
"Iya, Tante. Weva mau," jawab Weva cepat sebelum Ken kembali bicara.
Laila tersenyum dan segera menarik Weva masuk ke ruangan dapur membuat Ken mendesis kesal.
Weva yang masih ditarik itu menoleh dan tersenyum menyebalkan menatap Ken membuat Ken semakin kesal.
"Ma! Itu bahaya lo ngajak Weva ke dapur!"
"Dia suka makan adonan kue!"
Ken menopang pinggang diiringi hembusan nafas berat dari mulutnya.
...****************...
Weva nampak begitu bersemangat mengaduk-aduk adonan kue yang sedari tadi dijelaskan bahan-bahannya oleh Laila dengan nada yang begitu lembut. Sementara Weva hanya mengangguk-anggukan kepalanya tanda mengerti. Bagi Weva ini pertama kalinya ia membuat kue, biasanya hanya asisten rumah yang melakukannya.
"Tante jago banget, yah, bisa bikin kue."
Laila tersenyum setelah mendengar hal tersebut.
"Loh, Tante nggak jago-jago banget, kok. Pasti Mama kamu lebih jago soalnya badan kamu lebih besar dari badan Keken."
Weva tertawa dan tertunduk menatap adonan kue yang masih ia aduk.
"Tapi sayangnya Mommy Weva nggak pernah bikin kue di rumah."
"Loh, kenapa?"
"Soalnya Mommy Weva jarang ada di rumah. Mommy Weva itu sibuk kerja jadi nggak pernah buatin kue buat Weva," jelasnya dengan raut wajah sedih.
Laila menghentikan gerakan tangannya yang membuka bubuk coklat dan tersenyum menatap Weva yang tertunduk. Ini pasti telah membuat Weva sedih.
"Siapa yang bilang kalau Mommy kamu nggak pernah buat kue. Ini Mommy kamu lagi buat kue," ujar Laila membuat Weva menatap Laila dengan tatapan bingung.
"Maksud Tante?"
"Mama Ken, mama kamu juga jadi kamu sekarang punya dua mama. Mama Laila dan?"
"Mommy Sasmita," jawab Weva dengan perlahan membuat Laila mengusap pipi tembem Weva yang nampak memerah karena malu.
Keduanya kini saling tersenyum dan melanjutkan pembuatan kue brownis yang sempat tertunda.
Tak berselang lama dalam keheningan keduanya membuat kue membuat Laila tersenyum menatap kemunculan pak Ahmad, suaminya.
"Selama pagi, Bapaknya Keken," sapa Laila.
Ahmad yang semula ingin ikut membalas sambutan hangat dari istrinya itu langsung terdiam heran menatap Weva yang ikut menatapnya dengan wajah kaku serta takut. Untung saja Weva tidak punya nilai c di sekolah, jadi ia tidak takut dengan masalah nilai, tapi ia sejujurnya malu karena telah menangis di depan pak Ahmad.
"Loh, kok?" Tunjuknya.
"Em, se-lamat pagi pak," ujar Weva gugup.
"Kok, kamu ada lagi?"
Weva hanya mampu terdiam dengan bola matanya yang melirik Laila agar di selamatkan dari pertanyaan pak Ahmad.
__ADS_1
"Ini Weva, dia mau bantuin Mama buat kue, iya kan Wev?"
"I-ya, Tante," jawab Weva cepat.
Ahmad terdiam menatap Weva tajam membuat Weva menelan ludah. Kali ini Weva yakin jika pak Ahmad si guru pilih kasih itu akan memarahi dan mengusirnya keluar dari rumah ini.
"Kamu-"
"Weva minta maaf, pak. Kalau begitu Weva pulang dulu," ujar Weva memotong ujaran Ahmad yang kini menatap Weva heran.
"Loh, kamu mau kemana?"
"Weva-"
"Kamu buat kue, yah? Nanti buatkan saya rasa nanas, yah!"
Weva yang semula hanya menatap Ahmad dengan wajah kakunya kini berubah menjadi wajah yang dihiasi senyum kegirangan. Guru pilih kasih itu tidak marah.
"Iya, pak," jawab Weva cepat.
Pak Ahmad melangkah keluar dari ruangan dapur meninggalkan Laila dan Weva yang masih sibuk membuat kue brownis.
"Em, Tante Laila," panggil Weva.
"Iya."
"Kita mau buat kue apa?"
"Hari ini kita mau buat kue brownis kesukaan Keken."
"Ken suka kue brownis?"
Weva mengangguk dengan senyuman dari bibirnya yang tercipta tanpa ia duga. Entah mengapa jika membahas tentang pria monyet pemanjat tower tangki air sekolah itu membuatnya selalu tersenyum.
Tak berselang lama Ken melangkah masuk ke dapur membuat Laila dan Weva menoleh.
"Keken, Anak sayang Mama dan Bapak udah bangung, yah?" sambut Laila kegirangan.
Keken mengangguk sembari menggosok matanya yang terpejam serta sesekali menguap lebar dan menggaruk kepalanya yang rambutnya acak-acakan itu.
Laila berlari kecil dan menghampiri Ken yang masih melakukan hal yang sama.
"Keken, mandi dulu, yah! Setelah itu makan bubur," ujar Laila sembari mengusap rambut Ken.
"Apa? Bubur lagi?"
Laila mengangguk.
"Kok bubur, sih, Ma? Ken kan udah sering bilang kalau Ken itu udah besar masa mau makan bubur terus? Sampai kapan Ken mau makan bubur?"
"Loh, nggak apa-apa dong, iya kan, Weva?"
Weva yang semula hanya memasang wajah datar dan mencerna percakapan mereka kini membuatnya kaku.
"Em, iya Tante," jawab Weva ragu.
Ken membulatkan matanya menatap Weva yang ia sangka sudah pulang dari rumah.
__ADS_1
"Lo?" Tunjuknya.
"Loh, kok lo belum pulang?" sambungnya.
"We...Weva-"
"Kan Mama udah bilang kalau Weva bakalan bantuin Mama buat kue," jelas Laila memotong ujaran Weva.
Ken mengangguk. Kini setelah bagun dari tidur ingatannya kadang terlupa. Ken menoleh menatap jam di dinding dapur yang menujukkan pukul setengah tujuh. Butuh beberapa menit lagi untuk mencapai jam tujuh.
"Yah, udah, Ken mandi dulu."
"Iya, Keken. Mandi yang bersih, ya, Nak! Pakai shampo biar ganteng!"
Ken mengangguk seperti anak kecil sementara Laila terlihat mengusap rambut Ken untuk merapikannya.
"Heh, gendut!!!"
Weva menoleh menatap Ken yang langsung menatapnya tajam.
"Jam tujuh kita berangkat," ujar Ken lalu melangkah pergi.
Kini suasana dapur mendadak sunyi setelah perginya Ken dari dapur. Hanya ada suara mangkuk yang bergesekan di permukaan meja ketika Weva berusaha untuk mengaduk adonan kue.
.
"Emm, Tante Laila!" panggil Weva.
"Loh kok, Tante, sih? Kan Mama udah bilang kalau panggil Mama itu, yah mama aja! Nggak usah Tante udah anggap Weva sebagai anak Tante sendiri."
Weva tersenyum. Tak sangka Ken memiliki wanita yang sangat baik seperti Tante Laila.
"Iya, Mama Laila."
"Nah, gitu, dong."
"We-weva boleh tanya sesuatu?"
"Boleh, dong. Weva mau tanya apa?"
"Em, Mama Laila sayang banget, yah sama Ken?"
Laila tersenyum setelah mendengar hal tersebut membuatnya menggerakkan bola matanya seakan berfikir mengenai hal ini.
"Mama sayang bangeeeeet sama Ken. Keken itu anak satu-satunya Mama dan bapak, jadi kami sangat sayang sama Keken."
"Jadi, Mama Lalila sama pak Ahmad cuman punya satu anak? Cuman Ken aja?"
"Iya, Tuhan cuman kasi satu."
Weva mengangguk tanda mengerti.
"Keken itu ibarat cahaya bagi kami yang menuntun kami ke jalan yang penuh cinta."
"Kehadiran Keken itu nggak mudah, sulit sekali. Rasanya penuh perjuangan berat untuk didapatkan bahkan kalau misalnya kami nggak mencoba dan bersabar mungkin nggak ada yang namanya Keken di dunia ini."
"Kok bisa gitu?"
__ADS_1