Princess Endut

Princess Endut
58. Tangkap


__ADS_3

Weva menelan paksa salivanya yang terasa tertahan dengan iringan detak jantung yang memompa darahnya cukup kuat.


Dengan penuh hati-hati Weva membuka pintu WC hingga berhasil tak menghasilkan bunyi sedikit pun dan tak membuat Bara yang masih berada di dalam ruangan WC itu merasa curiga, jika sedari tadi ada orang yang berada di sebelah WC yang ia masuki.


Dengan penuh hati-hati Weva melangkah keluar dan mengkunci pintu WC dimana Bara ada di dalamnya itu menggunakan gembok yang ia dapat dari gembok yang terpasang di salah satu pintu WC, yah mungkin penjaga keamanan sekolah lupa untuk mengambil kunci dan gemboknya.


Senyum Weva merekah indah ketika pintu WC itu telah tertutup rapat dan Bara sepertinya belum menyadari hal tersebut. Apakah senyum ini terlihat jahat? Hahaha! Bahkan Weva baru menyadari jika hal yang ia lakukan termasuk membantu proses penangkapan seorang penjahat.


Hah, harus mendapat julukan apa Weva kali ini?


Weva melangkah keluar dari toilet secara diam-diam dan tak mengeluarkan suara sedikit saja. Ia mengendap-ngendap seperti pencuri yang berusaha kabur dari pemilik rumah.


Tatapan Weva kini menatap ke seluruh sekitarnya setelah ia berhasil keluar dari ruangan toilet. Ia bisa melihat suasana yang terlihat ramai sepertinya polisi memang sudah datang dan sedang melakukan pemeriksaan.


"Kasian, yah si Ken pakai harus ditangkap segala sama polisi."


"Kasian gimana, sih? Si Ken itu, kan orangnya emang jahat dan pantes, sih kalau ditangkap."


Suara beberapa siswi yang berlalu melintasi Weva itu terdengar membuat Weva terkejut.


Tangkap?


Apakah Ken sudah tertangkap? Apakah yang di katakan kedua gadis ini benar?


"Tunggu!!!" teriak Weva.


Ia berlari menghampiri dua siswi itu yang terlihat memasang wajah malas seakan tak tertarik berbicara dengan Weva.


"Em, tadi kalau nggak salah denger kalian bilang kalau Ken ditangkap?"


"Iya, Ken ditangkap sama polisi."


"Serius?"


"Ya, iya lah. Masa gue bohong. Kalau lo nggak percaya lo pergi aja ke ke kelasnya Ken. Di sana itu udah banyak orang."


"Udah, ah. Lel! Lo nggak usah bicara sama si gendut itu. Nggak ada untungnya juga lo ngomong sama si gendut jelek itu," ujar sahabatnya yang menarik pergelangan tangan sahabatnya itu.

__ADS_1


Mendengar hal itu membuat Weva dengan cepat berlari meninggalkan dua siswi yang kini melongo.


"Tuh, kan lo liat! Bukanya malah bilang terima kasih, eh malah dia lari gitu aja."


Weva berlari melewati koridor sekolah yang nampak ramai, banyak siswa dan siswi yang bertengger menatap ke arah bawah sana. Demi memastikan jika yang tengah ditatap itu adalah Ken, Weva memaksakan tubuh gendutnya untuk berhimpit dan berdesak-desakan melewati kerumunan yang menghalangi pandangannya.


"Apaan, sih nih si gendut?"


"Misi, Weva cuman mau liat," ujar Weva yang masih berdesakan.


"Heh gendut!!!"


"Eh, gendut, main terobos aja, nih."


"Ih, lo ngapain, sih?"


Itulah Ocehan yang terdengar dari desakan yang dihasilkan oleh Weva yang masih memaksakan tubuhnya namun, tak membuat Weva menyerah begitu saja hingga akhirnya Weva berhasil berada paling depan dan dari atas sini ia bisa menatap jelas Ken yang nampak memberontak ketika polisi berusaha untuk memborgolnya.


Sial! Jadi percakapan Bara dengan seseorang yang entah itu siapa adalah benar. Ken sekarang dalam bahaya dan Weva harus cepat.


Tak pikir panjang Weva dengan cepat berlari tanpa mempedulikan siapa yang ia tabrak dan jatuh ke lantai hingga membuat mereka menjerit meneriaki Weva menyuruhnya untuk segera berhenti.


Ken berusaha memberontak ketika kedua tangannya berusaha untuk diborgol. Ken sama sekali tak menyangka jika ada barang haram di dalam tasnya. Ken bahkan tak pernah menyentuh bahkan mengonsumsi narkoba jenis sabu seperti itu.


Ken tahu jika ia adalah termasuk siswa yang agak nakal di sekolah ini bahkan Ken selalu menjadi orang yang paling terdepan saat tauran antar sekolah, tapi Ken tak pernah sama sekali menunjukkan kenakalannya dengan mengonsumsi barang seperti itu atau bahkan berpikir untuk mencobanya pun tak pernah terlintas di pikirannya.


Entah siapa yang telah berani meletakkan barang haram itu ke dalam tasnya dan membuatnya jadi terseret dalam masalah seperti ini.


"Lepasin gue!!!"


"Gue nggak make barang kayak gituan!!!"


"Gue bisa kasi bukti kalau barang haram itu bukan punya gue!!!"


"Kalian semua nggak boleh, dong asal nangkap gue gitu aja. Lo bisa tes gue dulu, kalau gue emang positif narkoba sekarang juga lo boleh nangkap gue!!!" bela Ken sembari memberontak kasar.


"Tenangkan diri anda! Anda bisa menjelaskannya di kantor polisi nanti," ujar salah satu polisi yang berusaha untuk menenangkan Ken.

__ADS_1


"Pak tolong, pak! Anak ini tidak mungkin memakai barang haram," bela pak Ahmad sembari masih setia mendampingi Ken sejak tadi.


Pak Ahmad juga sangat percaya jika putra tersayangnya itu tidak mungkin memakai narkoba seperti apa yang polisi temukan di dalam tas Ken.


"Pak, Anda tidak usah ikut campur. Ini adalah urusan pihak kepolisian!"


"Saya Bapaknya Ken, Pak. Orang tua kandungnya. Anak saya tidak pernah bahkan tidak mungkin pakai narkoba."


"Pak tolong, pak! Percaya sama saya!" harapnya lagi.


"Mohon maaf, pak. Anda bisa menjelaskannya di kantor polisi," ujar polisi itu lagi.


"Bapak!" Tatap Ken penuh harap menatap pak Ahmad yang nampak ingin menangis menatap sedih pada putranya.


"Bapak, Bapak percaya, kan sama Ken kalau Ken nggak make narkoba?" tanya Ken membuat Pak Ahmad langsung menganggu penuh kasih.


"Bapak percaya, kan sama Ken?"


"Bapak percaya, kok sama Keken. Keken nggak usah takut, ya, Nak! Ada Bapak di sini," ujar pak Ahmad berusaha untuk menangkan Ken sembari tangannya yang mengusap rambut Ken dengan lembut.  


Ken mengeluh kesal ketika kedua tangannya telah berhasil diborgol ketika belasan polisi berhasil membaringkannya di tanah. Yap, tenaga Ken sangat kuat bahkan tenaga Ken tak mampu diimbangi dengan belasan polisi itu hingga butuh waktu lama untuk menunggu Ken lengah


Ken menoleh menatap para sahabatnya yang nampak biasa-biasa saja seakan mereka tak mengenal Ken.


"Vin! Roy! Tolongin gue!!!" teriak Ken yang mulai digiring ke dalam mobil polisi.


"Lo semua, kok cuman pada diam aja?"


"Bantuin gue, dong, Bro! Lo semua tahu, kan kalau gue itu nggak pernah makai narkoba."


"Tolongin gue, lah! Lo semua, kan sahabat gue!!!"


"Kenapa lo semua cuman diem aja?!!"


"Ayo ngomong!!! Tolongin gue buat ngejelasin ke mereka semua kalau gitu nggak salah!!!"


"Lo kenal gue, kan? Lo tahu, kan gue itu kayak gimana? Lo semua tahu kalau gue nggak mungkin pakai narkoba!!!"

__ADS_1


Suara teriakan Ken seakan berkoar-koar untuk meminta bantuan kepada puluhan sahabatnya itu, terutama Roy dan Kevin yang berdiri paling depan di antara kerumunan itu.    


__ADS_2