Princess Endut

Princess Endut
20. Nasib


__ADS_3

"Makin apa?" pancing Weva.


Wevo terdiam lalu beberapa detik kemudian ia melangkah lebih dekat dan segera mencubit gemas kedua pipi chubby Weva yang sebesar kue bakpao.


"Adek, kamu itu makin hari makin imut tahu nggak, sih." Gemas Wevo yang mengerakkan pipi Weva membuat Weva tertawa.


"Emm, sakit," aduh Weva yang langsung memukul kedua tangan Wevo agar menjauh dari pipinya.


"Kan Kakak gemes, Dek. Imut."


"Berarti kalau Weva udah imut, nggak perlu diet kan?" tanya Weva sambil mengangkat kedua alisnya beberapa kali sambil menatap Wevo yang kebingungan.


"Loh, kayak gitu?"


"Yah, nanti imutnya hilang jadi nggak usah diet, iya kan?" Tatap Weva sembari kembali menaik turung-kan kedua alisnya.


Wevo terdiam setelah mendengar perkataan Weva membuatnya membisu beberapa saat. Imut? Oh tuhan, imut dari mana ? Lihat saja dari ujung kaki sampai ujung rambut Weva semuanya adalah lemak! Berkata bohong salah dan berkata jujur juga salah. Sekarang harus bagaimana?


"Gini, ya, Adek. Adek imut, tapi lebih imut lagi kalau langsing," ujarnya dengan nada perlahan. Sejujurnya ia tak ingin membuat Weva malah tersinggung dengan kata-katanya. Wevo hanya ingin memberikan nasehat bukan sebuah kalimat yang bisa membuat Weva menjadi sedih.


Weva terdiam dengan raut wajahnya yang datar.


Wevo menggerakkan tangannya dan meletakkannya di atas kepala Weva lalu mengelusnya dengan penuh kelembutan.


"Weva juga cantik tapi, lebih cantik lagi kalau langsing," tambah Wevo yang menyelipkan rambut Weva ke telinga Weva.


Weva menghembuskan nafas berat lalu kemudian terdiam sembari kedua bola matanya yang bergerak-gerak seakan memikirkan sesuatu. 


"Kalau Weva gendut ajah cantik gimana kalau kalau weva langsing? Pasti lebih cantik, tapi kalau cantiknya bisa pas kenapa harus lebih?" jelas Weva berhasil membuat Wevo terdiam.   


Wevo tersenyum acuh tak acuh membuatnya salah tingkah.

__ADS_1


"Iya kan, Kak? Weva benar, kan?"


Wevo tersenyum, ia menggaruk kepalanya yang tak gatal itu dengan jari-jari tangannya. Yah, Berhadapan dengan gadis cerdas memang begini, siapa pun akan kalah dibuatnya. Di balik kekurangan juga pasti memiliki kelebihan dan kelebihan pada Weva adalah ia pandai dalam berkata-kata. Salah satu kelebihan yang Weva punya adalah kejujuran.


Wevo akui jika Weva memanglah anak yang jujur. Berbohong bukan lah salah salah satu sifat Weva.


"Yah, udah, deh. Kakak mau ke kamar dulu."


Weva mengangguk membiarkan Wevo yang mengacak-acak rambut pendeknya lalu melangkah menuju pintu kamar.


"Oh iya, Kak."


Langkah Wevo terhenti ia yang berniat memutar ganggang pintu langsung menoleh menatap Weva.


"Kenapa, Dek?"


"Em, itu biasa si Wiwi titip salam buat Kak Wevo."


Wevo tersenyum setelah mendengar ujaran Weva. Yah, setiap hari sahabat Weva itu selalu menitip salam untuknya.


"Yah, udah Kakak ke kamar, ya."


Weva mengangguk membuat Wevo segera melangkah keluar dari kamar membuat Weva kembali menyantap baksonya.


"Dek," ujar Wevo membuat Weva dengan cepat menoleh dengan pipinya yang besar karena bakso di dalam rongga kiri mulutnya.


"Jangan makan banyak-banyak, okay?"


Weva menghela nafas lalu mengangguk.


"Janji?"

__ADS_1


"Iya janji."


Wevo mengangguk lalu kembali menutup pintu dengan rapat meninggalkan Weva yang kini kembali menyantap baksonya yang sudah hampir habis.


Gerakan tangan Weva yang menyuap mulutnya dengan kuah bakso itu terhenti ketika ia tak sengaja melihat gelang warna warni yang terpasang di pergelangan tangannya.


Weva seketika terdiam. Melihat gelang ini membuatnya tersenyum tipis. Kenangan indah dari gelang ini membuatnya selalu bisa membuatnya tersenyum.


Weva bangkit dari kasurnya dengan susah payah lalu melangkah ke arah jendelanya yang memperlihatkan pemandangan indah pekarangan rumahnya yang luas. Dari sini ia bisa melihat taman bunga berwarna warni dengan air mancur di patung putih yang keluar begitu indah.


Weva menghela nafas. Ia kembali menatap gelang warna-warni yang ada di pergelangan tangannya dan tersenyum bahagia hingga dengan perlahan membuat senyum itu hilang dari bibirnya.


"Andai saja Brilyan tahu mungkin ia akan bahagia."


"Kenapa, sih Brilyan nggak mau lihat Weva?"


"Weva ini mirip hantu, ya sampai nggak bisa dilihat sama Brilyan?"


"Apa Weva nggak bisa diliat sama Brilyan?"


"Kurang besar apa coba Weva? Weva udah besar kayak gini masa Brilyan nggak liat, sih?"


"Weva itu suka dan cinta sama Brilyan."


"Brilyan harusnya juga suka sama Weva biar Weva bisa bahagia."


"Nggak sedih kayak gini."


"Weva juga pengen bahagia kayak yang lain, nggak sedih dan murung kayak gini."


"Masa Weva harus nurutin Wiwi dan berhenti ngejar Briyan."

__ADS_1


Weva menghela nafas berat. Hah, mungkin ini nasib buruknya.


Tuhan, tolong bantu Weva!


__ADS_2