
"Yeeeee!!! Besok jalan-jalan!!!"
...****************...
Ken memutar tubuhnya menyamping sembari menarik selimutnya yang begitu lembut untuk memprelok posisi tidurnya. Ken tersenyum bahagia di dalam gelap dan heningnya kamar yang membuat Ken merasa nyaman untuk berlama-lama di atas kasurnya.
Tok Tok Tok!!!
Suara ketukan pintu terdengar dari luar kamarnya dengan pelan membuat Ken meraih bantal empuknya dan menaruhnya di atas kepala. Suara ketukan pintu itu terdengar lagi membuatnya mengerang kesal dan kembali menekan permukaan telinganya berusaha untuk tidak mendengarnya. Entah siapa yang telah menganggu tidur nyenyaknya di pagi yang masih gelap ini.
"Keken!!!" teriak Laila dengan nada lembutnya.
Ken melepas tangan dan bantal yang menutupi telinganya membuat Ken terdiam beberapa saat menatap langit-langit kamarnya. Baru kali ini Mamanya itu membangunkannya di hari minggu sepagi ini.
"Keken anak sayang mama dan bapak!!!" teriaknya lembut.
"Apa, Ma?" tanya Ken dengan suara seraknya.
"Buka dulu, dong keken!"
Ken menarik nafas dalam-dalam dan menguap karena masih mengantuk. Ken bangkit dari kasurnya dengan rambut yang masih acak-acakan dan melangkah dengan tenaga yang belum peluh betul. Ken membuka pintu menatap wajah Laila yang menyambutnya dengan senyum.
"Aduh, anak sayangnya Mama dan Bapak udah bangun," ujarnya lembut sembari mengusap pipi Ken dan merapikan rambut Ken yang acak-acakannya.
"Kenapa, Ma?" tanya Ken dengan suara serak serta kedua matanya yang masih sayup sembari menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Itu, loh ada sahabat kamu di bawah katanya mau ketemu sama Keken," jelasnya.
"Hem?" Ken membulatkan matanya serta jari-jari tangannya yang berhenti menggaruk kepala.
"Apa, Ma?" tanya ken walau ia telah mendengar ujaran Mamanya.
"Itu di bawah ada sahabat keken. Katanya mau ketemu sama keken," ulangnya lembut.
"Sahabat siapa?"
"Itu, loh yang gendut. Mama lupa namanya tapi kalau ciri-cirinya Mama ingat."
Kedua mata Ken membulat sempurna. Kedua bibirnya terbuka tak menyangka bahkan kedua matanya tak berkedip sedikit pun.
"Weva?" tebak Ken.
"Nah, iya Weva."
Mendengar hal itu membuat Ken dengan cepat berlari meninggalkan Mamanya yang meneriakinya di depan pintu. Ken berlari menuruni anakan tangga dan menyusuri ruangan rumah dan berakhir menatap gadis gendut yang tengah memegang sebuah bingkai fotonya saat masih kecil.
"Lo!!!" teriak Ken dengan tatapan tak menyangka membuat Weva yang asik menatap setiap inci wajah Ken saat kecil itu menoleh.
"Ken!!!" teriak Weva kegirangan.
Weva yang melihat kehadiran Ken itu dengan cepat melangkah menghampiri Ken yang masih syok.
"Eit, simpan!" tunjuk Ken pada bingkai foto yang masih Weva pegang.
__ADS_1
Weva menunduk menatap bingkai foto yang masih ia pegang dan menatap Ken yang masih menunjuk dengan wajah kesalnya.
"Yang ini?" tanya Weva polos sembari mengarahkan foto kecilnya ke arah Ken yang semakin geram.
Bukan tanpa alasan Ken marah dengan foto itu. Foto itu adalah aib baginya karena di foto itu ia masih berumur satu tahun dengan kaus pink hellokitty, bando ala princess, bedak yang yang tebal nyaris seperti donat yang diberi tepung dan jari telunjuknya yang berada di lubang hidungnya serta tangan satunya yang memeluk boneka Barbie, ini foto memalukan sepanjang masa.
Sebenarnya Ken sudah sering melarang Mamanya untuk memajang foto aib ini, tapi Mamanya selalu bersi keras untuk memajang foto kecilnya dan mengancam Ken akan mencuci foto Ken sebesar lemari besar dan memajangnya di dinding ruang tamu agar setiap tamu yang datang dapat langsung melihatnya.
Ini memalukan, benar-benar memalukan. Bahkan jika Ken ingin, ia ingin membuang foto itu saja.
Ken berlari kecil dan merampas bingkai foto membuat weva tersentak kaget.
"Lo ngapain ke rumah gue?" tanya Ken sembari menyembunyikan bingka foto di balik tubuhnya.
"Kok nanya, sih? Kan Ken sendiri yang nyuruh Weva ke sini terus kita pergi jalan-jalan," jelasnya.
Ken mengkerutkan dahinya dan menoleh menatap jam di dinding yang masih menunjukkan pukul 5:50.
"Heh gendut!!!" teriak Ken membuat Weva tersentak kaget.
"Apaan, sih teriak-teriak melulu?"
"Sini lo!" panggil Ken sembari menarik dan membawa Weva ke depan jam dinding besar yang terbuat dari kayu.
"Buka mata lo lebar-lebar! Jangan badan lo aja yang lebar! Terus lo liat sekarang jam berapa?"
Weva menurut membuatnya membulatkan matanya menatap jam dinding.
"Jam berapa?"
"Nah tuh lo tahu. Terus kenapa lo datang jam lima? Gue, kan nyuruh lo datang jam tujuh."
Weva mendengus kesal lalu menoleh ia menatap Ken.
"Kan Weva udah nggak sabar mau jalan-jalan."
"Yah tapi, kan gue nggak nyuruh lo datang sepagi ini. Lagian mana ada tempat hiburan yang buka jam segini, Endut!" Ocehnya.
"Nggak usah manggil Weva, Endut!"
"Terserah gue."
Weva kini terdiam dengan wajahnya yang berangsur sedih dan perlahan ia menggerakkan kepalanya menatap Ken.
"Terus gimana, dong? Masa Weva pulang ke rumah terus ke sini lagi?"
"Nah itu." Tunjuk nya.
"Apa?"
"Lo pulang aja!"
"Hah? Kok, Ken nyuruh Weva pulang?"
"Yah, terus lo mau apa? Mending lo pulang dulu terus lo apa kek, terserah! Soalnya gue mau lanjut tidur."
"Lah, kok gitu?"
__ADS_1
"Yah ini baru jam berapa, Endut? Lo mikir, dong! Ini terlalu pagi. Mending lo pulang aja dulu terus lo datang lagi kalau udah jam tujuh."
"Tapi-"
"Udah lo pulang aja dulu!" pintah Ken sembari mendorong kedua bahu Weva yang kini memberontak, akan tetapi karena Ken lebih kuat Weva pun tak mampu menolaknya.
"Weva nggak mau pulang. Weva mau jalan-jalan."
"Nanti jam tujuh!"
"Nggak! Weva mau jalan-jalan. Weva tunggu di sini aja."
"Pulang!"
"Nggak mau! Nggak apa-apa Weva duduk di teras aja sama Pinky!"
"Heh, si Pinky aja masih tidur jam segini."
"Nggak, Pinky tadi udah bangun, kok."
"Pulang!!!"
"Loh ini kenapa? Kok, keken dorong-dorong si gendut?" tanya Laila.
Keduanya menoleh menatap Laila yang berdiri sembari memegang sapu ijuk dengan wajah bingung.
Weva tersenyum licik dan segera berlari ke arah Laila dan bersembunyi di belakang Laila membuat Ken terkejut.
"Tante, si Ken nyuruh Weva pulang padahal kan Ken udah janji mau bawa Weva jalan-jalan hari ini karena berat badan Weva udah turung 10 kg," adunya.
"10 kg?"
Weva mengangguk.
"Wah, keren banget. Keken!" panggil Laila.
"Kamu nggak boleh nyuruh si gendut pulang, dong! Aduh, nama kamu siapa, sih?" tanya Laila di akhir ujarannya.
"Weva, Tante."
"Em, keken nggak boleh nyuruh Weva pulang!"
"Loh, tapi kan, Ma-"
"Keken! Weva itu juga tamu di sini, iya, kan Weva?" potong Laila membuat Weva tersenyum lebar penuh kemenangan.
"Iya, Tante," jawab weva cepat dengan wajahnya yang mengejek Ken.
"Ma, tapi, kan Ken janjinya jam tujuh bukan jam segini. Yah udah lah si weva disuruh pulang aja!"
"Loh, nggak boleh gitu dong! Weva!"
"Iya, Tante."
"Mending bantu Tante buat kue, yuk! Terus kalau udah jam tujuh kamu pergi, deh sama si Keken. Gimana?"
"Iya, Tante. Weva mau," jawab Weva cepat sebelum Ken kembali bicara.
__ADS_1