Princess Endut

Princess Endut
189. Ken! Kamu Dimana?


__ADS_3

"Ladies and gentleman! Mohon perhatian! Acara lomba cerdas cermat sepuluh menit lagi akan segera dimulai!"


Suara pengumuman dari speaker itu terdengar membuat Weva dan yang lainnya menoleh. Pak Ahmad menghentikan bicaranya. Niatnya untuk bicara itu terhenti setelah semua orang menatap ke arah panitia.


"Pi, Mommy! Yuk duduk di sana!" ajak Wevo yang melangkah memimpin jalan menuju kursi penonton.


"Weva!"


"Em?" Weva menoleh cepat menatap Sasmita yang menyentuh pipinya.


"Semangat, ya! Mommy sama Papi pasti ngedukung you, okay."


Weva mengangguk. Wajahnya semakin memucat seiring pak Walio yang masih menatapnya dengan tatapan bingung dan tak menyangka yang menyatu menjadi satu membuat Weva semakin tersiksa.


"Nona Weva! Beta duduk di kursi sana, ya! Nona Weva kalau tidak tau jawabannya nanti liat saja ke arah rambut beta. Pasti Nona itu langsung tau jawaban apa-"


"Aduh, pusing banget, sih. Dady Walio yang ada kalau Weva ngeliat ke arah Dady itu otak Weva jadi mampet, nggak bisa mikirnya. Apalagi rambut Dady yang udah mirip sarang burung," kesal Wiwi.


"Bukan! Rambut Dady Walio seperti malaikat," sahut Nenek Ratum lalu mencubit gemas pipi pak Walio membuat semuanya tertawa.


"Sudah! Sudah! Ayo kita ke kursi saja!" ajak Tante Ina membuat mereka melangkah ke arah kursi meninggalkan Weva yang sudah lemas.


Ia tersenyum takut saat pak Ahmad yang terlihat menoleh menatapnya. Pak Ahmad menggerakkan kepalanya menatap Weva dari ujung kaki sampai ujung rambut. Weva meneguk paksa salivanya pada tenggorokannya yang sudah mengering. Rasanya ia ingin menangis sekarang.


"Jadi kamu-"


"Aaaa!!! Wiwi tunggu!!!" teriak Weva sambil menutup kedua telinganya lalu berlari meninggalkan pak Ahmad yang menganga dengan kedua matanya yang membulat tak menyangka.


Klorin adalah Weva? Sulit untuk dimengerti!


"Wiwi!!!" teriak Weva membuat Wiwi yang berlari terbirit-birit sambil memegang rambut pak Walio menoleh.


Ia takut jika yang memanggilnya itu adalah pak Ahmad.


"Wiwi!" panggil Weva yang langsung menarik pergelangan tangan Wiwi membuat langkahnya yang berusaha untuk kabur itu terhenti.


Wajahnya meringis menahan ketakutan. Ia tak mau berhadapan dengan pak Ahmad, apalagi jika pak Ahmad menanyakan tentang Klorin yang sebenarnya adalah Weva.


"Wi!"


"Pak, saya nggak tau apa-apa, pak!"

__ADS_1


"Wiwi! Ini Weva!"


Kedua mata Wiwi yang sejak tadi terpejam itu langsung terbuka. Ia menoleh menatap Weva lalu bernafas lega.


"Lo ternyata, gue pikir pak Ahmad. Hampir jantung gue copot."


"Wiwi pikir Wiwi aja yang hampir jantungan? Tapi Weva juga. Aduh, sekarang gimana, dong? Pak Ahmad udah tau kalau Klorin ini itu Weva."


Wiwi menjambak rambutnya kesal sambil meringis persis seperti orang yang kehabisan akal.


"Gue juga nggak tau, Wev! Ini semua rencana lo. Gue udah bilang, kan untuk jujur aja sama semua orang tapi lo tetap aja nekat boong."


Weva menepuk jidat, meremas keningnya yang sudah berkeringat itu. Ia menoleh menatap para penonton yang semakin memenuhi kursi penonton yang begitu luas membentang nyaris seluas lapangan bola basket.


Wajah resah Weva kini berangsur hilang menjadi datar dan menegang membuat gadis berponi tebal yang ada di hadapannya itu ikut mematung.


"Wi!"


"Apa?" tanyanya takut.


"Kalau pak Ahmad udah tau semuanya, apa Weva nggak bisa ikut lomba ini?"


Wiwi mendecapkkan bibirnya dan memukul lengan Weva yang langsung meringis sambil mengelus bekas pukulan Wiwi.


"Terus gimana, dong sekarang?"


"Yah mau gimana lagi. Sekarang yang harus lo lakuin adalah menunjukkan yang terbaik."


Wiwi menyentuh kedua pundak Weva yang tersentak. Melirik kanan kiri pada kedua pundaknya dan pada akhirnya kembali menatap sahabatnya itu.


"Wev! Sekarang lo ikut lomba itu bukan sebagai Klorin tapi Weva. Tunjukkan sama semua orang kalau lo itu bisa!"


Weva terdiam. Ia memejamkan kedua matanya rapat-rapat berusaha untuk mencerna apa yang telah dikatakan oleh Wiwi kepadanya.


"Semangat, ya, Wev!"


Wiwi kembali menepuk pundak Weva membuat Weva membuka kedua matanya menatap Wiwi yang berpaling lalu melangkah pergi memberikan jarak antara ia dan Weva.


"Wiwi!" teriak Weva.


Wiwi berbalik badan menatap Weva yang berlari menghampirinya.

__ADS_1


"Gue mau tanya sesuatu."


"Sesuatu? Apa?"


"Ken, Ken dimana?"


"Nggak tau. Chat gue juga nggak dibalas sama Ken."


"Winyu!!! Wiwi Unyu!!!" teriak pak Walio yang berteriak di kursi penonton membuat semua orang menoleh menatap pria berdarah Papua itu.


"Ayo sini sama Dady!!!"


Wiwi seakan ingin meleleh dan lenyap di telan bumi saja setelah melihat semua orang yang sedang menatap ke arahnya sambil berbisik setelah pak Walio berteriak. Tuhan, Dadynya ini membuatnya merasa malu saja.


Wiwi menarik nafas dalam-dalam membuat kedua lubang hidungnya yang langsung membesar. Ia tersenyum pasrah ke arah Weva yang terlihat gelisah.


"Aduh, si geribo itu bikin ulah lagi. Wev! Gue duluan, ya sebelum Dady Walio teriak lagi dan bikin gue tambah malu," pamit Wiwi yang tanpa meminta jawaban dari Weva langsung berlari.


"Tapi Wi! Ck." Weva mendecakkan bibirnya menatap kepergian Wiwi.


Weva sudah mendapatkan kalimat penyemangat dari orang banyak tapi tetap saja itu tak membuatnya merasa lega dan membaik. Rasanya ada yang mengganjal dan menjadi beban pada dirinya yang tak mampu ia lepas.


Weva butuh Ken!


Sejak tadi di pikirannya itu hanya memikirkan sosok pria yang selama ini selalu memberinya semangat. Rasanya kalimat penyemangat yang Ken selalu katakan untuknya seakan telah menjadi kebutuhan bagi Weva.


Ketergantungan, yah, mungkin bisa dikatakan seperti itu. Weva merasa tergantung pada Ken. Dulu disaat semua orang menjauhnya, salah satu orang yang ada untuknya adalah Ken.


Weva menoleh menatap ke segala arah mencari sosok Ken yang tak kunjung muncul pada bangku penonton yang telah dipenuhi oleh banyaknya orang. Weva berharap dari penonton itu ada Ken di sana.


"Ken! Ken dimana?"


"Weva butuh Ken. Weva mau Ken datang ke tempat ini buat ngeliat Weva."


"Weva nggak bisa kalau nggak ada Ken. Please, Ken! Weva butuh Ken sekarang juga."


"Weva takut. Weva takut kalau nggak ada Ken di sini."


"Baiklah untuk para peserta dipersilahkan untuk naik ke atas panggung!"


Rasanya jantung Weva ingin pecah karena terlalu cepat berdetak. Rasanya ia benar-benar ingin tumbang di tempat ini. Kedua matanya menatap ke arah panggung dimana para peserta dari berbagai daerah itu telah naik ke atas panggung dan berdiri di balik meja masing-masing setelah nama dan sekolahnya disebut dengan bangga membuat para penonton berteriak memberi dukungan.

__ADS_1


"Klorin!"


Weva menoleh menatap Brilyan yang melangkah menghampirinya.


__ADS_2