
"Weva!!!" Teriak Wiwi dan Ken secara bersamaan membuat Weva dengan cepat menoleh menatap Ken dan Wiwi yang berlari dari kejauhan.
Ken dan Wiwi menghentikan larinya ketika telah berada tepat di hadapan Weva yang menatap mereka dengan wajah tak menyangka. Mereka datang ke bandara padahal jarak sekolah dan bandara cukup jauh.
"Lo beneran mau pergi?" tanya Wiwi tanpa basa-basi bahkan mengatur nafasnya saja belum.
"Heh! Lo mau kemana? Lo mau ninggalin gue?"
Weva dan Wiwi dengan serentak menatap Ken yang terlihat khawatir. Apa yang baru saja ia katakan? Ken ikut menatap secara bergantian ke arah Weva dan Wiwi yang masih menatapnya membuat Ken kikuk dengan wajahnya yang terlihat bodoh sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Maksudnya ninggalin kita semua," lanjutnya sebelum dua orang ini salah paham.
"Weva minta maaf, kalau Weva nggak ngasih tau kalian berdua, tapi beneran, deh Weva di sana cuman beberapa minggu sampai Omah Weva sembuh setelah itu Weva pulang," jelasnya.
"Omah lo sakit?"
"Iya, katanya dia mau ketemu sama Weva."
Wiwi mengangguk dengan wajah cemberutnya lalu tanpa kata-kata lagi Wiwi segera memeluk tubuh Weva yang terasa hangat.
"Hati-hati, yah, Wev," ujarnya sembari menepuk punggung Weva dengan lembut.
Pelukan Weva dan Wiwi terlepas setelah pengumuman jika pesawat yang akan Weva tumpangi tak lama lagi akan terbang.
"Weva pamit, yah" ujarnya lagi.
Wiwi mengangguk lalu melangkah dan berdiri tepat di samping pak walio yang tengah mengusap pipinya yang terus saja basah karena menangis.
"Pak Walio nangis?"
Mendengar hal itu buru-buru pak Walio mengusap pipi dengan ujung seragam hitam yang ia kenakan.
"Tidak, Nona. Beta ini kuat."
Weva melirik Ken yang sedari tadi tertunduk, entah apa yang ia pikirkan saat ini. Pria itu hanya diam.
"Ken-"
"Wev!" potong Ken.
"Lo mau ke Korea?"
Ia tersenyum lalu mengangguk.
"Lo mau pergi tapi kenapa lo nggak ngasih tau ke gue kalau lo mau pergi?"
"Weva nggak sempet, Ken."
"Nggak sempet?"
"Iya, soalnya kan Weva dapat telfon dari Mommy itu malam jadi nggak sempet buat kabarin Ken sama Wiwi juga."
"Tapi kan lo bisa telfon atau chat."
"Weva takut ganggu."
Ken mengangguk sembari menunduk dan tak berselang lama ia kembali menatap Weva.
"Katanya lo mau langsing terus kenapa lo mau pergi?" tanya Ken.
Weva hanya tersenyum dengan suara tawa kecilnya. Jujur Weva tak berniat untuk tertawa, tapi tawa ini yang ia gunakan untuk menutupi sedihnya.
"Lo seharusnya nggak boleh pergi! Kalau lo pergi lo pasti nggak bakalan ketemu sama si kurus kering itu."
__ADS_1
"Brilyan?"
"Em, iya."
"Udah, kok tadi."
"Udah?"
Weva mengangguk.
"Jadi tadi sebelum Weva ke bandara, Weva sempet ketemu sama si Brilyan di rumahnya dan bawain nasi goreng untuk Brilyan."
Ken yang mendengar hal tersebut seakan merasakan tumbukkan di dadanya dengan sangat keras menghantam begitu saja tanpa aba-aba. Entah mengapa rasanya sangat sakit setelah mendengarnya.
Ken tersenyum sinis. Sudut bibirnya terangkat dan memilih untuk menatap ke arah lain. Ia rasanya tak ingin melihat wajah Weva setelah mendengar hal tersebut.
"Lo sempet-sempetnya datang ke rumah Brilyan tapi lo nggak bisa ngabarin gue walau hanya sekedar telfon atau chat?" tanya Ken dengan raut wajah yang menahan kekesalan serta tak menyangka.
Gadis gendut itu mengangguk membuat Ken tertawa kecil.
"Emang kenapa? Weva cuman mau liat Brilyan sedih atau nggak pas tau Weva pergi dan ternyata kayaknya Brilyan nggak sedih kalau Weva pergi," jelasnya.
Ken mengigit bibir sembari menunduk dan mengangguk kan kepalanya perlahan.
"Dia itu nggak peduli sama lo, Wev! Dia nggak peduli."
"Iya, tau. Weva udah tau dan itu sebabnya Weva berusaha agar Brilyan bisa peduli sama Weva."
"Weva juga mau kasih tau ke Brilyan kalau dia itu penting jadi Weva sengaja datang ke rumah buat nemuin Brilyan."
"Jadi gue nggak penting?" tanya Ken membuat Weva menatap heran.
"Gue nggak penting bagi lo?"
"Ken juga penting."
Nafas Ken seakan tertahan di dadanya. Kalau ia penting seharusnya Weva mengabarinya juga.
"Ken!" panggil Weva.
"Em," sahut Ken cepat hingga tersadar dari lamunannya.
"Weva boleh nggak titip bobo sama Ken?"
"Bobo?"
"Itu anjing, Weva. Tolong dijaga, yah!"
Ken hanya mengangguk sambil berusaha untuk tersenyum.
Weva tersenyum dan menatap pak Walio dan Wiwi yang berada di belakang sambil terlihat melambaikan tangannya.
Weva tersenyum dan ikut melambaikan tangannya.
"Weva pergi, yah."
Ken mengangguk.
"See you next time, Keken," bisik Weva.
Weva membalikkan tubuhnya dan melangkah sembari mendorong trolley mengulurkan jarak antara ia dan Ken yang mematung di belakang sana.
"Heh, Endut!!!" panggil Ken dan berlari menghampiri Weva yang menghentikan langkahnya yang menoleh menatap Ken.
__ADS_1
"Ini buat lo," ujar Ken dengan sepucuk surat yang ia rogoh dari saku celananya.
Surat yang sama yang Ken ngin julurkan kemarin, namun gagal karena kedatangan Wiwi.
"Ini apa?"
"Surat."
"Buat, Weva?"
Ken mengangguk membuat Weva meraih surat berwarna pink dengan motif hello Kitty dengan perlahan.
"Lo bacanya setelah lo sampai di Korea, yah!"
Weva yang sibuk menatap setiap sudut surat itu mengangkat pandangannya menatap Ken.
"Emang kenapa kalau Weva baca sekarang?"
"Yah, lo lakuin aja! Kenapa sih ngebantah melulu?" kesalnya dengan nada suaranya yang tiba-tiba meninggi membuat Weva tersenyum.
"Iya, Ken. Nggak usah marah-marah!"
Weva memasukkan surat itu ke saku jaket yang ia gunakan.
"Kalau gitu Weva pergi, ya."
Ken mengangguk lagi membuat Weva membalikkan badannya membelakangi Ken dan mulai melangkah meninggalkan tiga orang yang sangat dekat dengannya.
"Hati-hati Weva!!!" teriak Ken.
Setelah berteriak Ken beralih untuk diam di tempatnya berdiri menatap punggung Weva yang semakin menjauh darinya. Ken menghembuskan nafas panjang lewat mulutnya hingga tanpa ia sadari air matanya jatuh membasahi pipinya.
Ken menghapusnya cepat. Ia tak lupa pada dua orang yang ada di belakangnya. Ken takut ketahuan menangis.
"See you next time, Endut," bisik Ken berusaha untuk tersenyum walau ini berat.
...****************...
Pesawat yang di tumpangi Weva kini telah terbang menuju Korea. Ken yang mendengar suara gemuruh dari atas sana menghentikan motornya di tepi jalan dan mendongak menatap pesawat yang sudah terbang menjauh di langit.
Ken perlahan tersenyum dan tertunduk pedih. Rasanya saat ini Ken ingin duduk dan menangis sekencang-kencangnya.
Rasanya ini sangat sakit!
"Baru aja kemarin gue bahagia, Wev. Tapi, kenapa sekarang lo malah pergi?"
"Lo pergi ninggalin gue?"
"Lo bahkan nggak ngasih tau ke gue kalau lo mau pergi dan lebih milih si kurus kering itu yang lo kasih tau?"
"Kenapa?"
"Apa gue penting dan dia lebih penting?"
Semenit kemudian Ken kembali menjalankan motor vespanya menuju rumah. Rasanya setelah kejadian ini ia tak bersemangat untuk belajar dan memilih untuk pulang.
Setiap roda vespanya yang berputar, Ken selalu mengigat sosok Weva selalu duduk di belakangnya dan selalu memeluk erat tas hitamnya. Gadis pertama yang pernah ia bonceng selain Mamanya mengunakan motor ini.
"Seminggu atau cuman sehari. Sedetik aja gue nggak ngeliat lo itu udah buat gue nggak tenang, Wev."
"Sampai kapan pun, gue bakalan tunggu lo, Endut."
"Sampai kapan pun."
__ADS_1