Princess Endut

Princess Endut
30. Beno


__ADS_3

Ini lumayan konyol.


Ken menggeleng setelah mendengar perkataan Bara yang baru saja ia katakan.


Penasaran dengan apa yang Bara katakan?


"Lo tenang aja gue juga suka ngebully dia, jadi lo tenang aja!" Itu yang Bara katakan tadi.


Ken menghentikan tawanya yang berangsur pelan itu. Ia terlihat tersenyum menatap Weva yang nampaknya belum menemukan sosok yang telah melemparnya tadi.


"Tapi-" Ujaran Ken terhenti. Ia menoleh menatap Bara yang nampak mengangkat sebelah alisnya saat Ken meliriknya.


Ken menatap dari ujung kaki sampai ujung rambut Bara.


"Kenapa? Lo nggak percaya atau lo pikir gue bohong?"


"Nggak! Nggak! Gue percaya, kok sama lo, ya cuman kayaknya lo sama dia bedah jauh kayak nggak ada mirip-miripnya gitu."


Mendengar hal itu membuat Bara tertawa. Ia merangkul Ken dan kembali berujar, "Gue cuman sepupu bukan saudara."


Ken tersenyum sinis. Ia menatap jari tangan Bara yang berada di bahunya sejenak lalu ia melirik kedua mata Bara dengan tatapan tajam.


"Gue ngerti," ujarnya lalu mendorong jari-jari tangan agar segera menyingkir dari bahunya.


Bara menghembuskan nafas berat. Sepertinya tak mudah berteman dengan Ken.


"Ya, sorry."


Bara tersenyum sambil mengangkat kedua tangannya seakan mengisyaratkan kepada Ken jika ia sudah tak menyentuh bahunya lagi.


"Tapi apa yang gue bilang bener, Ken. Si gendut itu punya Kakak-"


"Gendut juga?"


Bara menjentikkan jari tangan kananya.


"Nah, itu pasti yang ada di pikiran orang-orang kalau gue bahas tentang saudara dia."


"Maksud lo?"


"Saudara si gendut itu nggak gendut kayak dia. Wajah kakaknya si gendut itu bisa dikatakan di atas rata-rata dan dua juga nggak gendut seperti si gendut jelek itu."


"Ibarat besi yang diproduksi bersama, yang satu dibalut emas dan yang satu berkarat."


Ken kini terdiam, mimik wajahnya kini berangsur mendatar tanpa ekspresi. Ia melirik menatap Weva yang kini terlihat cemberut sambil bernyanyi.

__ADS_1


Entah apa masalah gadis itu hingga terlihat sedih.


Ken menghela nafas berusaha untuk membuang jauh-jauh pikirannya yang baru saja memikirkan sosok Weva.


Memangnya apa pedulinya Ken pada sosok gadis yang memanglah diciptakan untuk sedih. Bagi Ken gadis semacam ini adalah sasaran empuknya dalam membully. Ya, hitung-hitung untuk menghibur diri.


...****************...


Jam istirahat dimulai ketika bel SMA Cendrawasih Internasional School dibunyikan dan hal itu telah menandakan jika pelajaran telah berakhir. Ini waktu yang begitu sangat dinantikan oleh siswa dan siswi yang sudah kelaparan tingkat akut hingga beberapa dari mereka ada yang berlari ke gedung kantin berlantai 3 itu untuk mengisi lambung mereka yang telah kelaparan dan minta jatah.


Wiwi memasukkan beberapa buku ke kolom mejanya dan tak berselang lama dahi Wiwi mengkerut heran. Rasanya ada yang mengganjal. Dengan hati-hati serta rasa penasarannya ia mengeluarkan sesuatu dari kolom mejanya.


"Hah, apaan, nih?" tanya Wiwi yang menatap kaget pada bunga mawar plastik yang ada di tangan kanannya.


Entah siapa yang telah meletakkan bunga plastik ini ke dalam kolom mejanya.


"Bunga apaan, nih?"


Wiwi menoleh ke kiri dan kanan lalu tak berselang lama ia mendekatkan bunga itu ke arah hidungnya.


"Em," kagetnya yang langsung mejauhkan bunga itu dari hidungnya yang mengernyit.


"Dasar gembel," umpat Wiwi yang langsung menoleh menatap Beno, si pria tunawicara itu.


Sontak hal itu membuat Beno tersentak kaget dan dengan cepat ia mengangkat tinggi buku catatannya untuk menutupi wajahnya.


"Heh, Beno!!!" teriak Wiwi yang langsung melangkan ke arah Beno.


"Beno!!!" teriak Wiwi namun, Beno nampaknya berpura-pura membaca tulisan yang ada di lembaran bukunya.


"Eh, Beno!!!" teriak Wiwi lagi namun kali ini ia nampak memukul meja dengan keras membuat Beno tersentak kaget dan hal itu membuat buku itu terjatuh ke atas meja.


Beno tersenyum memperlihatkan gigi putihnya yang tersusun rapi. Ia mendorong pelan kaca mata bulatnya dan kembali tersenyum malu.


"Eh, Beno. Lo, kan yang naro sampah ini di bawa kolom meja gue?!!" teriak Wiwi sambil menunjukkan bunga plastik itu ke arah Beno yang kini malah tersenyum.


"Gila lo. Gue nggak lagi ngelawak, ngapain lo ketawa?"


"Wi, Beno, kan nggak bisa denger," ujar Weva membuat Wiwi menoleh.


Benar juga. Mengapa Wiwi sampai lupa dengan hal itu. Wiwi menoleh menatap Beno yang terlihat nyaris menyentuh rambutnya namun dengan cepat ia menurungkan jari tangannya.


Wiwi meraih buku yang ada di atas meja milik Beno dan menulis sesuatu di atas kertas itu.


Ngapain lo naruh sampah di bawa kolom meja gue?

__ADS_1


"Hem, baca!" ujar Wiwi yang langsung mengarahkan buku itu ke hadapan wajah Beno.


Beno mendorong kaca matanya itu lalu meraih buku yang Wiwi pegang. Setelah membacanya Beno langsung mendongak menatap Wiwi.


Beno menggeleng sambil mengeluarkan suara yang tak jelas.


Dahi Wiwi mengkerut. Ia tak mengerti dengan apa yang Beno katakan terlebih lagi saat Beno memberikan bahasa isyarat.


"Lo ngomong apaan, sih?"


"Eeeeeh, uuuuuh."


"Apa, sih?"


Bono kembali menggerakkan tubuhnya berusaha memberikan bahasa isyarat.


"Gue nggak ngerti," ujar Wiwi sambil mengerakkan bibirnya dengan pelan.


Beno kini terdiam. Ia nampak berpikir sejenak lalu tak berselang lama ia meraih pulpen dan menulis sesuatu ke atas kertas itu dan mengarahkan ke arah Wiwi.


Ini bukan sampai, ini bunga untuk Wiwi.


Wiwi menghela nafas. Dengan cepat ia meraih kertas itu dan menulis sesuatu di atas sana.


"Nih, lo baca!"


Gue nggak butuh bunga!!!


Kedua bibir Beno terbuka lalu dengan cepat ia mendongak menatap Wiwi yang nampak mengangguk.


"Lo udah baca, kan? Ingat jangan ngasih gue bunga lagi, ingat itu!" Tunjuk Wiwi lalu segera melangkah meninggalkan Beno yang terlihat menggaruk kepalanya.


"Kantin yuk, Wev!" ajak Wiwi sembari menatap Weva yang masih sibuk membereskan bukunya ke dalam tas setelah sejak tadi Wiwi berperan dengan Beno tadi


"Nggak, ah, Wi," tolak Weva dengan nada lembutnya.


"Loh kenapa?"


"Wiwi lupa? Hari ini, kan ada tes soal yang bakalan ikut olimpiade matematika," ujarnya mengingatkan.


Wiwi mengangguk ingat. Sahabatnya itu memang tak pernah menyerah, padahal tahun lalu Weva sudah ditolak untuk ikut olimpiade, padahal, kan sebenarnya Weva cukup cerdas dalam bidang tersebut, tapi entah mengapa pihak sekolah selalu menolak untuk mengikut sertakan Weva.


"Wah lo harus semangat, Wev!" ujar Wiwi sembari mengenggam bahu Weva dengan tatapan semangat 45.


"Lo harus tunjukin kalau lo itu pantas buat ikut olimpiade ini, bukan si Fhina yang pantes tapi lo."

__ADS_1


Weva tertawa dengan raut wajahnya yang begitu bahagia mendengar kalimat penyemangat dari sahabatnya itu.


...  ...


__ADS_2