Princess Endut

Princess Endut
77. Hari Pertama


__ADS_3

...🥀🥀🥀...


...Hidup ku ini telah hancur jadi jangan datang dengan membawa keindahan dan pergi setelah engkau merusaknya....


...~Princess Endut~...


...•...


...•...


...•...


...Sebelum membaca pastikan kamu memberi Vote dan komen....


...•...


...Tandai jika ada kesalahan penulisan ....


...•...


...•...


...🥀🥀🥀...


Ken tersenyum sinis.


"Jam berapa sekarang ?" Tanya ken.


"Emmm jam lima subuh" putus weva setelah menatap jam di dinding kamarnya .


"Di rumah Lo ada tangga nggak ?".


"A...ada" jawab nya heran. 


"Ke tangga Lo sekarang !".


"Ah ?".


"KE TANGGA ! GENDUT !" Teriak Ken membuat weva tersentak dan segera berlari  ke arah tangga yang cukup jauh dari kamarnya.


Ken tersenyum, dari sini Ken mampu mendengar suara ngos-ngosan weva. Yah ini lumayan jahat, jika ingin tau Ken sekarang masih berbaring di atas kasur empuknya.


Weva menghentikan larinya membuatnya kini berhadapan dengan tangga rumah yang selalu di puji oleh para tamu yang berkunjung dengan kalimat megah itu, tak ada bedanya dengan tangga istana.


"Weva udah sampai" ujar weva ngos-ngosan.

__ADS_1


"Turung tangga Lo sekarang !".


"Aa ?".


"Turung gue bilang !".


"Turung kemana ?".


"Ke kuburan !  Yah ke bawah lah".


"yah udah deh weva turunnya pake pintu lift Ajah".


"Heh ! Siapa yang nyuruh Lo pake lift !".


"Yah biar cepat, Yah lagian kenapa weva harus turung tangga sih kan ada lift ?".


"Ini bagian dari proses Lo nurunin berat badan, sekarang cepetan turung !".


"Tapi kan !".


"Turung gue bilang !, Lo lupa sama perjanjian, peraturan dan kesepakatan kita kemarin kalau apapun yang gue bilang harus Lo turutin" oceh Ken.


"Iya, iya".


Weva menghembuskan nafas pasrah dan segera melangkah menuruni anakan tangga. Oh tuhan ini sangat rumit.


Weva menghentikan langkahnya ketika kalimat penghinaan itu kembali ia dengar. Rasanya weva tak terima jika pria idolanya itu di hina seperti ini oleh Ken.


 


"Dia bukan..".


"Nggak ada pembelaan !".


Weva mendecap kesal membuatnya dengan kesal meremas pegangan tangga yang sedari tadi ia pegang. Tuhan tolong berikan aku kekuatan untuk mencekik lehernya itu secara virtual.


 


Weva meringis membuat semua tulang kaki nya bergerak bahkan tangannya yang memegang permukaan besi menjadi gemetar berusaha menahan berat badannya.


Cucuran keringat membasahi sekujur dahinya tanpa henti dan bahkan salah satu tetesan keringat itu mengenai matanya.


"Kok Lo nggak ngitung ?".


"Ngitung ?" Ujarnya sembari menghentikan langkahnya yang telah berada di anakan tangga ke sepuluh.

__ADS_1


"Ken nggak nyuruh weva ngehitung".


"Lo nggak nanya ke gue, hitung sekarang !".


Weva mendecap kesal membuatnya ingin menangis sekarang.


"Sebelas" hitungnya.


"Gila Lo yah ?".


"Apa lagi sih ? Tadi kan Ken suruh weva ngehitung nah ini weva lagi ngehitung".


"Lo sekolah di mana sih ? Hah ? Mana ada ngehitung di mulai dari sebelas. Mulai dari anakan tangga pertama !".


"Pertama ?" Tanya nya tak menyangka.


"Em".


"Tapi kan .." weva mendongak menatap anakan tangga pertama yang cukup jauh di atas sana.


"Nggak ada penolakan !".


Weva menggerutu kesal tanpa bersuara sedikit pun dan menjambak ujung bajunya seakan bertindak jika ia sedang menjambak pria monyet si pemanjat tower tangki air itu.


Weva kini mengeliat kesal seperti seseorang yang tengah bergelut dengan makhluk halus yang menempel di baju tidurnya.


"Non weva !" Panggil seseorang membuat weva yang bergelut dengan sendirinya itu terhenti.


"Non weva ngapain di situ ?" Tanya Roro, si pelayan yang paling tua di rumah ini sembari memegang sebuah pel, yap jam ini memang di peruntukan untuk jadwal berkemas pelayan di rumah ini.    


Weva menoleh menatap wajah tua roro itu yang mengernyit menatap aneh pada tingkah weva.


"Non lagi ngapain non masi subuh terus narik baju sendiri di tangga ?".


"We...we...weva lagi.... ".


"Boker"  ujar Ken.


"Boker" ujar weva terpancing dengan ujaran ken.


"Hah ? Astaga non kenapa boker di situ kan ada WC non weva" panik Roro.


Weva menghela nafas dengan raut wajahnya yang ingin menangis. Dengan pelan weva memukul bibirnya berusaha menyalahkan bibirnya yang dengan bodohnya mengikuti ujaran ken.  


"Enggak bi ! Weva lagi...lagi latihan berantem hehehe iya iya" jawabnya asal-asalan. 

__ADS_1


 


"Berantem ? Berantem sama siapa non di situ ?".


__ADS_2