Princess Endut

Princess Endut
206. Surat itu


__ADS_3

Wiwi melangkahkan kakinya ke permukaan lantai yang begitu terburu-buru. Di belakang sana sosok pak Walio yang juga ikut berlari berusaha untuk mengejar kepergian putrinya. Sejak tadi ia bertanya tapi gadis yang suka marah-marah itu tak kunjung menjawab.


Wiwi menghentikan langkahnya, ia berniat untuk memukul pintu tapi pintu itu malah terdorong dan terbuka lebar membuat bibirnya yang ingin bicara itu langsung terbuka. Kedua matanya melebar menatap penampakan ruangan kamar Weva yang benar-benar berantakan.


Semuanya terlihat berhamburan dimana-mana, benar-benar sangat berantakan bahkan ia sampai mengira jika kamar yang ia masuki ini adalah bukan kamar Weva, tempat yang selalu ia kunjungi.


Kedua mata Wiwi kini menyipit menatap sosok Weva yang terlihat duduk dengan mata sembab, rambut acak-acakan dan polesan wajah yang benar-benar menunjukan sosok Weva yang hancur.


Bahu gadis yang masih tetap saja terlihat cantik itu bergerak-gerak membuat Wiwi yakin jika gadis itu telah menangis. Entah apa yang terjadi pada sahabatnya itu.


"Weva!" panggil Wiwi namun, Weva tetap diam seakan belum mendengar siapa yang telah memanggilnya.


Wiwi berlari menghampiri Weva dan berlutut di hadapannya. Ia menatap wajah sedih itu dengan serius.


"Wev! lo kenapa, Weva?" tanya Wiwi yang benar-benar panik.


Tak ada jawaban dari Weva. Ia duduk sambil memeluk lututnya dan kepalanya yang disandarkan ke permukaan dinding. Kedua sorot matanya menatap ke arah jendela yang tertutup rapat.


"Weva!" panggil Wiwi sekali lagi. Ia menyentuh pundak sahabatnya itu hingga kepala Weva bergerak menunduk menatap tangan Wiwi yang menyentuh pundaknya.


Kedua mata hitam Weva bergetar menatap ke arah Wiwi yang menatapnya begitu serius.


"Wev!" bisik Wiwi yang sejujurnya begitu sangat takut.


Melihat Weva seperti ini seakan menunjukkan jika gadis yang ada di hadapannya bukanlah sosok sahabatnya yang ia kenal selama ini. Ada banyak kepedihan yang ditahan dari balik sorot mata itu.


Weva tersenyum tipis namun, bibir yang telah tersenyum itu tiba-tiba saja bergetar membuatnya dengan cepat memeluk tubuh Wiwi dan menangis di sana.


"Wev! Lo kenapa?"


"Weva benci!"


"Lo benci sama siapa?"


"Weva benci!"


"Lo itu kenapa, sih?"


"Bri-lyan!"


"Kenapa? Kenapa sama dia? Lo diapain sama dia?"


Weva melepaskan pelukannya. Kedua mata yang telah basah dan membengkak itu menatap pedih pada sorot mata sahabatnya.


"Lo ingat ini, kan?" tanya Weva sambil mengangkat tangannya menunjukkan gelang merah yang ada pada pergelangan tangannya.


"Lo ingat ini, kan Wi?" tanya Weva sekali lagi membuat Weva mengangguk cepat.


"Brilyan ternyata bukan anak laki-laki itu, Wi!"


Nafas Wiwi seakan tertahan di dadanya. Tubuhnya kini mematung menerima pelukan dari Weva yang kembali menangis sejadi-jadinya.


Brilyan bukan anak laki-laki itu. Tentu saja Weva hancur. Bertahun-tahun sahabatnya itu berjuang tapi pada akhirnya kebenaran mengejutkan yang terjadi.


Wiwi mendengus kesal. Ia mendorong Weva berusaha untuk melepaskan pelukan itu.

__ADS_1


"Lo sekarang dengerin gue!"


"Nggak! Gue nggak mau dengar apa-apa dari siapa pun itu."


"Wev! Ini tuh penting. Sekarang Ken mau pergi ke Jogja!"


Tangisan Weva seketika terhenti. Kedua matanya dengan cepat menatap sahabatnya.


"Apa?"


"Bisa-bisanya lo nangis di sini karena Brilyan sementara Ken, orang yang udah ngebantu lo, yang ada disaat lo gendut, disaat semua orang pergi ninggalin lo, cuman dia yang ada buat lo bakalan pergi jauh dari lo."


"Lo mati-matian ngejar cowok kayak Brilyan sampai lo lupa ada Ken yang selalu ada buat Lo."


"Buka mata lo, Wev!"


"Ken yang selalu ada buat lo! Bukan Brilyan!"


"Lo kenapa sih nggak pernah peka sama perasaan Ken!"


Weva memejamkan kedua matanya dengan erat. Ia mengusap pipinya yang telah memerah karena telah lelah di usap dengan kuat.


"Udah, Wi!" teriak Weva membuat Wiwi tersenyum sinis.


Ia bangkit dari lantai dan melangkah tak jelas di hadapan Weva yang masih berada di lantai.


"Ken nggak mungkin suka sama Weva!"


"Kenapa lo mikir kayak gitu, Wev? Lo nggak percaya kalau Ken itu suka sama lo?"


Wiwi mendecapkkan bibirnya kesal.


"Karena lo nggak liat isi surat itu!!!" teriak Wiwi yang benar-benar murka.


Tangisan Weva seketika kembali terhenti. Kedua matanya yang bergetar itu menatap wajah Wiwi yang benar-benar marah, nyaris menangis.


"Lo masih ingat, kan sama surat itu? Harusnya lo ingat sama surat yang Ken kasi sama lo tapi lo malah nggak baca surat itu."


"Lo malah nganggap seakan surat itu nggak penting buat lo!"


"Nggak, Wi. Weva nggak pernah ngomong kalau surat itu nggak penting-"


"Terserah, Wev! Sekarang sebelum lo menyesal dan kehilangan Ken selama-lamanya lo harus cari dan baca surat itu, sekarang juga!"


Weva terdiam. Pikirannya seakan melayang entah kemana. Tubuhnya seakan terkunci tak mampu untuk melakukan apa-apa.


"Cepetan, Wev! Sebelum Ken pergi!"


"Tapi Weva nggak tau surat itu dimana!" teriaknya.


"Yah lo usaha, dong Wev!" teriak Wiwi yang tak kalah melengking.


Weva kembali diam. Ia menyentuh kepalanya dengan erat. Surat itu, entah dimana surat itu berada. Kedua matanya yang terpejam itu berusaha mengingat kapan terakhir kali ia menyentuh dan melihat surat itu.


...****...

__ADS_1


Saat itu...


"Heh, Endut!!!" panggil Ken dan berlari menghampiri Weva yang menghentikan langkahnya yang menoleh menatap Ken.


"Ini buat lo," ujar Ken dengan sepucuk surat yang ia rogoh dari saku celananya.


Surat yang sama yang Ken ingin julurkan kemarin namun, gagal karena kedatangan Wiwi.


"Ini apa?"


"Surat."


"Buat, Weva?"


Ken mengangguk membuat Weva meraih surat berwarna pink dengan motif hello Kitty dengan perlahan.


"Lo bacanya setelah lo sampai di Korea, yah!"


Weva yang sibuk menatap setiap sudut surat itu mengangkat pandangannya menatap Ken.


"Emang kenapa kalau Weva baca sekarang?"


"Yah, lo lakuin aja! Kenapa sih ngebanta melulu?" kesalnya dengan nada suaranya yang tiba-tiba meninggi membuat Weva tersenyum.


"Iya, Ken. Nggak usah marah-marah!"


Weva memasukkan surat itu ke saku jaket yang ia gunakan.


"Kalau gitu Weva pergi, ya."


Ken mengangguk lagi membuat Weva membalikkan badannya membelakangi Ken dan mulai melangkah meninggalkan tiga orang yang sangat dekat dengannya.


"Hati-hati Weva!!!" teriak Ken.


Jari tangan Weva menyentuh perlahan permukaan jendela dan membelainya lembut. 


Weva kini teringat akan sesuatu hal, yakni surat dari Ken. Weva merogoh saku bajunya dan berhasil menemukan surat Ken yang kini berada di tangannya.


Weva tersenyum dan mulai membuka surat itu dengan perlahan. Surat itu terbuka sedikit membuat Weva mampu melihat sebuah tulisan di sana.  


"Permisi," ujar seorang wanita tua yang duduk di samping Weva.


Weva menghentikan gerakan tangannya yang membuka kertas itu dan beralih untuk menoleh menatap wanita tua yang tanpa ia sadari telah sejak tadi menjadi teman duduknya di penerbangan kali ini.


"Boleh tolong buka ini?" tanya wanita tua itu sembari menjulurkan botol air mineral ke arah Weva.


Weva mengangguk dan kembali melipat kertas yang telah nyaris Weva baca lalu memasukkannya di dalam saku jaketnya. 


...***...


Kedua mata terbuka secara tiba-tiba setelah mengingat kejadian mengenai surat itu. Weva bangkit dari lantai dengan wajahnya yang begitu panik. Tanpa pikir panjang ia berlari ke arah lemari pakaian, membukanya dan mengacak-ngacak pakaian yang ada di dalam lemari.


Wiwi menatap bingung. Kepalanya bergerak kiri dan kanan menatap pakaian yang Weva lempar keluar dari lemari.


"Lo cari apa, Wev?"

__ADS_1


"Sweater! Surat itu ada di dalam sweater yang Weva pakai waktu ke Korea," jawab Weva tanpa henti mengacak-acak isi lemari.


__ADS_2