Princess Endut

Princess Endut
19. Gendut


__ADS_3

"Ayo dong, Bo!" Harap Weva lagi.


Gug Gug Gug


Weva tersenyum setelah mendengar gonggongan singkat dari Bobo.


"Ah, beneran, Bobo?"


Gug


Jawabnya lagi.


Kedua mata Weva berbinar dengan mulutnya yang terbuka seakan tak menyangka jika Bobo akan menggonggong untuknya, ini jawaban untuknya.


"Beneran Brilyan bakalan sangat suka sama Weva?" tanyanya lagi.  


Gug Gug Gug


Weva tertawa kegirangan lalu segera bangkit dari kasur dan memeluk Bobo yang nampak bahagia saat diberikan pelukan hangat oleh Weva.


"Ah, terima kasih, Bobo."


...****************...


"Chef, Non Weva pesan makanan," ujar Mbok Rosi yang meletakkan kertas ke atas meja dapur.


Chef Doni meraihnya dan menatap setiap tulisan yang ada pada lembaran kertas itu.


"Semuanya?"


"Iya, tolong nanti diantarkan ke kamar Non Weva, ya! Mbok mau pergi dulu ke bawah," ujar Mbok Rosi lalu melangkah pergi.


Chef Doni menghela nafas panjang menatap apa yang ada di atas lembaran kertas itu.


"Sebanyak ini. Hah, pantas saja tubuh anak Nyonya itu semakin hari semakin gendut. Jaimah!" teriak Chef Doni membuat seorang wanita berumur 35 tahun itu berlari kecil menghampiri Chef Doni.


"Tolong siapkan daging sapi dan giling untuk dibuatkan menjadi bakso."


"Siap, Chef."


...****************...


Weva dengan lahapnya menyantap bakso yang tersedia di atas sebuah meja kecil yang telah disiapkan oleh Jaimah. Di atas meja itu bukan hanya semangkuk bakso melaingkan semangkuk soto, mi ayam, sepiring somay dan gorengan. Ini luar biasa!


Jaimah yang sedari tadi berdiri di sekitar pintu masuk kamar Weva hanya mampu menelan ludah. Nafsu makan anak bosnya itu memang tinggi bahkan lebih parahnya Weva pernah menghabiskan empat mangkuk bakso sekali duduk, ini luar biasa.


Jaimah tak mengerti bagaimana bisa nyonya Sasmita yang memiliki tubuh langsing dan berparas cantik bisa memiliki putri yang bertubuh gendut dan berwajah pas-pasan seperti Weva. Sering terlintas dipikiran Jaimah, apakah Weva anak kandung dari tuan Burhan Said dan nyonya Sasmita atau bocah gendut ini tertukar saat lahir di rumah sakit.


Jika Wevo yang tak lain adalah kakak kandung Weva, yah, memang pantas dikatakan anak nyonya Sasmita yah, Wevo sangat tampan dan tubuhnya sangat bagus serta perutnya yang atletis. Ini baru bisa dikatakan anak Nyonya Sasmita dan Tuan Burhan tapi, Weva? Hah ! Hanya Tuhan yang tahu.  

__ADS_1


"Chef Jaimah!" panggil Weva dengan mulutnya yang dipenuhi dengan bakso yang sebagian telah hancur.         


"Iya, Non," jawab Jaimah sembari melangkah lebih dekat dengan tatapannya yang menatap Weva yang telah menukar pakaiannya sesuai dengan pakaian yang Mbok Rosi siapkan.  


"Bikinin Weva jus!" pinta Weva dengan suara yang taj jelas karena rongga mulutnya yang penuh dengan bakso.  


"Mau apa, Non?"


Weva mengunyah baksonya dengan cepat lalu menelannya dengan paksa.


"Buatin Weva jus!"


"Jus apa, Non?"


"Buah naga," jawabnya tanpa menoleh menatap Chef Jaimah. Kedua sorot mata Weva masih sibuk dengan baksonya bahkan di tangan kirinya masih sibuk memegang gorengan yang sesekali masuk kedalam mulutnya. 


"Baik, Non," ujarnya lalu melangkah pergi.


Weva mengosok bibirnya cepat ketika semangkuk bakso yang sedari tadi ia santap ludes tak tersisa.


Tanpa dosa tangan Weva kini bergerak, mendekatkan semangkuk mi ayam yang masih hangat, ini lumayan mengiurkan.


Dengan lahapnya Weva kini menyantap mi ayamnya yang sesekali membuatnya mendesah kepanasan.


"Ya ampun, Weva."


Suara yang femiliar itu membuat Weva menoleh menatap cowok tampan dengan tas hitam yang dibiarkan tergantung di sebelah bahunya. Cowok itu terbelalak, siapa lagi jika bukan Wevo.


Weva terkekeh sembari menggaruk daun telinganya yang tiba-tiba saja terasa gatal. 


Wevo menggeleng dengan sorot matanya yang mengelilingi meja, tatapannya kini penuh dengan makanan. 


"Ya ampun, Dek. Gila kamu, Dek makan sebanyak ini," ujarnya sembari menggeleng tak menyangka biasanya Weva memang sering makan banyak tapi, kali ini porsi makan Weva kian hari makin bertambah.


"Kalau Mommy tahu gimana, Dek?" tanya Wevo gelisah.


"Yah, Kakak jangan kasi tahu Mommy, dong, Kak!" harap Weva masih berada di atas kasurnya.  


"Ini Non jusnya." Suara itu terdengar diiringi suara pintu yang tertutup.


Wevo dan Weva dengan serentak menoleh menatap Chef Jaimah yang tengah membawa segelas jus buah naga yang terlihat mengiurkan.


"Ini Adek lagi?" Tunjuk Wevo dengan nada tak percaya.


Weva mengangguk dengan gigi putihnya yang terpampang jelas. Wevo menggeleng sembari mendecapkan bibirnya diiringi tangannya yang segera meraih segelas jus buah naga dari bibi jaimah.


"Keluar!" pintah Wevo membuat Chef Jaimah mengangguk lalu segera melangkah keluar meninggalkan kamar.


Weva mengigit bibir dengan raut wajahnya yang gelisah. Weva takut jika Wevo marah dengan hal ini dan mengadukan hal ini kepada Mommy-nya.

__ADS_1


Wevo melotot dengan wajahnya yang dibuat marah namun tak genap satu menit Wevo tersenyum lalu menggeleng dan segera meletakkan segelas jus buah naga itu di meja.  


"Minum!" pintah Wevo lalu segera duduk di samping Weva yang kini ikut tersenyum. Kali ini Weva bernafas lega, Wevo tak marah.


"Mau nggak, Kak?" tawar Weva sembari mengangkat semangkuk mi ayam.


Wevo menggeleng bermaksud menolak tawaran Weva.


Weva mengangguk lalu segera melahap semangkuk mi ayam yang masih hangat itu, rasanya ini benar-benar nikmat.      


Wevo melirik penuh fokus dengan kelahapan Weva entah mengapa rasanya melihat Weva makan membuatnya ikut berselera.


"Mau?" tawar Weva dengan tatapan menggoda.


"Nggak," jawabnya cepat.


Weva mengangguk lalu kembali fokus ke semangkuk mi ayamnya sementara Wevo yang sedari tadi menjauhkan pandangannya dari Weva kini terpancing membuatnya menatap dengan serius.


"Enak yah, Dek?"


"Banget," jawab Weva lalu dengan sengaja membunyikan suara seruput yang begitu nikmat.


"Ah," lega weva menikmati. 


Wevo menganga, rasanya itu terlihat nikmat.


Wevo menggeleng seakan menolak otaknya untuk diracuni oleh Weva lalu segera bangkit dari kasur.


"Makan melulu kamu, Dek. Gimana mau langsing kalau kayak gini?"


"Yah, namanya juga lapar."


"Yah, tapi nggak sebanyak ini juga, Dek."


Weva terdiam dengan helaan nafas pasrah, pasrah untuk mendegar ocehan dari Wevo.


"Katanya mau diet tapi makan banyak."


"Be-"


"Besok," potong Wevo membuat Weva menghentikan ucapannya. Sepertinya Wevo sudah tahu apa jawaban yang akan dikatakan Weva.


"Kalau nunggu besok terus besoknya makan banyak lagi, kapan langsingnya, Dek?"


Weva mendecapkan bibirnya seakan bosan mendengar perkataan Wevo yang sudah menjadi kebiasaanya mengatakan hal itu.


"Liat tuh pipi kamu, Dek!" Tunjuk Wevo dengan bibirnya lantas membuat Weva menyentuh kedua pipi chubby-nya.


"Makin hari makin-" Ucapan Wevo terhenti, Wevo tak mau menyingung perasaan Weva. 

__ADS_1


Bagi Wevo sudah cukup bully-an di luar sana untuk Adik kesayangannya itu, tak perlu ada bully-an darinya juga.


"Makin apa?" pancing Weva.


__ADS_2