Princess Endut

Princess Endut
49. Lebih Dari Tiga Kata


__ADS_3

Pukul 6:30 menit, waktu itu menujukkan di jam tangan Weva yang masih sangat pagi tetapi, sudah biasa bagi Weva yang kini sedang berada di koridor sekolah menuju ruangan kelas Brilyan.


Yah, seperti biasa tak yang bisa membuat Weva tersenyum pagi ini setelah merasa sangat sedih kemarin dan satu alasannya. Brilyan, ya siapa lagi jika bukan dia.


Weva agak menyesal kemarin karena tak membawa bekal dengan isi nasi goreng khusus untuk Brilyan kemarin dan malah membawanya di siang hari padahal Weva tahu ada Ken yang sangat berbahaya serta dengan senantiasa menantinya di anakan tangga. 


Dari sini Weva bisa belajar dan tahu jika ia tak boleh lagi membawa nasi goreng di dalam bekal ini pada jam siang, tapi membawanya di pagi hari karena di jam itu tak ada Ken di anakan tangga yang akan menghalangi jalan atau bahkan menggangunya.


Weva tersenyum simpul, apapun yang terjadi Weva tak akan menyerah untuk mendapatkan Brilyan.


Weva tahu, jika ini tidak mudah mendapatkan sosok Brilian yang bahkan tak pernah bicara kepadanya melebihi tiga kata.


Langkah Weva kini terhenti ketika dirinya sudah berada di depan bangku Brilyan. Weva melipat bibirnya ke dalam dengan perasaan malu-malu. Jika di depan bangku milik Brilyan saja seperti ini, apalagi jika Weva sudah berhadapan langsung dengan Brilyan, ah, pasti Weva sudah pingsan dibuatnya.  


"Hai Brilyan!" sapa Weva sembari menatap senang pada bangku Brilyan diiringi susana kelas yang begitu sunyi.


Tak ada orang di sini.


"Brilyan apa kabar?"


"Weva harap Brilyan baik-baik aja."


"Oh iya, Weva bawa bekal buat brilyan," ujarnya dengan memperlihatkan bekal biru di tangannya sambil sesekali ia mengoyang-goyangkan badannya seperti anak kecil.


"Brilyan suka nasi goreng nggak?"


Weva terdiam sejenak seakan menanti jawaban dan tak lama Weva kembali tersenyum malu. 


"Weva juga suka, tapi Weva sukanya sama Brilyan, huhuy."


Weva tertawa dan tersenyum malu. Ia mengigit bibirnya dengan pelan lalu dengan rasa bodohnya ia menepuk jidatnya sendiri. Weva sekarang merasa bodoh karena berbicara sendiri di dalam ruangan kelas ini.


"Weva simpan di sini, ya! Jangan lupa dimakan!"


Weva meletakkan kotak bekal itu di atas meja lalu menepuknya dengan pelan dan segera berpaling berniat untuk segera pergi dari ruangan kelas ini namun, betapa terkejutnya Weva ketika ia menoleh dan menatap seorang pria tampan yang tengah berdiri di hadapan Weva. Entah sejak kapan pria itu ada di belakangnya, tapi Weva benar-benar terkejut bukan main.


"Hah!!!" teriak Weva dengan kedua mata membulat serta bibirnya yang terbuka lebar.


"Bri-brilyan?"


Ah! Entah sejak kapan Brilyan ada di belakangnya dan apakah Brilyan mendengar semua yang dikatakan Weva tadi?


Rasanya Weva ingin mencekik leher besarnya agar berhenti bernafas, ia betul-betul sangat malu di hadapan Weva.


Harus apa Weva sekarang? Weva menelan salivanya dengan bibir yang terlihat gemetar.


Brilyan terdiam sesaat menatap gadis gendut yang nampak terkejut mendapati dirinya di sini. Satu yang timbul di pikiran Brilyan. Apakah ia terlihat seperti hantu sampai gadis gendut ini begitu terkejut menatapnya.


Weva menutup bibirnya itu lalu segera berbalik badan membelakangi Brilyan. Weva tersenyum cemas, ia merapikan poni tipisnya dan menyisir rambut sebahunya itu.


Tuhan, semoga ia terlihat cantik di hadapan Brilyan dan semoga ia jatuh cinta setelah melihatnya. Aaa!!! Mimpi apa Weva semalam.

__ADS_1


"Kamu Weva?" tanya Brilyan.


Weva dengan cepat menoleh. Oh, Tuhan. Demi apa, sih cowok setampan Brilyan mengajak Weva bicara.


Apa ini nyata?


Apa ini hanya sebuah mimpi?


Weva membuka sedikit bibirnya seakan ragu untuk menjawab. Oh Tuhan, jika saja Wiwi ada di sini maka Weva akan mengisinkan Wiwi untuk memukul kepalanya sekali saja agar Weva yakin, jika ini bukanlah sebuah mimpi, tapi sebuah kenyataan.


"Aa-a-"


Ucapan Weva terhenti mendapati Brilyan yang mengarahkan layar handphone Brilyan yang memprlihatkan vidio dirinya yang tengah dibully kemarin oleh Ken.


Sial! Ternyata Harni benar-benar melakukan live di Instagram saat Weva dibully oleh Ken.


"Ini kamu, kan?" tanya Brilyan.


Weva terdiam sesaat seakan menikmati vidio dirinya yang terlihat sedang jongkok di atas lantai sambil mengumpulkan nasi goreng yang berserakan di atas lantai. Tak berselang lama Weva beralih menatap Brilyan yang telah mematikan video dari layar handphonenya.


Weva mengangguk sembari tersenyum malu, ini bukan senyum malu karena vidio itu, tapi tatapan indah Brilyan seakan membuat Weva terlena. Ia seperti terbang dan menari di atas awan.


Brilyan benar-benar sangat tampan. Ouh, rasanya Weva ingin berguling di lantai untuk menyuarakan rasa senangnya. Weva senang!


Oh boleh kah ia menyentuh pipi Brilyan sebentar saja? Boleh, kah? Ah, jangan, Wev! Brilyan nanti malah jijik dengan ini. Tahan Weva, tahan!


"Ini kamu, kan?" tanya Brilyan lagi.


Brilyan terdiam heran, sepertinya gadis gendut ini masih terdiam dan nampak melamun. Brilyan melangkah lebih dekat dan mulai mendekat membuat iris mata Weva ikut membesar mendapati Brilyan yang berjarak selangkah lagi menyentuh tubuhnya.


"Ini kamu, kan?" tanya Brilyan.      


"I-i-iya," jawab Weva cepat dan terdengar  terbata-bata sembari terus tersenyum dengan ragu.


Aaaaa!!! Jarak Brilyan sangat dekat bagi Weva bahkan Weva tak pernah membayangkan ini sebelumnya.


Brilyan mengangguk dan memasukkan handphone ke saku celananya. Brilyan telah mendapat jawaban.


"Kok bisa?"


"Aa?"


"Kok bisa dibully kayak gitu?"


Ah, Tuhan. Rasanya Weva ingin berguling di depan Brilyan. Apakah ini serius? Brilyan menanyakan tentang itu dan apakah ini pertanda jika Brilyan peduli dengan Weva?


Oh, ambulance tolong bawa hati Weva sekarang juga. Tubuh Weva terasa lemas.


"Hello!" ujar Brilyan sambil melambaikan tangannya tepat di hadapan Weva membuat Weva kembali tersadar dari lamunannya.


"Iya, itu, em itu karena Weva, eh anu...nganu...eh apa...sih itu? Weva-"

__ADS_1


Weva menghentikan ucapannya yang tak jelas itu.


Dasar bodoh! Tadi Brilyan bilang apa?


"Aku tadi bilang, Kok, bisa dibully kayak gitu?" tanya Brilyan yang kembali mengulang pertanyaannya. 


Weva tersenyum kegirangan. Apakah Brilyan bisa mendengar suara hatinya hingga tanpa diminta Brilyan mengulang pertanyaannya. Oh apakah hati Weva dan Brilyan sudah menyatu?


"Weva gendut jadi dibully," jawab Weva dengan jujur.


Brilyan mengangguk paham dan segera mengeluarkan sesuatu berbentuk kartu segi empat panjang dan menjulurkannya kepada Weva.


"Ini ambil!" Julur Brilyan.


Weva melirik.


"Itu apa?"


Brilyan terdiam sejenak sambil mengerakkan kartu di jari-jari tangannya membuat Weva dengan pelan meraih dan menatap serius pada benda yang Brilyan julurkan dan ternyata itu sebuah kartu tanda pengenal yang bertuliskan super gym.


"Itu tempat gym yang mungkin bisa bantu kamu," ujar Brilyan.


"Kalau Kamu dibully karena bentuk badan kamu, berarti kamu harus cari solusinya dan solusinya adalah tempat itu."


Weva mengangguk dan kemudian ia tersenyum penuh bahagia. 


"Terima kasih."


Brilyan mengangguk.


"Weva bakalan datang," ujar Weva lagi lalu segera melangkah ke arah luar.


Sesekali Weva membalikan kepalanya hanya untuk memastikan jika Brilyan masih menatapnya dan beberapa kali ia memberikan senyum manis ketika ia bisa melihat Brilyan sedang memegang kotak bekal pemberiannya yang ia letakkan tadi di atas meja.


Weva kembali menatap ke arah depan lalu dengan keras ia menampar pipinya seakan ingin memastikan jika ini bukanlah mimpi.


Weva tersenyum. Tamparan ini sakit dan ini bukan mimpi, ini kenyataan!


Sepertinya kejadian kemarin ada hikmah dan manfaatnya. Sekarang Weva telah bisa mendengar Brilyan berucap lebih dari tiga kata kepadanya. Sekali lagi lebih dari tiga kata! Rasanya hari ini Weva begitu bahagia dan bahkan sangat-sangat bahagia.


Weva menunduk menatap kartu tanda pengenal yang Brilyan berikan. Weva harus datang dan berjuang untuk menurungkan berat badannya di tempat super gym ini.


Weva berlari cukup kencang dan berputar-pitar seperti anak kecil yang mendapat mainan baru. Kejadian ini harus segera diberitahukan kepada Wiwi.


Brilyan meletakkan tas hitamnya di atas meja setelah menatap Weva yang benar-benar sudah keluar dari ruangan kelas.


Gadis gendut itu sepertinya sedang berlari, yah, Brilyan bisa mendengar suara hentakan keras dan besar dari luar sana bahkan suara itu bisa Brilyan dengar bahkan jika ia berada di dalam ruangan kelas.


Tatapan Brilyan kini terpusat pada seseorang yang berdiri di pintu ruangan kelas.


Brilyan tersenyum dan mengacungkan jari jempolnya membalas apa yang orang itu lakukan kepadanya. 

__ADS_1


__ADS_2