
Tatapan Weva kini menyorot seorang guru yang kini sedang menjelaskan pelajaran fisika begitu sangat detail dalam menjelaskan sebuah rumus. Tidak terlalu sulit bagi Weva pasalnya Weva sudah mempelajarinya semalam di rumah.
Seperti ini lah kebiasaan Weva yang selalu mempelajari pelajaran yang akan dibawakan oleh guru besok agar ia bisa menjawab jika guru bertanya atau memberikan soal dan meminta para murid untuk menjawabnya di papan tulis.
Bukan bermaksud sok pintar, tapi ini kenyataan Weva memang suka belajar dan fisiknya yang membuatnya jatuh.
Terkadang dunia itu tidak adil dan rasanya dunia ini hanya berpihak kepada orang yang baik penampilannya bukan yang baik pemikirannya.
"Wev, Weva!" panggil Wiwi sembari menepuk bahu Weva yang besar.
"Liat ini, deh!" pintah Wiwi sembari mengarahkan layar handphonenya secara sembunyi-sembunyi ke arah Weva.
"Apa?" bisik Weva sambil menggerakkan kedua alisnya.
Wiwi menggerakkan bola matanya ke arah bawah membuat Weva melirik menatap sebuah foto bangunan rumah yang berada di layar handphone Wiwi.
"Tempat makanan baru?"
Wiwi menghela nafas. Selalu saja makanan yang ada di pikiran Weva.
"Yah bukanlah."
"Terus itu apa?" tanya Weva yang sorot matanya sudah dialihkan menatap guru.
"Ini tempat gym," bisik Wiwi nyaris seperti hantu.
"Nih, ya semalam gue udah cari tempat gym yang keren di google dan akhirnya gue dapat tempat ini," sambungnya.
Weva tak merespon. Ia hanya menggerakkan pulpen di jari tangannya. Nampaknya pelajaran fisika lebih menarik daripada apa yang akan dikatakan Wiwi.
"Wev, Ini bisa ngebantu buat Lo buat nurunin berat badan lo, Wev."
"Oh ya?"
Wiwi mengangguk meyakinkan.
Tak
Sebuah remukan kertas menghantam kepala Weva membuat Weva meringis. Ia menyentuh kepalanya yang telah dihantam itu sambil menatap kertas yang terlihat mengelinding dari tergeletak di atas meja.
Weva dan Wiwi saling bertatapan sejenak lalu secara bersamaan keduanya menoleh menatap Ken yang nampak tersenyum jahil bersama dengan Bara di belakang sana.
Weva berbalik diiringi helaan nafas, entah sudah berapa kali Ken melemparinya seperti ini.
Weva menoleh menatap Wiwi yang kini sedang mengusap punggungnya berusaha untuk menenangkan Weva.
"Nyebelin banget nggak, sih mereka? Kesel tahu nggak," oceh Weva dengan bibirnya yang terlihat mengerucut.
__ADS_1
Pria itu sangat menyebalkan.
Suara jam istirahat untuk cendrawasih internasional school terdengar membuat guru yang sedari tadi menjelaskan pelajaran kini berakhir. Beberapa siswa dan siswi kini berangsur berkurang meniggalkan ruangan kelas setelah memasuki jam istirahat.
Wiwi duduk di sebuah meja menatap Weva yang kini mengeluarkan sebuah bekal biru berisi nasi goreng yang Weva buat dengan susah payah di waktu subuh tadi.
Jangan salah lagi nasi goreng spesial rasa cinta untuk orang spesial
"Buat Brilyan lagi?" Tanya Wiwi yang kini berdiri sambil menopang pinggangnya sebelah.
Weva mengangguk dengan senyum manisnya membuat Wiwi mendengus kesal.
"Dia melulu."
Weva melirik.
"Terus siapa lagi kalau bukan Brilyan."
"Yah, sekali-kali lah buat gue, iya, kan?"
Wiwi tersenyum sambil menaik turunkan kedua alisnya.
"Sorry, ya. Nggak dulu."
Weva melangkah melintasi Wiwi yang kini nampak terdiam dengan wajah datar tanpa ekpresi.
"Emmm."
Wiwi tersentak kaget. Baru saja ia ingin melangkah tiba-tiba saja Beno sudah ada di depannya sambil memegang sebuah kertas.
"Ah, Beno! Lo apa-apaan, sih? Bikin kaget aja."
Beno hanya terus tersenyum sambil menunjuk kertas yang dia bentangkan sehingga tulisan I love you itu terlihat jelas.
"Ih, Beno!" kaget Wiwi yang langsung meraih kertas itu dan meremuknya.
"Gue, kan udah bilang sama lo jangan tulis yang kayak gini. Gue nggak suka tahu nggak lo!!!" teriaknya lalu melempar kertas itu ke dada Beno yang langsung kehilangan senyumnya.
"Weva tunggu!!!" teriak Wiwi yang langsung berlari meninggalkan Beno yang kini hanya terdiam.
Weva kini melangkah beriringan dengan Wiwi yang kini masih setia menemaninya walau ia sendiri tadi yang selalu menghasut Weva untuk berhenti melakukan ini.
Menurut Wiwi yang Weva lakukan ini adalah sia-sia. Yah, hanya membuang-buang waktu, tenaga dan bekal. Bahkan Brilyan tak pernah mengembalikan bekal Weva.
Coba bayangkan saja berapa banyak bekal milik Weva yang ada di rumah Brilyan. Setiap hari Weva membawakan bekal yang isiannya selalu berbeda setiap hari dari jaman SMP sampai sekarang.
Ribuan bahkan milyaran bekal mungkin sudah ada. Oh Tuhan, untung saja Weva ini anak orang kaya jadi tidak perlu memikirkan tentang biaya untuk membeli bekal.
__ADS_1
Langkah Weva terhenti secara tiba-tiba dengan kedua matanya yang kini membulat menatap Ken yang berada di kejauhan tepat di anakan tangga tengah bercanda gurau bersama dengan sahabat geng berandalnya, Kevin dan Roy bahkan ada sepupu Weva di sana, yah siapa lagi jika bukan si Bara.
Entah sejak kapan Bara akrab dengan geng berandal itu. Hah, Weva lupa jika Bara ternyata sebangku dengan Ken di kelas.
"Kok, berhenti? Berubah pikiran, ya? Iya?" tanya Wiwi yang kini raut wajahnya menjadi kesenangan.
Weva tak menjawab. Ia menoleh menatap Wiwi yang nampaknya belum melihat jika Ken dan teman-temannya ada di depan sana.
"Jadi nggak, Wev?" tanya Wiwi yang menatap wajah Weva yang terlihat bimbang.
"Jadi, kok tapi," ujarnya terhenti membuat Wiwi Kebingungan.
"Tapi?"
"Ada Ken," bisiknya dengan giginya yang terlihat menggerutu serta bola matanya yang membulat seakan nyaris keluar.
"Hah? Ken?"
Weva mengangguk sambil melipat bibirnya ke dalam.
Wiwi menoleh menatap ke segala arah berusaha untuk mencari sosok Ken.
"Dimana? Dimana si Ken?"
Weva memejamkan kedua matanya lalu menjepit kedua pipi Wiwi dan mengarahkannya ke arah Ken yang langsung membuat kedua mata Wiwi membulat.
"Aduh, si ganteng Ken," kagum Wiwi sambil tersenyum malu sambil mendorong pelan tangan Weva dari pipinya.
"Ganteng dari mana, sih? Dia itu iblis, tukang bully."
Wiwi melirik tajam.
"Dari pada Brilyan kek orang penyakitan. Ngomong aja irit banget kayak nggak pernah makan."
Weva mendecakkan bibirnya. Tega sekali Wiwi mengatakan itu.
"Aduh, jadi mau ke sana sekarang, nih?" tanya Wiwi yang terlihat bersemangat sambil merapikan rambutnya yang sudah rapi itu namun senyumnya pudar setelah melihat Kevin dan Roy.
Ah, dua pria itu selalu saja membuatnya lemas.
"Ah, Wev. Gue males banget kalau harus di seret lagi sama Kevin dan Roy, bikin malu tahu nggak," bisik Wiwi dengan nada yang terdengar tertekan.
Weva berfikir sejenak memang benar yang di katakan Wiwi. Kedua sahabat Ken itu seakan menyimpan dendam kepada Wiwi.
Apa mereka tidak kasihan dengan tubuh kurus Wiwi yang jika ditarik mudah terlepas tulangnya?
"Yah udah, Wi. Wiwi tunggu di sini aja, ya. Biar Weva aja yang pergi."
__ADS_1
"Hah?"