Princess Endut

Princess Endut
Bab 156. Menyendiri


__ADS_3

Perpustakaan


Brilyan terpatung duduk di kursi meja baca perpustakaan sembari menatap sebuah kursi yang ada di depannya, berjarak beberapa meter. Brilyan sangat ingat dengan kursi itu, kursi yang selalu Weva duduki dan menatapnya dari kejauhan. Jujur Brilyan selalu melihat hal tersebut.


Bukan hanya itu, Brilyan juga diam-diam sering melihat Weva bersembunyi di balik rak buku perpustakaan dan mengira jika Brilyan tak melihatnya padahal Brilyan melihat semuanya dengan jelas.


Kini sekarang setelah kepergian Weva, rasanya sangat sunyi. Tak ada lagi gadis gendut yang mengikutinya dan mengintipnya dengan diam-diam


Tak ada lagi gadis gendut yang setiap pagi membawakan kotak bekal berisi nasi goreng dengan sehelai kertas bertuliskan ungkapan isi hatinya.


Tak ada lagi gadis gendut yang tanpa sengaja selalu menabraknya dengan keras bahkan pernah membuatnya terhempas ke lantai.


Brilyan masih ingat semua itu, bahkan mungkin ia tak akan pernah lupa pada sosok gadis sepertinya.


Ia tak mengerti mengapa ada sosok gadis seperti Weva yang punya tekad dan kesabaran yang tinggi. Jujur saja selama ini ada banyak orang yang mengejarnya akan tetapi tak ada yang seperti Weva.


Brilyan bangkit dari kursinya lalu melangkah menuju ruangan kelasnya yang terdengar berisik. Brilyan sangat heran dengan mereka semua, entah mengapa mereka bisa tertawa lepas seperti ini sedangkan ia tak dapat melakukannya.


Brilyan memilih untuk duduk di kursi dan meraih kotak bekal milik Weva yang berada dihimpitan puluhan coklat dan bunga yang diberikan oleh penggemarnya di sekolah ini.


Brilyan membuka kotak bekal itu tapi tak menemukan kalimat I love you seperti apa yang selalu ia dapati di sana. Brilyan membelai permukaan penutup bekal itu dan tersenyum tipis. Entah apa yang membuatnya tersenyum, tapi rasanya ia senang mendapat lagi bekal dari gadis gendut itu.   


...****************...


Pak Walio membuka pintu mobil membuat seekor anjing pitbull bernama Bobo itu berlari keluar.  Pak Walio berusaha mengejar untuk meraih kalung Bobo, namun Bobo berlari ke arah Ken yang berada di teras rumah. Ken tersenyum saat Bobo berlari mengelilingi kakinya.


"Terima kasih, yah, Pak."


Pak Walio mengangguk.


Ken berlutut dan mengelus bulu lembut bobo sembari tersenyum.


"Jadi ini yang namanya Bobo."


Ken mengelus kepala Bobo membuat elusan tangannya itu terhenti lalu turun menyentuh permukaan kalung Bobo dan menemukan tulisan di sana, yaitu Bobo milik Weva.


Ken tersenyum lagi ketika hal ini kembali mengingatkannya mengenai Weva, mungkin dengan kehadiran Bobo di sini ia juga bisa merasakan kehadiran Weva setelah kepergiannya.


"Ehem, Tuan Ken."    


Ken menoleh menatap pak Walio yang terlihat sedih.


"Kenapa?"


   


"Mungkin beta juga mau pamit, karena beta mau pulang kampung ke Papua," jelasnya.


"Kenapa?"

__ADS_1


"Yah, percuma juga beta tetap tinggal di Jakarta, toh tugas saya hanya sebagai supir pribadi nona Weva kalau tidak ada nona Weva terus saya mau antar siapa?"  


Ken mengangguk dan menepuk bahu pak Walio berusaha untuk menenangkannya. Ken tahu pria Papua ini pasti sedih.


Semenit kemudian mobil hitam dilajukan oleh pak Walio terlihat menjauh membuat Ken terdiam dan duduk di pinggir teras anakan tangga. Tempat di mana ia selalu serta Weva yang selalu duduk di sebelahnya sambil mengeluh lelah. 


Ken tersenyum lalu tanpa sadar ia menatap Bobo yang kini sedang mengadu gonggongan keras bersama Pinky. Keduanya saling menggonggong seakan siap untuk bertarung.


Ken berlari dan mengendong Bobo sebelum keduanya benar-benar berkelahi.


"Lo tuh, yah anjing sama yang punya sama aja. Nggak pernah bisa akur."


"Masa gue sama Weva suka berantem terus lo juga sebagai anjing malah suka berantem, heran gue," oceh Ken lalu membawa Bobo masuk ke dalam rumah. 


 


...****************...


Ken berlari kecil berusaha untuk menghindari kejaran Bobo yang menggonggong. Ken sesekali tertawa sembari menghindari kejaran Bobo yang kini diajaknya bermain.


Ken merebahkan tubuhnya ke lantai membuat Bobo menaiki tubuh Ken dan melompat-lompat penuh kebahagiaan. Ken meringis walau ia sepenuhnya tak merasakan sakit apa-apa membuat tawanya tercipta.


"Keken!" panggil pak Ahmad sembari memperlihatkan separuh tubuhnya di pintu masuk yang sedikit terbuka.


"Iya, pak?" sahutnya dengan wajah bertanya sembari bangkit dari lantai.  


"Temani Bapak, yuk!"


"Ke sekolah. Bapak lupa ambil dompet Bapak."


Ken menghentikan gerakan tangannya yang mengusap lembut kepala Bobo lalu menoleh menatap pak Ahmad yang masih menantinya.


Cendrawasih Internasional School.


Ken melangkah turun dari mobil yang ia kendalikan. Satu hal mengapa pak Ahmad mengajak Ken, itu karena pak Ahmad sangatlah malas mengendarai mobil.


"Bapak masuk dulu, yah. Nggak lama, kok," ujar pak Ahmad lalu melangkah masuk ke dalam ruangan kantor tanpa menunggu jawaban dari putranya.


Ken hanya mengangguk dan mengigit-gigit bibirnya sembari menatap bangunan sekolah yang terlihat sangat besar dan sunyi.


Ken seketika menghentikan langkahnya yang mondar-mandir tak jelas itu mengingatkannya pada satu hal.


Weva!


Tak lama Ken berlari kencang melewati beberapa pintu-pintu kelas yang berjejer rapi pada koridor.


Nafas Ken terengah-engah dengan nafasnya yang kini diatur sedemikian rupa untuk melajukan setiap langkah cepatnya.


Ken menghentikan larinya ketika jari-jari tangannya berhasil menggapai besi tangki air. Ken menelan ludahnya dengan paksa melewati tenggorokannya yang mengering serta mulutnya yang menganga.

__ADS_1


Ken mendongak menatap ke atas tangki air dan segera memanjat membuat kakinya mempijak pada permukaan besi serta tangannya yang berpegangan kuat.


Ken menghentikan pijakannya ketika tangannya sudah berada di permukaan papan papan.


"Tinggal selangkah lagi," bisik Ken.


Ken mengigit bibir berusaha untuk memanjat. Entah mengapa saat ini Ken merasa lemas seakan tak ada rasa semangat pada dirinya.


"Pegang tangan Weva!"


Suara Weva terdengar membuat Ken mendongak menatap Weva yang terlihat berdiri di depannya sambil menjulurkan jati-jari mungil tangannya.


"Weva?"


"Nanti Ken jatuh," ujar Weva lagi.


"Kok, lo ada di sini?"


Weva tak menjawab pertanyaan Ken yang kini terlihat keheranan, Ia hanya diam sambil memberikan senyumnya yang begitu tulus.


"Ayo, pegang tangan Weva!"


Ken Menatap heran tapi ia mulai mengerakkan jari-jarinya dan mulai mendekatkan ujung  jari-jarinya itu ke jari-jari Weva yang terjulur.


Ken membulatkan kedua matanya ketika jari-jari tangannya berhasil menembus jari-jari tangan Weva.


"Weva?"


Ken mendongak menatap wajah Weva yang kini memudar dan hilang dari padangannya. Ken dengan cepat menaikkan tubuhnya ke permukaan papan dan menoleh menatap ke seluruh arah berusaha untuk mencari sosok Weva.


"Weva!!!" teriak Ken.


Ken kembali menatap ke segala arah dengan wajah paniknya yang berharap mendapati sosok Weva seperti apa yang tadi ia lihat.


"Weva!!!!"


"Lo sembunyi dimana?!!"


"Weva!!!"


"Gue tadi jelas-jelas ngeliat lo, yah!"


"Woy, gendut!!!"


"Weva!!!!"


Ken menghempaskan tubuhnya ke permukaan papan dengan perasaan lelahnya.


Sosok Weva hanya khayalan.  

__ADS_1


Dia benar-benar pergi meninggalkannya. Jadi yang ia lihat adalah sebuah ilusi semata. Sesedih itu kah dirinya hingga harus berangan seperti itu.


__ADS_2