Princess Endut

Princess Endut
140. Mogok


__ADS_3

"Turun gue bilang!"


"Tapi kan-"


"Turun lo sekarang!"


"Tapi kan Weva mau pulang, kok di suruh turun?"


Ken menghela nafas panjang lalu segera menjulurkan helm hitam yang berada di tangannya.


"Lo pakai helm dulu! Lo mau kita jatuh terus kepala lo ke belah dua di aspal gara-gara nggak pakai helm?"


Weva menatap sadis wajah Ken setelah mengucapkan hal yang sangat menyeramkan itu. Bagaimana bisa Ken sampai berpikir seburuk itu.


Setelahnya Weva melangkah turun dari jok motor dengan gerakan kesalnya. Kalau saja pria ini bukan Ken mungkin ia sudah memukul kepalanya dari belakang lalu berlari pergi. Terus harus bagaimana lagi? Kalau Weva melakukannya dan membuat Ken pingsan lalu siapa yang akan memboncengnya pulang ke rumah?


Weva meraih helm hitam itu dan mengenakannya.


"Buku apaan, tuh?" Tunjuk Ken pada buku yang berada di pelukan Weva.


Weva menunduk menatap buku genre horor yang berada di pelukannya. Ia meraih buku itu dan mengarahkan sampul buku berwarna merah ke arah Ken yang terkejut.


"Ih, buku apaan, tuh?"


"Ini buku horor," jawab Weva sambil tersenyum sok imut.


"Buku horor. Lo suka baca buku horor?"


"Nggak."


"Nah itu."


"Buku ini?"


Ken mengangguk.


"Katanya Brilyan suka baca cerita horor dan kata Brilyan juga ceritanya seru, jadi Weva beli, deh."


Ken menghela nafas panjang dan mengangguk paham tatapannya menatap jelas pada sosok makhluk besar dengan wajah yang menyeramkan pada sampul buku itu.


"Eh, katanya kalau kita baca buku horor hantunya bakalan masuk ke mimpi, loh," bisik Ken dengan nada hasut.


"Yang bener?"


"Wah, nggak percaya lo, yah sama gue? Oh, iya, ngomong-ngomong muka lo mirip, tuh sama hantunya," bisik Ken.


Weva dengan cepat menunduk menatap gambar gonderuo pada sampul buku sampul membuat Weva menggeliat ketakutan.


"Yang bener Ken?"


"Ya, iya lah. Lo pikir gue bohong?"


Weva terdiam sejenak dan dengan cepat meletakkan buku novel itu ke dalam tasnya membuat Ken segera membelakangi Weva dan tersenyum tipis. Setidaknya Ken tak melihat Weva memegang buku kesukaan pria yang menurut Ken sangat menyebalkan.


...****************...


Motor Vespa biru itu melaju dengan kecepatan sedang melintasi jalan beraspal yang diterangi cahaya lampu jalan. Jam telah menujukkan pukul 12 malam, yah cukup larut untuk perjalanan pulang.


Ken telah mengabarkan Tante Laila dan juga pak Ahmad kalau anak kesayangannya ini akan pulang larut malam. Sementara Weva tak mengabarkan siapa-siapa.

__ADS_1


Siapa yang akan peduli, jika Weva pulang larut malam seperti ini, lagi pula di rumah hanya ada asisten rumah dan sepertinya mereka juga sudah tidur. Kalau pun ia menelfon tak ada yang akan mengangkatnya.


Menghubungi Pak Walio hanya akan membuang waktu saja, pasalnya pak Walio sudah tidur dari tadi.


Sementara Sasmita dan Wevo sejak pagi sudah berangkat bersama ke Korea. Dan Burhan setelah pulang dari luar kota ia pun berangkat ke Singapura untuk mengurus masalah bisnisnya yang rasanya tak ada selesainya. Ini adalah salah satu resiko memiliki banyak cabang perusahaan yang membuat Papinya itu jarang berada di rumah.


Mereka sibuk bahkan sangat sibuk sampai tak punya waktu untuk keluarga.


Udara segar di malam ini jauh lebih terasa nyaman dari pada udara di siang hari. Rasanya angin malam jauh lebih menenangkan.


Weva memejamkan kedua matanya dan merentangkan kedua tangannya. Menikmati setiap belaian lembut angin segar yang membelai lembut ke sela-sela jari tangannya.


Weva bisa merasakan angin lembut yang menyelimuti jari-jari tangannya yang masih ia rentangkan.


Kali ini Weva merasa kalau beban hidupnya di dunia ini seakan berkurang dan Weva merasa jika bebannya itu seakan terbawa oleh angin membuat Weva tersenyum bahagia.


Rasanya malam ini Weva sangat bahagia kalau ia berada dalam situasi seperti ini. Duduk bersama dengan pria yang peduli dengannya di dalam satu jok motor Vespa yang begitu sederhana seakan membuat Weva seakan menjadi seorang princess untuk satu malam.


"Ken!" panggil Weva.


"Em," sahut Ken malas.


"Ken pernah naik motor sampai larut malam sama perempuan selain Weva?"


"Belum," jawab Ken tanpa pikir panjang.


Weva yang mendengar hal tersebut segera membuka matanya dan menggerakkan kepalanya berusaha untuk melihat wajah Ken. Motor yang melaju itu sempat goyah ketika gerakan besar terjadi di atas motor.


"Heh, gendut! Bisa nggak, sih lo nggak gerak? Motor goyang-goyang, nih!"


"Berarti Weva perempuan pertama yang Ken bonceng naik motor vespa di malam yang udah larut kayak gini?"


Ken menggerakkan bola matanya. Bahkan ia baru menyadari hal tersebut.


"Dah, udah nggak usah lebay! Emang lo perempuan?"


"Emang, Weva apa? Gajah? Iya? Atau sapi?" sebut Weva sambil menghitung pada jari tangannya.


Ken tersenyum simpul setelah memikirkan sesuatu hal.


"Lo itu kayak princess."


Kedua mata Weva berbinar. Apa Weva salah dengar?


"Princess? We-Weva kayak princess? Iya, Ken?"


"Em, princess. Princess Endut. Hahaha," Tawa Ken pecah membuat senyum Weva sirna dari bibirnya.


Kini wajah Weva langsung cemberut di belakang sana setelah mendengar perkataan Ken.


Setelah tawa Ken berakhir kini suasana mendadak sunyi. Hanya ada suara kendaraan yang terdengar berlalu-lalang, tidak banyak yang lewat hanya saja suara kendaraan terdengar lebih keras daripada saat siang hari.


"Lo lapar nggak, Wev?"


"Lapar."


"Mau makan?"


"Mau," jawab Weva begitu antusias.

__ADS_1


"Mau gue traktir nggak?"


"Mau. Ken mau traktir Weva?"


"Yaaaah, tapi telat, deh udah tengah malam. Mana ada warung buka jam segini."


Senyum Weva sirna. Ia menoleh kiri dan kanan menatap toko-toko yang ada di pinggir jalan telah tertutup rapat.


Suara motor vespa Ken seketika menghilang bersamaan dengan terhentinya laju motor membuat Ken mengkerutkan dahinya keherangan. 


"Loh? Loh? Kenapa, nih motor?" panik Ken.


"Kenapa, Ken?" tanya Weva.


Ken melangkah turun dari motornya membuat Weva juga ikut melangkah turun.


Ken yang masih keherangan itu segera membuka bagasi motornya membuat Weva yang penasaran itu ikut melangkah maju dan mengintip mengikuti apa yang Ken lakukan.


"Aaaaaa!!!" Kesal Ken yang langsung memukul jok motornya membuat gadis gendut itu tersentak kaget.


"Kenapa?"


Ken yang setengah menopang pinggang itu melirik menatap Weva yang mendongak menatapnya.


"Motor rusak," jawab Ken.


"Kok bisa?"


"Gara-gara lo. Tuh, motor jadi rusak, kan."


"Kok, Weva?"


"Yah, iya lah. Tuh badan lo yang terlalu berat."


Weva memonyongkan bibirnya setelah mendengar kalimat penghinaan itu membuat Weva melangkah mundur dan memilih untuk duduk di pinggir jalan sementara Ken masih mengoceh kesal pada motornya.


"Hah, sial!" akhir kata Ken sambil mengacak-ngacak rambutnya.


"Kenapa, sih Ken?"


"Bensinnya habis, gue lupa isi," jawab Ken.


"Hah? Terus kita nggak bisa pulang, dong?"


"Ya iya lah."


"Ah, Weva, kan udah capek. Weva mau pulang! Weva nggak mau di sini."


"Mana sepi lagi," tambah Weva setelah beberapa detik terdiam menatap ke sekeliling jalan raya.


"Terus gimana, dong Ken? Nanti ada penjahat yang datang terus gangguin kita gimana?"


Ken menutup jok motornya lalu beralih melirik Weva dengan tatapan tajam.


"Ya tinggal lari. Apa susahnya coba?"


Weva melongo. Memangnya tak ada jawaban yang lebih baik daripada kata lari.


Ken yang semula terdiam dengan wajah kesalnya kini tersenyum licik menatap Weva yang kini membulatkan kedua matanya seakan sadar dengan tatapan aneh Ken.

__ADS_1


"Gue punya ide," ujar Ken.


"Apa?"


__ADS_2