
"Lo apa-apaan, sih?" kesal Ken sembari menahan buku dengan telapak tangannya.
"Weva mau bantuin Ken." Tarik Weva pada ujung buku yang masih dipegang oleh Ken.
"Nggak usah! Gue nggak mau," tolaknya yang masih tetap bertahan untuk menahan buku itu.
"Nggak apa-apa. Weva ini mau, loh bantuin Ken. Udah sini biar cepat!"
"Nggak usah. Gue nggak butuh bantuan lo."
"Biar cepat selesai."
"Gue nggak mau di bantuin sama lo."
"Tapi Weva mau bantuin Weva. Serius, deh, Weva nggak bohong," ujarnya masih menarik buku Ken membuat buku Ken jadi membentang kaku.
Kedua mata Ken membulat. Ia takut jika bukunya itu sobek dan terbelah menjadi dua bagian.
"Lepas nggak! Sobek nanti buku gue, tuh! Awas lo, yah kalau buku gue sampai sobek!" ancamnya dengan kedua mata melotot.
"Yah, lepas dong biar nggak sobek. Weva, kan cuman mau bantu Ken. Tulisan Weva baguso, nggak jelek kayak tulisan Ken."
__ADS_1
"Terserah. Mau tulisan lo cantik kayak apa pun, gue nggak peduli. Gue nggak mau di bantu sama lo."
"Nggak papa, Ken biar Weva aja yang nulis. Kalau Weva yang nulis Ken kan bisa duduk santai dan nggak perlu repot-repot buat nulis."
"Ken tenang aja! Pokoknya Weva ini ikhlas banget, kok. Ikhlas dari lubuk hati Weva yang paling dalam," jelas Weva dengan senyuman yang penuh ikhlas berusaha untuk meyakinkan Weva.
Ken sedikit terpengaruh membuatnya melepas bukunya dan membuat buku itu sepenuhnya berada di tangan Weva.
Weva tersenyum kegirangan. Akhirnya ia berhasil membuat Ken mengalah.
"Tuh, lo ambil! Lo tulis yang benar!"
"Ken bisa duduk santai tanpa perlu capek-capek buat nulis. Sekarang Ken duduk aja! Santai kayak di pantai masalah tulisan biar Weva yang urus."
"Nah, jadi, kan Weva bisa nulis," ujarnya sembari meraih pulpen dan mulai siap untuk menyalin tulisan di papan tulis.
Ken menghembuskan nafas pasrah lalu menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi. Ada juga gunanya gadis gendut ini. Setelah menyelamatkannya dari polisi kemarin kini gadis gendut ini malah membantunya menyalin tulisan di papan tulis.
"Tapi kalau Weva udah selesai nulis itu berarti Ken setuju mau bantuin Weva."
__ADS_1
"Heh!" Kaget Ken lalu menarik buku miliknya.
Weva terbelalak kaget. Baru saja ujung pulpen itu menyentuh permukaan kertas, buku itu kini sudah berpindah ke tangan Ken.
"Nggak usah!" ujar Ken penuh tekan.
Weva kembali memasang wajah cemberutnya, sepertinya ini gagal dan tak mudah membuat Ken mau membantu Weva.
"Gue kira ikhlas, tapi ada maunya."
Weva menghela nafas lalu menopang dagunya. Ken susah sekali untuk pengaruhi.
Ken melirik tajam menatap ke arah Weva. Tak berselang lama Ken kini menatap ke arah kertas bukunya mendapatkan garis hitam bekas pulpen di sana bahkan coretan itu terlihat merusak tulisannya.
"Ah, nih lo liat!"
Weva menoleh menatap Ken yang kini mengarahkan bukunya ke arah Weva.
"Gara-gara lo sekarang buku gue jadi kotor."
"Lah? Itu bukan salah Weva, tapi itu salah Ken sendiri. Siapa suruh Ken langsung narik. Kalau aja Ken nggak narik pasti nggak bakalan kecoret," ocehnya membela diri.
__ADS_1
"Lo nyalahin gue?"
Weva mengangguk membuat Ken menghela nafas panjang. Gadis gendut ini memang menyebalkan.