
Brilyan menghela nafas lelah, lelah dengan semuanya. Ini sudah puluhan garis yang ia goreskan pada lembar buku menggambarnya namun, tak ada satu pun yang berhasil membuat Salsa, wanita yang kini menjadi guru pembimbing menggambarnya puas dengan hasilnya.
Harus dia apakan kertas ini agar bisa menjadi gambar yang Salsa itu mau.
Kini jam telah menunjukan pukul sembilan malam membuat Brilyan sesekali menguap lebar karena mengantuk dan sesekali pula ia mengusap punggung matanya yang telah lelah untuk menatap kertas itu.
Brilyan meletakkan pensil hitam itu ke atas meja ketika gambarnya telah selesai ia buat lalu memperlihatkannya ke arah Salsa yang terlihat sibuk main handphone.
Salsa menatap sejenak lalu menggeleng menandakan jika ia tak suka dengan hasil gambar Brilyan. Wajah tampan Brilyan seketika menjadi murung membuatnya melempar pelan kertas gambarnya ke lantai dimana ada banyak kertas di sana yang telah ia gambar sejak sore tadi.
Ini sungguh sangat melelahkan.
"Saya istirahat sebentar," ujar Brilyan lalu menghela nafas dan merentangkan tubuhnya yang sudah sangat pegal itu ke atas sofa.
"Ya, waktu kamu tidak banyak untuk istirahat."
Brikyanya hanya mengangguk lalu meraih handphone yang berada di sampingnya dan baru saja ia menyalakannya dengan tiba-tiba handphone itu di rampas oleh Johan secara kasar membuat pria yang sudah lelah itu tersentak kaget.
"Papa nyuruh kamu belajar bukan main handphone!" ujarnya begitu sadis. Ia menatap Brilyan seakan ia benar-benar kesal kepada Brilyan.
Brilyan tertunduk pasrah, percuma jika ia membela diri ujung-ujugnya ia akan tetap di marahi oleh Johan. Menghadapi orang seperti Johan tak akan pernah menang. Johan punya banyak omongan panjang lebar yang selalu berhasil membuat Brilyan bungkam.
"Papa nggak nyuruh kamu main handphone!!!"
"Brilyan tidak main handphone, Pa. Brilyan cuman-"
"Cuman apa?!! Papa nggak mau dengar alasan dari kamu!!!"
"Kamu tahu, kan kamu itu harus bisa ngegambar."
"Kamu itu anak satu-satu Papa yang harus bisa jadi kebanggaan Papa!!!" Tunjuk Johan menghakimi.
"Kamu harus bisa jadi sesuatu yang lebih buat Papa!!!"
"Kamu jangan buat Papa malu!!!"
"Kamu harus bisa jadi sesuatu yang bisa Papa banggakan di depan teman-teman Papa!!!"
"Kamu harus ingat itu!!!"
__ADS_1
Johan melangkah keluar dari kamar dengan membawa handphone Brilyan yang ia rampas tadi.
Suasana kini menjadi sunyi menyisahkan Brilyan dan Laila yang nampak terlihat syok melihat kejadian tadi.
Yah, sepertinya Salsa juga tidak menyangka jika pria yang telah menyuruhnya untuk mengajar pria pendiam ini adalah pria yang begitu kasar.
Brilyan melirik menatap Salsa yang kini sedang menatapnya. Brilyan hanya menatapnya sejenak, tidak bicara atau bahkan tersenyum. Brilyan bahkan merasa malu setelah dimarahi oleh Johan di hadapan orang asing.
Brilyan duduk ke lantai dan kembali memegang pensil yang sejak tadi ia gunakan sampai pegal tangannya.
"Apa dia Papa kamu?" tanya Salsa dengan hati-hati.
"Iya," jawab Brilyan.
Salsa mengangguk. Ia mengetuk-ngetuk permukaan meja sambil menatap ke arah pintu berusaha memastikan jika tidak ada Johan di luar sana.
"Apa dia memang seperti itu?"
Gerakan tangan Brilyan terhenti. Ia tak menjawab pertanyaan dari Salsa dan kembali melanjutkan kegiatan menggambarnya.
"Ah, maaf kalau kamu tersinggung, tapi pria itu sepertinya tidak cocok menjadi Papa kamu."
"Dia pria yang kasar dan suka sekali menuntut. Memangnya dia pikir menggambar itu gampang. Orang yang latihan menggambar saja belum tentu bisa kalau memang awalnya tidak punya bakat."
Brilyan hanya bisa terdiam membuat kedua matanya melirik menatap sebuah foto wanita yang nampak memperlihatkan senyum indahnya. Wanita berparas keibuan itu adalah ibunya yang telah meninggal ketika umur Brliyan memasuki 11 tahun.
Sejak Ibu brilyan meninggal Johan selalu menuntutnya untuk menjadi lebih dalam segala hal dan suka sekali menuntun tanpa memikirkannya lebih dulu.
Johan seakan tidak mau tahu apakah Brilyan bisa atau tidak dalam sebuah bidang yang Johan ingingkan adalah Brilyan bisa semuanya.
Awalnya Johan merupakan Papa yang begitu perhatian untuk Brilyan tapi, ketika mengetahui kedua orang tua dari ibu Brilyan ingin mengambil hak asuh Brilyan maka Johan membantah dan berjanji jika ia bisa menjaga dan merawat Brilyan sehingga itu sebabnya Johan selalu menuntut Brilyan untuk selalu belajar dan meraih semua gelar juara dalam berbagai bidang perlombaan agar semua orang-orang bisa tahu jika Johan adalah sosok Papa yang hebat.
Mungkin Johan memang telah diakui sebagai Papa yang hebat di mata orang, tetapi tidak bagi Brilyan.
Di sini Brilyan merasa tertekan dan merasa lelah dengan semuanya. Rasanya tak ada tempat untuk bersandar dan tak ada tempat untuknya mencurahkan rasa di hatinya.
Bagi Brilyan tak ada seorang pun yang peduli dengannya.
Sejam telah berlalu kini Brilyan sedang berdiri di hadapan foto ibunya, Dewi. Wanita yang sedang memangku anak laki-laki yang berusia lima tahun dan nampak berjas hitam yang sepadan dengan jas yang Johan gunakan pada sesi foto yang Brilyan masih ingat jelas di benaknya.
__ADS_1
Di ruangan kamar yang sengaja Brilyan gelapkan dan hanya menyalakan lampu meja belajarnya. Ke dua matanya kini terpejam dengan perlahan membuat pipinya menjadi basah.
Brilyan tertunduk. Jari tangannya menyentuh permukaan wajah Dewi yang terhalang oleh kaca foto.
"Ibu, Brilyan capek. Brillyan tidak kuat lagi."
"Otak Brilyan capek, Bu. Badan Brilyan juga capek."
"Brilyan mau ikut ke Ibu aja. Di sini Brilyan menderita."
Brilyan terduduk di lantai. Ia mengusap kepalanya yang terasa berat dan sakit itu. Mendongak menatap wajah Ibunya yang terlihat tersenyum.
"Kenapa Ibu ninggalin Brilyan, Bu?"
"Kenapa?"
"Harusnya Ibu juga bawa Brilyan."
"Mending Brilyan juga sakit kayak Ibu dan akhirnya meninggal sama Ibu."
"Lebih baik Brilyan ikut sama Ibu dari pada ikut sama Papa."
"Bu, semenjak Ibu pergi semenjak itu pula Papa berubah."
"Papa tidak seperti dulu lagi."
"Papa berubah menjadi orang yang suka marah-marah dan sekarang malah jarang tersenyum."
"Semua yang Brilyan lakukan harus diketahui bahkan diatur oleh Papa."
"Brilyan nggak boleh punya teman atau bahkan teman cerita."
"Brilyan merasa kesepian di sini, Bu. Rumah ini terasa seperti neraka bagi Brilyan."
"Semakin hari rumah ini semakin sunyi dan gelap bahkan bagi Brilyan rumah ini seperti penjara."
Brilyan mengusap pipinya yang basah itu. Ia kembali tertunduk dan menangis sesenggukan.
"Bu, tolong pijat kepala Brilyan! Ke-ke-kepala Brilyan sakit, Bu," aduhnya dengan suara yang terputus-putus dan dadanya yang naik turun beraturan.
__ADS_1
Brilyan membaringkan kepalanya itu ke atas lantai sambil jari-jari tangganya yang menyentuh permukaan foto.
"Brilyan rindu Ibu," bisiknya.