
...🥀🥀🥀...
...Ku biarkan malam yang sunyi menjadi pengobat dan siang menjadi penggores. ...
...~Princess Endut~...
...•...
...•...
...•...
...🥀🥀🥀...
Angin berhembus menerpa lembut wajah weva yang basah karena di jejaki oleh air mata kesedihan yah, lagi dan lagi di saat makan malam bersama keluarga, mami nya kembali memerahi nya dan mengatakan jika weva terlalu rakus.
Apakah perkataan itu tak sakit menurut kalian, bahkan itu sangat membuat dada weva sesak.Â
Lagi dan lagi weva harus menerima perbandingan antara ia dan A-yeong, sepupunya yang cantik dan langsing yang tinggal di Korea itu. Â
Sungguh menyakitkan.
Suara langkah kaki terdengar dari belakang weva membuat weva dengan cepat mengusap kedua pipinya secara bersamaan. Weva tau itu Wevo yang kini datang untuk membujuknya agar berhenti menangis Yap, seperti malam-malam biasanya.Â
Wevo duduk tepat di samping weva yang di sudut balkon rumah tepat di lantai tiga rumah.
"Weva nggak mau di ganggu !" Ujar weva berpaling membelakangi Wevo.
"Wevo nggak ganggu Adek kok".
"Terus kenapa duduk di sini ? Weva mau sendiri !".
Wevo terdiam untuk sesaat lalu memeluk tubuh gendut weva membiarkan wajah weva tenggelam di atas bahu nya. Weva menangis dan membalas pelukan Wevo dengan erat.Â
"Weva nggak suka sama mami !".
"jangan bilang gitu dong dek !".
"Kenapa sih mami itu selalu ngebandingin Weva sama A-yeong ? Weva nggak suka !".
Wevo mengangguk dan segera mengusap lembut punggung weva yang lebar itu. Ia tau ini tak mudah untuk di hadapi oleh adiknya yang baru berusia 16 tahun itu.
"Udah lah Adek nggak suka pikirin itu semua, mami bilang kayak gitu yah karena mami nggak tau tentang kelebihan yang weva punya".
"Weva itu pintar, cerdas, selalu renking satu dari dulu sampai sekarang dan hatinya baik ke semua orang" sambung Wevo lagi membuat weva tersenyum.
"Kak, Brilyan kayaknya susah banget deh buat di dapetin".
"Kok bisa ?".
"Brilyan itu pendiam tapi, eh tau nggak sih kak tadi Brilyan itu senyum sama weva dan dia bahkan ngomong lebih dari tiga kata ke weva".
"Bagus dong".
"Tapi weva nggak yakin deh kalau Brilyan mau sama weva".
"Loh yah harus yakin dong dek".
Â
"Emm, tapi Weva cantik nggak sih kak ?".
"Cantik dong, bahkan kak Wevo belum pernah liat gadis yang lebih cantik dari Adek weva".
"Beneran ?".
Wevo mengangguk, mengiyakan ujaran weva membuat weva tersenyum kegirangan. Â
...🌹🌹🌹...
Suara mesin jahit terdengar dengan kelihaian tangan Laila yang tak lelah nya menjahit pakaian hitam yang ia buat untuk Ken Yap, putra kesayangannya. Â
"Keken !".
"Ya ma" sahut Ken lalu menoleh menatap Laila yang nampak melebarkan pakaian hitam tepat di hadapannya.Â
__ADS_1
"Udah jadi " ujarnya kegirangan lalu segera mendekat dan memasangkan pakaian hitam yang telah ia jahit.Â
Ken hanya pasrah membiarkan mamanya itu melakukan apa yang mamanya inginkan lagi pula jika Ken menolak, mamanya akan sedih, Ken tak mau itu terjadi.
"Keren anak mama" ujar Laila ketika menatap Ken yang tubuhnya sudah terbalut dengan pakaian hasil jahitannya.Â
"Tunggu yah keken !".
Laila berlari kecil menghampiri laci lemari dan merogoh handphone miliknya lalu ia kembali sembari mengarahkan kamera ke arah Ken.
"Senyum nak ! Senyum !".
"Nggak usah di foto ma !" Ujar Ken lembut dengan wajah kesalnya.
"Mama mau apload di Facebook".
"Ah malu ah ma".
"Satu kali Ajah keken, satu ajah kok nggak banyak !" Rayu Laila.
"Nggak ah ma".
"Satu ajah kok, Yo ! Yo senyum !" Pinta laila.
"Ah nggak ah ma Ken malu !" Ujar Ken lalu segera membuka satu persatu kancing berwarna hitam di depan dadanya.
"Keken ! Yuk nak satu ajah !".
"Keken sayang kan sama mama, yuk nak senyum !".
"Keken ! Senyum dong nak !".
"Keken !" Panggil pak Ahmad sembari membawa papan catur di pelukannya.
"Main catur yuk nak ! Malam ini bapak yakin akan menang" ujar pak Ahmad dengan penuh percaya diri.
Ken menghembuskan nafas lelah lalu segera mengacak-acak rambutnya kesal. Rasanya ia ingin bersantai malam ini namun, apalah daya bapak dan mamanya selalu ingin di temani. Rasanya menjadi anak kesayangan yah seperti ini, cukup membuat nya tertekan.
"Tunggu dulu pak, keken mau mama foto terus masukin di Facebook, Instagram sama WhatsApp".
"Wih baju baru lagi nih" ujar pak Ahmad sembari memandangi pakaian yang ken kenakan.
"Iya dong, mama yang jahit khusus untuk anak kesayangan keken, Ken cepetan dong nak senyum !".
"Ah malu ah ma nanti di komen lagi sama temen-temen mama".
"Nggak ! Nanti mami larang mereka komen deh, yuk cepetan senyum !".
"Yuk keken yang pintar, ganteng yuk nak senyum !" Rayu Laila membuat Ken menghembuskan nafas berat.
Laila tersenyum kegirangan menatap Ken yang nampak berdiri tegak seperti orang yang telah siap untuk di foto.
 Â
"Ok, satu, du..., Aduh pak itu kancingnya di pasang dulu !".
Pak Ahmad yang mendegar hal tersebut dengan cepat berlari dan memasang kancing yang menjadi hambatan dalam sesi pemotretan atas dasar pemaksaan ini.
"Senyum nak !" Pintah Laila dengan kamera yang siap memotret Ken yang nampak tersenyum.
CEKREK
Satu foto berhasil tertangkap membuat bibir Laila tersenyum bahagia.
"Satu lagi nak !".
"Loh katanya ?".
"Senyum Ajah nak !" Pintah Laila membuat Ken tersenyum pasrah.
"Ini loh keken, tangannya Lo itu simpan di sini !" Ujar Laila sembari meletakkan telapak tangannya di kedua pipinya.
"Ih apaan tuh ?" Tatap Ken jijik.
Laila berlari kecil menghampiri Ken dan meletakkan telapak tangan Ken di kedua pipi Ken, melakukan apa yang ia tadi contohi. Ken hanya pasrah membuatnya kini menjadi model dadakan.
__ADS_1
"Satu".
"Dua".
"Tiga".
CEKREK
"Satu lagi nak !".
"Apa lagi sih ma ?".
"Jari keken kayak gini !" Pinta Laila sembari memperlihatkan pada jarinya yang membentuk hati ala Korea.
"Ah nggak mau ah ma".
"Keken ! Ayo dong nak !" Rayu Laila lagi.
CEKREK
Foto Ken dengan gaya memalukan itu kini terpampang di galeri handphone Laila, membuat Laila tersenyum.Â
"Apload ah di Facebook" ujar Laila lalu segera melangkah sembari menyentuh layar handphonnya.  Â
"Baju baru buatan mama untuk keken, #Keken_anak_mama_dan_bapak #16Tahun_5 bulan_24 hari_22jam_15menit #keken_sayang #punya_mama_dan_bapak".
"Apload !" Akhir kata Laila lalu segera menekan tombol kirim pada layar handphonnya.  Â
...🌷🌷🌷...
Brilyan hanya mampu tertunduk di hadapan Johan yang kini sedari tadi mengoceh panjang lebar. Salah satu hal yang menjadi masalah adalah Johan melihatnya bersama seorang wanita.
"Ayah nggak suka liat kamu kayak gitu !".
"Kamu ini mau sekolah atau mau pacaran ?".
"Tapi aku nggak pacaran pa".
"Terus yang tadi sore itu apa ?".
"Itu cuman teman yah yang mau bantuin aku buat bawa buku, itu Ajah nggak lebih" bela Brilyan.
"Temen ? Teman kamu bilang ?, Sejak kapan kamu punya temen ?".
Brilyan tertunduk tak tau harus menjawab apa.
"Kamu denger yah Brilyan ! Jangan sampai papa ngehukum kamu terus nambah kelas les kamu !".
"Maaf yah" ujar Brilyan cepat. Bukan tanpa alasan jika Johan menambah kelas lesnya maka waktu tidurnya berkurang dan itu akan membuat beban nya terasa berat.
****
Brilyan menghembuskan nafas berat di atas meja belajarnya dan melangkah sembari membawa sebuah kertas bergambar kearah wanita yang sedari tadi menantinya.
Dengan wajah lemas nya Brilyan menjulurkan kertas tersebut membuat wanita bernama sekar itu menggeleng.
"Sepertinya memang bakat kamu Menggambar itu tidak ada, ini sudah gambar yang ke tiga puluh malam ini tapi, tak ada satupun yang bisa membuat saya menjadi puas".
"Lalu apakah aku harus mengulang dari awal lagi ?".
Sekar tertawa dan meraih tasnya.
"Ini sudah jam sepuluh malam Brilyan, tidur lah dan aku sudah punya hasil gambar yang akan ku tunjukkan kepada ayah mu jika hasil gambar mu sudah ada peningkatan".
Sekar tersenyum lalu menepuk pelan bahu Brilyan dan melangkah keluar dari kamar.
Brilyan melangkah menuju koridor dengan tatapan nya yang menyorot langit malam dengan hiasan kerlap-kerlip bintang.
Brilyan menyentuh kepalanya yang terasa sudah lelah untuk berjuang sedari tadi di sekolah maupun di rumah. Jam istirahatnya hanyalah di atas jam sepuluh itu pun di pergunakan nya untuk tidur.
Rumah yang seharusnya di jadikan tempat istirahat kini menjadi tempat yang penuh dengan derita.
Brilyan tau jika belajar adalah demi kepentingan ia dan Johan tapi apakah ini tak berlebihan ?.
Brilyan mendudukkan dirinya di pojok balkon dan bertelungkup penuh lelah, Membuat air matanya berderai. Â
__ADS_1