Princess Endut

Princess Endut
38. Ken Satya Negara


__ADS_3

Motor vespa berwarna abu-abu nampak melaju dengan kecepatan sedang memasuki sebuah rumah bertingkat dua yang nampak sederhana berpagarkan besi berwarna hitam.


Ada banyak bunga di halaman rumah itu dengan pot plastik berwarna putih yang telah ditata dengan rapi. Entah ada berapa jenis tanaman bunga yang ada di sana yang jelas terlihat sangat indah.


Motor vespa itu berhenti ketika telah sampai di depan halaman yang mampu menampung beberapa mobil. Ia merogoh saku jaket hitamnya dan menatapnya sejenak lalu kembali memasukannya ke dalam saku jaketnya.


Pria berseragam yang nampak tak rapi itu kini melangkah masuk ke dalam rumah sembari melepaskan helm hitam yang sedari tadi melindungi kepalanya.


"Selamat datang di rumah yang penuh cinta kasih wahai anak Mama yang paling ganteng, Keken tersayang. Anak Mama yang paling ganteng."


Pria itu langsung melongo menatap wanita berparas keibuan yang terlihat menggunakan celemek dengan beberapa kotoran bumbu makanan di permukaan celemeknya yang langsung memberikan kecupan di kedua pipi pria yang bertubuh jauh lebih tinggi darinya.


"Keken, Keken nggak jatuh, kan tadi di motor?" tanya Laila yang merupakan Mama dari pria itu.


Ken Satya Negara, pria yang terlihat memasang wajah datar itu adalah pria yang selalu membully satu sekolah dengan mulut pedasnya tapi lihatlah ia seperti seorang bocah berusia 5 tahun jika di hadapan Laila.


Jangan heran dengan sebutan nama Keken. Nama Keken sudah mendarah daging dan nama ini adalah nama kesayangan Ken jika di rumah. Ini adalah nama panggilan dari Mamanya.


Laila menatap dari ujung kepala sampai ujung kaki Ken lalu memutarnya berusaha untuk memastikan jika tidak ada luka atau lecet pada tubuh anak tersayangnya itu.


"Nggak ada, Ma," jawab Ken dengan jujur.


"Mana tahu, Keken jatuh terus luka," ujarnya dengan wajah cemas.


Ken masih terdiam. Membiarkan Laila memeriksa semua tubuhnya agar ia benar-benar yakin. Kalian jangan heran jika Laila sangat sensitif dengan Ken pasalnya Ken adalah anak satu-satunya di keluarga kecil ini dan Laila tak ingin ada yang membuat anaknya terluka.


"Nggak ada, Ma."


Ken melangkah masuk membiarkan Laila membawa tasnya masuk ke dapur. Ini kebiasaan setiap harinya yakni memeriksa bekal Ken yang selalu Laila simpan di dalam tasnya.


"Ken."


Suara nada panjang itu terdengar membuat Ken yang kini sedang membuka kaleng kerupuk itu menoleh menatap Laila yang kini sedang memegang bekal dengan sepotong roti yang tersisa sedikit.


"Nggak dihabisin lagi?"


Ken memejamkan kedua matanya dengan erat. Dasar bodoh, Kevin dan Roy ternyata tidak menghabiskan semua roti itu dan malah menyisahkannya sedikit.


"Ah, sorry, Ma. Ken tadi udah kenyang banget, jadi nggak sempat ngabisin, deh. Maaf, ya."


Laila tersenyum manis. Ia melangkah mendekati Ken dan mencubit gemas pipi anaknya yang kini hanya mampu tertawa hambar.


"Nggak apa-apa, Keken. Keken itu anak kesayangan Mama yang paling Mama sayang, jantung hati Mama, pelangi Mama yang selalu mewarnai kehidupan Mama, seperti bulan yang menerangi malam Mama..."


Ken hanya mampu tersenyum sambil mengangguk-anggukan kepalanya seakan sedang menikmati kalimat puisi dari Laila, yah bagi Ken itu sebuah puisi.


Ken sudah sering mendengar kalimat panjang ini bahkan Ken sampai hapal dengan susunan kalimat itu.


"Tapi besok dihabisi, ya."


Ken tersenyum sok imut lalu mengangguk cepat persis seperti anak kecil yang begitu patuh kepada Mamanya.


Ken kini terpatung di meja makan sembari memukul pelan permukaan meja kayu menghasilkan suara yang mirip musik gendang membuat kepala Ken sesekali bergoyang mengikuti melodi musiknya.

__ADS_1


"Bapak kapan pulang, Ma?" tanya Ken sembari menatap punggung Laila yang berumur sekitar 45 tahun yang kini sedang sibuk menggoreng sebutir telur yang di campur dengan daun bawang.


Laila menoleh menatap Ken yang kini sudah sejak tadi masih setia menunggu masakannya.


"Loh, kok Keken tanya Mama? Kan Keken setiap hari ketemunya sama Bapak."


"Ken ketemunya, kan jarang, Ma."


"Tadi di sekolah Ken main apa?"


"Main apa?"


"Main motor. Keken nggak ikut balapan motor-motor, kan?"


"Nggak, kan Mama selalu ngelarang Keken buat ikut balapan," jawab Ken lalu menggaruk kepalanya yang tak gatal.


Laila tidak tahu saja jika anaknya itu adalah ketua geng motor.


"Si Ken nggak tungguin Bapak."


Suara pria dengan nada kesal terdengar membuat dua makhluk yang berada di meja makan itu menoleh.


"Good morning, pak Ahmad," sapa Ken sembari melambaikan tangannya.


Yap, dia pak Ahmad guru yang telah membuat Weva menangis tadi di sekolah karena telah membeda-bedakannya dengan Fhina.


Pak Ahmad adalah ayah kandung dari Ken dan inilah mengapa Ken bisa di terima di SMA Cendrawasih Internasional School.  


"Kok, tega sih Ken ninggalin Bapak?" tanya pak Ahmad lalu ikut duduk di kursi makan.


"Lah, Bapak nggak janjian sama Ken," bela Ken sembari sibuk mengunyah nasi yang Laila suapi dengan tangannya.  


Sudut bibir pak Ahmad terangkat lalu sesekali menelan ludah menatap Ken yang sesekali membuka mulutnya membiarkan sesuap nasi dari jari-jari tangan masuk ke mulutnya.


"Cih, manja kamu," kesal pak Ahmad yang kini menatap Laila yang tengah memanjakan putranya itu.


"Jadi iri Bapak," tambah pak Ahmad lagi dengan raut wajahnya yang dibuat cemberut.


"Kalau iri, ya udah suruh nenek yang nyuapin."


"Yah, kan nenek udah meninggal, Ken."


"Ya, disusul dong, pak," ujar Ken bercanda.


"Ken!" tegur Laila sembari memukul bahu Ken dengan pelan berusaha mengingatkan perkataan ken. Yah, kadang Ken tak mampu memikirkan ucapan yang akan ia ucapkan.


"Bercanda, Ma," bela ken.


"Udah biasa, Ma," ujar pak Ahmad lalu tertawa membuat Ken dan Laila ikut tertawa.


Pak Ahmad kini terdiam. Mengetuk-ngetuk permukaan meja sembari menatap setiap apa yang dilakukan oleh dua orang yang paling ia sayangi di dunia ini.


Laila mengaduk susu putih hangat di sebuah gelas bermotif Spiderman lalu menjulurkannya pada Ken yang langsung meraihnya. Ken yang berniat untuk meminumnya itu langsung melirik menatap pak Ahmad yang sejak tadi menatapnya.

__ADS_1


"Minum susu biar makin bandel di sekolah," bisik pak Ahmad dengan nada mengejek.


Ken menoleh menatap Laila yang kini terlihat sibuk dengan bubur yang yang ia buat untuk Ken.


"Hust!" tegurnya sambil meletakkan jari telunjuknya di ujung bibirnya.


Laila melangkah ke arah meja, meletakkan semangkuk bubur ayam dengan gambar Spiderman di hadapan Ken dan mendaratkan satu kecupan di rambut Ken.


Ken melirik Bapaknya itu sambil mengangkat kedua alisnya membuat pak Ahmad kini menghela nafas panjang.


"Bapak juga mau cium, Keken, ah."


Kedua mata Ken membulat. Di cium oleh Bapaknya adalah bencana baginya. Bukan maksud tak ingin, tapi pak Ahmad itu dengan sengaja membasahi bibirnya sebelum mengecup pipi Ken agar air liurnya menempel di pipi Ken.


"Nggak usah!" tegur Ken disaat pak Ahmad sudah melangkah ke arahnya.


"Cuman cium, kok," ujarnya sambil menjilati kedua bibirnya dengan gerakan lidah yang sengaja di pelankan.


pak Ahmad menyentuh kedua pipi Ken dan menariknya membuat Ken menggeliat sambil memberontak berusaha untuk menjauhi bibir yang terlihat berkilau karena air liur.


"Maaaa!!! Tolongin Keken!!!" teriak Ken.       


Laila tertawa melihat Ken dan pak Ahmad yang kini berlarian mengitari meja makan. Ken berlari dan bersembunyi di balik tubuh Laila yang ia pegang kedua bahunya.


"Sini, Keken!"


"Nggak! Mulut Bapak bau."


"Nggak bau. Sini Bapak cium dulu."


Laila tertawa ketika pak Ahmad yang kembali berlari membuat Ken kembali memutari meja makan bahkan sampai merangkak di bawa kolom meja berusaha menghindari kejaran Bapaknya itu.


Rumahku istanaku, ya, itu benar.


Disini aku merasa selalu tertawa dan bahagia.  


Banyak yang mengatakan jika aku adalah orang terburuk di dunia karena sikap burukku di sekolah.


Aku tak suka menyembunyikan perasaanku. Jika aku bahagia, yah akan ku tunjukkan dengan senyuman bahkan tawa dan jika aku sedih....


Sedih?


Apa itu sedih?


Maaf! Aku tak pernah sedih.


Tak ada kata sedih dalam kamus kehidupanku.


Bagaimana aku bisa sedih jika aku punya sahabat, kerabat, bapak dan Mama yang selalu memberiku dengan cinta.


Membully seseorang, yah itu memang hobiku, karena aku ini Ken Satya negara. 


Sekali lagi, aku Ken Satya Negara

__ADS_1


__ADS_2