Princess Endut

Princess Endut
103. Amarah


__ADS_3

"Ayo jawab!!!"


"Ada apa ini?" tanya Wevo yang melangkah turun menuruni anakan tangga dengan tatapannya yang menatap satu persatu ke orang-orang yang masih bersitegang.


"Ini kenapa? Kok, Mommy marah-marah gitu?"


"Vo, adik kamu ini makin hari makin liar tahu enggak, bisa-bisanya dia diantar sama cowok di jam seperti ini," aduh Mita sembari mengetuk jam tangan bermerek miliknya.


Suara tangisan Weva pecah setelah mendengar ujaran Mita yang benar-benar menyakitkan.  Apakah pantas jika sang Ibu mengujarkan kata liar untuk anaknya sendiri. Weva ini juga manusia, bukanlah hewan yang patut dikatakan seperti itu.


Wevo yang melihat hal tersebut dengan langkah perlahannya mendekati Weva dan menyentuh bahunya dengan lembut.


"Dek!"


"Kak Wevo, We-we-eva enggak bermaksud buat gi-gitu," aduhnya terisak.


Wevo mengangguk dengan wajahnya yang ikut cemas. Hanya Wevo yang bisa mengerti keadaanya.


"Kamu emangnya dari mana aja sih, Dek sampai pulang jam segini?"


"Dia pacaran!!!" teriak Mita emosi di belakang sana. 


Wevo yang mendengar teriakan Mommy-nya dengan cepat menoleh menatap wajah Mita yang nampak sangat marah. Wevo kembali ke posisi awalnya menatap Weva yang kini mendongak menatapnya lalu menggeleng seakan berusaha untuk memberitahu Wevo jika itu semua tidaklah benar.


"Mommy salah paham, Kak," ujar Weva berusaha untuk memberi tahu Wevo.


"Weva!!!" terial Mita membuat Weva dan Wevo menoleh.


"Mommy nggak nyangka, yah sama you. Apa, sih yang bisa you berikan untuk Mommy?"


"Kalau misalnya you enggak bisa buat Mommy bangga dengan wajah cantik you, Mommy nggak bisa bangga dengan tubuh cantik you yang enggak gendut kayak gini, harusnya you bisa, lah sedikit disipilin!!!"


"You stop buat Mommy malu gara-gara badan you yang gendut ini tapi you juga stop buat Mommy malu dengan sikap you!!!"


"You kalau udah gendut, yah udah gendut. Nggak usah banyak tingkah!!!"


"Mommy selalu berharap you itu bisa seperti A-young yang berwajah cantik, body yang langsing, sikap dan etitud yang bagus. Enggak kayak you!!!"


"Kenapa, sih you nggak jadi seperti A-yeong, Hah? Kenapa?!!"


Tangisan Weva terhenti dengan detak jantungnya yang tiba-tiba saja berhenti untuk berdetak di detik ini juga. Bagaimana bisa disaat seperti ini Mommynya kembali memuji sepupu Koreanya itu yang sampai saat ini tak pernah ia lihat secara langsung. Yang lebih parahnya Mommynya itu kembali membanding-baandingkannya.


Wevo dan beberapa pelayan lainnya ikut terkejut mendengar hal tersebut. Tatapannya kini menatap iba pada sosok Weva yang perlahan bangkit dari sofa dan terpatung di tempatnya berdiri seakan sudah tak bernyawa dengan wajah pucat.


"Diaaaaaaam!!!" teriak Weva sembari menutup kedua telinganya menggunakan kedua tangannya yang gemetar serta kedua matanya yang tertutup rapat.


Semuanya nampak terkejut mendengar teriakan Weva yang benar-benar mereka tak duga terutama Mita yang kini menganga dengan tangan kanannya yang nampak menutup tak rapat mulutnya.


"Diam semua!!! Diaaaam!!!"


"Cukup!!! Cukup!!! Cukuuuup!!!!"

__ADS_1


"Weva capeeeeek!!!"


"Weva!!!" bentak Mita.


"Aaaaa!!! Diaaaam!!!" teriak Weva.


Mita tersentak kaget bahkan kedua matanya tak berkedip sedikit pun.


"Cukup, Mom!!! Cukup!!! Weva capek harus dengerin semua mengenai A-yeong yang selalu Mommy jelasin dan bandingin ke weva!!!"


"Weva capek!!!"


"Weva selalu berfikir, sebenarnya mommy itu Mommy-nya Weva atau malah Mommynya A-yeong!!!"


"Weva bingung, Mommy. Weva bingung!!!"


"Mo-mo-mmy kenapa, sih? Hah? Mommy kenapa selalu ngebandingin Weva dengan A-yeong?!!"


"Iya, We-weva tahu kalau se-sepupu Weva yang tinggal di Korea itu cantik, langsing dan-dan sangat-sangat sempurna hingga berhasil buat Mommy lupa kalau ada anak Mommy yang gendut dan jelek hidup di dunia ini!!!"


"Weva anak Mommy, bukan A-Yeong!!!"


"Kalau Weva mau, Weva juga nggak bakalan mau jadi gendut kayak gini!!!"


"Mommy pikir jadi gendut itu nggak capek? Iya? Ini itu capek, Mommy. Mommy yang nggak ngerti!!!"


"Weva juga mau jadi cantik kayak A-Yeong, langsing kayak A-Yeong dan semuanya yang berhubungan sama dia!!!"


"Aaaaaaaaaa!!!" jerit Weva sembari menjambak rambut sebahunya.


Mita seketika terdiam dengan tatapannya yang sudah tergenang air mata. Menatap putri satu-satunya dengan kondisi seperti orang depresi membuatnya bungkam seribu bahasa. Mita tak menyangka jika ujaran yang selama ini selalu ia ungkapkan mengenai keponakannya yang bernama A-young itu dapat membuat Weva jadi seperti ini.


"Kalian semua enggak ngerti masalah Weva!!!"


"Kalian semua enggak ngerti!!!"


Weva mengusap pipinya yang telah basah itu dengan kasar. Ia tak ingin Mommy-nya melihat air matanya yang mengalir membasahi pipinya itu.


"Dia! Cowok yang udah nganter Weva sampai jam 11 malam itu berniat baik untuk Weva."


"Di-dia yang udah ngorbanin waktu buat Weva hanya untuk membantu Weva biar Weva itu jadi langsing. Biar Mommy enggak ngebanding-bandingin Weva lagi sama sepupu korea itu!!!"


Mita seketika terhenyak dengan kalimat yang Weva tuturkan dengan nada tangisannya yang memecahkan malam yang penuh ketegangan.


  


"Ini perjuangan Weva untuk kalian semua!!!"


"Kalian seharusnya bisa ngertiin Weva, dong!!!"


Weva mencoba menghentikan tangisannya yang tersedu-sedu dengan tengorokkannya yang terasa sakit setelah berteriak tadi. Punggung tangan kanan Weva kini mengusap pipi kanan, kirinya yang sudah sejak tadi basah karena air mata.

__ADS_1


Jujur Weva tak berniat untuk menangis seperti anak kecil yang tengah mengamuk, tapi ini sudah melelahkan bagi Weva untuk ia tanggung sendiri, ini melelahkan. Bahu Weva tidak sanggup untuk terus membopong masalah ini.


Terkadang kita perlu berteriak untuk menghilangkan rasa sakitnya. 


"Kalian semua enggak ngerti," ujarnya dengan nada suara berbisik serta tatapan yang terlihat melamun dan kosong menatap lantai.


"Kalian enggak tahu apa yang Weva rasain selama ini."


"Memangnya apa yang kamu rasakan? Hah? Apa?" Kekeh Mita dengan egonya bahkan ia berujar dengan menopang pinggang.


Weva tak mengedipkan kedua matanya yang kini mencari sosok Mommynya yang terhalang oleh genangan air mata.


"Apa yang Weva rasakan?"


"Mommy tanya apa yang Weva rasakan?!!" teriak Weva yang kembali terdengar membuat semuanya kembali tersentak kaget.


"Wev," bisik Wevo mengusap lembut bahu Weva. 


"Weva ini capek!!!" teriaknya sembari menunjuk dadanya.


"Mommy tahu enggak kalau selama ini Weva itu selalu nangis sebelum Weva tidur?!!"


"Mommy tahu enggak kalau bantal Weva selalu basah setiap malam? Mommy tahu enggak?"


"Enggak, kan?"


"Mommy nggak tahu, kan?"


"Mommy juga tahu, kan kalau Weva itu selalu dibully satu sekolah karena Weva gendut dan jelek?!!"


"Mommy juga enggak bakalan tahu gimana perasaan Weva yang enggak boleh ikut olimpiade karena Weva gendut. Mommy nggak akan tahu rasanya bagaimana, Aaaaaaaa!!!" jerit Weva di akhir teriakannya.


Mita meneteskan air mata, tak menyangka jika hal ini yang dirasakan oleh putri satu-satunya itu. Mita melangkah maju, mengikiskan jarak antara ia dan Weva yang masih terisak di sana.


"Wev," panggil Mita sembari tangannya yang berusaha untuk membelai lembut rambut Weva namun, Weva menangkisnya dan berlari masuk ke dalam pintu lift dan menghilang di balik pintu lift yang kini telah tertutup.  


"Wev!!! I'm sorry," bisik Mita yang kini menangis. 


...****...


Di lain tempat seseorang terdiam di atas motor vespanya yang masih berada tak jauh dari rumah Weva. Suara percakapan mereka berhasil membuat Ken menepi dipinggir jalan.


Ken mengusap pipinya yang sempat ditetesi beberapa air mata yang tak terasa jatuh setelah mendengar suara dari handsfree yang masih terpasang di telinganya. Suara dari sebrang berhasil membuat ibu jarinya tangannya mengusap dengan perlahan pipinya yang telah basah. 


Ken tahu salah satu yang membuat Weva sakit adalah bullyannya yang selalu Ken lontarkan untuk Weva. Menuangkan air ke kepala Weva, menghempaskan bekal Weva dan menghina fisik Weva, bahkan hal itu belum Ken lupa sampai saat ini.


Ken tak menyangka ternyata ada banyak penderitaan yang Weva punya.


"Gue minta maaf, Wev, kali ini gue akan bener-bener bantu lo."


      

__ADS_1


__ADS_2