
Weva melangkah keluar dari warung bakso yang telah ia jadikan sebagai tempat untuk mengisi lambungnya yang sudah sejak tadi kelaparan dan kini menjadi kekenyangan.
Para pengunjung warung terlihat memandangi Weva dengan tatapan tak menyangka menatap dari ujung atas sampai ujung kaki. Gila, gadis itu baru saja menghabiskan tiga mangkuk dengan porsi besar.
Weva melangkah ke arah mobil, mengetuk kaca mobil itu dengan pelan saat pak Walio tak kunjung membuka pintu mobil untuk mereka.
"Gimana, nih, Wev?"
"Coba panggil lagi!"
Wiwi berbalik. Mengetuk pintu mobil itu lagi sambil berteriak memanggil nama pak Walio.
Wiwi yang kesal itu segera mendekatkan wajahnya ke arah kaca jendela mobil yang masih tertutup rapat. Ia membulatkan kedua matanya setelah melihat pak Walio yang nampak tertidur dengan kedua kakinya yang disilang dan diluruskan ke depan sembari tangannya yang berada di sandaran kursi.
"Wah, brengsek pak Walio. Dia malah tidur," kesal Wiwi yang kini menatap ke arah Weva.
"Terus gimana, dong?"
"Yang mana gue tahu."
Wiwi yang terdiam sejenak itu kini kembali membelakangi Weva dan mengetuk permukaan jendela itu sambil berteriak.
"Pak Walio, ih, gila kali, nih, pak Walio!!!"
Weva menghela nafas panjang lalu melangkah maju sementara Wiwi segera menyingkir membiarkan Weva mengambil alih semuanya.
"Pak Walio!!!"
*Buk
Buk*
"Pak Walio!!!"
Pak Walio tersentak kaget setelah suara keras itu terdengar dan berhasil membuatnya terpelonjak dengan kedua mata yang terlihat memerah.
"Pak Walio!!! Buka pintu!!!" teriak Weva membuat pak Walio dengan cepat membuka pintu mobil yang sengaja ia kunci.
Di tempat yang sama kini Wiwi terlihat ikut terkejut. Pukulan dari tangan besar itu hampir saja membuat permukaan kaca jendela mobil itu pecah.
"Aduh, maaf, Nona. Beta ketiduran," ujar pak Walio sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal itu.
"Gimana, sih, pak Walio? Harusnya pak Walio jangan tidur, dong. Nanti Weva aduin sama Mommy baru tahu."
"Jangan, Nona. Beta minta maaf."
Weva mengangguk lalu segera menjulurkan sebungkus bakso yang ia pesan tadi.
"Wah, ini untuk beta, kah, Nona?"
"Iya, ini buat pak Walio."
"Wah, terima kasih, Nona," ujarnya sambil tersenyum bahagia dan meraih kantong kresek putih itu lalu kembali masuk ke dalam mobil.
Plak
__ADS_1
Weva memejamkan kedua matanya saat pintu itu terhempas cukup keras membuat Weva dan Wiwi tersentak kaget.
Weva melipat bibirnya dengan jari-jari tangannya yang mengepal dengan kedua bahunya yang naik turun menahan amarah. Baru saja pak Walio minta maaf kepada Weva dan Weva sudah memaafkannya lalu sekarang ia kembali membuat sebuah kesalahan.
Wiwi menelan ludah menatap kedua pipi Weva yang memerah. Ia memejamkan kedua matanya dengan kedua tangannya yang menutup teliganya seakan siap untuk menghindar dari sebuah bencana.
"Pak Walioooooo!!!" teriak Weva.
...****************...
"Ini sapi, Wi!" Tunjuk Weva di permukaan foto album yang berada di atas meja.
Wiwi menggeleng.
"Ini kerbau, Wev." Tunjuk Wiwi tak mau kalah.
"Sapi."
"Kerbau."
"Sapi."
"Kerbau."
Nenek Ratum yang sedari tengah sibuk menonton film drama Korea kini menoleh menatap keributan yang tengah terjadi.
"Aigo, kamu ini berisik sekali," ujar Nenek Ratum dengan logat yang dimiripkan dengan nada pengucapan Korea.
Weva dan Wiwi kini saling memandang lalu kembali menatap foto di album itu.
"Nggak, ini itu kerbau."
"Sapi."
"Kerbau, Wev."
Begitulah ocehan yang terdengar oleh keduanya membuat nenek Ratum merasa terusik kembali.
Sementara di luar sana pak Walio tengah sibuk berbincang hangat bersama dengan Bu Ina. Yah, kebiasaan menggoda supir pribadi Weva itu cukup membuat Weva resah ditambah lagi jika Nenek Ratum melihatnya. Sejujurnya Nenek Ratum yang tak rela jika putrinya dekat dengan Pak Walio.
Entah mengapa setelah Nenek Ratum membeli CD BTS di pasar, ia sekarang malah terhipnotis dan ingin memiliki calon menantu yang berparas seperti Oppa Korea.
Ini perubahan yang sangat mengerikan, tapi Nenek Ratum sekarang malah mengoleksi foto para member BTS yang beranggotakan tujuh orang itu dan dengan teganya menyimpan para foto pemain Mahabarata yakni lima pandawa itu di sudut ruangan rumah.
"Ini Weva liat! Kepalanya itu warna item." Tunjuk Wiwi.
"Tapi, Wi, badannya itu warna coklat, loh," bantah Weva.
"Mana lo tahu, Wev? Yang diaqiqah itu gue bukan lo."
"Tapi, kan itu juga pendapat, Weva. Weva liat pakai mata Weva, loh."
"Aigo, apa, sih ribut-ribut?" tanya Nenek Ratum yang sudah kesal.
Sudah sejak tadi ia memperhatikan Weva dan Wiwi yang cerocos tanpa henti.
__ADS_1
"Ini, loh, Nek masa weva bilangnya ini sapi." Tunjuk Wiwi sembari memperlihatkan foto di album itu ke arah Nenek Tatik yang langsung menyipitkan kedua matanya.
"Ini kerbau, kan?" tanya Wiwi.
"Loh, emang itu sapi, liat aja warnanya," sanggah Weva.
Nenek Ratum menggeleng kesal.
"Tahu nggak kalian kalau itu hewan apa?" tanya nenek Ratum.
"Sapi/ Kerbau!!!" jawab Weva dan Wiwi dengan kompak.
Nenek Ratum yang tersenyum itu langsung menggeleng.
"Salah!" jawab Nenek Ratum.
Weva dan Wiwi kini saling bertatapan heran lalu keduanya saling berpandangan dengan tatapan herannya. Lalu tak berselang lama keduanya kini kembali menatap Nenek Ratum.
"Terus kalau bukan sapi atau kerbau, ini apa, dong?" tanya Weva.
Nenek Ratum mengerakkan tubuhnya lebih dekat lalu menggerakkan ujung jarinya membuat Weva dan Wiwi kini saling bertatapan.
Weva mengangkat kedua alisnya membuat Wiwi menggeleng tak tahu.
Nenek Ratum mendecapkkan bibirnya.
"Dekat sini!" panggilnya membuat Weva dan Wiwi kini mendekat.
"Ini itu bukan sapi atau pun kerbau tapiiiii banteng," bisik nenek Ratum lalu tertawa cekikikan membuat gusinya yang hanya di hiasi beberapa gigi itu terlihat.
Nenek Ratum bangkit dari kursi lalu tertawa terpingkal-pingkal sambil memukul lututnya dan kemudian ia bangkit dari kursi meninggalkan Weva dan Wiwi yang kini memasang wajah datar tanpa ekspresi.
Tawa Nenek Ratum terhenti setelah iklan di TV itu terhenti dan digantikan oleh film drama koreanya.
"Oh, aigo!!! Oppa!!!" jeritnya lalu segera berlari mendekati TV dan duduk di depannya dengan tenang persis seperti anak kecil yang sedang menonton film kartun favoritnya.
Wiwi melirik menatap Weva yang terlihat terdiam menatap ke arah Nenek Ratum.
"Yang tadi itu lucu nggak, sih?" tanya Wiwi membuat Weva menggeleng.
"Terus kenapa Nenek Ratum ketawa?"
Weva menoleh menatap Wiwi yang terlihat sedang menatapnya.
"Mungkin Nenek Ratum udah kena virus."
"Virus apaan?"
"Virus drakor. Udah, ah, Weva balik."
Weva bangkit dari kursi lalu melangkah keluar dari rumah dan langkahnya terhenti mendapati pak Walio yang kini sedang tersenyum malu-malu di depan Ina.
"Eh, Nona. Sudah mau pulang, kah?"
"Tante, Weva pulang, ya."
__ADS_1
Tak menunggu jawaban dari Ina, Weva langsung melangkah pergi membuat pak Walio dengan cepat berlari mengejar kepergian Weva.