Princess Endut

Princess Endut
90. Jangan! Jangan!


__ADS_3

"Ken keliatan banget disayang sama Mama dan Bapaknya. Kedua orang tua Ken nggak sama kayak orang tua Weva."


"Andai aja Weva punya kedua orang tua seperti orang tua ken pa-pasti Weva nggak akan merasa menyendiri kayak gini."


"Orang tua Ken itu kelihatan banget sayangnya sama Ken. Coba aja orang tua Weva itu bukan orang tua kayak Mommy sama Papi mungkin Weva nggak bakalan ngerasain ini."


"Nggak ada orang yang bakalan ngebandin-bandingin Weva sama yang lain."


"Nggak ada yang buat Weva sedih karena ada orang tua yang akan selalu ngedukung Weva walaupun banyak yang ngehina Weva di luar sana.


"Weva sering bingung sama Weva sendiri, sebenarnya Weva ini beneran anaknya Mommy sama papi bukan, sih?"


"Mereka itu sana sekali nggak nunjukin kalau mereka itu Mommy dan Papi Weva."


"Atau mungkin mereka itu kedua orang tuanya A-Yeong?"


"Soalnya mereka itu kayak lebih sayang gitu sama sepupu weva si A-Yeong kampret itu," kesal Weva yang menggerutu.


"Rasanya Weva pengen ketemu dan nginjek lehernya biar mati, hah Weva tuh iri sama A-yeong yang selalu di puji sama Mommy."


"Harusnya, kan mereka itu lebih sayang sama Weva soalnya Weva itu jelas-jelas anak kandungnya. Bukan anak yang dibeli terus jadi pajangan cuman buat dibanding-bandungkan."


"Mereka itu harus sayangnya ke Weva, bukan sayangnya ke A-Yeong. Emang anaknya si A-Yeong itu! Hah? Heran Weva sama mereka semua."


"Gila lo, yah?" tanya Ken lalu segera menghampiri Weva dan duduk di sampingnya walau agak berjarak.


Weva yang mendapati Ken duduk di sebelahnya dengan cepat menjauhkan tangannya dari kepala pinky.


 


"Siapa yang gila?" tanya Weva yang kembali menunduk.   


Pria pembully ini selalu saja datang di waktu yang tidak tepat.  


"Ya lo lah yang gila. Siapa lagi coba yang gila selain lo, malah ngomong sendiri di sini."


"Siapa yang ngomong sendiri? Orang Weva ngomong sama si pinky."


Ken seketika terdiam, sepertinya Weva dan Pinky sekarang makin akrab, yah akrab dengan seekor anjing.


"Kok, lo bisa dekat sama si pinky, sih?"


Mendengar pertanyaan itu membuat Weva melirik Ken.


"Yah gue tahu Pinky itu termasuk anjing yang galak soalnya mantan sahabat gue aja sering banget mau digigit dan ini yang udah gur jadi bingung. Lo, kok bisa, sih akrab cuman dalam satu hari?"


"Yah Weva juga nggak tahu."


Ken menkerutkan alisnya, ia masih belum mengerti.


"Jadi sebenarnya waktu lo dikejar sama si pinky, lo apain si pinky sampai bisa luluh sama lo kayak gini?"


Weva terdiam sejenak. Ia melirik menatap Ken yang terlihat masih menatapnya.

__ADS_1


"Waktu Weva jatuh, yah Weva langsung nangis dan ternyata Pinky kayak ngerasa apa yang Weva rasain."


"Weva secara pelan-pelan langsung ngelus kepala Pinky."


"Cuman lo elus?" tanya Ken.


Weva mengangguk mengiyakan dan kembali mengelus kepala Pinky.


"Anjing itu kalau diperlakukan dengan lembut, yah pasti anjingnya nggak bakalan jahat sama kita, kecuali kalau kita teriak terus ngelawan yang pasti anjingnya juga ngelawan."


Ken seketika terdiam dan mulai berfikir sejenak mengenai ujaran Weva yang baru saja ia ucapkan. Ken perlahan tersenyum simpul, ternyata dibalik tubuh gendut Weva, ia sangat baik dan...


Ken terbelalak setelah ia baru sadar membuatnya dengan cepat menggeleng berusaha menghentikan pikiran positifnya mengenai Weva si gadis gendut.


Bagaimana mungkin ia memuji gadis gendut itu? Rasanya bayangan tangan Ken menampar mulutnya dengan keras. Stop, Ken! Ini yang terakhir kalinya lo muji dia.


"Oh iya maksud lo tadi di dalem apa?" tanya Ken dengan tiba-tibanya berujar secara sinis membuat Weva yang sejak tadi diam mulai menkerutkan alisnya keheranan melirik Ken dengan tatapan aneh.


"Apa, sih?"


"Lo makan berapa suap tadi? Lo kalau misalnya nggak serius mau turunin berat badan lo yang gendut ini mending lo berhenti!"


Weva hanya mampu terdiam sembari tangannya mengelus kepala Pinky. Lihat! Ken sekarang memarahinya lagi persis seperti ibu-ibu kompleks.


"Cepetan gue antar lo pulang sekarang," ujar Ken lalu bangkit dari duduknya dan melangkah ke arah motornya.    


"Hari ini kita nggak ada olahraga."


"Oh ya? Ken serius?"


"Iya."


Mendengar hal itu membuat Weva berlari menghampiri Ken yang tengah memasang jaketnya.


"Ken serius? Jadi hari ini Weva nggak udah olahraga?"


"Em."


"Beneran?" tanya Weva lagi sembari berlari menghampiri Ken yang tengah mengenakan helm ke kepalanya.


"Beneran Ken?" tanya Weva lagi.


Ken melirik. Ia sudah berada di atas motor dan telah berniat untuk menyalakan motornya.


"Iya, Endut, tapi besok di hari ke empat lo harus lari sesuai perintah gue! Pokoknya besok setelah pulang sekolah lo harus serius."


"Siap bos." Hormat Weva begitu semangat.


"Nah, ini yang mantap, lo panggil gue kayak gitu aja!"


"Yang mana?"


"Itu tadi yang kata Bos."

__ADS_1


Mendengar hal itu membuat Weva mengangguk sambil tersenyum.  


"Siap Bos," ujar Weva lagi sambil memberi hormat.


"Nah, gitu. Kalau yang kayak gini gue suka."


"Suka?"


Ken yang sibuk memutar motornya dibuat terhenti oleh pertanyaan Weva. Ia melirik menatap Weva yang masih diam seperti patung.


"Ken suka sama-"


Bruak!!!


Weva dengan cepat menangkap helm yang Ken lempar ke arahnya membuat ujarannya itu terhenti.


"Lo jangan ge'er."


"Maksud Ken?"


"Itu tadi yang lo bilang."


Weva terdiam sejenak mencari jawaban dan tak berselang lama ia memukul jidatnya sendiri.


"Aduh, maksud Ken apa, sih? Oh, atau jangan-jangan-"


"Apa-apa?"


"Jangan-jangan Ken kira Weva suka, ya sama Ken."


"Heh!" Tunjuk Ken ke arah bibirnya yang sudah lancang bicara.


"Tarik, ya kata-kata lo! Gue nggak kepikiran sampai ke situ, ya!"


"Loh! Emang apaan, sih?"


"Jangan kebanyakan ngomong! Cepetan pasang helm lo terus naik! Kalau nggak lo lari aja pulang ke rumah lo sendiri."


"Jangan! Jangan! Weva capek," ujar Weva yang langsung memasang helmnya dan duduk di belakang Ken.


Ken tersenyum. Ia suka melihat Weva, jadi ketakutan seperti ini.


Plak!!!


Plak!!!


Plak!!!


Tidak, Ken!!! Hilangkan kata suka itu. Rasanya ia malah geli sendiri ketika menyebutkan kata suka kepada Weva walau pun msksud dari kata itu bukan kata suka antara satu pria dengan seorang gadis.


Motor vespa Ken melaju meninggalkan rumah sekaligus meninggalkan sosok Laila dan pak Ahmad yang kini sedang terlihat melongo menatap kepergian Ken.


"Bisa rusak motor Ken kalau tiap hari ngeboncengein si gendut itu," bisik Pak Ahmad.

__ADS_1


__ADS_2