
"Berhenti lo!!!" teriak seseorang dari belakang.
Langkah Weva terhenti dengan matanya yang membulat menatap Wiwi yang kini menelan ludah, entah musibah apa lagi yang akan dialami oleh sahabatnya itu.
Oh Tuhan, sepertinya Weva memang dilahirkan untuk menghadapi masalah.
"Gimana, nih, Wi?" bisik Weva yang kini mengangkat kedua alisnya beberapa kali.
Wiwi menggeleng. "Gue juga nggak tahu," ujar Wiwi tanpa mengeluarkan suara sedikitpun.
"Terus gimana, dong?"
"Nggak ada pilihan lain. Lo harus lari!"
"Apa?"
"Lari, Wev!"
Bibir Wiwi bergerak berusaha untuk tetap berkomunikasi dengan Weva tanpa mengeluarkan suaranya sedikit pun.
Weva mengangguk lalu kembali melangkah membuat pria yang berada di anakan tangga itu kembali berteriak untuk menyuruhnya berhenti. Langkah Weva kembali tertahan, suara itu benar-benar seperti ancaman baginya.
Weva kini menoleh, menatap gerombolan pria berandal itu yang kini melangkah menuruni anakan tangga.
Rasanya nafas weva sesak dikala pria yang berdiri paling depan dengan berseragam SMA Cendrawasih Internasional school lengkap dengan celana yang bagian lututnya dibuat sobek itu melangkah menuruni anakan tangga.
Ken Satya Negara, itu nama yang terpampang di seragam SMA-nya. Seorang pria berwajah tampan yang merupakan murid pindahan dari SMA swasta yang berada di Jakarta beberapa minggu yang lalu.
Pria berkulit putih bersih berparas tampan dengan hidung mancung bahkan banyak yang mengira jika Ken adalah pindahan dari negeri ginseng Korea.
Sebuah headset hitam terpasang di telinga kanannya diiringi musik rock yang begitu memberikan kesan berandal di jati diri seorang Ken.
Ujung bajunya itu nampak keluar dari celana bergaris biru yang di bagian lututnya sengaja disobek agar memberi kesan nakal. Dasi bergaris biru itu sudah tak berada lagi di kerah bajunya melainkan sudah melingkar di kepalanya tepat di depan dahinya. Sungguh tak patut untuk dicontoh.
Entah sudah berapa kasus yang ia buat di sekolahnya hingga harus dikeluarkan dari sekolah namun, karena Ken yang mempunyai orang dalam membuatnya diterima oleh sekolah SMA Cendrawasih Internasional school yang terkenal sebagai salah satu sekolah yang selalu menghasilkan bibit-bibit berprestasi dan begitu sangat disiplin.
Tak sembarang orang yang bisa sekolah di SMA Cendrawasih Internasional School. Hanya ada dua alasan yaitu orang kaya dan orang berprestasi yang bisa sekolah di sini. Bangunan berlantai tiga ini memanglah bisa dikategorikan sebagai sekolah ternama dan terkenal.
Ken memiliki sebuah geng yang ia dirikan sendiri dan dinamakan geng berandal, tak jauh beda dengan kelakukan mereka yang begitu sangat meresahkan para guru-guru dengan kenakalannya.
Ken baru saja pindah ke sekolah ini seminggu yang lalu namun, namanya sudah terkenal sampai ke telinga-telinga para guru-guru karena kenakalannya, ditambah lagi para guru BK yang selalu mendapat aduan dari para siswa dan siswi jika Ken selalu menganggu bahkan membully setiap siswa dan siswi yang ia temui di sekolah.
Langkah Ken terhenti tepat di hadapan Weva yang kini menatap kedua sorot mata Ken yang begitu tajam. Ini seperti tatapan tajam, bahkan pisau dapur Weva pun akan kalah tajam dengan tatapan ini. Wah, sungguh setajam silet.
__ADS_1
"Ngapain lo ngeliatin gue?" tanya Ken memecah keheningan Weva.
Weva menelan ludah lalu segera menyembunyikan bekal pinknya itu di balik tubuh gendutnya. Ia menunduk, bahkan tinggi Weva hanya sampai di dada Ken.
Weva takut jika pria berandal ini mengambil bekalnya, yah, walaupun Ken tak pernah mengambil bekalnya, tapi sudah banyak yang Weva dengar jika Ken selalu merampas bekal para siswa dan siswi yang Ken temui.
Weva tak tahu mengapa seorang Ken mengambil bekal siswa dan siswi yang lain. Apa dia lapar?
"Lo-"
"Ken! Ken! Ken!" potong Wiwi lalu berdiri di tangah-tengah antara Weva dan Ken.
"Ken ganteng yang super-super ganteng."
"Ken yang gantengnya mengalahkan pak Soekarno, pak Soeharto, pak Habibie, Abdurahman Wahid, Bu Megawati Soekarnoputri, pak SBY dan pak Jokowi."
"Gue minta maaf, yah kalau temen gue punya salah," ujar Wiwi sembari tersenyum dengan tangannya yang membentuk gerakan maaf.
"Wi, Bu Megawati itu perempuan bukan laki-laki, jadi dia cantik bukan ganteng!" bisik Weva yang berada dibelakang Wiwi.
"Berisik lo, gue lagi peran, nih," ujar Wiwi yang melirik menatap Weva lalu ia kembali menatap Ken bersama dengan teman-temannya itu.
"Please, yah Ken jangan gangguin Weva!"
"Gue tahu Weva emang pantas dihina tapi tolong dong jangan Weva. Weva itu sahabat gue, ya, Ken."
Ken mendecakkan bibirnya lalu segera menghembuskan nafas berat. Ocehan macam apa yang gadis ini katakan barusan.
Ken menggerakkan jari telunjuknya hingga kedua sahabatnya itu, Kevin dan Roy dengan cepat menarik pergelangan tangan Wiwi dengan keras.
"Eh, apaan, nih?" Berontak Wiwi berusaha melepas pegangan kevin dan Roy yang memegang kedua tangannya.
Wiwi ditarik membuatnya melangkah secara paksa hingga terdiam di pinggir seakan memberi ruang untuk Ken dan Weva di sana.
"Lepas nggak?" Tatap Wiwi, melotot sembari memaksakan tangganya untuk segera lepas dari cengkraman anggota geng berandal ini.
"Nggak akan!" ujar pria yang berambut pirang berwarna merah yang bernama Kevin.
"Iya, kita nggak akan lepasin Lo," tambah Roy yang juga memiliki rambut pirang, tapi rambut pirangnya ini bisa dikatakan ektrim. Bayangkan saja Roy mewarnai rambutnya dengan warna pink.
Pink! Bayangkan! Pria berandal dengan rambut pink.
__ADS_1
"Lepasin nggak!"
Roy dan Kevin kini menggeleng sambil tersenyum kemenangan.
"Ah, kalau suka bilang, nggak usah pakai modus pegang-pegang!"
"Gue tau kalau gue cantik, gue langsing dan lo semua naksir kan sama gue tapi, nggak usah pakai tarik-tarik segala," celoteh Wiwi penuh drama.
"Mau tanda tangan? iya? Mau tanda tangan?"
Kevin dan Roy meringis sembari memegang telinganya. Rasanya mereka sangat tak tahan dengan ocehan Wiwi yang begitu berisik.
"Heh! Bisa diam nggak sih?!!?" bentak Kevin membuat Wiwi tersentak kaget.
Dasar, dua pria pirang ini berani membentaknya.
"Berani lo ngebentak gue?"
"Wiwi nggak bisa diem lah. Heh!!! Lo tuh kalau misalnya emang ngefans sama gue, yah tinggal ngomong aja kali nggak usah pakai kekerasan dong!"
"Aduh, Wiwi berisik banget," kesal Weva yang ikut bicara.
Roy dan Kevin menoleh.
"Noh, teman gendut lo aja juga nggak tahan," ujar Roy.
"Ah, dia juga kalau nyerocos ngalahin gue."
"Emang iya?" tanya Kevin lalu menoleh menatap Weva.
"Coba lo ngomong!"
Ken memejamkan matanya seakan tak tahan dengan ocehan orang yang ada di depannya dan suara itu seakan bergantian membabi buta di gendang telinganya.
"Tutup! Tutup mulutnya!" Tunjuk Ken.
Roy menoleh lalu menutup mulut Kevin yang kini mengernyit heran.
"Puih, bukan gue goblok!" ujar Kevin yang mendorong tangan Roy.
"Hehehe, maap. Gue khilaf. Nggak tahan gue mau nyekik elu."
Wiwi terbelalak ketika Ken mengucapkan kalimat itu ditambah lagi ketika Roy yang dengan cepat mengeluarkan sebuah kain dan segera menutup mulut berisik Wiwi dan mengikatnya dengan erat.
Weva terbelalak Ketika kedua pria berandal itu memperlakukan Wiwi seperti seorang gadis yang ingin diculik. Dengan langkah cepat ia bergerak untuk mendekati Wiwi, ia tak rela jika sahabatnya itu diperlakukan seperti itu.
__ADS_1
"Berhenti lo!" pintah Ken membuat langkah Weva tertahan.