Princess Endut

Princess Endut
154. Bandara


__ADS_3

Bandara


Weva duduk terdiam menanti pak Walio yang sedang mengurus keberangkatan Weva di depan sana. 


Weva mengusap pipinya yang basah, entah mengapa rasanya ia sangat sedih akan berangkat ke Korea padahal ia sendiri tahu kalau di sana ia hanya beberapa minggu sampai Omahnya sembuh, ini tidak lama hanya seminggu kalau pun Omahnya sembuh beberapa hari, ia akan pulang.


Satu alasan mengapa Sasmita selalu bolak balik ke Korea, yah selain pekerjaan di sana, Sasmita juga tinggal beberapa hari di Korea karena kedua orang tuanya yang tinggal di korea ditambah lagi Omahnya yang sakit.


Weva menatap beberapa orang yang berlalu-lalang di depannya, mereka begitu sibuk.


"Non, Weva!" panggil pak Walio yang sedang melangkah ke arah Weva yang dibuat mengangkat wajah beraut sedih itu.


"Ayo, non. Semuanya sudah siap," ujar pak Walio membuat Weva mengangguk dan bangkit dari kursinya.


"Di sana, Non!" Tunjuk pak Walio menunjukkan jalan.


...****************...


"Minggir!!! Gue mau melahirkan!!!!" teriak Wiwi sembari berdiri di pijakan motor dan meremas bagian perutnya yang terlihat membuncit setelah dilapisi oleh tas milik Ken.


Ken membulatkan kedua matanya setelah mendengarkan teriakan gadis super berisik yang ada dibelakangnya. Semua orang langsung menoleh menatap ke arah Ken yang dibuat pucat.


"Woy!" tarik Ken membuat Wiwi terduduk di jok motor.


"Lo kenapa?"


"Maksud lo apa ngomong mau lahiran?" Kesal Ken yang tak terima.


"Udah lo diem aja!" bisik Wiwi penuh tekanan dan ancaman. 


Wiwi kembali bangkit dan berdiri tegak menatap orang yang kini tengah menatapnya.


"Huh, huh, huh. Gue-gue mau lahiran!!! Tolong kasi jalan!!!" teriak Wiwi penuh drama.


Ken menutup wajahnya dengan tangan kiri berusaha untuk menyembunyikan wajahnya dari tatapan mereka. Rasanya Ken ingin lenyap dari dunia ini.


Ken memucat ketika ia menjadi pusat perhatian orang-orang. Mungkin, mereka akan berfikir aneh tentangnya apa lagi sekarang keduanya tengah mengenakan seragam sekolah.


Seragam sekolah!


Dengan perut buncit! Apa tak ada yang lebih memalukan dari pada ini?


"Hah, suami ku! Tolong suruh mereka menyingkir!" ujar Wiwi sembari menepuk bahu Ken yang terpelonjak kaget.

__ADS_1


"Suami? Ih, jijik banget gue!"


"Udahlah, lo mendingan ikut rencana gue!" bisik Wiwi dengan nada beratnya yang siap melahap daun telinga Ken sekarang juga.


Ken menelan ludah. Sahabat Weva ini jauh lebih menyeramkan dan berbahaya dari apa yang ia pikirkan. Ken yang semula terdiam itu kini mulai menepuk kasar punggung tangan Wiwi dengan raut wajahnya yang memerah.


"Sabar istri ku, sabar!!!" teriak Ken.


Piiiiiip!!!


"Minggir!!! istri saya mau melahirkan!!!" teriak ken sembari membunyikan klakson motor membuat semua orang terkejut.


"Woy! Punya otak nggak sih lo? Gue mau ngelahirin, nih. Nggak punya otak lo, ya?!!"


"Manusia, nih yang mau keluar!!! Minggir!!!" teriak Wiwi.


"Bener, tuh. Kalau kalian semua nggak ngasih jalan anak gue bakalan meninggal!!!"


Ken menahan salivanya. Rasanya ia ingin muntah setelah mengatakannya.


"Bapak-bapak dan Ibu-ibu semua mau tanggung jawab kalau tas ini, eh anak ini meningal!!!"


Ken melirik tajam setelah Wiwi telah salah bicara.


Ken kembali membunyikan klaksonnya yang bercampur dengan suara kendaraan.


Semua orang-orang kini terlihat saling berunding dan tak lama para pengendara mengatur jalan dan memberikan ruang panjang untuk Ken dan Wiwi lewati.


"Yes, rencana berhasil," bisik Wiwi dengan wajah liciknya yang telah menipu seisi jalan Jakarta.


Ken tak sia-sia ikut dalam kebohongan yang tidak berfaedah itu. Kini ia tak menyia-nyiakan kesempatan dan segera melajukan motor vespanya melintasi jalan yang telah di berikan.


"Terima kasih, ya semuanya!!!" teriak Wiwi yang terlihat melambai.


Salah satu pengendara bermotor dengan helm tanpa kaca itu menurunkan tangannya yang melambai.


"Sama-sama!!!"


"Selamat berojol, yah dek!!!" teriak wanita pengendara bermotor yang mengenakan helm merah.


"Kasian orang tuanya," sahut pria dengan kumis tebal yang tak jauh dari wanita itu.


"Mana masih muda lagi," tambah wanita tua yang tengah di bonceng oleh seorang pria.

__ADS_1


"Gini lah anak jaman sekarang sukanya buat dosa. Masih SMA udah bunting. Gimana kalau udah gede itu anak."


"Sekarang itu anak-anak remaja kalau pacaran kegiatannya aneh-aneh."


"Namanya juga anak-anak yang baru mengenal cinta."


Mereka semua menggeleng hingga suara anak kecil terdengar di tengah-tengah keramaian.


"Namanya juga cinta," sahutnya membuat semua orang menoleh dengan mata melotot karena terkejut.


Bandara


Weva tersenyum manis menatap pak Walio yang sepertinya juga akan menjadi korban kepergiannya. Jika ia benar-benar pergi dari Jakarta, mungkin ini yang pertama kalinya bagi ia meninggalkan pak Walio dan berpisah. Dari dulu kemana pun dan dimana pun ia pergi pria berdarah Papua ini selalu ada bersamanya.


"Terima kasih, pak Walio," ujar Weva dengan berat hati.


Pak Walio yang sedari tadi tertunduk kini mengangkat pandangannya dan menatap Weva diiringi tangisannya yang meledak. Di balik pak Walio si pria berdarah papua yang begitu galak kalau dilihat dari paras wajahnya ternyata juga memilki rasa sedih. Untuk pertama kalinya bagi Weva melihat pak Walio menangis seperti anak kecil seperti saat ini.


Weva tertawa walau sejujurnya ia juga ingin menangis dan merasa sedih berpisah dengan pak Walio.


"Pak Walio kenapa nangis, sih, pak?"


"Beta kan sedih Nona."


"Nggak usah sedih, pak. Weva nggak lama kok, pak," ujarnya sembari menepuk bahu pak Walio yang hanya mampu mengangguk.


"Ha-ha-hati, yah Wev!" isaknya pedih.


Weva mengangguk. Ia berpaling dan melangkah sembari mendorong trolley dimana kopernya sudah berada di sana.


"Non, Weva!" panggil pak Walio membuat Weva menghentikan langkahnya dan menoleh menatap pak Walio.


"Oleh-oleh jangan lupa!" ujarnya lalu tertawa cekikikan.


Weva yang tadi ingin menangis kini ikut tertawa dan segera mengangguk. Pak Walio tetap saja pak Walio. Dia akan tatap menjadi pria penuh komedi di mata Weva.


"Iya, pak. Weva bakalan ingat. Pak Walio chat aja!"


"Siap, Non."


Tak berselang lama Weva kembali membalikkan badannya dan melangkah pergi menginjakkan sepatu putihnya di lantai.


"Weva!!!" Teriak Wiwi dan Ken secara bersamaan membuat Weva dengan cepat menoleh menatap Ken dan Wiwi yang berlari dari kejauhan.

__ADS_1


__ADS_2