
"Sekarang lo udah tahu kan siapa kita?" tanya Fhina setelah melakukan aksi yang penuh dengan ketidak jelasan itu.
Weva dan Wiwi mengangguk dengan kompaknya. Ya, setidaknya gerakan itu ada juga manfaatnya.
"Itu tadi gerakan apa?" bisik Wiwi dengan wajah melongo sementara Weva langsung menggeleng membuat kedua pipinya yang sebesar bakpao itu bergetar.
"Wiwi nggak usah nanya sama Weva! Soalnya Weva juga nggak ngerti, tapi mungkin itu salaj satu gerakan senam Nusantara yang dicampur sama tarian sekolah."
"Lo bisik apaan?" tanya Fhina membuat Weva dan Wiwi tersentak kaget.
Wah, kuat juga indra pendengaran tiga gadis ini hingga dapat mendengar bisikan Weva dan Wiwi yang bodohnya saling berbisik di hadapan anggota geng Sangmut.
"Gang sang mut foto dong!" minta beberapa pria yang berlarian mendekati tiga gadis dengan aksesoris serba pink ini sambil mengarahkan kameranya.
Tak mampu diragukan lagi. Weva dan Wiwi hanya mampu terdiam melihat kejadian itu. Tiga gadis populer di sekolah ini bahkan terlihat sudah seperti artis terkenal saja.
Anggota geng sangmut itu lantas mulai tersenyum memberikan gaya yang pantas untuk momen yang sudah jadi rutinitas setiap harinya. Siapa yang tak tahan untuk meminta foto bersama dengan mereka bertiga. Cantik, terkenal dan juga punya banyak pengikut di akun Instagram.
Hah, mereka juga merupakan salah satu orang yang membuat Weva merasa sangat iri.
Momen sesi foto itu berlalu membuat geng Sangmut itu kembali berhadapan dengan Weva dan Wiwi yang kembali merasa tegang.
"Heh, lo ngomong apaan?" tanya Fhina yang membuat Weva dan Wiwi saling bertatapan.
Apa mereka mendengar suara batin Weva dan Wiwi yang sejak tadi membasah tentang geng alay ini.
Geng alay ples lebay?
Apa bisa dikatakan alay jika seperti ini.
"Gue nggak ngomong apa-apaan, iya kan, Wev?"
Kedua mata Weva membulat setelah Wiwi langsung menyikut lengan atas Weva. Hah, Tuhan, mengapa Wiwi selalu saja menyuruh Weva untuk turut ikut bicara.
"I-i-iya, Weva sama Wiwi nggak ngomong apa-apaan. Beneran deh, Weva nggak bohong. Kalau nggak percaya tanya aja sama Bobo."
"Bobo?" tanya Fhina, Harni dan Firda dengan kompak.
Wiwi memijat kepalanya tang langsung terasa pening. Jika saja tak ada geng alay ini mungkin Wiwi akan memegang kedua pipi Weva dan bicara kepada Weva dengan penuh lembut jika jawabannya itu adalah jawaban terbodoh yang pernah ia dengar.
"Siapa itu Bobo?" tanya Fhina.
"Itu anjingnya," jawab Wiwi dengan wajah datar.
"Anjing?" tanya Fhina, Harni dan Firda dengan kompak.
Weva mengangguk sambil tersenyum.
"Iya, itu anjing, hehehe. Bobo itu anjing Weva. Dia suka boneka tulang terus suka lari-lari di rumah Weva."
"Oh iya Bobo juga udah mau ulang tahun yang ke satu tahun. Imut deh dia. Weva suka dan Wiwi juga suka, iya kan, Wi?"
__ADS_1
"Ah?" tanya Wiwi dengan wajah datar.
"Wiwi suka kan sama Bobo?"
Bodoh, pertanyaan apa itu?
Wiwi dengan cepat mengangguk sambil tersenyum.
Yap, anggukan ini berarti Wiwi suka dengan seekor anjing!
Tiga gadis geng Sangmut itu melongo. Hey, siapa yang ingin mendengar informasi tentang geng alay itu.
"Stop!!!" jerit Fhina membuat Weva dengan cepat berhenti bicara.
"Berisik banget, sih lo?"
"Nyerocos nggak ada habisnya. Lagian yang lo omongin itu nggak ke penting," oceh Fhina.
"Tunggu mut-mut!" ujar Firda membuat Fhina berhenti bicara.
"Lo nyuruh kita ngomong sama anjing lo?" tanya Firda dengan wajah memastikan.
Weva tersenyum lalu mengangguk dengan cepat membuat Wiwi kembali memijat kepalanya yang terasa pening.
Oh Tuhan, kutuk saja sahabat gendutnya ini! Wiwi tidak ada masalah!
"Berani banget lo nyuruh kita ngomong sama anjing."
"Tapi Weva suka ngomong sama anjing," jawab Weva.
"Gila, emang lo gila!!!" teriak Firda membuat kedua gadis yang kurus dan gendut itu tersentak kaget.
"So ternyata yang besar itu lo? Ya, ampun, lo tahu nggak, sih? Tulang gue hampir hancur tahu nggak gara-gara lo," kesal Harni yang berusaha untuk dilebih-lebih kan.
"Wah, lo itu harus diviralin sekarang juga," ujar Harni sembari mengeluarkan handphone dari saku bajunya.
Harni kini mulai menekan layar handphonenya lalu mulai menayangkan siaran langsung di Instagram pribadinya yang memiliki banyak pengikut.
"Hay guys muuuuut!!! Hay buat semua para penggemar akyu yang sangmut semua kayak aku, jadi nih yah sekarang itu Harmut mau curhat deh. Harmut baru aja ditabrak sama cewek gendut banget, ya ampun deh guys muuuut!!!"
Live di Instagram sudah menjadi kebiasaan bagi Harni dan ini memang sering terjadi. Entah mengapa setiap momen menurut Harni adalah hal yang penting dan harus dipublikasikan kepada milyaran pengikutnya.
Harni tersenyum di hadapan kameranya dan memonyongkan bibirnya dengan mata yang ditutup sebelah dan menampakkan muka sok imut.
"Ih ya ampyun, Harmut sangmut banget deh, sangat imut!!!" jerit Harni.
Kedua mata Harni menyipit menatap isi kolom komentar yang muncul dari para penggemarnya.
*Muuut!!
Mana, nih yang udah nabrak kamu?
__ADS_1
Kita mau liat
Harmut tetap di hati*.
Love buat mut!!!
Harmut tetap nomor satu
Liat dong yang udah nabrak kamu!
Yap, itu yang Harni liat dari kolom komentar yang terpampang di layar handphonenya.
"Oh, kalian mau liat orang yang udah nabrak akyu?" tanyanya membuat Weva dan Wiwi saling melirik.
"Harni ngomong sama siapa?" bisik Weva.
"Yah sama fansnya lah."
"Nah, ini nih si gendut yang udah nabrak Harmut," ujar Harni yang kini sudah berdiri di samping Wiwi dan Weva sembari mengarahkan kameranya ke arah mereka berdua.
Wiwi yang mulai disorot itu kini dengan cepat menutup wajahnya karena malu, bukan main penonton live-nya yang sudah ribuan walaupun tak genap semenit ia memulai live.
Sementara Weva dengan bodohnya melambaikan tangan sembari tersenyum menatap kamera seakan tak ada masalah yang sedang ia hadapi.
"Bilang hay, dong!" suruh Harni dengan nada manja.
Weva mengkerutkan keningnya, kebigungan Menatap Harni dengan tatapan tidak mengerti.
"Bilang hay, dong!" ujar Harni dengan nada paksa bahkan ia meninggikan nada suaranya.
"Ha-ha-hay!" Lambai Weva sembari tersenyum ragu menatap kamera. Untuk ribuan kalinya, kali ini Weva seperti orang bodoh.
Wiwi menggeleng. Oh tuhan, bagaimana bisa ia memiliki sahabat sepolos ini yang dengan bodohnya menuruti perintah Harni.
"Liat gendut banget kan, guys mut?" ujar Harni lagi.
"Jelek banget, yah ampun."
"Liat tangannya!" ujar Harni membuat Weva dengan cepat menghentikan lambaian tangannya.
Kenapa tangan ini?
"Tangannya kayak bengkak, guys mut!" seru Harni dengan wajahnya yang dibuat sehisteris mungkin.
Weva mengkerutkan alisnya lalu tanpa sadar ikut menatap tangannya sendiri. Benar-benar bengkak!
"Ya ampyun, lo makan berapa kali, sih sampai melar kayak gini?"
__ADS_1
Weva terdiam. Apakah pertanyaan Harni harus dijawab, ini aib jika Weva mengatakan jika ia makan 6 kali dalam sehari.
"Berapa?" tanya Harni dengan nada memaksa.