
Sambungan terputus meninggalkan tubuh Ken yang terlihat kaku. Jemari tangannya masih memegang handphone yang masih ia letakkan di pipinya. Wajahnya terlihat datar seakan tak ada gambaran wajah ceria Ken yang selalu ada pada sosok Ken.
...***...
Weva kembali memasukkan handphonenya ke dalam saku celana dan tersenyum senang seraya meraih gaun hitam yang kembali ia dekatkan pada tubuhnya. Ia mengelus gaun hitam panjang itu sambil berdiri di depan cermin.
"Non!"
Weva menoleh menatap Mbok Rosi yang sedang memegang beberapa lipatan pakaian. Weva kenal dengan pakaian itu. Semuanya adalah pakaian yang selalu ia gunakan saat tubuhnya masih gendut.
"Non, ini baju-baju yang besar, Mbok apakan, ya Non?"
Weva meletakkan gaun hitam itu ke atas kasur lalu melangkah mendekati Mbok Rosi. Weva menyentuh switer yang ia gunakan saat berangkat ke Korea lalu ia tersenyum kecil. Sweter ini sudah sangat kebesaran ditubuhnya.
"Mbok!"
"Iya, Non?"
"Sweter dan baju Weva yang lain di bawa ke panti asuhan aja, ya!"
"Panti asuhan, Non?"
"Iya mana tau ada yang butuh."
Mbok Rosi mengangguk. "Ya, udah Non. Besok Mbok bawa ke panti asuhan tapi untuk sementara Mbok simpan di lemari, ya Non."
Weva mengangguk. Ia kembali meraih gaun hitam panjang sementara Mbok Rosi melangkah ke lemari pakaian. Membuka lemari itu dan memasukkannya ke dalam lemari.
...***...
Weva mempoles bibirnya yang mungil itu dengan lipstick berwarna merah jambu lalu meletakkannya ke atas meja rias. Weva tersenyum menatap wajah cantiknya yang dipoles make up hingga membuat wajahnya yang telah cantik itu semakin bertambah cantik.
Weva meraih handphonenya, menekannya beberapa kali untuk mengirim pesan kepada A-Yeong jika malam ini ia akan pergi ke restoran dan makan malam bersama Brilyan.
Setelahnya Weva bangkit dari kursi. Ia merapikan rambutnya yang telah ditata dengan sebaik-baiknya itu ke belakang.
Weva menarik nafas panjang dan menghembuskannya dengan pelan. Malam ini ia sangat gugup. Akhirnya ia bisa makan malam berdua bersama cinta masa kecilnya. Pria kecil yang telah menolongnya dari bullyyan anak kecil sebayanya.
"Semoga malam ini berjalan lancar. Weva harus tenang!"
Weva kembali mengusap gaun hitam yang telah melekat pada tubuhnya hingga ia meraih handphone dan melangkah keluar dari ruangan kamar.
...****...
__ADS_1
Weva melangkah turun dari mobil yang dikemudikan oleh pak Walio setelah memerintahkannya untuk berhenti.
"Pulangnya jam berapa, Nona? Atau mau beta tunggu?"
"Nggak usah, pak nanti Weva chat."
Pak Walio mengangguk. Setelahnya ia melajukan mobilnya dan membunyikan klakson mobil meninggalkan Weva di siring jalan tepat depan restoran yang telah ditentukan oleh Brilyan pada pesan singkatnya.
Weva menoleh kiri dan kanan berusaha untuk mencari sosok Brilyan sambil melangkah masuk ke dalam restoran yang begitu sunyi, tak ada orang di sini.
Suasana restoran terlihat sunyi seakan tak ada kehidupan di restoran. Lampu di dalam restoran ini juga terlihat redup.
"Ini bener nggak, sih tempatnya? Kok, nggak ada orang?"
Weva terdiam sejenak.
"Apa Brilyan nggak jadi makan malamnya?"
Weva menghembuskan nafas berat. Ia memejamkan kedua matanya dengan erat. Rasanya ia terlihat sangat bodoh sekarang.
Weva meraih handphonenya berniat untuk menghubungi Brilyan tapi kedua mata Weva membulat terkejut setelah lampu yang redup itu mati membuat suasana resotan menjadi gelap gulita.
Weva menelan salivanya. Tubuhnya seketika mendingin karena takut. Apa yang terjadi pada resotan ini?
Wajahnya terlihat gelisah. Ia menoleh ke segala arah tapi tetap saja tak ada cahaya pun yang terlihat. Weva membalikkan badannya, ia tak ingin berlama-lama di tempat ini.
Langkah Weva terhenti. Ia terkejut menatap lampu yang berada di langit-langit menyala cukup terang hingga sebuah tulisan di lingkari bunga mawar terlihat.
"Lihat ke belakang?" ujar Weva kebingungan sambil membaca tulisan yang tertera di sana.
Weva berbalik badan membuat bibirnya terbuka tak menyangka menatap sosok Brilyan yang terlihat berdiri di depan meja yang dihiasi oleh lilin putih serta ribuan kelopak bunga mawar.
"Brilyan?" bisik Weva.
Weva benar-benar tak menyangka jika pria yang sedang tersenyum di sana adalah Brilyan. Pria pendiam yang selama ini ia kejar dengan usaha yang tak perlu diragukan lagi.
Brilyan melangkah mendekati Weva yang masih terdiam bingung. Ia belum mengerti dengan suasana saat ini.
Pria itu terlihat tampan dengan jas hitamnya. Sekarang Weva sadar mengapa Brilyan menyuruhnya menggunakan gaun hitam, itu semua agar mereka terlihat serasi seperti apa yang terjadi sekarang.
"Hai! Selamat datang," ujar Brilyan yang telah tiba di depan Weva yang masih mematung.
Brilyan melambaikan tangannya di depan Weva membuat Weva tersadar dari lamunannya.
__ADS_1
"Kamu mikirin apa?"
"Ah? Nggak ada. Cuman tadi Weva pikir restorannya tutup soalnya tadi Weva lihat nggak ada orang," jelas Weva gugup.
Brilyan tersenyum. Ia tertunduk sejenak lalu kembali menatap Weva.
"Aku sengaja soalnya aku mau kasih kejutan."
"Ke-kejutan?"
Brilyan mengangguk. Ia menjulurkan tangannya ke arah Weva yang dibuat menunduk menatap jemari tangan Brilyan yang terulur untuknya.
Weva tersenyum lebar. Ia meletakkan jemari tangannya di atas telapak tangan Brilyan yang tak berselang lama menuntunnya ke arah meja.
Brilyan menarik kursi membiarkan Weva duduk di sana. Weva tersenyum kecil tak menyangka. Benar, Weva tak menyangka jika pria yang selama ini begitu dingin bisa bersikap romantis seperti apa yang Brilyan lakukan sekarang.
Brilyan ikut duduk di hadapan Weva yang langsung tertawa kecil.
"Oky, sekarang apa lagi?"
Brilyan terdiam sejenak. Kedua matanya melirik menatap ke arah kanan yang begitu gelap membuat Weva ikut menatap ke arah mana Brilyan melihat hingga tak berselang lama Brilyan menepuk kedua tangannya membuat lampu di sana menyala.
Weva menutup mulutnya dengan jemari tangannya yang tak menyangka setelah melihat tim pemain musik berseragam hitam kompak berada di sana sambil memainkan alat musik menghasilkan musik yang begitu lembut dan romantis.
"Waw," kagum Weva.
Ia menatap Brilyan yang entah sejak kapan sedang menatapnya.
"I-i-ini-"
"Iya, ini untuk kamu biar makan malam kita makin romantis," potong Brilyan menjelaskan.
Udara dari mulut Weva berhasil lolos. Ia masih tak menyangka dengan kejutan ini. Ia pikir di ruangan ini hanya ada dia dan Brilyan tapi ada tim musik yang saat ini masih memainkan musiknya.
"Hem, masih ada lagi."
"Ma-masih ada?"
Brilyan mengangguk lalu ia kembali menepuk kedua belah tangannya membuat Weva menoleh setelah mendengar suara langkah seseorang yang mendekat.
Seorang pelayan restoran berbaju hitam putih itu meletakkan beberapa makan dan minuman di meja lalu setelahnya ia melangkah pergi.
Kedua bibir Weva terbuka. Kali ini ia tak tau harus berkata apa lagi kepada Brilyan.
__ADS_1
"Em, ini juga kejutannya?"