk rungan kelas.


Weva tersenyum kaku dan kembali menatap Brilyan yang masih sibuk dengan bukunya.


"Ha-ha-hai Brilyan," sapa Weva sembari melambaikan tangannya dengan nada suara yang ditinggikan membuat semuanya menoleh menatap Weva.


Yah, ternyata bukan hanya ada Weva dan Brilyan di dalam kelas ini tapi ada ada beberapa siswa dan siswi yang kini sedang menoleh menatap Weva yang nampak terdiam kaku seperti patung.


"Mati deh!" Pukul Wiwi ke dahinya setelah mendengar suara Weva yang cukup keras.


Weva tersenyum lebar memperlihatkan gigi putihnya yang tersusun rapi ke arah semua orang yang nampak masih terdiam.


"Ah, malunya."


Weva menggaruk kepalanya yang tak gatal dan kembali berujar, "Hahaha, maaf. Weva minta maaf."


Brilyan menghembuskan nafas berat sembari membalikkan sehelai kertas yang sedari tadi menempel di genggaman tangannya.


Weva mengerjapkan kedua matanya beberapa kali, raut wajahnya datar dengan tatapannya yang masih bingung. Mengapa Brilyan secuek itu kepadanya? Kurang besar apa lagi Weva sampai tak dilirik oleh Brilyan sedikit pun? 


"Liat Weva!" Suara hatinya berteriak menatap Brilyan dengan harap.  


"Ayo liat Weva, Brilyan!"

__ADS_1


__ADS_2