Princess Endut

Princess Endut
27. Maaf


__ADS_3

"Tunggu!"


Weva berlari dengan tergesah-gesah mendekati Brilyan yang kini tengah sibuk mengeluarkan beberapa buku dari tasnya ketika sudah duduk di atas kursinya.


Weva menghentikan larinya dengan nafas yang sedikit ngos-ngosan ketika ia sudah berada di depan Brilyan.


"Brilyan!"


Brilyan terdiam, tak ada jawaban. Brilyan meneguk salivanya dengan paksa. Apa mungkin Brilyan telah marah kepadanya setelah kejadian tadi?


"Em, Bril-Bril-Brilyan, Weva minta maaf karena We-we-weva udah nggak sengaja nabrak Brilyan tadi."


"Weva nggak sengaja buat Brilyan jadi jatuh kayak tadi di luar kelas."


"Ada sakit nggak?" tanya Weva dengan wajah khawatir.


Brilyan tak menanggapi hal tersebut bahkan kini ia sibuk meletakkan buku berwarna biru, buku yang sama yang selalu Brilyan baca disaat Weva memberikan bekal pink-nya kemarin.


Weva sedikit down setelah melihatnya, bahan pengalihan pembicaranya kini muncul. Hah, jika buku ini sudah terbuka maka Brilyan tak akan menanggapi ucapannya lagi dan perhatiannya hanya akan tertuju pada buku itu. Otaknya itu terlalu sibuk belajar tanpa memperdulikan orang yang ada di sekitarnya.


"Brilyan. Weva minta maaf sama Brilyan," ujar Weva dengan nada memelas, Weva belum menyerah kali ini dan sampai kapan pun ia memang tak boleh menyerah.


"Brilyan! Brilyan dengar Weva, kan?"


Brilyan tetap sama, tak ada jawaban yang keluar dari mulutnya.


Dan di detik ini juga Weva dibuat sadar jika apa yang selama ini diucapkan oleh Wiwi benar jika pria si otak cerdas ini sangat menyebalkan.


"Bril-"


Ujaran Weva terhenti setelah ia melihat buku biru itu sudah nampak terbuka lebar dan Brilyan seketika menjadi orang buta dan tuli di seluruh dunia yang tak mampu merasakan kehadiran Weva.


Tuhan, berikan sekarang juga Weva ilmu gaib untuk menyantet hati dan pikiran Brilyan agar Brilyan mau mendengar perkataan Weva sedikit saja.


Weva lelah dicuekin sama Brilyan kayak penjual di pasar yang cuekin sama pembeli yang cuman numpang lewat .


"Brilyan!" panggil Weva yang agak meninggikan nada suaranya berusaha agar Brilyan bisa mendengar suaranya.


Mari kita lihat sekuat apa Brilyan bisa mengabaikannya.


"Brilyan denge Weva, kan, Brilyan?"


Tak ada jawaban, tapi tenang saja Weva tak akan menyerah begitu saja.


"Brilyan, Weva tahu Brilyan pasti denger apa yang Weva bilang ke Brilyan."


"Weva minta maaf banget sama Brilyan. Weva benar-benar nggak sengaja nabrak Brilyan."


"Brilyan, Brilyan nggak ada yang luka, kan?"

__ADS_1


"Brilyan nggak ada yang sakit, kan?"


"Kalau ada yang sakit kasi tahu Weva, ya! Nanti Weva obatin."


Hahaha! ini kesempatan dalam kesempitan jika, Brilyan mau diobati berarti Weva bisa melihat dan menyentuh Brliyan dengan jarak yang sangat dekat.  


Weva tersadar dari niat liciknya membuatnya kembali menatap pria pendiam itu.


"Brilyan!"


"Weva minta maaf."


"Weva beneran minta maaf sama Brilyan."


"Weva nggak sengaja tadi."


"Brilyan, Brilyan mau, kan maafin Weva?"


"Tapi beneran, loh Weva beneran nggak sengaja nabrak Weva."


"Brilyan!"


"Weva!!!" teriak Wiwi membuat Weva menoleh menatap Wiwi yang nampak melangkah ke arahnya seperti seorang preman yang siap memalak para pedangan di pasar.


Weva dibuat melongo. Apa Wiwi marah kepadanya. Hah, bahkan kedua matanya melotot nyaris keluar dari tempatnya.


"Lo apa-apaan, sih, hah? Lo ngapain?"


"Weva mau minta maaf sama Brilyan," ujar Weva memberi tahu. 


Yah, sepertinya Wiwi melihat juga kejadian tadi, dimana Weva tanpa sebagai menabrak tubuh Brilyan hingga ia sampai jatuh ke lantai.


Wiwi menghela nafas panjang. Kedua matanya menatap ke sekitar ruangan kelas dengan tatapan tak menyangka lalu kembali menatap Weva.


"Apa lo bilang? Lo mau minta maaf sama ini?" Tunjuk Wiwi ke arah Brilyan yang sama sekali tidak menoleh menatap ke arahnya.


Weva menoleh menatap Brilyan sejenak lalu mengangguk pelan.


"Nggak usah!"


"Tapi-"


"Weva! Kalau gue bilang nggak usah, ya nggak usah!"


"Tapi Weva udah nabrak Brilyan tadi dan Weva harus minta maaf sama Brilyan."


"Lo gila, ya?"


Weva terdiam. Ia tertunduk sejenak dan kembali menatap Wiwi yang masih terlihat sangat marah.

__ADS_1


"Wev, cowok kayak dia nggak bakalan bisa dengerin apa yang lo bilang, ngerti nggak, sih?"


"Tapi, kan Weva udah nab-"


"Nabrak?" potong Wiwi membuat Weva mengangguk pelan.


"Wev!" Lo dengerin gue! Lo cuman nabrak dia sekali dan lo ngomong maaf udah ribuan kali tapi dia nggak pernah balas omongan lo sedikit, pun."


"Dia itu nggak ada bedanya sama orang buta dan tuli tahu nggak. Dia nggak bakalan pernah ngomong bahkan sedikitpun dia nggak bakalan ngomong."


Weva melirik menatap Brilyan yang nampak tak merespon bahkan Brilyan masih sibuk dengan bukunya. Weva takut jika Brilyan tersinggung dengan perkataan Wiwi dengan nada suaranya yang begitu keras bahkan suaranya bisa saja didengar sampai ke luar ruangan kelas.


"Dia itu nggak peduli dan bahkan nggak akan pernah peduli sama lo," ujar Wiwi Lagi.


"Tapi, Wi-"


"Udahlah, Wev! Dia itu nggak bakalan peduli sama lo!!!" Tarik Wiwi membuat Weva melangkah beberapa langkah berniat untuk membawa Weva keluar dari kelas namun, baru selangkah Wiwi terhenti lalu melirik Brilyan yang masih sibuk dengan bukunya.


Hah, sudah lama Wiwi ingin menghajar pria ini.


"Heh!!!" teriak Wiwi ke arah Brilyan membuat kedua mata Weva membulat kaget. Apa teriakan itu untuk pangeran kesayangannya? Brilyan?


"Lo beneran tuli, ya?"


"Nggak denger? Atau pura-pura nggak denger?" tanya Wiwi menatap Brilyan dari atas sampai ujung kaki dengan tatapannya yang begitu sangat kesal.


Wiwi menghela nafas, orang macam apa yang Weva sukai ini.


"Percuma tahu nggak lo pintar, tapi nggak bisa ngerespon orang."


Tetap rak ada jawaban.


"Sombong banget, sih jadi orang."


"Wi, Jangan ngomong gitu!" larang Weva.


"Wev, harusnya tadi waktu lo nabrak dia, lo tiban badan dia sekalian biar usus-ususnya keluar!" kesal Wiwi lalu kembali menarik Weva.


Langkah Wiwi kembali terhenti lalu melangkah mendekati Brilyan dan...


Bruak


Tendangan keras menghantam permukaan meja kayu membuat Brilyan tersentak kaget dan beralih menatap Wiwi dan Weva yang kini melangkah keluar dari ruangan kelas.


Brilyan mengerjapkan kedua matanya beberapa kali seakan tak percaya jika gadis yang sedari tadi berteriak berani menendang mejanya begitu sangat keras.


Ini begitu langka, tak ada yang pernah melakukannya.


Para gadis-gadis yang berniat untuk membawa seserahan berupa coklat, biskuit dan bunga pun terhenti di pintu ruangan masuk setelah melihat kejadian itu. Semuanya nampak berbisik ditambah lagi ketika Wiwi dan Weva yang melintasi mereka.      

__ADS_1


__ADS_2