Princess Endut

Princess Endut
161. Selangit


__ADS_3

...****************...


Ken meletakkan kepalanya di atas bantal. Kedua matanya menatap Bobo yang sedang tertidur di atas kasur khusus yang Ken kemarin beli di toko perlengkapan peralatan hewan.


Ken mengerakkan tubuhnya untuk melihat langit-langit kamarnya lalu ia terdiam. Sosok Weva kembali terbayang di pikirannya.


Ken beralih untuk meraih handphone dari atas lemarinya dan menggesernya pelan. Ia tak tahan untuk tidak mencari informasi tentang Weva.


Ken menatap layar handphonenya serius. Ia menghela nafas panjang dengan dadanya yang terasa sesak.


"Wev! Lo kenapa nggak ada kabar? Masa sampai sekarang lo nggak ngabarin gue, sih kalau lo itu udah sampai ke Korea."


"Kalau udah kayak gini gimana caranya gue tenang. Nggak ada chat atau pun telfon dari lo."


"Atau mungkin lo udah kasi tau ke kurus kering itu kalau lo udah sampai."


Ken menghempaskan handphonenya itu ke kasur. Ia bangkit dengan rasa malas lalu melangkah menuju jendela. Pria tampan itu memilih diam menatap langit di atas sana.


"Weva! Telfon gue, please!"


Sementara dilain tempat nampak seorang pria berwajah datar itu terlihat duduk di kursi yang ada di balkon sembari menikmati malam yang begitu hening.


Brilyan menutup buku catatan setelah sejak tadi membaca rumus untuk persiapan olimpiade. Kedua matanya yang tak pernah bosan menatap buku itu kini beralih menatap langit yang kali ini terlihat lebih banyak dihiasi oleh bintang-bintang dibandingkan malam biasanya, entah karena ia yang tak terlalu memperhatikan langit atau ia yang terlalu memperhatikan buku.


Brilyan menarik nafas panjang dan menghembuskannya pelan.


"Ibu, Aku rindu."


"Jika saja aku boleh mati mungkin aku sudah bunuh diri, tetapi aku takut kalau aku mati aku malah tersesat dan tidak menemukan ibu."


"Ibu, aku sayang ibu."


...****************...


Weva terdiam menatap ribuan kerlap-kerlip bintang dari balik kaca mata bulatnya melihat dengan jelas langit malam yang kini hawa dinginnya lebih terasa setelah angin berhembus menerpa wajah Weva. Membuat gadis gendut dengan rambut sebahunya itu bergerak-gerak mengikuti hembusan angin.


Weva tersenyum walau kini hatinya seakan ingin menangis kencang. Rasanya ketika ia melangkah pergi ke Korea meninggalkan Jakarta ada yang terasa hilang dari sisinya. Sesuatu yang sangat berharga dari dirinya.

__ADS_1


Weva merasa rindu seseorang, tapi mengapa rindu itu kepada orang yang sepertinya salah. Weva memilih untuk untuk memejamkan kedua matanya dengan bibir yang bergetar serta telapak tangannya yang menyentuh dadanya.


Wahai hati yang sedang pedih, tolong katakan karena apa kamu sedih!


Engkau sedih karena jauh dari Brilyan atau Ken?


Sedihkah engkau berpisah dari Brilyan yang selalu kau jadikan semangat tapi semangat kamu tak pernah dipikirkan oleh dia.


Pria yang engkau kejar tapi tak pernah mengharapkan engkau melangkah untuk mengejarnya.


Hati!


Mengapa engkau sakit? Apa rasa rindu ini untuk Brilyan?


Atau...


Apakah engkau sakit karena berpisah dengan Ken?


Pria pembully nomor satu yang sangat aku benci karena telah mematahkan hati aku berulang kali dengan bullyannya yang menyakitkan hati.


Pria pembully yang kini menjadi penolong bagi aku. Pria yang meluangkan waktunya untuk membantu aku bangkit dari keterpurukan. 


Seorang pria pertama yang membuat aku merasakan apa itu sebuah arti senyuman dan kebahagiaan.


Ken, pria pertama yang mengajarkan aku untuk tertawa.


Wahai hati


Katakan pada aku!


Karena apa engkau bersedih?


Ku mohon untuk menyebut satu nama saat ini!


Brilyan atau Ken?


Siapa?

__ADS_1


Weva membuka kedua matanya yang entah sejak kapan ia memilih untuk memejamkan kedua matanya yang sedari tadi hanya menatap kerlap-kerlip bintang yang membentang indah di langit malam.


Weva meraih handphone dari saku bajunya dan menatapnya nanar. Weva menarik nafas panjang dan membuangnya perlahan.


Siapa yang akan ia hubungi sekarang untuk memberitahu kalau ia telah tiba dengan selamat? Ken atau Brilyan?


Weva mengangkat handphone dan menatapnya lagi. Weva mengigit bibir dan memejamkan kedua matanya dengan erat.


"Aaaaaaaa!!!" teriak Weva sembari mengumpulkan kekuatan tangannya dan melempar jauh-jauh handphone miliknya.


Prak!!!


Suara keras terdengar bersamaan dengan hempasan handphone milik Weva di aspal. Weva tersenyum lirih menatap handphonenya hancur setelah ban-ban mobil menginjaknya.


Weva mendongak menatap langit malam yang kini mengajaknya untuk mencoba tenang.


Weva menarik nafas dalam-dalam dan membuangnya kasar lalu tertawa layaknya penjahat.


"Nggak ada Ken dan Brilyan!"


"Weva yakin mereka berdua nggak mikirin Weva. Nggak ada yang peduli sama Weva."


"Untuk saat ini jangan mencari Weva!"


"Tunggu Weva wahai para pembully yang selalu datang dan menyakiti hati!"


"Weva berjanji akan datang dan menghancurkan orang-orang yang telah melukai hati Weva."


"Untuk kalian para pembully, tunggu kehadiran Weva di tengah-tengah kalian. Hingga kalian semua akan terdiam dengan tatapan yang tidak akan menyangka jika gadis gendut yang selalu kalian bully telah berubah."


"Ini janji Weva!"


"Sekali lagi ini janji Weva!!!!" teruak Weva penuh amarah.


Weva melangkah mundur melewati pintu di balkon. Dengan perlahan ia meraih kedua sisi pinggir gorden dan tersenyum dengan tatapan tajamnya.


"Ini janji Weva!" ulangnya lagi dan menarik gorden. 

__ADS_1


Tubuh Weva kini tak terlihat lagi setelah kain gorden itu ditarik menutupi jendela. Cahaya lampu dari cela gorden itu kini mendadak lenyap membuat suasana bagian luar rumah menjadi gelap.


Apa yang akan terjadi nanti?


__ADS_2