
Ganggu Tahap 1
Jam pelajaran dimulai, dimana semua siswa dan siswi telah berada di dalam kelas masing-masing terutama Ken yang kini telah berada di kursinya.
Wiwi dan Weva menatap serius seperti detektif. Sudah sejak tadi ia memata-matai Ken.
"Ini saatnya, Wev!" bisik Wiwi.
"Wiwi yakin?" tanya Weva yang begitu gelisah.
Wiwi melirik tajam.
"Gue yakin lah. Udah sekarang lo ke sana dan jalankan rencana tahap satu yaitu ganggu si Ken!" jelas Wiwi begitu semangat di bahu membuat Weva tersentak.
Seketika Weva tersenyum lalu segera meraih tas dan berlari ke arah Ken dan segera duduk di kursi Bara. Yah nampaknya ada manfaat di balik Bara masuk penjara yaitu adalah kursi yang kosong jadi, Weva bisa menempati kursi ini sementara untuk menganggu ken dan membuatnya mau membantu Weva.
Ini termasuk dari rencana Wiwi!
Wiwi yang melihat Weva yang langsung berlari itu langsung menatap telapak tangannya. Sepertinya ada kekuatan di telapak tangannya sehingga Weva bisa bergerak dengan cepat.
Weva yang kini telah duduk di samping Ken itu terlihat tersenyum kaku. Ia menatap Wiwi sejenak yang terlihat mengangkat jempol seakan berusaha untuk memberitahu Weva, jika yang ia lakukan sudah benar dan tak berselang lama Weva kembali menatap ke arah Ken.
"Ha-hai Ken!" sapa Weva yang kini menopang dagunya sembari menatap Ken yang langsung menoleh dengan kedua mata yang belalak kaget.
"Ngapain lo di sini?" tanya Ken cepat dengan wajah kesal dan kagetnya.
"Yah yang seperti Ken lihat. Emang Weva lagi ngapain?"
"Duduk," jawab Ken polos.
"Nah, itu Ken tahu, kok masih nanya, sih?"
Weva tersenyum cengengesan sementara wajah Ken datar.
"Tempat duduk lo, kan di sana terus kenapa lo duduk di sini?"
"Keeeeen, Weva, kan udah bilang kalau selama Ken nggak mau bantuin Weva buat nurunin berat badan Weva maka selama itu juga Weva bakalan gangguin Ken.'
"Weva bakalan gangguin Ken dan ngikutin Ken dimana pun Ken pergi," jelasnya dengan nada lembut.
Ken menganga tak menyangka. Apa gadis gendut ini sehat?
"Gue nggak perduli. Sana lo!"
"Sana kemana?"
"Pulang ke kursi lo! Malah nanya lagi." Tunjuknya kesal.
"Okay, Weva bakalan pindah, tapi Ken mau kan bantuin Weva biar Weva langsing?"
"Nggak!" jawab Ken cepat.
"Yah, udah Weva nggak mau pindah," putus Weva Sembari melipat kedua tangannya di depan dada.
Ken menggerutu kesal. Gadis gendut ini sepertinya benar-benar akan mengganggunya. Ini baru berjalan beberapa menit, tapi jujur saja Ken merasa jika kepalanya akan meledak.
"Pulang nggak lo ke kursi lo! Se-ka-rang!" suruh dan tunjuk Ken lagi ke arah depan.
Weva melirik menatap ke arah kursi guru. Weva kembali menatap Ken.
__ADS_1
"Tapi kursi Weva ada di sana," ujar Weva yang kini mengarahkan jari telunjuknya ke arah kursinya dimana masih ada Wiwi di sana.
"Ah, terserah pokoknya lo balik ke kursi lo!"
"Nggak mau," jawab Weva kekeh.
"Pulang lo!" Dorong Ken dengan pelan namun, tak berhasil membuat tubuh gendut Weva bergerak.
Weva hanya tersenyum lalu segera mengeluarkan buku dan perlengkapan belajarnya dari tas.
Ken terkejut. Sepertinya gadis gendut ini sedang menguji kesabarannya.
"Eh, lo mau ngapain?" tanya Ken.
"Belajar lah."
"Terus kenapa belajar di sini? Sana lo belajar di tempat duduk lo yang benar!"
"Keeeeen, Weva itu udah bilang kalau selama Ken nggak mau bantuin Weva, selama itu juga kursi ini punya Weva!" jelasnya lagi tetap dengan nada lembut dan terlihat tenang walau sebenarnya Weva sudah menangis di dalam hati.
Ken menggerutu kesal dengan hal ini.
"Kembali ke kursi lo!" Tunjuk Ken dengan tatapan tajam.
"Nggak."
"Kembali ke kursi Lo !".
"Nggak, Weva nggak mau!"
"Pulang nggak lo!!!"
"Pulang?"
"Nggak boleh pulang. Ini, kan masih jam pelajaran, Ken belum waktunya pulang, mau dimarahin sama pak Soko, yah?"
Ken menggerutu kesal dengan ocehan Weva bahkan ia telah menyeret nama penjaga keamanan sekolah ini.
"Maksud gue lo pulang ke kursi lo!"
"Nggak mau," kekeh Weva.
"Pulang nggak lo!"
"Nggak mau."
"Pulang! Kalau gue bilang pulang, ya pulang!"
"Nggak! Kalau Weva bilang enggak, yah enggak!"
"Lo keras kepala banget, sih. Pulang nggak lo!"
"Nggak mau! Weva bakalan di sini sampai Ken mau bantuin Weva."
Ken mengigit bibir lalu mengerang dengan tangannya yang nampak siap menjambak wajah Weva yang nampak malah tersenyum.
"Terserah," pasrah Ken lalu beralih menatap ke arah papan tulis.
Ken sudah pusing untuk meladeni gadis gendut yang keras kepala seperti Weva.
__ADS_1
Weva tersenyum lalu menyalin apa yang guru itu tulis di papan tulis.
Seiring waktu yang berjalan membuat suasana kelas mejadi sunyi, yah, termasuk juga Ken dan Weva yang tak berdebat lagi.
Weva menoleh menatap Wiwi yang kini berbisik di sana dengan wajah hasutnya.
"Ganggu!" bisiknya.
Weva mengangguk paham lalu dengan cepat kembali membaringkan tangannya yang menopang kepalanya menatap Ken yang nampam sibuk menulis.
Ken sesekali melirik menatap tatapan Weva yang membuatnya terusik.
"Ngapain lo ngeliatin gue?" tanya Ken ketus.
"Cuman liat aja, mana tahu Ken udah berubah pikiran dan mau bantuin Weva."
Ken tersenyum sinis lalu menggeleng.
"Eh, gendut!" Tunjuk Ken ke arah dahi Weva menggunakan pulpennya.
"Lo dengar ini baik-baik! Gue nggak akan pernah bantuin lo dan nggak akan pernah berubah pikiran," ujar Ken dengan nada tertekan.
Bukan malah cemberut kini Weva malah tersenyum lebar.
"Yah, udah, berarti Ken mau digangguin sama Weva."
"Eh, gendut! Gue nggak pernah ngarep, yah digangguin sama lo."
"Yah, udah lah, Ken. Ken mau aja, dong bantuin Weva, yah?"
"Nggak!"
"Terserah! Weva bakalan usahain Ken mau bantuin Weva biar weva jadi langsing!" kekeh Weva pantang menyerah.
"Ok, kita liat aja siapa yang bisa bertahan. Lo atau gue," ujar Ken membuat Weva tersenyum.
Ken mendengus kesal lalu kembali sibuk dengan pulpennya yang masih sibuk menyalin tulisan di papan tulis.
Weva mempalingkan wajahnya dari ken. Weva menghembuskan nafas berat, rasanya berbicara dengan Ken itu sangat melelahkan bahkan jantungnya sangat berdetak sangat cepat, untung saja Ken tak menyadari jika kakinya sedari tadi bergetar karena takut.
Weva kembali menatap Ken dan tersenyum manis di sana.
"Lama banget, sih nulisnya."
Ken hanya terdiam dan tak peduli pada komentar Weva membuatnya terus menyalin isi papan tulis itu.
Weva mengetuk-ngetuk permukaan meja sambil menatap Ken.
"Weva udah selesai loh."
Ken masih terdiam, tak menanggapi Weva.
"Mau Weva bantuin nggak?"
Ken tetap terdiam walau sebenarnya Ken akui jika ia mampu mendengar tawaran Weva.
"Capek lo kalau nulis banyak."
"Mau nggak Weva bantuin? Weva bantuin yah?" tanya Weva sembari menarik ujung buku ken.
__ADS_1
Ken yang tak tahan itu langsung menghempaskan tangannya bersama dengan pulpen yang ia gunakan.
"Lo apa-apaan, sih?" kesal Ken sembari menahan buku dengan telapak tangannya.