
"Pegang tangan gue!"
Weva membulatkan matanya begitu sempurna seakan tak percaya dengan apa yang Ken tuturkan barusan. Apa ini serius atau hanyalah khayalan bodoh Weva saja?
Weva mendongak menatap Ken yang terlihat diam menatapnya.
Dek!!!
Weva menyentuh dadanya saat merasakan jantung langsung berdetak sangat keras. Apa ini serius? Oh Tuhan, seorang Ken menyuruh Weva untuk menyentuh tangan mulus itu?
"Woy!!!" teriak Ken membuat Weva tersentak kaget dengan kedua matanya yang langsung terpejam.
Yah, satu kesalahan Weva yakni dia lupa jika Ken tetaplah Ken, pria monyet pemanjat tower tangki air itu tidak akan berubah menjadi malaikat seperti apa yang ia pikirkan.
"Malah diem lagi lo, cepetan!" paksanya sambil mengerakkan jari-jari tangannya.
"Ke-ke-ken se-serius?" tanya Weva yang terbata-bata.
Ken tak menghiraukan lagi pertanyaan dari Weva dan tabla pikir panjang Ken dengan perlahan namun pasti langsung menggengam jari-jari tangan Weva begitu erat membuat Weva semakin terbelalak kaget.
Weva menundu menatap rongga jari-jari tangannya yang telah ditutup oleh jari-jari tangan Ken. Seketika detak jantung Weva kembali berdetak lebih cepat menimbulkan rasa yang begitu aneh pada dirinya.
Ini begitu aneh terlebih lagi rasanya terasa seakan-akan ada aliran listrik yang menyetrum tubuhnya begitu pelan namun, sangat terasa. Dada Weva terasa sesak di saat detak jantungnya mengendalikan tubuh gendutnya yang mulai gemetar.
Seumur hidup Weva, tak ada yang pernah mengenggam tangannya seperti ini oleh pria mana pun, lagi pula siapa yang ingin mengenggam tangannya seperti ini dan orang pertama yang melakukan hal itu adalah Ken.
Ken mengernyit bingung. Apa yang terjadi pada gadis gendut ini.
"Heh!" tegur Ken menyadarkan Weva dari diamnya yang tanpa sadar terus menatap jari-jarinya yang menyatu dengan jari-jari tangan Ken.
Weva mendongak menatap Ken. Dari bawah sini Weva bisa melihat wajah Ken dengan jelas. Lihat saja hindungnya yang begitu mancung dan-
"Ngapain lo ngeliatin gue kayak gitu?"
Weva seketika menunduk. Weva menyeringai kesal. Dasar bodoh, apa yang tejadi pada dirinya sehingga dengan mudah memuji pria pembully itu.
"Baper lo?"
"Hah?" kaget Weva yang kembali mendongak.
"Iya, lo baper, kan dipegang kayak gini sama gue?" tebak Ken lalu tertawa membuat ujung bibir Weva terangkat.
__ADS_1
"Baper? Enak aja, nggak, yah."
"Hem, alasan banget, sih lo. Bilang aja kali kalau lo itu baper karna tangan lo, gue pegang kayak gini, iya, kan?"
"Engga. Emang siapa juga, sih yang baper," jawab Weva cepat.
"Emmm, mana ada orang mau ngaku. Kalau lo baper, ya baper aja kali."
"Ihhh, apaan, sih? Weva, kan udah bilang kalau Weva itu nggak baper atau mungkin Ken kali yang baper sama Weva."
"Apa? Apa lo bilang?" tanya Ken berlagak tidak mendengar dan mendekatkan telinganya ke arah Weva yang hanya bisa memasang wajah sok datar.
"Gue baper sama lo?"
"Yah, mana tahu, kan," jawab Weva dengan santai.
"Idih, sotoy lo. Lo pikir gue bakalan baper sama cewek gendut kayak lo?"
"Bilang aja kali kalau emang Ken yang baper sama Weva!"
"Gue baper sama lo?" tanya Ken diiringi jari telunjuknya yang menunjuk wajahnya dan wajah Weva secara bergantian membuat Weva mengangguk.
"Terus ini apa?" tanya Weva mengangkat gengaman Ken di jari-jari tangannya.
"Heh, Eendut! Ini itu salah satu cara agar lo nggak kabur disaat gue lari dan kalau aja lo nggak kabur-kaburan kayak tadi , yah gue nggak bakalan kayak gini, ngerti lo?" jelas Ken lalu menarik tangan Weva membuat Weva tersentak.
"Aduh, kenapa, sih pakai tarik-tarik segala?"
"Ayo lari! Protes melulu lo dari tadi," oceh Ken lalu berlari sembari mengenggam tangan Weva yang masi merasa aneh dengan genggaman tangan ini.
Beberapa pasang mata kini menatap ke arah Weva dan Ken yang masih terus berlari sembari saling menggengam tangan begitu erat dengan wajah publik yang terlihat tercengang.
Beberapa gadis dengan pakaian ketat serta berwajah cantik yang tengah sibuk pemanasan di pinggir jalan nampak menganga dan tak lama mereka memperlihatkan ekspresi menangis karena mereka semua telah merasa telah terkalahkan oleh gadis bertubuh gendut dengan wajah pas-pasan yang di genggam begitu romantis oleh pria tampan dan bertubuh bugar.
Ini suatu penghinaan bagi mereka yang bisa dikatakan lebih sempurna dibandingkan gadis bertubuh gendut itu.
Weva yang masih berlari itu sesekali menatap jari-jari Ken yang masih mengenggam jari-jarinya begitu erat.
Ini aneh, sungguh aneh.
Weva menengadahkan wajahnya menatap Ken yang terlihat begitu serius menatap ke depan jalan tanpa pernah menatap ke arah Weva, hal ini sangat berbeda dengan apa yang Weva lakukan. Weva sesekali mendongak menatap wajah Ken yang terlihat tampan.
__ADS_1
Ada satu hal yang baru Weva sadari dari sosok Ken yang sangat menyebalkan itu yaitu Ken sangat tampan jika seperti ini. Hidung yang mancung, bulu mata yang terlihat lentik, bibir atas yang tipis dan bagian bawah yang terlihat tidak terlalu tebal serta berwarna pink segar.
Dia sempurna seakan tak memilki kekurangan dari segi wajah dan tubuhnya sedikit pun. Kedua mata Weva membulat. Ia langsung menyentuh kepalanya yang telah berpikir seperti itu.
Otak! Kenapa harus berpikir seperti itu. Stop memuji pria itu. Weva itu harus sadar kalau Ken itu telah menumpahkan bekal dan botol minumnya di depan semua orang. Tapi, Weva kembali mendongak menatap wajah Ken. Weva menghela nafas panjang, pria itu memang tampan.
"Hah, sadar, Wev! Jangan sampai Weva baper!"
"Ingat ini hanya sekedar kerja sama dan kesepakatan!"
"Ingat, Wev! Kamu berada di samping Ken hanya untuk Brilyan dan agar bisa ikut olimpiade tahun depan."
"Please! Jangan sampai baper!"
"Ingat Brilyan! Ingat!"
"Ingat!"
Ken yang sejak tadi berlari itu kini merasa aneh karena sejak tadi gadis gendut itu tak pernah bicara. Ia menunduk menatap Weva yang terlihat memejamkan kedua matanya dengan kedua alisnya yang terlihat bertaut serta bibirnya yang bergerak seakan sedang mengatakan sesuatu, tapi entahlah Ken juga tidak bisa mendengar apa yang Weva katakan.
"Lo kenapa?"
Weva membuka matanya dengan cepat dan mendongak menatap Ken yang baru saja bertanya sembari tertunduk tanpa menghentikan larinya.
"Kesurupan lo ngomong sendiri?"
"Enggak."
"Terus ngapain kayak gitu? Gila lo?"
"Enggak, Ken kali yang gila," bisik Weva di akhir kalimatnya. Sejujurnya ia tak mau jika Ken mendengar umpatannya dan membuat pria itu kembali mengoceh.
"Terus apa? Lo capek?"
"Enggak."
Ken tak menanggapi lagi mendengar ujaran weva membuat suasana kembali menjadi sunyi dan sepi, hanya ada suara ketukan sepatu di aspal yang menghentak bergantian.
Weva mendecapkan bibirnya kesal, Ini aneh. Rasanya ia bisa mati jika suasana sunyi ini terus berjalan menyelimuti Weva. Weva harus berbuat sesuatu.
__ADS_1