
Suara langkah yang begitu tergesa-gesa terdengar menelusuri lorong rumah sakit yang saat ini cukup ramai, ada banyak penjenguk dan para perawat yang berlalu-lalang.
"Dimana Wi?" tanya pak Ahmad sembari tetap melangkah.
Wiwi berlari menyeimbangkan langkahnya dengan gurunya itu.
"Wiwi juga nggak tau, pak."
"Coba tanya ditempat pelayanan!" usul Weva.
"Kenapa kita tidak tanya dulu, ya baru kita masuk, kalau seperti ini, kan kita malah kebingungan sendiri," ujar Laila.
"Yah, udah pergi tanya ke tempat pelayanan yang pasiennya bernama Brilyan! Tanyakan dimana ruangannya!" pinta pak Ahmad membuat Laila, Weva dan Ken melangkah pergi.
"Saya ikut sama Bapak aja, ya Pak," sahut Wiwi yang mengacungkan jari telunjuknya.
Pak Ahmad mengangguk lalu kembali melangkah diikuti oleh pak Walio dan Wiwi. Ia sesekali menoleh menatap ke kamar rawat berusaha untuk mencari sosok Brilyan.
Pak Ahmad yang masih berlari itu melintasi beberapa ruangan hingga langkahnya terhenti ketika suara percakapan yang cukup sangat ia kenal nada suaranya terdengar. Ia terdiam, mendekatkannya telinganya ke permukaan pintu berusaha untuk mendengar suara dari dalam.
Johan menghela nafas panjang setelah mendengar penjelasan dari dokter yang telah menangani Brilyan. Untung saja anak itu tidak mati tapi nyawa putranya itu masih terancam.
"Jadi bagaimana, dokter?"
"Seperti yang saya katakan tadi kalau Brilyan mengeluarkan darah yang cukup banyak dan dia kehilangan banyak darah."
"Untung saja benda tajam itu tidak memutus urat besarnya jadi nyawanya masih bisa kita selamatkan tapi tetap saja kalau anda terlambat membawanya ke rumah sakit mungkin nyawanya tidak akan tertolong."
"Dan satu lagi setelah kami melakukan pemeriksaan, kami menemukan ada tumor di bagian otak Brilyan."
"Apa? Tu-tumor?" tanya Johan tak menyangka.
Kedua mata pak Ahmad membulat. Ia menutup bibirnya yang benar-benar dibuat terkejut. Murid yang paling pintar di sekolah itu mengalami tumor di otaknya.
"Yah, tumor."
"Tapi ini tidak mungkin dokter. Saya selalu memenuhi kebutuhan Brilyan dengan makan-makanan sehat jadi tidak mungkin ada tumor di otak anak saya. Dokter ini jangan main-main sama saya!" Tunjuknya seakan mengancam.
"Makanan sehat saja tidak cukup, pak. Tapi tumor otak ini bisa disebabkan dari apa saja seperti cedera kepala. Mungkin Brilyan pernah jatuh atau kecelakaan?"
"Tidak dokter, Brilyan bahkan tidak pernah terjatuh sedikitpun."
"Begadang yang terlalu sering juga bisa menyebabkan sistem kekebalan tubuhnya terganggu sehingga ketika ada penyakit yang menyerang tubuhnya langsung terserang. Apa Brilyan suka begadang?"
Kini tak ada jawaban dari Johan. Ia diam seperti patung. Ia akui jika ia selama ini selalu menghukum putranya dengan cara menyuruhnya belajar selama 24 jam tanpa henti.
"Tingkat stres, tingkat stress juga bisa. Tingkat stres yang tinggi bisa memicu terjadinya mutasi pada sel otak dan menyebabkan terbentuknya tumor. Apa selama ini Brilyan sering stres yang berkepanjangan?"
Johan tertunduk. Ia tak berani menatap dokter yang kini sedang menatapnya, menanti jawaban darinya.
"Apakah Brilyan sering stress?"
"Em, saya juga tidak tau."
"Apa Brilyan pernah mengeluh kepada anda?"
Johan terdiam sejenak. Putranya itu bahkan jarang bicara dengannya.
"Stres?"
Johan tertawa kecil.
"Ada apa?"
"Saya tidak merasa kalau putra saya itu merasa stres seperti apa yang dokter katakan."
Dokter berjas putih itu mengangguk lalu kembali bicara.
"Bisa tolong ceritakan bagaimana kehidupan putra anda itu?!"
"Bisa, putra saya, Brilyan Pratama adalah anak yang paling berprestasi di sekolah. Dia selalu mendapat juara satu setiap mengikuti perlombaan."
"Dia selalu menjadi juara kelas di sekolah, dia juga ahli dari semua bidang. Brilyan pintar di fisika, matematika, kimia dan masih banyak lagi-"
"Apakah dia suka dengan hal itu?" potong sang dokter membuat Johan kini diam.
"Apa Brilyan belajar dan menguasai semua ilmu itu atas kemauannya?"
"Apakah dia tidak merasa tertekan?"
"Tertekan?" Johan tersenyum sinis. "Belajar itu bukan sebuah tekanan-"
__ADS_1
"Siapa yang bilang?" potongnya.
"Belajar sesuatu yang tidak disukai itu menjadikan beban bagi seorang anak."
Johan menghela nafas panjang. Kini ia merasa tak nyaman dengan kalimat dokter. Apa mungkin yang dikatakan oleh dokter ini adalah benar. Apa selama ini Brilyan mereka tertekan?
"Hah, maaf pak jika saya terlalu banyak bicara tapi hal ini cukup serius. Anda harus cepat mencari pendonor darah untuk Brilyan."
"Donor darah?"
"Iya pak. Setelah kami melakukan pemeriksaan darah maka kami menemukan golongan darah saudara Brilyan adalah golongan darah AB."
"Darah ini cukup langka dan untung saja ada stok empat kantong darah di rumah sakit ini tapi itu belum cukup untuk Brilyan."
"Kami masih membutuhkan lima kantong darah. Kami mohon untuk anda mendonorkan darah anda kepada Brilyan."
Johan tersenyum. Ia mengangguk lalu bangkit dari kursi.
"Baik kalau begitu saya permisi dulu."
Johan melangkah menuju pintu, membuka pintu membuat kedua matanya membulat, terkejut saat seseorang langsung menarik kerah jas dan mendorongnya ke dinding dengan keras membuat Johan meringis merasakan sakit.
Johan tak menyangka setelah melihat dengan siapa ia berhadapan.
"Ahmad?"
Bibir pak Ahmad bergetar menahan amarahnya yang begitu berkobar tak tertahankan.
Bruak!!!
Johan terhempas ke permukaan lantai saat pak Ahmad melayangkan satu pukulan keras ke wajahnya. Orang-orang yang melihat hal tersebut begitu terkejut. Mereka semua diam, tak ada yang berani bergerak sedikit pun untuk melintasi keduanya.
"Kurang ajar anda!" teriak pak Ahmad.
Johan merabah bibirnya yang berdarah, belum sempat ia melihat darah yang ada di jemari tangannya pak Ahmad kembali menjambak kerah jas Johan dan memaksanya bangkit.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Johan dengan pandangan yang bingung.
"Anda bertanya? Hah?"
Nafas Johan tertahan di dadanya saat pak Ahmad mendorong dadanya dengan keras ke permukaan dinding. Sorot mata yang tajam itu benar-benar menunjukkan sisi yang lain dari pria yang selalu bersikap manis kepada Ken.
Para security berpakaian putih itu berlari mendekati pak Ahmad dan menariknya berusaha untuk memisahkan keduanya setelah salah satu perawat mengadu kepada tim penjaga.
"Jangan ikut campur! Ini urusan saya dengan dia!" teriak pak Ahmad.
"Tapi ini rumah sakit."
Pak Ahmad tak menghiraukan apa yang security itu katakan. Kedua sorot matanya masih beradu pandang dengan Johan.
"Dasar b*jingan kau!" teriak pak Ahmad yang menekankan dada Johan.
"Aku memberikan anakku bukan untuk kau siksa!!!" teriak pak Ahmad yang menggelegar di koridor rumah sakit.
Johan mendorong tubuh pak Ahmad membuat genggaman keras itu terlepas. Johan menyentuh dadanya yang terasa sakit itu, menarik nafas dalam-dalam berusaha untuk mengatur nafasnya.
"Aku tidak menyiksa putraku sendiri."
"Jaga ucapanmu Johan! Brilyan adalah putraku. Aku memberikan putraku itu karena terpaksa."
Johan tertawa sinis.
"Apa kau lupa dengan semuanya? Kau tidak akan punya anak jika bukan karena bantuanku yang memberi kau uang agar istrimu bisa ikut program bayi tabung."
"Aku yang membiayai dana dan segala kebutuhan istrimu itu selama di Singapur."
17 Tahun yang lalu...
Laila tersenyum menatap perutnya yang membuncit itu sedang dipangkas alat USG sedangkan dokter berparas indonesia itu terlihat sesekali menatap ke layar komputer.
Laila tersenyum menatap suaminya yang mengenggam jemari tangannya dengan lembut. Hari ini Laila merasa sangat tegang, ia sangat penasaran bagaimana kondisi janin di dalam rahimnya itu.
"Sepertinya janin yang dikandung oleh Ibu Laila kembar."
"Kembar?" tanya Laila yang begitu tak menyangka.
Laila tersenyum. Ia menatap suaminya yang terlihat tersenyum bahagia. Begitu banyak rintangan yang ia hadapi untuk mendapatkan seorang anak dan kali ini Tuhan memberikannya bayi kembar.
2 Bulan Kemudian...
Kesibukan tergambar jelas di dalam ruangan operasi yang dikelilingi oleh dokter-dokter ahli terpercaya. Hari ini adalah operasi cesar pada Laila.
__ADS_1
Pak Ahmad mengenggam jemari tangan Laila dengan erat, sesekali mengecup kening sang istri berusaha untuk memberikannya semangat.
Salah satu dokter melangkah mendekati pak Ahmad dan membisikan sesuatu ke telinganya.
"Aku pergi dulu, ya."
"Kemana?"
"Hanya sebentar."
Pak Ahmad membelai rambut Laila dan melangkah ke arah meja. Kedua matanya menatap haru pada dua bayi kembar yang ada di hadapannya. Dua jagoan yang berwajah tampan sedang menangis dengan suara tangisan ciri khas bayi baru lahir.
Di satu sisi kebahagiaannya ia juga harus memikirkan tentang janjinya kepada pria kaya itu. Ia menatap kedua bayi itu secara bergantian. Bayi mana yang akan ia berikan kepada pria kaya itu.
Tak butuh lama ia harus memutuskan membuatnya menggendong bayi yang bertubuh lebih kecil dari kembarnya.
Ia melangkahkan kakinya berniat untuk mengantar bayi ini tapi langkah itu tertahan membuat pak Ahmad membawa bayi itu ke istrinya. Ia ingin istrinya melihat bayi ini sebelum ia memberikannya kepada pria kaya itu.
Laila tersenyum menyambut bayi itu ke pelukannya. Membelai pipi halus itu sambil menangis. Akhirnya ia memiliki anak seperti apa yang selama ini ia harapkan.
"Pa, mana bayi kita yang satu lagi?"
"Sa-satu lagi?"
"Iya, bukannya anak kita kembar?"
Pak Ahmad mengecup kening istrinya. Sejujurnya ini adalah kecupan minta maaf kepada istrinya.
"Tidak, sayang. Dokter salah lihat. Kita hanya punya satu anak, bukan anak kembar."
Senyum Laila berangsur lenyap dari bibirnya. Ia sudah berharap banyak bisa memiliki anak kembar.
Satu jam kemudian...
Langkah yang begitu terpaksa melangkah keluar dari rumah sakit. Kedua sorot matanya menatap sedih pada sosok pria kaya yang sudah menunggu di depan mobil mewahnya.
Johan melepas kaca matanya. Ia tersenyum senang pada bayi yang ada di gendongan pak Ahmad.
"Aku ingin menepati janjiku, Tuan."
Johan tak menjawab apa-apa. Ia meraih bayi itu dari gendongan pak Ahmad dan melangkah masuk ke dalam mobil yang telah dibuka oleh supir pribadinya.
"Tuan! Apa boleh nanti saya bisa bertemu dengan putra saya?"
Johan menatap tak senang.
"Kau pikir aku akan mengizinkan kau untuk melakukan hal itu? Kau bahkan tak boleh untuk melihatnya."
Pak Ahmah meneguk salivanya.
"Tuan! Tolong jaga dia dengan baik!"
Kaca pintu mobil itu tertutup membuat pak Ahmad tak mampu lagi melihat sosok Johan dengan bayinya. Mobil itu melaju pergi meninggalkan sosok pak Ahmad yang menatap nanar kepergian mobil itu.
Pak Ahmad mendongak ke langit. Semoga Laila tidak marah setelah mengetahui ini.
...****...
Johan tersenyum sinis.
"Kenapa kau diam?"
"'Apa kau sudah ingat dengan semuanya?"
Pak Ahmad kini terdiam. Ia tak tau harus menjawab apa.
"Kalau bukan aku maka kau juga tidak akan punya anak."
"Kau Harusnya bersyukur karena atas didikan aku, Brilyan jadi anak yang berprestasi seperti sekarang "
"Semua orang mengenal namaku karena kecerdasan Brilyan dan sekarang lihat dengan putramu itu!"
"Apa putramu itu juga membanggakan kau seperti apa yang telah dilakukan oleh Brilyan?"
"Hah?"
"Tidak kan? Putramu itu tidak punya sedikitpun prestasi yang bisa kau banggakan."
"Hentikan!" teriak pak Ahmad.
Pak Ahmad melangkah maju berniat untuk mendekati Johan namun, nafas dan langkahnya tertahan setelah sekilas ia melihat seseorang yang sedang menatapnya entah sejak kapan.
__ADS_1
Ia menoleh menatap sosok Laila dan Ken yang nampak sedang berdiri sambil menatapnya.
Apa mereka mendengar semuanya?