
"Brilyan!" Kaget Weva dan setelahnya ia bangkit dari tempat duduk membuat Ken menoleh.
Weva tak menyangka jika ia bisa melihat Brilyan di tempat ini. Weva tersenyum penuh kebahagiaan. Pria impian yang sangat ia cintai berada persis di depan kedua matanya walau Brilyan berada cukup jauh darinya.
"Ken! Weva ke sana dulu, yah. Nanti Weva balik lagi!" ujarnya lalu tanpa menunggu jawaban dari Ken, Weva langsung berlari memotong jalan beraspal yang dilalui kendaraan tanpa menoleh kiri dan kanan.
Suara mobil yang direm itu terdengar membuat Ken bangkit dari tempat duduknya berniat untuk berlari menghampiri Weva. Weva melangkah mundur. Ia terpatung di tempatnya berdiri dengan tubuh yang bergetar. Weva nyaris ditabrak oleh kendaraan roda empat berwarna hitam ini.
Piiiiipp!!!
"Woy!!! Nggak punya mata lo!!!" teriak pria berkumis sambil mengeluarkan separuh tubuhnya dari jendela mobil.
"Ma-ma-maaf, pak! Weva nggak ngeliat."
Setelah meminta maaf Weva segera berlari meninggalkan penghuni mobil yang masih mengoceh tak jelas di belakang sana.
Ken terpatung di tempatnya berdiri. Ia menatap nanar pada Weva yang masih melanjutkan langkahnya.
Tak berselang lama Ken tersenyum miris. Apa sebesar itu rasa suka dan cinta Weva kepada Brilyan sehingga Weva bahkan tak memikirkan tentang keselamatannya.
Weva nyaris tertabrak! Jika salah sedikit mungkin Weva sudah dilarikan ke rumah sakit karena ketidak hati-hatinya.
Tak berselang lama Ken kembali menatap Weva. Ia tak ingin jika Weva bertemu dengan pria itu.
"Weva!!!" teriak Ken, namun Weva tak menghentikan langkahnya. Ia tetap saja melangkah mengabaikan Ken yang berteriak memanggilnya.
Ken mendengus kesal. Rasanya ia sangat tak ingin jika Weva bertemu dengan Brilyan. Ken tahu kalau Weva sangat suka dan cinta pada Brilyan sehingga itu yang menjadikan alasan Ken tak ingin mereka bertemu.
Weva mendorong pintu sembari melangkah masuk disusul tatapannya yang merambah ke segala arah mencari sosok Brilyan.
Weva melangkah lebih jauh sembari tangannya yang berpura-pura untuk memilih buku. Tatapan Weva terus menatap ke arah sebelah kiri berharap ia melihat sosok Brilyan di sana.
Bruk!!!
Tubuh gendut Weva menabrak sesuatu di sampingnya membuat Weva menoleh menatap sosok pria tinggi dengan paras tampannya yang sedang menatap Weva.
"B-rilyan!" bisik Weva tak menyangka.
Brilyan tersenyum begitu manis membuat Weva menjadi lemas. Kini rasanya kaki Weva tak bertulang membuatnya tak mampu untuk berdiri dan menopang tubuhnya yang gendut ini dengan tegak.
"Kamu suka baca buku horor juga?" tanya Brilyan membuat Weva melongo.
"Cerita horor?"
"Itu." Tunjuk Ken pada buku yang Weva pegang.
Weva yang masih kebingungan itu segera mengerakkan kepalanya menatap buku yang entah sejak kapan ada di tangannya.
__ADS_1
"Weva-"
"Itu ceritanya seru, loh," ujar Brilyan.
Weva yang mendengar hal tersebut kini tertawa dan memeluk buku yang jujur saja dari sampulnya saja ia takut melihatnya.
"Oh, hahahaha. We-Weva suka banget cerita horor, jadi pasti Weva beli, deh apa lagi kata Brilyan ini ceritanya seru, ya?"
Brilyan mengangguk pelan dan melangkah melintasi Weva yang kehilangan senyumnya. Hanya itu yang dikatakan Brilyan kepadanya? Sepertinya Brilyan tidak tahu kalau ia hampir ditabrak tadi hanya untuk datang ke toko buku ini.
"Brilyan!" panggil Weva.
Brilyan menghentikan langkahnya dan menoleh menatap Weva yang terdiam kaku di belakang sana. Wajahnya terpampang sedih tapi tak membuat Brilyan ingin tahu hal tersebut.
Weva meneguk salivanya. Ia tersenyum sejenak dan setelahnya ia menghilangkan senyum dari bibirnya saat Brilyan tak membalas senyum darinya.
"Weva udah turun 10 kg," ujar Weva menatap Brilyan nanar.
Weva menarik nafas panjang dan menghembusnya secara perlahan. Brilyan hanya diam membuat suasana kini menjadi sunyi dan sepi, hanya ada suara baling kipas yang berputar.
"Seberat itu, yah biar bisa dikejar sama Brilyan?"
"10 kg itu nggak mudah, itu susah."
"Weva capek, ta-tapi Weva nggak bisa membuang harapan untuk bisa dikejar oleh Brilyan."
"Weva terlalu sayang dan suka sama Brilyan sampai nggak bisa berhenti buat berjuang."
"Weva capek, loh, tapi Weva nggak bisa berhenti."
Weva tertunduk. Ia mengerakkan kakinya itu dengan gugup lalu kembali menatap Brilyan hanya terus diam.
"Brilyan. Tolong jangan buat Weva kecewa, ya! Weva udah berjuang sejauh ini buat Brilyan."
Brilyan yang terdiam itu menoleh menatap para bodyguard pribadinya yang sedang berdiri di depan pintu toko buku seakan sedang mencari keberadaanya.
Brilyan kembali menatap Weva yang masih menatapnya nanar. Jujur Brilyan takut kalau para bodyguard pribadinya itu melihat Weva berada bersamanya di dalam toko ini dan membuat para bodyguard melaporkannya macam-macam kepada Johan.
Brilyan tak mau kalau Johan sampai memarahinya dan menghukumnya dengan belajar sampai subuh.
"Weva!"
Weva mengangkat kedua alisnya. Ia siap mendengar perkataan Brilyan.
"Ini janji aku, tetap semangat untuk berjuang agar bisa aku kejar," ujar Brilyan lalu melangkah pergi meninggalkan Weva yang terpatung.
Weva menoleh menatap Brilyan yang telah melangkah keluar dari toko buku setelah membayar buku di kasir.
__ADS_1
...****************...
Weva melangkah dengan wajah lesunya melintasi jalan raya menghampiri Ken yang terdiam di atas motor vespanya.
Ken mendecapkkan bibirnya malas. Dilihat dari mimik wajah Weva, sudah jelas kalau Weva mendapat kekecewaan setelah bertemu si pria kurus kering itu.
Weva yang sudah berjarak dekat dengan Ken itu seketika tertawa dan mengguncang tubuh Ken sembari melompat kegirangan.
"Heh! Apaan, sih lo?"
"Weva senang banget!!!" jeritnya gembira sembari melompat-lompat kegirangan lagi.
"Senang? Senang kenapa lo? Emang si kurus kering itu bilang apa sama lo sampai lo senang kayak gitu?"
"Ken! Namanya itu Brilyan bukan si kurus kering!"
"Lah, emang dia kurus kering, kan?"
"Nggak! Enak aja," bantah Weva cepat.
"Emang dia kurus kering, kok."
"Nggak!"
"Jelek."
"Ken yang jelek!"
"Sok pintar."
"Lah, emang Brilyan pintar. Ken yang bodoh," bela Weva membuat Ken terdiam dengan tatapan sinisnya.
Ken mendengus kesal dan segera memasang helm ke kepalanya membuat Weva yang masih memeluk boneka panda itu segera naik ke atas jok motor.
Weva tersenyum kegirangan sembari melipat bibirnya ke dalam berusaha untuk tidak berteriak karena bahagia.
"Ahahahaha!!!" Tawa Weva pecah dan memeluk Ken dari belakang membuat Ken menjerit.
"Heh! Lo kenapa, sih? Kayak orang gila tau nggak lo pakai ketawa sendiri lagi."
"Apa, sih? Kan Weva cuman seneng. Masa nggak boleh seneng?"
"Seneng, ya seneng aja, tapi nggak usah teriak kayak gitu. Lebay tau nggak."
Weva memonyongkan bibirnya setelah mendengar perkataan sadis Ken.
"Turun lo!" pinta Ken membuat Weva melongo di belakang sana.
__ADS_1
"Kenapa?"
"Turun gue bilang!"