Princess Endut

Princess Endut
136. Pasar Malam (Malam penuh Kebahagiaan part 1)


__ADS_3

Weva bangkit dari kursi saat Ken menariknya dan menuntunnya melangkah sembari memegang pergelangan tangan Weva.


"Ken! Kita mau kemana?"


"Jalan-jalan. Lo mau jalan-jalan, kan?"


"Tapi bukannya kepala Ken masih pusing, ya?"


"Udah nggak, kok."


Ken menghentikan langkahnya. Ia tersenyum setelah menoleh menatap Weva.


"Emm, sekarang kita bagusnya ngapain, ya?"


"Tapi beneran, kan Ken nggak pusing lagi?"


"Beneran."


"Nggak bohong, kan?"


"Eh, Endut. Lo kira gue lemah?" cicit Ken membuat Weva tersenyum.


"Okay, kalau Ken udah marah kayak gini berarti Ken udah nggak pusing lagi. Yuk!"


Weva melangkah dengan semangat melintasi beberapa pengunjung pasar malam yang berlalu lalang dan beberapa pedagang yang sedang sibuk-sibuknya.


Di belakang sana Ken terlihat tersenyum menatap Weva yang melangkah persis seperti anak kecil, tapi sayangnya anak yang satu ini versi jumbo.


Weva menghentikan langkahnya lalu menunduk menatap beberapa gelang yang dipajang. Ada berbagai macam gelang dengan berbagai warna dan ukuran yang berbeda-beda.


"Gelang, dek!" tawar pedangan laki-laki itu.


"Nggak, kok, pak. Weva cuman liat aja."


Weva melanjutkan langkahnya membuat Ken yang baru menghentikan langkahnya berniat untuk ikut berdiri di samping Weva menoleh.


"Wev!"


Weva menghentikan langkahnya lalu menoleh menatap ke arah Ken.


"Lo nggak mau beli gelang?"


"Nggak," jawab Weva yang kembali berpaling berniat untuk pergi.


"Lo pilih aja! Biar gue yang bayar, anggap aja hadiah dari gue."


Weva kembali menoleh menatap Ken yang terlihat sedang mengangkat satu persatu gelang yang ada.


"Nggak usah makasih."


Senyum Ken sirna dari bibirnya, namun sedetik kemudian ia kembali memasang wajah seolah ia tak sedih.


"Kenapa? Lo nggak suka gelang?"


"Nih, Weva udah udah punya gelang," jawab Weva begitu bahagia memperlihatkan gelang merah pada pergelangan tangannya.


Weva berpaling lalu melangkah pergi meninggalkan Ken yang langsung tersenyum dan mengangguk pelan tanda mengerti. Ken melangkah santai mengikuti ke arah mana Weva melangkah.


Ken sempat tertawa saat ia merasa jika dirinya seakan telah menjadi bodyguard Weva yang mengikutinya dari belakang. Tapi tak apa anggap saja ini tanda maaf karena selama ini ia selalu memarahi Weva.


Ken menghentikan langkahnya menatap Weva yang sedang berdiri di depan goa berposter hantu yang terlihat menyeramkan. Weva meloncat-loncat antusias lalu mendongak menatap Ken.


"Kita masuk ke situ, ya?"


"Rumah hantu? Lo yakin?" lirik Ken tak percaya.


"Weva yakin," jawab Weva sambil melompat-lompat.

__ADS_1


Aaaaaaaaaa!!!


Suara teriakan terdengar dari dalam membuat lompatan Weva terhenti dengan senyum yang mendadak lenyap dari bibirnya.


"Lo yakin?" tanya Ken sekali lagi.


Weva melirik ragu.


"Ya-yakin," jawabnya ragu.


Tak berselang lama segerombolan orang berlarian keluar dengan wajah yang begitu ketakutan ke arah Weva.


Kedua mata Weva membulat menatap kaget pada mereka semua yang berlari ke arahnya. Tubuh Weva bergerak saat Ken menariknya dan berhasil mendarat di pelukan Ken.


Kedua mata Weva membulat saat pipinya berhasil menyentuh dada Ken yang begitu wangi aroma tubuhnya. Entah itu aroma parfum yang Ken kenakan atau memang itu aroma ciri khas bau tubuh Ken.


Ken melirik sinis menatap orang-orang yang sudah menjauh darinya. Untung saja ia cepat menarik Weva, jika tidak mungkin Weva sudah ditabrak.


Ken menunduk menatap Weva yang kini sedang mendongak menatapnya. Tatapan keduanya cukup lama hingga suara dentingan mangkok penjual bakso menyadarkan Ken dan Weva.


Ken beralih menatap kedua tangannya yang berada di bahu Weva. Sejak kapan ia memegang Weva seperti ini.


"Sana lo!" kesal Ken yang langsung mendorong Weva agar menjauh darinya.


"Idih, apaan, sih? Orang Ken sendiri yang narik Weva."


"Heh! Lo harusnya berterima kasih sama gue. Kalau gue nggak narik lo, lo pasti udah jatuh tadi."


"Terserah, Ken."


Ken menoleh menatap Weva yang melangkah pergi meninggalkannya. Ken menghembuskan nafas lega. Untung saja Weva tidak curiga kalau ia merasa gugup saat Weva berada sangat dekat dengannya.


"Ken!" panggil Weva yang meloncat-loncat di depan sana.


Ken mendengus kesal.


"Kenapa lagi, sih si gendut," bisik Ken lalu melangkah menghampiri Weva.


"Ayo masuk ke dalam!"


Ken mendongak menatap tulisan papan yang di bagian atas pintu masuk.


"Karoke?"


Weva mengangguk semangat.


"Buat apaan, sih? Emangnya lo bisa nyanyi?"


"Yah bisa lah. Nih, kecil," ujar Weva sambil mengerakkan jari tangannya mengisyaratkan bahwa hal itu memang sangat mudah.


"Oh, ya?"


"Ya, iya lah. Mau bukti?"


Ken tak menjawab. Ia melirik menatap dari ujung kaki sampai ujung rambut Weva.


"Kok gue nggak percaya, ya sama lo."


"Oh nggak percaya. Yah, udah ikut Weva!"


Weva melangkah masuk ke dalam ruangan karaoke membuat Ken terdiam dengan wajah datarnya.


Apa ini serius?


Dua menit kemudian...


Weva meraih microphone hitam dan menggenggamnya erat dengan rasa percaya diri tingkat tinggi sambil berdiri di depan layar lebar setelah memilih lagu untuk ia nyanyikan.

__ADS_1


Weva menoleh menatap Ken yang hanya duduk diam di sofa sambil menatapnya.


"Dengar, ya Ken suara Weva!"


"Em," sahut Ken malas.


Suara musik berbunyi membuat Ken mengernyitkan dahinya kebingungan setelah mendengar musik yang cukup aneh. Ia menatap Weva yang menggerakkan kepalanya kiri dan kanan seperti anak kecil.


"Bangun pagiku terus mandi. Tidak lupa menggosok gigi...."


Ken tertawa cekikikan setelah mendengar lagu yang Weva nyanyikan adalah lagu anak-anak yang tidak sesuai dengan usia Weva.


Weva melirik bingung. Ia menghentikan musik dan menopang pinggang menatap Ken.


"Ken jangan ketawa, dong! Kan berisik. Weva mau fokus nyanyi."


Ken bangkit berusaha untuk tidak tertawa, tapi ini terlalu lucu.


"Fokus apaan nyanyi lagu anak-anak kayak gitu? Hah? Hahahaha."


Sudut bibir Weva terangkat.


"Masih mending Weva yang bisa nyanyi daripada Ken nggak bisa nyanyi."


Tawa Ken terhenti. Wajahnya yang sejak tadi tersenyum lepas itu mendadak datar.


"Oh jadi ceritanya lo mandang enteng? Lo pikir gue nggak bisa nyanyi?"


"Ya iya lah. Ken itu cuman bisa marah-marah aja."


Ken tertawa sinis.


"Sini!"


Ken merampas microphone itu dari tangan Weva yang terkejut.


"Duduk lo di situ!" Tunjuk Ken ke arah sofa.


"Lo duduk dan lo denger suara gue!" pintahnya membuat Weva mau tak mau hanya bisa menurut.


Weva menghentakkan kakinya kesal dan menghempaskan tubuhnya ke sofa membuat sofa itu berbunyi nyaris patah.


Ken menoleh menatap kaget membuat Weva juga ikut membulat kedua matanya.


"Patah nggak, ya?" tanya Weva takut.


"Nggak apa-apa kalau patah. Kita kan bayar di sini."


"Oh, iya, ya," jawab Weva yang langsung tersenyum bodoh.


Suara musik terdengar membuat Ken melirik Weva sambil mengangkat sebelah alisnya begitu pede.


"Nih, lo dengar gue nyanyi! Anggap aja ini pelajaran buat lo, supaya lo tau bagaimana cara nyanyi yang baik."


Weva hanya mengangguk antusias. Dari wajahnya Ken sepertinya memang lihai dalam bernyanyi dan agaknya ia juga punya suara yang bagus.


"Ehem, ehem."


Ken mengatur suara kerongkongan sambil menyentuh lehernya. Sepertinya ini pemanas sebelum ia memperdengarkan suara terbaiknya kepada Weva.


Ken menarik nafas panjang. Ia membuka kedua bibirnya di depan microphone. Ia siap untuk bernyanyi membuat Weva menatap tak sabar.


Ku menangiiiiiiiiiiis!!!


Membayangkaaaaaaaan!!!


Betapa kejamnyaaaa......

__ADS_1


Kedua mata Weva membulat dengan bibir yang terbuka lebar menatap Ken yang berteriak di depan microphone persis seperti orang yang kesurupan.


Jauh dari kata bagus. Suara Ken bahkan lebih buruk daripada radio rusak.


__ADS_2