
Weva mendecapkan bibirnya kesal, Ini aneh. Rasanya ia bisa mati jika suasana sunyi ini terus berjalan menyelimuti Weva. Weva harus berbuat sesuatu.
"Ken!" panggil Weva membuka percakapan.
"Emmm," sahutnya malas.
Weva kembali terdiam, apa yang harus Weva katakan kali ini? Cukup lama ia berpikir hingga ia kembali bicara.
"Ken suka Barbie?"
Skakmat!!!
Ken melirik tajam menatap wajah Weva yang langsung dibuat mempias tanpa nafas.
Oh demi dewa para pemeran uttaran dan nenek Tapasya di serial ANTV itu. Weva rasanya telah salah bicara kali ini. Mati lah kamu, Wev!
"Maksud lo?" tanya Ken membuat Weva salah tingkah.
Ia menggaruk kepalanya itu sambil tersenyum kaku.
"We-weva sempat liat kamar Ken tadi dan-"
"Oh yang tadi," potong Ken membuat Weva dengan cepat mengangguk.
"Itu bukan atas permintaan gue terus kamar gue jadi kayak anak perempuan gitu. Lo pikir gue cowok nggak normal yang sukanya sama Barbie?"
"Terus kemauan siapa, dong?
"Itu kemauan Mama gue."
"Tante Laila?"
"Em, ya iya lah. Emang Mama gue ada berapa?"
Weva menghembuskan nafas berat, rasanya Ken memang selalu membuatnya tersingkirkan dengan ujarannya yang selalu membuatnya berhasil bungkam. Sepertinya Ken lebih cocok untuk masuk dalam tim berdebat ketimbang membully.
"Setiap kali Mama gue mau ngehias kamar gue dengan tema Barbie, Rapunzel, Hello Kitty dan what ever, yah gue nggak ngerti lah, yah apa yang Mama gue mau lakuin dengan kamar gue dan yah gue selalu nolak."
"Tapi ujung-ujungnya ketika gue pulang dari sekolah, yah pasti gitu lah kamar gue udah berubah jadi apa yang Mama gue mau." Ken tertawa setelah menjelaskannya membuat Weva juga ikut tertawa kecil.
"Aneh nggak, sih Mama gue?"
Weva menggeleng sambil tersenyum.
"Itu nggak aneh, kok."
"Kok, gue rasanya aneh, yah?"
Keduanya kini terdiam sembari terus berlari.
"Oh iya, ngomong-ngomong lo punya berapa saudara?"
"Siapa? Weva?"
__ADS_1
"Nggak, gue ngomong sama yang di sebelah lo."
Weva yang menoleh ke kiri dan kanan berusaha untuk mencari orang yang ada di dekatnya.
Ken mendecapkan bibirnya. "Yah, gue ngomong sama lo lah."
Weva tertawa kecil lalu menjawab, "Weva cuman dua bersaudara. Satunya itu Kak Wevo."
"Oh, lo punya kakak?"
"Punya, tapi Kak Wevo nggak gendut kayak Weva," jawab Weva yang membuat wajahnya menajadi cemberut.
"Nggak usah ngebanding-bandingin! Semua orang punya kekurangan dan kelebihan masing-masing. Nanti lo juga bakalan langsing, kok."
Ken malah terkejut sendiri setelah mengatakan hal itu. Entah mengapa bibir yang hanya selalu membully itu tiba-tiba mengatakan hal yang cukup manis kepada Weva.
Di satu sisi Weva terlihat tersenyum. Ia cukup bahagia mendengar ujaran Ken.
"Kalau Ken?"
"Apa?"
"Punya saudara?"
"Kalau semuanya masih hidup mungkin gue punya banyak saudara."
Weva menatap bingung membuat Ken tertawa kecil.
"Gue nggak ngerti juga, sih proses gimana gue cuman bisa ada satu dan jadi anak satu-satunya."
"Dan karena itu semua, Mama gue jadi sayang banget sama gue."
Weva hanya terdiam. Pantas saja Ken sangat disayangi oleh kedua orang tuanya, Tante Laila dan pak Ahmad.
Tak berselang lama Ken kembali bingung pada dirinya sendiri. Bisa-bisanya ia membahas tentang keluarga kepada Weva.
...****...
"Nih." Beri Ken pada sebotol air mineral membuat Weva yang terduduk lelah itu menoleh.
Weva melirik menatap Ken dengan wajah pasang tak menyangka. Tumben pria pembully ini baik memberinya air. Biasanya Ken bahkan tak memberinya kesempatan untuk duduk sejenak.
"Malah bengong lagi. Nih, Ambil, cepetan!" suruh Ken sambil ikut duduk di samping Weva tepatnya di depan rumah Ken yang sudah gelap dan hanya diterangi lampu jalan.
Tante Laila dan Pak Ahmad nampaknya belum pulang hingga lampu teras rumah belum menyala begitu pula dengan yang lainnya.
Weva meraih cepat botol yang Ken julurkan dan memutar penutupnya dengan susah payah diiringi suara erangan membuat Ken menoleh.
"Sini!" Rampas Ken lalu membuka penutup botol tanpa menunggu jawaban dari Weva dan kembali meletakkannya di tangan Weva yang malah tersenyum.
"Terima-"
"Badan lo aja yang gede, tapi buka botol aja nggak bisa," ocehnya.
__ADS_1
"kasih," lanjut Weva dengan nada lemahnya yang membuat senyum Weva lenyap dari bibirnya.
Ken perusak hati! Terkutuk lah dia!!!! Baru saja Weva ingin kagum dengan kebaikan Ken, tapi pria itu kembali membuat perasaan Weva menjadi tidak baik.
Malam yang begitu sejuk ini kini menunjukkan pukul 9 malam, dimana suasana kompleks yang sejak tadi ramai berubah begitu sunyi dan sepi.
"Cepetan lari!!!" teriak Ken sembari menatap Weva yang berlari di pinggir jalan beraspal tepatnya di depan rumah Ken.
"Lari yang serius!!!"
Weva menghentikan larinya lalu menopang lututnya yang telah lelah untuk berlari sedari tadi tanpa pernah berhenti.
"Ini udah serius. Emang ada apa lari yang nggak serius? Ken pikir Weva bercanda apa?" kesal Weva.
Weva menghembuskan nafas lelah sembari menekan perutnya. Perutnya pun sudah terasa nyeri karena berlari tadi. Weva mendudukkan dirinya pada permukaan aspal yang kasar itu, ia tak perduli apakah aspal yang ia duduki itu kotor atau bersih.
"Woy!!!" teriak Ken membuat Weva menoleh menatap pria pembully yang nampak menopang pinggang di jarak yang cukup jauh darinya.
"Siapa yang nyuruh lo duduk?!!"
Weva memutar kepalanya membelakangi Ken. Pria itu suka sekali marah-marah kepadanya.
Ken menghela nafas. Gadis gendut itu tak mendengarnya atau ia sedang berpura-pura tuli?
"Hah, kenapa lagi, sih lo?" tanya Ken sesampainya ia di samping Weva yang terlihat terduduk dengan kedua kaki beratnya yang diluruskan.
"Lo kenapa duduk? Gue nggak nyuruh lo duduk!"
"Weva capek, Ken. Masa harus lari terus?" aduhnya dengan wajah yang telah dicucuri keringat.
"Emangnya cuman lo yang capek, nih gue juga capek!" Tepuk Ken pada dadanya.
"Ta-tapi beneran, deh Weva nggak kuat kalau harus lari lagi. Capek tahu."
"Yah, harus dikuatin dong, Wev! Nih, gue janji, deh kalau badan lo turun 10 kg dalam seminggu ini, gue bakalan ajak lo jalan-jalan dan traktir lo makanan yang lo mau."
Kedua mata Weva yang sayup lelah itu langsung berbinar. Ia melirik menoleh menatap Ken yang terlihat tersenyum.
"Beneran?" tanya Weva yang begitu antusias.
"Yah iya lah. Emang pernah gue bohong?"
Dengan cepat Weva bangkit dari aspal dan tersenyum begitu semangat.
"Janji, yah?" tanya Weva sembari mengangkat jari kelingkingnya tepat di depan wajah Ken membuat Ken mengkerutkan alisnya menatap jari kelingking Weva dengan tatapan heran.
Ken tak mengerti apa yang dilakukan Weva dengan jari kelingkingnya yang gemuk dan pendek itu.
Weva terus tersenyum menanti Ken melingkarkan jari kelingkingnya di jari Weva, ini tanda perjanjian dan kesepakatan bagi Weva.
"Iya," jawab Ken lalu memutar tubuhnya membelakangi Weva yang kini terdiam dengan wajah datarnya.
Ken tak melingkarkan jari kelingkingnya!
__ADS_1
"Ken!" panggil Weva sembari berlari kecil mengikuti langkah Ken.