
Buku-buku yang berada di tangan Weva kini kembali berjatuhan membuat Weva terkejut dengan kedua mata Weva melebar, ia benar-benar terkejut melihat sosok pria yang sedang berdiri di depannya.
"Oh Tuhan, apakah ini mimpi? Brilyan sekarang ada di depan Weva?" gumam Weva tak menyangka.
Rasanya Weva tak merasakan detak jantungnya berdetak seperti biasanya lagi. Bagaimana dengan kaki ini? Mengapa kaki ini terasa lemas? Setelah sekian lama akhirnya ia bisa bertemu dengan pria idamannya yang selalu Weva harapkan bicara panjang lebar untuknya. Pria es balok yang jarang bicara Membeku seperti hatinya.
Kedua bibir Weva terbuka seakan begitu menghayati setiap inci wajah Brilyan yang begitu dekat dengannya. Apakah ini mimpi? Oh Tuhan, mengapa sekarang seperti ada ribuan kupu-kupu yang berterbangan dari jantung Weva yang seakan berhenti berdetak.
Apakah Brilyan masih ingat dengan Weva? Apakah Brilyan mengenali Weva walau Weva sekarang sudah langsing dan tak gendut seperti dulu lagi? Lalu apa yang harus Weva lakukan kali ini?
Lari? Oh jangan sekarang! Bagaimana bisa ia melewatkan kesempatan menatap wajah Brilyan seperti ini. Dulu tak bisa dan sekarang ia bisa melakukannya.
"Permisi!" ujar Brilyan yang kini melambai-lambaikan buku-buku di hadapan wajah Weva membuat Weva terperanjat kaget.
"A-a-pa?" tanya Weva seakan tak mengerti dengan kejadian sekarang.
"Apa?" tanya Brilyan.
"Aa?" tanya Weva tak mengerti. Bagaimana bisa ia nampak seperti orang bodoh di hadapan Brilyan.
Sadar Weva! Sekarang kamu dikenal sebagai Klorin bukan gadis gendut yang dulu lagi.
"Aku tanya tadi, kamu siswi baru, yah?" tanya Brilyan.
Weva memukul jidatnya pelan. Bagaimana bisa ia tak mendengar Brilyan menanyakan hal itu kepadanya? Bagaimana bisa ia lupa ingatan sehingga tak mendengar jika sedari tadi Brilyan bicara dengannya.
"Oh, aku, em iya, hahaha," ujar Weva gugup sambil merapikan rambutnya yang tak berantakan. Ini salah satu cara untuk menutupi kegugupannya.
Brilyan mengangguk. Ia tersenyum menatap wajah cantik Weva yang masih berdiri di hadapannya.
"Perkenalkan aku Brilyan!"
Kedua mata Weva melebar. Bibirnya terbuka tak menyangka disaat Brilyan menjulurkannya tangannya.
Brilyan mengangkat kedua alisnya lalu kembali melambaikan tangganya di depan wajah Weva yang langsung mengerjapkan kedua matanya.
"Eh, iya."
Weva tersenyum gugup. Ia ikut menjabat tangan menyentuh tangan Brilyan yang benar-benar lembut. Untuk pertama kalinya ia bisa menyentuh tangan pria impiannya. Ah, Tuhan rasanya ia ingin lari dari tempat ini dan berteriak sekencang-kencangnya.
Brilyan melepas jabatan tangannya membuat tangan Weva yang gemetar itu dengan cepat ia sembunyikan. Lihat saja! Weva berjanji tidak akan mencuci tangan ini.
"Nama kamu siapa?"
__ADS_1
"Em, nama aku Weaaaahahaha, di sini sepertinya banyak nyamuk, ya?" ujar Weva yang nyaris menyebut namanya.
Ia menggaruk kepalanya yang tak gatal itu sambil menggerakkan tangannya berpura-pura mengusir nyamuk. Brilyan mengerakkan bola matanya menatap ke arah sekitarnya.
"Sepertinya tidak ada nyamuk di sini."
"Oh, ya? Tapi kenapa aku merasakan jika ada nyamuk di sini, hahahaha."
Brilyan tertawa kecil dan di satu sisi Weva berbalik badan berusaha untuk menyembunyikan wajahnya yang rasanya ingin menangis. Dia hampir saja menyebut namanya.
"Kamu suka baca buku?"
Suara tanya itu terdengar membuat Weva segera berbalik badan.
"Em, ya aku suka."
"Wah, bagus. Aku juga suka."
Weva tersenyum kaku. Jika berlama-lama seperti ini bisa-bisa ia keceplosan.
"Maaf, sepertinya aku terburu-buru. Aku harus pergi."
Weva melangkah memberikan jarak antara ia dan Brilyan.
Langkah kaki Weva tertahan. Ia menyentuh dadanya yang berdebar-debar kencang di dalam sana. Weva menarik nafas panjang dan menghembuskannya pelan berusaha untuk tetap tenang
Weva menoleh menatap Brilyan yang melangkah mendekatinya.
"Kamu belum menyebutkan nama kamu."
Weva meneguk salivanya. Apa ia benar-benar telah secantik itu sampai-sampai Brilyan menanyakan tentang dirinya.
"Lambat atau cepat kamu akan tau."
Weva melangkah meninggalkan Brilyan yang hanya mampu mengangguk. Ia tersenyum menatap kepergian Weva yang melangkah keluar dari ruangan perpustakaan.
Di satu sisi Weva berusaha untuk tidak menjerit karena bahagia. Kali ini ia ingin mengabulkan sebuah janji yang Brilyan dulu katakan kepadanya.
Weva ingin jika Brilyan yang mengejarnya. Tugas Weva untuk menjadi sempurna telah usai sekarang giliran Brilyan yang menjalankan tugasnya.
Sudah cukup kegiatan Weva yang mengejar Brilyan dan membawakannya kotak bekal bersi nasi goreng dengan dengan kertas ungkapan isi hati Weva yang sengaja ia tempelkan pada penutup bekal. Kali ini biarkan Brilyan yang mengejarnya.
...****************...
__ADS_1
Kedua tangan berkulit kuning langsat itu menyentuh pipi Weva yang tersenyum geli. Sudah sejak tadi Tante Ina menyentuh wajahnya karena tak percaya dengan apa yang Wiwi katakan jika gadis yang pulang bersamanya itu adalah Weva.
Tante Ina menatap dari ujung kaki sampai ujung rambut berulang kali. Ia menutup mulutnya yang begitu tak menyangka.
"Hah, Tuhan. Ini beneran Weva? Anaknya Sasmita?"
Weva meraih tangan Tante ini dari wajahnya dan menggenggamnya erat.
"Iya, Tante ini Weva. Masa Weva bohong."
"Tuh kan. Gue juga udah bilang kalau Ibu nggak bakalan percaya sama lo. Gue aja waktu pertama kali dengar lo bilang kalau lo itu Weva, gue juga nggak percaya."
Ina menoleh menatap Wiwi yang terlihat melipat kedua tangannya di depan dada. Dari wajah anaknya itu ia bisa melihat jika Wiwi tidak sedang bercanda sekarang.
"Ya ampun. Tante sampai nggak bisa berkata-kata, Wev. Sekarang kamu jadi langsing, cantik dan putih, ya. Tante nggak nyangka."
Weva tersenyum malu. Rasanya ia begitu bahagia setelah mendapat pujian dari Tante Ina.
"Wah, Nona Weva tidak gendut lagi ye seperti dulu."
Weva tertawa setelah pak Walio juga ikut bicara. Ia meletakkan secangkir kopi ke atas meja lalu ikut melangkah mendekati Weva.
"Emang dulu Weva gimana, pak?"
"Aiii, dulu itu Nona Weva sudah gelap, gendut dan berat."
Weva mencibirkan bibirnya cemberut.
"Eissh, tapi sekarang sudah persis seperti princess yang cantik dan langsing. Bukan begitu Ibu mertua."
"Betul seperti malaikat," sahut Nenek Ratum yang terlihat sedang duduk di depan TV.
Tak berselang lama kini Weva telah berada di dalam kamar Wiwi. Suasana yang masih tetap sama seperti yang pernah ia lihat. Tak ada yang berubah dari tatanan kamar Wiwi, hanya saja ada beberapa foto pernikahan yang terpajang di atas meja.
Weva meraih foto itu dan tersenyum begitu bahagia melihat kebahagiaan yang terpancar dari wajah pak Walio yang terlihat mengenakan pakaian pengantin.
"Pak Walio keren juga, ya."
Wiwi yang sedang asik menatap TV itu melirik lalu tersenyum kecil dan tak berselang lama ia menoleh menatap ke arah ruang tamu dimana pak Walio sedang dipijat oleh Nenek Ratum.
"Hust! Nggak usah muji. Dady Walio itu suka banyak tingkah kalau dipuji."
"Oh ya?"
__ADS_1
Wiwi mengangguk membuat Weva kembali meletakkan bingkai foto itu ke atas meja.