Princess Endut

Princess Endut
26. Tabrak


__ADS_3

Weva menghembuskan nafas sesaknya yang seakan siap untuk mencabut nyawanya di detik ini juga, bukan karena lari-larian seperti tadi tapi kali lain lain. Ini karena niatnya untuk memberi kotak makanan berisi nasi goreng buatannya untuk pangerannya, ya siapa lagi jika bukan Brilyan, Pria idaman dan impian Weva.


Weva kembali mengintip, ini sudah intipan yang ke belasan kalinya bahkan Wiwi yang sedari tadi mengomel berusaha menyuruh Weva masuk ke dalam ruangan kelas hanya mampu terdiam di samping Weva yang bersandar di dinding kelas.


"Wiwi."


"Em?"


"Bagaimana sekarang? Apa Weva masuk sekarang nggak, ya, Wi?"


Wiwi mengacak-acak rambutnya prustasi. Oh Tuhan ini pertanyaan yang sudah 28 kalinya dilontarkan oleh Weva dan Weva masih bertanya lagi.


"Weva masuk nggak, ya?" tanya Weva dengan wajah khawatir tanpa menoleh menatap Wiwi, kedua matanya masih sibuk menatap ke arah ruangan.


Wiwi yang geram itu pun segera bangkit dan mulai membuka pintu ruangan kelas lebar-lebar memperlihatkan lebih jelas jika, di dalam sana tak ada orang bahkan Brilyan pun tak ada di dalam sana.


"Wev! Lo buta apa gimana, sih? Lo liat, dong pakai mata!"


"Mata?" tanya Weva membuat Wiwi mendecakkan bibirnya lalu memegang kedua pundak Weva dan mengarahkan tubuh Weva ke arah rungan kelas.


"Nggak ada orang, Wev!" ujar Wiwi menatap Weva dengan tatapan tragis.


Weva terdiam menatap ruangan kelas yang nampak kosong.


"Lo liat, kan? Nggak ada orang di sini."


"Tapi, Wi-"


"Apa lagi, sih, Wev?"


Weva tertunduk lalu menggaruk kepalanya yang tak gatal itu.


"Wev!" panggil Wiwi membuat Weva terdiam.


"Sekarang, Lo buka mata lo baik-baik! Di dalem sana cuman ada cicak, tokek, laba-laba dan cctv. Nggak ada orang, Wev! Sekarang cepetan masuk!" pintah Wiwi sedikit agak tegas.


Weva mengangguk lalu segera mengatur nafasnya yang sudah sejak tadi sesak membuatnya melangkahkan kakinya selangkah maju ke depan ke arah ruangan kelas.


"Tapi, Wi-" tahan Weva beralih menatap Wiwi yang kini terdiam dengan wajahnya yang nampak datar.


"Gue injek lo, ya!" ancam Wiwi membuat Weva kembali melangkah masuk dengan lancarnya.

__ADS_1


Weva tersenyum kegirangan menatap meja Brilyan yang nampak kosong, belum ada hadiah dari para fans-fansnya di sana.


Weva menghentikan langkahnya dengan senyuman menatap permukaan meja Brilyan. Weva menutup mulutnya lalu tertawa kecil. Melihat bangkunya saja sudah membuatnya malu dan berhasil membuat detak jantungnya berdetak sangat cepat. Apalagi jika bertemu langsung dengannya, hah, mungkin ia sudah meninggal di tempatnya berdiri.


Weva menghembuskan nafasnya dengan ujung bibirnya lalu tersenyum dan segera meletakkan bekal biru di atas meja. Di dalam kotak itu masih masih terdapat tulisan I love you, ya ini ungkapan isi hati Weva yang entah sampai kapan akan berakhir, tapi Weva yakin suatu saat nanti Brilyan akan tahu tentang perasaan ini.   


Satu hal lagi, Weva harap ini semua tidak boleh berakhir. Weva akan berusaha sekuat mungkin agar Brilyan bisa mengerti dengan perasaanya yang telah lama menghantuinya.


"Wev!" panggil Wiwi membuat Weva segera menoleh.


"Apa?" bisik Weva tanpa mengeluarkan suaranya sedikit pun.


"Brilyan!!!" teriak Wiwi lalu segera berlari entah kemana membuat Weva terbelalak.


Apa yang baru saja Wiwi katakan? Apa Weva tidak salah dengar, jika Wiwi baru saja mengatakan tentang Brilyan? Apakah Brilyan sudah melangkah ke arah kelas. Oh tuhan tolong lah Weva!


"Wiwi, tungguin Weva!!!" teriak Weva.


Weva kembali menoleh menatap bangku Brilyan lalu ia kembali tersenyum.


"Weva pergi dulu, ya," ujar Weva sambil mengelus permukaan bangku Brilyan.


Tanpa pikir panjang Weva segera berlari keluar dari ruangan kelas tanpa menoleh menatap ke sekitarnya membuat Weva tanpa sengaja menabrak sesuatu.


Suara jatuh itu terdengar membuat Weva terbelalak ketika mendapati seseorang yang berada di atas lantai.


"Hah!" kaget Weva tak menyangka.


Kedua mata Weva terbelalak dengan kedua bibirnya yang terbuka lebar setelah mengetahui siapa yang telah ia tabrak.


Demi dewa para penduduk Frindafan, Weva tak menyangka jika tubuh yang gendut ini telah menabrak sosok pangerannya yang nampak menggeliat kesakitan di lantai, ya coba tebak siapa Itu! Yah, lihatlah itu adalah Brliyan.


Oh Tuhan mengapa tubuh gendut ini dengan tegah menabrak tubuh pria impiannya dengan sangat keras bahkan sekarang Brilyan masih berada di atas lantai sambil memegang lengan kanannya.


Apa itu sakit? Ah, sedih sekali.


Weva kembali menutup mulut dengan telapak tangannya, Ia benar-benar masih syok. Niatnya untuk menjauhi Brilyan agar tak ketahuan jika bekal biru itu adalah pemberiannya malah ia sekarang sudah membuat kesalahan besar yakni menebarkan sosok Brilyan.


Sebenarnya ini semua ia lakukan agar Brilyan mau memakan nasi goreng buatannya. Menurut Weva mungkin Brilyan tak akan mau memakan makanan pemberiannya, jadi jalan satu-satunya adalah diam-diam seperti ini, tapi apa yang sekarang terjadi? Weva sudah menabrak Brilyan. Entah apa yang akan terjadi kedepannya? Weva harap Brilyan tidak marah.


Tubuh Weva gemetar, sekarang Weva tak tau harus melakukan apa kepada Brilyan.

__ADS_1


Menolongnya?


Weva takut jika pangerannya itu menolak bantuan princess endut nya ini, Weva malu jika hal tersebut sampai terjadi.


Weva menggerakkan tangannya berniat untuk membantu Brilyan bangkit dari lantai, tapi tangannya kembali mundur menjauhi tubuh Brilyan. Weva ragu dan takut untuk menyentuh tubuh Brilyan.


Brilyan bangkit dari lantai lalu ia menatap dari ujung kaki sampai ujung rambut Weva dan kemudian sorot mata Brilyan berakhir menatap kedua sorot mata Weva yang nampak terdiam kaku seperti patung.


Brilyan mengekerutkan alisnya, rasanya ia pernah melihat gadis gendut ini, tapi entah lah, Brilyan tak ingat jelas siapa gadis bertubuh gendut ini.


 


Weva melebarkan kedua matanya dengan perasaan tak percaya jika untuk pertama kalinya Weva ditatap langsung oleh Brilyan.


Pria impiannya yang selalu mengisi dunia mimpinya di setiap malam.


Pria impiannya yang selalu membuatnya melamun kapan pun dan dimana pun Weva berada.  


Pria impian yang selalu berhasil membuat jantungnya berdetak sangat cepat tanpa alasan.


Pria impian yang selalu mengisi dan menyita perhatiaan dan pikirannya disetiap waktu.


Weva menyentuh dadanya. Rasanya jantung Weva ingin terbang sekarang juga. Oh jantung Weva, tahan! Tahan! Tahan!


Jangan terbang sekarang! Weva mohon jangan!


"Satu!"


"Dua!"


"Tiga!"


"Empat!"


"Li-ma."


Hitungan Weva terhenti ketika dengan santainya Brilyan melangkah masuk ke dalam kelasnya tanpa mengatakan perkataan sedikit pun kepadanya. Apa Brilyan tak marah setelah ditabrak oleh Weva?


Kepala Weva bergerak menatap Brilyan. Apa hanya seperti itu? Bahkan Weva tak mendengar kalimat pendek dari bibir Brilyan.


Ayo Brilyan marah! Setidaknya Weva bisa dengar perkataan Brilyan selain pidato kejuaraan setiap bulan.

__ADS_1


"Tunggu!"


__ADS_2